Top Social

Bring world into Words

Maaf, Ajari Saya untuk Menyelami Hati

Jumat, 06 September 2013

Pernah merasa menyesali sesuatu yang kita perbuat, atau kita katakan? Pasti pernah, ya. Ada banyak andai-andai yang menyelinap. 
"Coba saya enggak ngomong gitu."
"Coba saya mikir dulu sebelumnya."
"Kenapa jadi gini, sih?"

sumbernya dari sini

Dalam kondisi ekstrim mungkin pernah 'membgo-bego-in' diri sendiri saking gemasnya dan kaget dengan reaksi timbal balik yang kita terima. Saya pernah mengalaminya, enggak sampai membego-begokan diri sendiri sih hehehe. Singkatnya satu waktu saya pernah bercanda dengan seorang teman. 

Tanpa saya sangka, teman saya itu ngambek dan bilang "Enggak Suka" saya ngomong gitu. Saya langsung terhenyak, seserius itu kah dia marah? Saya terdiam. Waktu itu rasanya saya pengen membela diri, dia salah kaprah. Saya enggak bermaksud seperti itu. Setelah meminta maaf saya memilih untuk membiarkan teman saya itu diam dan tidak menggangggunya dengan terus-terusan meminta maaf. Bukan berarti saya enggak serius, sifat teman saya itu membuat saya memilih menarik diri dan membiarkannya tenang. Dan rasanya didiamkan itu enggak nyaman, sungguh. 

Saat 'diam-diaman' itu saya cuma mengilas balik apa saja yang sudah kami lalui, gurauan, ledekan, teguran halus dan apapun yang mengingatkan saya dengan teman saya itu. Pengen rasanya akur kembali, segera. Mau apalagi, lidah memang enggak punya otot, enggak bisa kita tarik lagi, enggak bisa kita hapus. Tapi bukan berarti jadi pupus asa, kan?

Islam mengajarkan kita untuk menyimpan marah selama maksimal 3 hari saja. Sudah lewat 3 hari saya masih belum berani menyapa teman saya duluan. Baru beberapa hari kemudian, saya memberanikan diri menyapa duluan, dan fiuuh..... Alhamdulillah, saya bisa baikan lagi dengan teman saya. Awalnya sih memang masih canggung, kagok. Tapi perlahan semuanya kembali berjalan seperti sebelumnya. Masih bercanda, masih saling sapa dan tentunya saya belajar banyak, Saya belajar untuk berpikir ulang sebelum berkata-kata, saya belajar kalau 'diem-dieman'  itu beneran enggak nyaman. Saya belajar untuk berempati, saya belajar untuk menyelami perasaan orang lain dan belajar hal-hal lainnya.

Ya, menyelami hati, mencoba peka dengan perasaan/suasana hati orang lain itu perlu proses yang panjang, perlu keikhlasan untuk menahan diri, menahan ego, ya. Saya enggak berharap kehilangan sahabat hanya karena kata-kata atau sikap kecil (juga besar) yang bisa membuat saya kehilangan satu-dua atau banyak teman. 

Eh, coba perhatikan lagu-lagu deh. Ada banyak lagu yang bertema maaf, penyesalan dan lagu lainnya ada juga yang menyatakan kekesalan, marah berbaur dendam karena suatu perlakuan yang diterima. Duh, jangan sampai deh kita jadi musuhan  ya. Jangan sampai deh seperti Chicago yang bilang hard to say I am sorry


Forgive me... My heart is so full of regret
Forgive me... Now is the right time for me to repent, repent, repent..

Am I out of my mind?
What did I do? Oh, I feel so bad!
And every time I try to start all over again
My shame comes back to haunt me
I'm trying hard to walk away


(Forgive Me by Maher Zain)








2 komentar on "Maaf, Ajari Saya untuk Menyelami Hati"
  1. Beraaattt kalo da ngomongin masalah hati... hehehe :D

    SaHaTaGo [Salam Hangat Tanpa Gosong] dari pemula asal Jogja, gak suka marah apalagi mencela, mudah-mudahan bisa senantiasa membuat orang lain bahagia, semoga berkenan berkenalan dengan saya, haha :D

    BalasHapus
  2. Hahaha... tentu saja, senang berkenalan sama mas Abdullah. Salam kenal juga dari saya, Blogger Bandung :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.