Top Social

Bring world into Words

Mengeksiskan Kopi Indonesia, Mengkudeta Dominasi Kopi Brazil

Jumat, 30 Agustus 2013

Suka kopi? Kalau suka begadang, biasanya minuman ini jadi menu wajib buat menemani kita melek mengejar dateline, nonton bola atau cuma sekedar ngumpul bareng teman. Bahkan, buat sebagian besar, Kopi ini jadi satu paket dengan rokok. Garis bawahi ya, saya enggak merekomendasikan buat menjadikannya satu paket sama yang namanya rokok, lho. Enggak!
Gambarnya ngambil dari sini

Nah, hari kelima lomba blog #10daysforasean mengambil topik tentang kopi. Kopi memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern masyarakat. Bukan cuma di Indonesia, ASEAN bahkan untuk level internasional juga. Tahu dong, sampai-sampai ada gerai yang identik dengan branding kopi. Harganya? Ehm, bisa bikin saya keselek hihihi.   Jadi sekarang kita ngomongin soal kopi, ya. 

Sedikit review dulu nih sejarah tentang kopi. 
Nama kopi diadopsi dari bahasa arab, yaitu Qahwah, yang artinya kekuatan. Lalu lidah orang-orang Turki menyebutnya dengan Kahveh dan diadopsi oleh orang Belanda dengan sebutan Koffie. Meski sudah dikenal 1000 tahun sebelum masehi di benua Afrika, kopi ini baru dikenal luas oleh masyarakat Jazirah Arab mulai abad ke tujuh Masehi. Kemudan kopi  diperkenalkan kepada raja Louis XIV oleh duta besar Turki. Kalau inget raja Louis XIV, kita jadi inget film The Three Muskeeter. Yup! Pada masa itu juga Renainasance alias pencerahan mulai bergaung di Perancis. Pemikir Perancis, diantaranya Diderot, Voltaire, Rossesau adalah salah tiga yang doyan hang out di kedai kopi Paris. Catat, hang out ternyata bukan monopoli anak-anak jaman sekarang. 

Lanjut!  
Bukan cuma di Perancis aja, kopi juga meyebar ke seantero Eropa termasuk diantaranya Belanda. Pada masa kolonial Belanda di Nusantara  inilah benih kopi dibawa ke Indonesia. Seorang  bule londo (ya iyalah bule:D) yang bernama  Zwaardecroon membawanya dari Mekah ke Bogor. Eh, ternyata iklim Indonesia itu cocok banget dengan karakter kopi. Jadilah sejak saat itu kopi menjadi salah satu komoditi yang dikembangkan di Indonesia dan jadi varian favorit penggila kopi di seluruh penjuru dunia. 
sumbernya dari sini

Enggak percaya? Nih, beberapa buktinya. 
Kalau menyukai novel bergenre fantasi, kamu pasti kenal dengan penulis Michael Scott. Pada salah bagian pembuka logi kesatu dari serial The Alchemyst, diceritakan salah satu tokoh utamanya Sophie Newman, bekerja  sebagai karyawan cafe milik Perry Fleming. Sophie Newman yang mempunyai indera penciuman yang peka. Ia bisa membedakan  teh dan kopi hanya dari baunya. Ia  bisa mengenali Earl Grey dari Darjeeling,  juga bisa membedakan mana aroma kopi Jawa atau kopi Kenya
   
Kopi Jawa juga jadi lirik dari kelompok musik Manhattan Transfer lho. Coba simak liriknya :


I love coffee  I love tea
I love the Java jive and it loves me
Coffee and tea and the java and me
A cup, a cup, a cup, a cup, a cup (boy!)

I love Java, sweet and hot
Whoops, Mr Moto, I'm a coffee pot
A cup, a cup, a cup, a cup, a cup 
Sumbernya dari sini

Selain kopi Jawa masih ada varian kopi lainnya yang juga terkenal, msalnya kopi Wamena, kopi Lanang, kopi Kintamani, Kopi Toraja, dan tentu saja, kopi Luwak! Kopi yang cara produksinya aneh itu justru punya sensasi rasa yang unik dan sempat menimbulkan kontroversi. 

Dari hasil googling yang saya peroleh, data tahun 2012 menunjukan kalau kopi merupakan salah satu dari tujuh komoditas ekspor Indonesia dengan produksi sebanyak sekitar 10.950.000 kantong Sebagai catatan, satu kantong kopi setara dengan  60 kg.

Meskipun pamor kopi Indonesia ini sudah sebegitunya tersohor, ternyata di level Internasional kita masih kalah dibanding dengan kopinya Brazil yang memproduksi 50.826.000 kantong dan Vietnam dengan 22.000.000 kantong (sumber: finance.detik.com). Well, pertanyaannya, bagaimana caranya agar posisi Brazil ini, bisa kita kudeta, ya? Hehehehe.. tentu saja kudeta yang ini enggak horor, berdarah-darah dan melanggar hukum. 

Menjelang terbentuknya Komunitas ASEAN pada tahun 2015, jadi satu wacana yang menarik buat  mengajak Vietnam berkolaborasi untuk merebut dominasi Brazil ini. Eh, seperti apa sih istimewanya kopi Vietnam itu? Padahal Vietnam itu belajar dari Indonesia lho. Memanng sih, Kopi sudah dikenalkan ke Vietnam pada akhir abad 19 oleh kolonial Perancis. Namun, pada tahun 1980an, Vietnam mengirim utusannya untuk belajar tentang seluk beluk kopi di Indonesia. Dari segi faktor alam sebenarnya  Indonesia lebih mendukung untuk menghasilkan kopi yang baik. Sayangnya, hal itu tidak dibarengi dengan kesungguhan sumber daya manusianya untuk terus melakukan riset meningkatkan kualitas kopi Indonesia. Bandingkan dengan Vietnam. Dalam rentang waktu 30 tahunan, mereka berhasil menjadi primadona kopi. 

Apa sih istimewanya kopi Vietnam? Tidak seperti cara kita yang  konvensional, kopi Vietnam ini disajikan dengan cara yang lain. Kopi Vietnam yang dikenal dengan sebutan Ca Phe atau cafe sua da  ini memerlukan lebih banyak bahan kopi dan proses yang lebih panjang dengan menggunakan baja yang tahan karat. 
sumbernya dari sini
Lagi-lagi inovasi, kreatifitas jadi kuncinya. Enggak perlu gengsi deh kalau kita mau belajar sama Vietnam. Saya jadi teringat cerita paman saya. Pada tahun 1990an, beliau diutus ke Vietnam sebagai tenaga ahli untuk  instalasi telepon. Lihatlah sekarang, lebih dari sekedar berjalan, teknologi komunikasi Vietnam sudah bisa berlari kencang meninggalkan Indonesia. Bahkan, teknologi Internet kita sudah tersalip oleh mereka. Padahal kita semua sudah tahu kalau pada tahun 1975an, negeri ini sempat babak belur dihajar perang saudara.  

Sejalan dengan misi Komunitas ASEAN di bidang ekonomi dianataranya untuk terbentuknya integrasi ekonomi kawasan, perbaikan fasilitas perdagangan dan bisnis dan meningkatkan daya saing UKM, Indonesia  harus segera bangkit. Alih-alih di level internasional, Indonesia harus memperkuat dulu di level regional, ya ASEAN inilah.  Banyak lho, sarjana pertanian jebolan IPB. Sayang banget kan, kalau ternyata potensi SDMnya malah hijrah ke aliran lain (baca : perbankan atau politik). Perhatian serius seperti penyediaan fasilitas dan reward bagi tenaga ahli harus jadi perhatian pemerintah. Di Israel saja, yang kontur geografisnya lebih kering daripada Indonesia mensyaratkan mahasiswa pertaniannya untuk berhasil menyuburkan lahan kering sebelum berhak menyandang gelar sarjana. 

Bagaimana dengan Indonesia? 

Referensi :
http://muslimdaily.net/artikel/ringan/sejarah-kopi-minumannya-orang-islam-yang-mencerahkan-eropa.html#.UiARKtL0HwA
http://coffee.gurus.net/coffee-drinks/vietnamese-coffee/
http://wikipedia.org 

3 komentar on "Mengeksiskan Kopi Indonesia, Mengkudeta Dominasi Kopi Brazil "
  1. kreatifitas dan kepedulian itu juga bisa membuat inovasi mbak :)

    BalasHapus
  2. Sudah dua negara asean ya yang dahulunya mengirimkan orang untuk belajar di indonesia eh sekarang si murid itu sudah bisa memandirikan negaranya. Tinggal indonesia nih yang terus saja jalan di tempat dan terus bangga dengan sejarah emas masa lalunya.

    BalasHapus
  3. Indonesia kebelakang memang sering kurang perhatian pd tenaga2 ahlinya, sehingga kebanyakan pindah keluar negeri.
    semoga kedepannya bermunculan tenaga ahli kembali di bidang pertanian yg bisa memajukan bangsa ini y ka

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.