Top Social

Bring world into Words

Prompt #37: Peri Lampu Merah

Jumat, 07 Februari 2014

 

“Air mata buaya kali, Don,” Agus asyik mengunyah mie ayam yang masih mengepul.  Entah sudah berapa hari anak ini tidak makan.

“Gue enggak tega,” aku menyeruput teh dingin. Aku dan Agus makan berbarengan namun masih kalah finish dengan mahluk yang memang doyan memamah biak ini.

“Elu kali yang buaya,” aku tertawa geli mendengar  suara sendawa Agus.

Beberapa mahasiswi yang duduk tidak jauh dari kami bergidik jijik. Agus cuek, sambil menepuk-nepuk perutnya yang buncit.

“Kamu masih lapar?” tannyaku lagi.

Agus menggeleng. “Aku lagi diet.”

Aku menaikan alis lalu nyaris tersedak.  “Lagi diet begini saja makannya seperti dikejar buaya. Apalagi kalau enggak diet?”

“Lu tuh yang disosor buaya Don.”

Aku tertawa. “Kalau dia buaya, gue Paaya dong?”

“Basi lu” 


“Eh, Gus. Tapi sumpah dia itu charming banget,” aku masih berdalih mencari pembenaran. Buatku, Lili adalah mahluk termanis yang pernah aku temui di kampus ini.

“Elu belum pernah denger selentingan anak-anak?”

“Soal apa?”

Aku menyodorkan selembar uang berwarna hijau. Mang Agus, tukang mie ayam langganan kami yang juga namanya sama dengan Agus sahabatku.

“Jadi gini, Bro...” Agus mulai bercerita soal kesaksian dari teman-teman seangkatan tentang Lili. Lili yang pendiam, Lili yang tersenyum manis dengan lesung pipinya itu ternyata... ah aku tidak berani mengatakannya.

 “Gue belum lihat sama mata kepala sendiri, Gus.” Aku masih ngeyel.

“Terserah. Yang jelas sebagai teman, gue udah ngasih tau.”

Aku mengangkat bahu. Ah biarlah. Kita lihat saja nanti, bisikku dalam hati.  Sampai di persimpangan Balubur, aku dan Agus berpisah. Aku memutuskan untuk segera pulang, melewatkan tawaran Agus yang mengajak mampir ke kosannya.

Kata-kata Agus masih bergema di benakku.  Semakin berusaha aku menepis dan membantah desas desus tentang Lili, semakin penasaran aku dibuatnya. Sekitar sebulan lalu aku melihat Lili anak mahasiswa baru itu tengah menangis sesenggukan.  Aku yang tidak tega melihatnya mengajak Lili untu mengobrol. You know what? Lili ternyata bukan cuma punya mata yang indah, senyum manisnya saat aku berusaha melucu membuat aku terpana.

Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Baterai HPku kolaps, seolah membuatku mati gaya.  Jejaring media sosial yang saat ini ditatapi dengan khusyuk para penumpang lain sukses mengalihkan dunia nyata mereka. Aku melemparkan pandangan ke satu titik di sebrang jalan. Rasa-rasanya, aku mengenal sosok itu, Sosok yang baru saja jadi topik obrolan aku dan Agus beberapa menit yang lalu.

“Lili!” Reflek aku memanggil.

Gadis berkuncir rambut dalam balutan kaos hitam itu menoleh. Tidak salah lagi, itu Lili. Apa yang dia lakukan di lampu merah siang-siang begini?

Aku segera membayar ongkos dan melompat turun, sebelum lampu lalu lintas berganti menjadi hijau.

 “Li!”

Lili menoleh tersenyum. Tidak terlihat usahanya untuk menjauh atau menghindariku. Jadi benarkah seperti yang dibilang anak-anak kalau Lili suka malakin anak jalanan?

Aku masih berusaha mencerna dan menyinkronkan kasak kusuk dan fakta yang kulihat.

“Merekalah yang membuat aku menangis. Mereka tidak bisa belajar seperti teman-teman seusianya.”

Seorang bocah berusia 7 tahun menghampiri Lili, menyerahkan selembar uang berwarna ungu. “Mereka punya semangat hebat, ingin punya perpustakaan. Tabungan mereka sudah banyak. Kamu bisa bantu cari sponsor buat mereka?”

Lili, peri dari negeri mana sih, kamu?

2 komentar on "Prompt #37: Peri Lampu Merah"
  1. Aih nama tokohnya sama denganku, beda hrf belakangnya saja ya.
    Ini manusia berhati peri ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, iya mbak. Pas aku bw aku mesem-mesem, kok bisa samaan ga pake janjian, ya? :D

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.