Friday, 5 August 2016

Merencanakan Keuangan Liburan Yang Ideal Bersama Sun Life

Merencanakan Keuangan Liburan Yang Ideal Bersama Sun Life -  Ada yang ga setuju sama quote ini? Kayaknya semuanya setuju, deh.
“Pada sebuah buku yg berbicara tentang masa depan, aku melihat wajahmu menjelma pagi yang terbit di tiap halaman bersama asaku.”
― Helvy Tiana Rosa
Saat membaca buku, adalah sebuah big no mengintip ending cerita.  Terserah deh apakah endingnya mau sedih, senang atau gantung. Orang Sunda bilang teu kaci, ga sah atau ga boleh ngintip. Begitu juga dengan masa depan kita. Enggak ada yang tau apa yang akan terjadi dengan masa depan kita. Tapi syukurlah, ada bagian hidup kita yang harus diikhtiarkan, ga pasrah kayak daun yang hanyut terbawa arus.
sumber foto: Sun Life
Yang namanya masa depan tentu kita ingin berada dalam situasi lebih baik. Ga ada kan, yang berharap dalam kondisi stagnan atau malah lebih buruk. Makanya untuk memproyeksikan masa depan itu perlu perencanaan termasuk merencanakan liburan. Jangan sampai habis liburan malah merana karena ada yangt terabaikan dalam persiapan.
Hari minggu, tanggal 31 Juli 2016 kemarin, saya barengan teman-teman blogger Bandung menghadiri acara Talkshow di Cafe Halaman Paris van Java, Bandung. Ada dua narsum utama yaitu Joyce Tauris Santi, seorang perencana keuangan yang punya hobi traveling dan Parmadi Budi Prasetyo, blogger Bandung yang berbagi tips dan pengalamannya berlibur. O, ya acara talk show ini adalah salah satu rangkaian eksibisi yang digelar di 10 kota. Bandung adalah kota ketiga setelah Makasar dan Surabaya. Beberapa kota lainnya segera menyusul acara serupa seperti Semarang, Yogakarta, Bali dan Jakarta. Tungguin aja infonya ya.

boothnya Sun Life di dalam mall PvJ
Serunya acara talk show bareng para blogger Bandung
Acara dibuka jam 13.00 dengan menghadirkan Kaiser Simanungkalit AVP Head of Branding Communicationnya Sunlife, yang bercerita kalau ternyata tingkat melek asuransi di Indonesia itu masih kecil. Bayangin aja, cuma 1% aja dari 250 jutaan penduduk Indonesia yang sudah punya asuransi. Artinya cuma 2,5 % saja yang mengantisipasi.

Padahal nih, dalam perencanaan kita juga harus mempertimbangkan faktor X, sesuatu yang terjadi di luar ekspektasi. Ya amit-amit, naudzubillah ya, semisal terjadi musibah kecelakaan atau misal kepala keluarga meninggal, dan target dari rencana yang sudah dibuat itu  jadi stuck, ga bisa jalan lagi. Misalnya nih, kita menabung masa depan untuk membeli rumah, atau menyiapkan dana pendidikan untuk anak.

Kalau udah pernah nonton Sabtu Bersama Bapak, atau baca bukunya pasti inget deh sama karakternya Pak Gunawan. Kinda family man yang bener-bener punya persiapan visioner buat keluarganya.

Dengan perencanaan yang matang, beberapa kasus kayak saya bilang tadi itu bisa tercover. Kenapa? Let's say, sebuah keluarga yang sudah menyiapkan dana pendidikan tadi, terhenti karena sang ayah meninggal dunia, ibunya ga usah cemas mikiran masa depan anaknya karena sudah ada yang akan melanjutkannya.
Baca juga ini: Bijak Menyiapkan Masa Depan
serius nyimak sambil live twit
Setelah Kaiser Simanungkalit, ada Fabie Farabie, the man behind social medianya Sun Life, tepatnya Senior Manager Digital and Social Media Marketing. Beliau ini lho yang suka bikin quote atau caption kece dan inspiring di IGnya Sun Life. Misalnya kayak gini.




A photo posted by Sun Life Financial Indonesia (@sunlife_id) on

Duh, kenapa ini jadi bahas makanan, ya? hehehe...  Oke, kembali ke topik.

 Pada kesempatan ini, beliau bercerita tentang layanan dari Sun Life untuk nasabah atau calon nasabah di kanal brightadvisor.co.id   Jangan lupa untuk kepoin, ya :)

Selain para advisornya yang sigap merespon pertanyaan yang masuk (maksimal 2x24 jam),  sebagai penanya, kita boleh lho request kalau konten yang dikonsultasikan ga dirilis di FAQ (frequently Ask Questions), so, privacynya tetep terjaga.

Untuk memudahkan penjelajahan topik yang dibutuhkan, beberapa pertanyaan yang bisa dibaca juga sudah diklasifikasikan sesuai kategori. Jadinya ga akan siwer dan sebagai stalker, kita hanya akan fokus mencari jawaban yang relevan dengan kebutuhan.
sumber foto: Sun Life
Selesai menyimak paparan dan tanya jawab dengan Pak Fabie,  next ada Mbak Joyce yang share tips dan pengalamannya mempersiapkan dana liburan.
sumber foto: Sun Life
Hari gini, siapa coba yang  mau kerja terus dan abai rekreasi? Ah, saya juga pengeeen. Mudah-mudahan, November nanti saya bisa jalan ke Yogyakarta, buat menyaksikan acara Yogya International Heritage Walk, seru kayaknya.

Emang sih, Yogya mah relatif deket dari Bandung. Bisa ditempuh pake pesawat kalau punya budget lebih, atau kalau mau ngirit sambil menikmati perjalanan, bisa tuh pake kereta api. Kan sisanya bisa buat yang lain. Kulineran atau belanja souvenir, hehehehe. Untuk yang satu ini juga kudu menyiapkan banyak hal. Jangan sampai ada yang miss dan bikin saya merana.  Yang jelas, dana yang cukup buat pulang-pergi dan ga menyita pos rutin bulanan lainnya. Selain itu, obat-obatan yang harus saya siapkan, pakaian ganti dan errr.. oleh-oleh juga harus masuk list. Eh, tapi jangan minta oleh-oleh sama saya, ya hihihi Atuhlah, kan berat bawanya. Berat di dompet pula *ngirit detected*

Ngomong-ngomong soal perencanaan liburan, pos tranportasi ini punya porsi yang gede, hampir seperempatnya alias 25% dari total pengeluaran. Pos lainnya yang harus direncanakan dengan matang adalah: Penginapan, Makanan (15%), Rekreasi, Oleh-oleh dan biaya tak terduga. Bisa sih memangkas biaya pengeluaran untuk penginapan kalau punya kenalan dan kasih tumpangan nginep gratis. Tapi kalau liburannya lama, ya ga enak juga nebeng lama-lama. Untuk penginapan, fleksibel aja. Kan cuma numpang tidur, aja. Bisa deh cari penginapan yang murah, promo dan better booking sejak awal. Riskan sekali kalau nyari penginapan di last minute terutama di saat peak season. Nginep di stasiun atau gelar tikar di halaman masjid? Enggak deh, jangaaaan. Ngirit yang kebangetan itu mah.

Last but not least, jangan pernah coba-coba mengisi dana liburan dengan ngutang. Ga enak, begitu pulang ke rumah, selain tumpukan cucian, kepala dibuat pening karena mikirin tagihan. Jadi di mana esensi piknik untuk bersenang-senangnya, coba?
Komika Fandi Bkri, menghibur audiens

Setelah Fandi Bakri, komika yang menjeda acara dengan stand up comedynya yang kocak plus bumbu curcolnya itu,  giliran Parmadi Budi Prasetio yang berdiri di stage.  Parmadi bercerita pengalaman  serunya waktu traveling yang bikin amaze sekaligus envy. Menurutnya, salah satu hikmah dari jalan-jalan itu bisa mengenal partner yang jalan bareng (ga berlaku kalau solo traveling, atuh ya). Soalnya saat jalan-jalan ini kita bisa kenal watak aslinya seseorang. Cocok deh dengan bunyi sebuah hadist (duh lupa siapa yang meriwayatkannya).

Bukan cuma itu aja, dengan jalan-jalan bareng pasangan pun bisa jadi salah satu cara untuk memperbaiki hubungan yang terasa mulai garing. Nah, yang lagi bete-betean sama suami atau istrinya, kayaknya merencanakan ide sebuah perjalanan bisa jadi solusi asik, nih.

Ngomong-ngomong soal perjalanan,  masih menurut Parmadi juga jangan takut untuk tersesat. Meski, siapa sih yang mau dan merencanakan untuk tersesat? Apalagi kalau di negeri orang. Tapiiii kadang kita bisa menemukan sesuatu yang baru dan momen yang tidak terlupakan karena tersesat itu. Beberapa tips lain yang saya catat untuk perjalanan liburan nanti misalnya kayak gini, nih.

Catat Mimpinya

Mimpi punya acara liburan kan gratis, jadi mau liburan ke mana, sih?
Kita ga pernah tau kapan Tuhan mengabulkan doa kita. Banyak yang punya mimpi atau cita-citanya terwujud karena memvisualkan mimpinya. Ngutip tips dari Mbak Melly, MC acara, minimal kita punya screen capturenya deh di gadget tentang mimpi kita itu.

Jadi keingetan kalau tahun 2015 kemarin saya  bisa jalan-jalan ke Bali, sama adik lagi. Saya udah lupa  kalau ternyata sebelumnya saya pernah punya mimpi ini. Teh Dey, teman saya di facebook yang mengingatkan kalau jauh hari sebelumnya saya pernah punya keinginan untuk ini. Eh, beneran terwujud!

Ok, next setelah jalan ke Yogya (lagi) November nanti, list mimpi liburan saya adalah ke Raja Ampat di Papua, Danau Toba di Sumatera Utara,  Geopark Ciletuh di di Sukabumi (nyaris pergi, ga jado karena waktunya bentrok). Terus kalau ke luar negeri pengen deh ke Jepang, Inggris, dan Spanyol. Eh, habis itu jalan ke mana lagi, ya?

Jalan Sama Siapa?

siapa partner jalan, menentukan rencana perjalanan juga
Kalau solo traveling alias jalan sendiri ya santai aja, ya Kita tau gimana caranya menikmati perjalanan. Nah, kalau pergi bareng sama yang lain, tentu ga bisa sesuka hati menentukan rencana. Misalnya pergi dengan anak kecil atau balita. Ga mungkin kan, ngajak mereka menempuh rute yang bikin cape atau menantang bahaya.

Kapan Mau Pergi Liburan?

Kapan kita akan pergi  liburan? Low season? Peak season? Anggaran yang disiapkan pasti bakalan beda. Perhatikan juga rutinitas harian. Jangan sampai urusan bisnis atau kerjaan jadi berantakan pas kita tinggal liburan.

Apa Tema Perjalanannya?

Rencana liburannya mau ngapain aja, sih?
Sebenarnya liburan nanti mau ngapain sih? Lebih banyak wisata kulinerannya?  Menempuh jalur-jalur yang menantang adrenalin? Atau wisata budaya? Dengan teman perjalanan yang sudah dirancang, kita ga bakalan pusing menyusun itenerary saat liburan nanti. Dokumentasi perjalanan pun jadi rapi. Siapa tau bisa  kita share di media (tv, koran, majalah atau blog), terus dapat  honor nulis, deh. Asik kan, bisa dapat talangan biaya liburan *ngirit detected again*

Pergi Pakai Apa?

sumber gambar: pixabay
Bagaimana kita menempuh perjalanan, apakah  dengan kendaraan sendiri, naik kereta api, atau pesawat juga perlu diperhatikan. Sedikit tips nih agar dapat posisi strategis saat naik pesawat, ternyata kita bisa milih seat pas check in, lho. Merujuk pengalaman narsum, kita bisa datang lebih awal ke bandara. Saat  konfirmasi dengan petugas yang ngurusin tiket, coba deh basa-basi dikit, tepe-tepe atau tebar pesona ga papa lah. Kalau udah cair lebih mudah buat kita minta posisi dekat jendela atau di pinggir.  Kasih alasan deh yang kira-kira make sense alias masuk akal.

Perhatikan Budaya Lokal

Perhaikan kebiasaan penduduk setempat, jangan cari masalah
Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Pepatah ini tepat sekali untuk diingat selama kita berlibur.  Beberapa kebiasaan tertentu seperti isyarat tubuh, nada bicara sampai interaksi dengan orang baru yang dikenal bisa punya standar norma tersendiri. Ga ada salahnya juga lho , buat mempelajari sedikitnya beberapa kosa kata setempat. Selain menjaga kesantunan dengan penduduk lokal, siapa tau bisa akrab dengan penjual saat tawar menawar, atau nih, ketika bingung menanyakan arah agar tidak nyasar.

Packing

Packing bawaan yang tepat, jangan bikin repot
Sebisa mungkin sih, kalau perjalanan liburan jangan kayak orang bedol desa, segala diangkut. Beberapa dokumen penting biar ga rusak atau hilang bisa disimpan dalam bentuk digital. Sabun mandi, sampo atau pasta gigi  bisa bawa kemasan sachet atau kalau nginep di hotel bisa diskip karena biasanya sudah disediakan. Beberapa keperluan toiletris atau kosmetik bisa membawa kemasan yang kecil aar tidak menyita ruang penyimpanan. Cara melipat pakaian pun bisa memengaruhi berapa banyak ransel atau koper yang dibawa. Pendeknya, sepraktis mungkin untuk bawaan liburannya, ya.

Selain beberapa poin di atas , hal lainnya yang perlu diperhatikan saat berlibur adalah dokumen penting seperti kartu tanda pengenal (KTP/SIM/paspor), informasi penting kesehatan semisal riwayat medis (alergi terhadap makanan tertentu, golongan darah, dan lain-lain) serta  asuransi yang bisa mengcover risiko kecelakaan atau penyakit. Ya,  kalau-kalau terjadi sesuatu yang megharuskan kita menjalani perawatan saat berlibur. Who knows, lah. Kan, Nabi juga mengajarkan tawakal itu setelah ada ikhtiar.  Nah kalau persiapan sudah maksimal, baru boleh pasrah. Tawakal itu well prepare, menyiapkan nanti gimana, ya? bukan gimana ntar.  Setuju, kan?


Sun Life Financial Indonesia:
Facebok: https://web.facebook.com/SunLifeIndonesia/?fref=ts
Twitter/Instagram: Sunlife_id
Web: http://sunlife.co.id & http://www.brightadvisor.co.id











Share:

Thursday, 4 August 2016

Tentang Sepatu Boots Fashionnya Pria dan Wanita

Puss in boots!  Kucing lucu bersuara dalam dan berat itu menggoreskan ujung pedangnya  membentuk huruf P di batang pohon.  

Ada yang yang inget dengan salah satu scene film  Shrek ini?  Inget dong, ya. Salah satu film animasi favorit saya juga, lho.

Ceroboh, bodoh dan panik ga jelasnya si keledai ga bikin pangeran buruk rupa alias Shrek mati kutu. Dia masih punya partner yang kalem, ya, si Puss ini. Kucing jantan yang pede tapi kadang bisa memasang tampang innocent yang menggemaskan, cuma demi mengecoh tentara yang mau mengejar Shrek. 

sumber: wikipedia
Puss yang bergaya ala-ala Zorro ini juga suaranya diisi oleh Antonio Banderas, karakter yang juga dimainkannya dalam film The Mask of Zorro. Wow, filmnya udah lama banget, nih :).  

Kalau memerhatikan kostumnya si Puss yang bergaya ala-ala Zorro, selain topi dan jubahnya, yang jelas ga bisa lepas juga dari boots.

Makanya dikasih nama Puss in boots, bukan Puss in Sneakers. Lah, nanti malah jadi main basket, terus nyasar ke film Space Jam, dong atau Puss hang out at mall? Kasihan Putri Fionanya nanti :). Lagian kan Shrek sama Space Jam beda rumah produksi,  ngayal yang maksa ini huehehe...
sumber: http://www.sepatukesatria.com
Ngomong-ngomong soal boots, salah satu item dari kostum Zorro ini, jadi mengingatkan saya sama sepatu pria jaman dulu. Kalau sekarang emang aneh lihat cowok memakai sepatu berhak tinggi, tapi dulu pernah, lho. Salah satunya raja Louis XIV yang  ngehits itu.


Tapi ga berarti kaum pria selalu identik dengan sepatu yang desainnya flat atau sepatu pria casual. Selain Zorro,  semacam Billy the Kid, anak muda yang dikenal sebagai seorang kriminal legendaris ini juga pake boots. Sik, ga enak banget ya, punya label jelek begini di akhir hayatnya?  

Coba deh, googling. Perhatikandeskripsi penampilan Billy the Kid yang punya nama asli William Henry McCarty Jr ini juga setelannya mengenakan sepatu boots, tentu saja desainnya sepatu boots pria, dong, meski  hari gini juga banyak perempuan yang mengenakan boots yang sudah dimodifikasi jadi lebih feminim. Bisa disimpulkan, fashion sepatu antara pria dan wanita ini saling menginspirasi. Ya, ga, sih? :) Eh tapi jangan sampai ada sepatu pria yang modelnya mirip-mirip pump shoes, misalnya. Please, jangan.
sumber: http://www.sepatukesatria.com
Ngomongin koleksi sepatu, saya sendiri malah lebih nyaman pake sepatu model kasual.  Ada juga koleksi sepatu flat yang modelnya feminim (malu euy kalau mau klaim girly, inget umur! :). Buat kamuflase penampakan, sekarang ini lagi suka pake sepatu boots. Lumayan, biar ga terlalu kelihatan kurang tinggi hehehe.  Wedges? Errr.... untuk saat ini skip dulu. Masih trauma dengan insiden kepleset yang bikin pegal pantat berhari-hari, karena mendarat lebih dulu. 

Ga kok, saya ga meratapi nasib dengan postur badan yang mungil gini. Ada enaknya juga karena bisa menyamarkan usia dan ga usah pake seragam SMA *LOL*. Meskipun kalau lagi bayar di kasir, udah banyak yang manggil saya ibu. Ya, gapapa lah, daripada dipanggil Dek.  Kan, lebih menyebalkan -_-.

Soal penampilan yang stylish, emang dari dulu bukan monopolinya perempuan aja. Dari duluuu banget juga laki-laki udah sadar fashion. Cuma soal ruang dan waktu aja yang membedakannya. Ah iya, satu lagi, pantas enggaknya membuat padu padan setiap item yang dikenakan. Jangan sampai hare-hare, alias nabrak-nabrak. Kasian yang lihatnya, jangan sampai jadi sakit mata.







Share:

Tuesday, 2 August 2016

Kebiasaan Penumpang di Dalam Bus Kota

Kebiasaan Penumpang di Dalam Bus Kota  - Ada yang belum pernah naik bus kota? Kayaknya kecil kemungkinan kalau ada yang jawab belum pernah sama sekali. Dulu, jaman SMP,  saya adalah penumpang setia - eh sering - bus kota. Alasannya? Paling murah soalnya hehe.
http://www.catatan-efi.com/2016/08/kebiasaan-penumpang-di-dalam-bus-kota.html

Tahun 1993-1994 pas saya duduk di bangku kelas 2-3 SMP, bus ini adalah angkutan umum favorit. Waktu SMP 25 Bandung lokasinya masih di jalan Kelenteng, tinggal jalan dikit 100-200 meteran ke perempatan  Sudirman-Keleteng- Cibadak. Bisa ditemui anak-anak berbaju putih biru bergerombol nungguin  Mercy yang merakyat ini. Dulu saya cuma harus membayar 100 perak aja dari perempatan itu sampai ke bundaran Holis atau jalan Paltiga. Malah pernah juga lho bayarnya cuma 75 perak!

Bandingkan, dengan naik angkutan umum yang waktu itu  tarifnya 150 perak. Hari gini emang ga ada apa-apanya uang segitu, tapi jaman saya SMP itu worth it banget, lah. Dengan uang 500 perak aja udah bisa dapet bakso semangkok, lengkap dan super kenyang! :) Hantu inflasi emang ngehe dan nyebelin, ya.

Kembali ke topik. Meskipun lebih banyak merelakan diri untuk  jadi penumpang kelas festival (baca: berdiri) biasanya saya sama temen-temen enjoy aja. Selain emang jaraknya dekat, juga ada temennya. Kadang suka nemu juga penumpang yang berbaik hati berbagi kursi, atau emang busnya pas lagi kosong. Jadinya tetep bisa duduk. 

Nah, kalau merhatin penumpang di bus kota, biasanya unik-unik deh karakter dan cara mereka menghabiskan waktunya. Satu waktu saya pernah naik bus kota menuju kantor Dinas Pendidikan di jalan Ahmad Yani, Bandung. Pas lewat pasar Andir, busnya berhenti untuk mengangkut penumpang.  

Karena namanya juga pasar yang identik dengan becek (tapi ga pake ojek), mau ga mau aroma smelly khas pasar jadi menguar di dalam bus. Pengharum ruangan dan parfum beberapa penumpang yang dominan ternyata bisa kalah dari bau lumpur  yang nempel di kaki penumpang. Saya udah coba buat maklum aja, meski rada ga nyaman juga, sih.

Eh, tahu ga? Si Ibu  penumpang yang baru naik itu tiba-tiba menyapa penumpang lainnya. Gini katanya, "Hapunten Ibu, bapak, ka panumpang sadayana. Pami abi naek janten barau dina bis (Maaf Bu, Pak, sama penumpang semuanya. Kalau saya naik, busnya jadi bau)."

Mau-mau ga  mau saya nyengir dengernya di balik tissue yang dipake buat nutupin idung. Beberapa penumpang lain ada yang tersenyum menanggapinya ada juga yang cuek bebek, mungkin pikirannya lagi entah di mana lah. Mikirin dead line pekerjaan,  klien yang mau ditemui atau nahan ngantuk.

Selain si ibu ini yang celetukannya tidak terduga, selama beberapa kali naik bus kota, saya suka memerhatikan beberapa kebiasaan penumpang bus kota lainnya. Kayak gini, nih.

Ngobrol

Kalau pergi sama temen, biasanya bakal asik arisan alias ngobrol. Topiknya suka-suka deh, Bisa soal kerjaan, kuliah, ngomentarin yang diamati di dalam atau di luar bus, sampai curhat. Ya kalau volumenya kenceng jangan salahin penumpang lain  jadi ikutan nyimak dong.  Kadang ada juga yang pergi sendiri, eh tiba-tiba penumpang di sebelah ngajak ngobrol. Yang begini dua kemungkinan yang terjadi. Lanjut ngobrol atau seperlunya aja (saya pernah ngalamin dua-duanya :)) . Pernah juga saya merhatiin penumpang yang pergi bareng anaknya. Emak atau bapaknya jadi sibuk bercerita sama anaknya.

"Itu namanya jembatan penyeberangan, dek."
"Ini namanya persimpangan. Kalau pas lampu merahnya nyala, mobil dan kendaraan yang lewat harus berhenti."
"Deeek, makanannya jangan dimainin gitu, ah."
"Iya, sabar, bentar lagi turun."
"Hai Tante, apa kabar?"

Kurang lebih kayak gitu lah obrolan para ortu yang bawa anak balita atau batitanya. Kadang di bus juga bisa jadi ajang reuni, ketemuan teman lama. Bisa-bisa saking senengnya ketemuan, terus heboh ngobrol dan lupa volume suaranya rada kenceng.

BacaBuku/Ngoprek Gadget

Just in case macet atau bosan nunggu, biasanya saya suka bawa buku buat menemani di jalan pas pergi sendirian. Kalau sudah bosan, saya simpen bukunya dan buka gadget, ngecekin notif di grup chat, medsos atau email. Kalau batrenya abis (ini yang nyebelin) ya udah diem aja :D. Pas busnya lagi penuh banget better jangan ngoprek gadget karena biasanya kita cenderung asik sendiri. Jangan sampai ada barang kita yang pindah tangan.

Tidur

Pernah turun dari bus kelewatan karena ngantuk? Saya pernah hihihi dan sialnya rute yang dilewatin itu satu arah, ga bisa naik angkot biar sampai ke tujuan dengan cepat. Ya udah, anggap aja olahraga. Salah sendiri, ketiduran di bus. Kayaknya belum pernah nemu penumpang bus yang ngantuk, terus minta dibangunin kalau udah sampai jalan tertentu. *Emang gue siapanya elu?*

Gelantungan Pegangan

Kalau yang ini mah udah jelas kerjaan penumpang kelas festival alias yang kebagian berdiri tadi. Sambil gelantungan terutama ketika busnya penuh, kadang suka jelalatan juga cari posisi yang nyaman, alias gelagat penumpang yang mau turun. Kalau perjalanan masih jauh, terus macet kan pegel juga kalau berdiri terus, mah. Ada juga yang ga bisa gelantungan karena busnya udah penuh banget dan rempong dengan bawaannya. Atau tangannya kurang sampai buat gelantungan? Kalau pas kayak gini, saya suka cari posisi mepet ke sisi aja biar lebih aman.

Pura-pura sibuk sendiri

Ada yang memang anteng dengan buku atau gadgetnya, ada yang pura-pura sibuk karena ga mau ngalah kasih kursi sama penumpang lain yang lebih butuh kursi gitu. Hmm yang ini no comment deh.

Maksain duduk

Kadang suka ada juga penumpang yang berusaha cari celah buat duduk. Entah nyempil di antara penumpang yang lain, atau yang ekstrim kayak dulu saya masih SMP, duduk deket pak sopir, di sebelah persnelingnya bus gitu. Huahaha... Ada yang pernah kayak gitu juga, ga? Lumayan soalnya, apalagi kalau bodinya imut kaya saya #eeh. Ga enaknya, ya ada sensasi hangat dari mesin bus. Dan karena duduknya berlawaman arah dengan kemudi bus, jadi berasa duduk di kursi tunggal angkot gitu itu, lho. Lumayan lah daripada gelar tikar. Duh jangan atuh :)

Nyimak musik

Dulu pengamen bisa dengan bebas naik bus buat menghibur penumpang sambil usaha mengais receh. Mayoritas, lebih sopan dan kebanyakan nyanyi lagu-lagu Iwan Fals atau ever green.  yang ngamen di bus sih daripada yang suka rada maksa-maksa di angkot pas lewat perempatan gitu. Kalau sekarang - seenggaknya di Bandung - udah jarang banget ada pengamen yang naik bus kota kecuali di pangkalan sebelum busnya pergi. Setelah bus jalan, biasanya sopir bus bakal menyalakan musik. Kalau beruntung, genre musiknya bakal pas dengan selera kita. Giliran  bosen atau ga suka, saya milih nyalain musik dari HP dan mendengaraknnya dari earphone.  Selanjutnya terserah deh, mau ngelamun, merhatiin jalan atau baca buku sampai nunggu waktunya turun.

Ada yang mau nambahin kebiasaan penumpang lainnya kalau lagi naik bus kota?
Share:

Wednesday, 27 July 2016

7 Spot Wisata Pilihan Selama di Bogor

7 Spot Wisata Pilihan di Bogor - alau ditanya apa sih yang dulu petamakali teringat dari Bogor? Saya bakal bilang dua hal. Prasasti Batu Tulis dan talasnya :).  Jadi bukan Taman Safarinya, Kebun Raya atau kuliner lainnya dari Bogor yang pertama kali membenak.

Gara-garanya sih karena pelajaran sejarah yang masih  membekas (meski dikit) di kepala. As we know kalau prasasti Batutulis ini berasal dari peninggalan dari jamannya kerajaan Pajajaran pada  abad 16. Ratusan tahun sebelum blogpost ini ditulis :)
7 Spot Wisata Pilihan Selama di Bogor
Credit: indonesia-tourism.com

Sementara soal talas karena sejak kecil oleh-oleh yang paling sering dibawakan Apa (panggilan buat ayah saya) atau saudara seringnya  ya talas ini. Paling enak tuh kalau menikmati talas yang sudah dikukus dengan kelapa yang sudah diparut dan disajikan hangat-hangat. Temennya? cukup teh hangat, asik deh. *duh jadi lapar lagi*

Bisa dihitung dengan jari sebenarnya saya jalan-jalan ke Bogor. Paling tidak saya baru datang 5 kali seumur hidup ini ke Bogor. 3 kali ke Cisarua untuk berlibur ke Jungle Land, Taman Matahari, Taman Safari, 1 kali camping di Hulu Cai dan satu lagi ke Cibinong, menghadiri walimahan pernikahan teman saya. Padahal sama seperti di Bandung, masih banyak tempat wisata di Bogor yang menarik buat disambangi. Tapi karena waktunya ga cukup jadi ga keburu deh. Oke, mari siapkan budget buat ongkos dan itenerari pilihan buat jalan-jalan di Bogor.

Jadi inilah spot-spot di Bogor  yang masuk daftar pilihan saya. Ada yang mau nemenin? :)

1. Kebun Raya

Please jangan bilang saya ndeso, karena hari  gini belum kesampaian buat mampir tempat yang satu ini hihi... Abis waktunya ga cukup sih pas saya jalan ke Bogor. Sebagai salah satu ikon wisata di Bogor, kebun raya ini wajib banget buat dikunjungi. Belum ke Bogor kalau belum ke sini.

7 Spot Wisata Pilihan Selama di Bogor
Credit: goodnewsfromindonesia.com

2. Kampung Budaya Sindang Barang

Meski sudah lama lulus dan detil pelajaran sejarah seperti kronologi peristiwa dan silsilah yang ngejelimet suka ketuker itu banyak yang menguap, inget dong dulu di Bogor pernah ada kerajaan Tarumanagara?

Nah, kampung Sindang Barang ini merupakan kawasan yang punya sejarah panjang, sudah eksis sekitar 100 tahun kerajaan Tarumanagara pecah.

7 Spot Wisata Pilihan Selama di Bogor
Credit: kp-sindangbarang.com

Sejak tahun 2007, kampung Sindang Barang ditetapkan oleh Gubernur Jabar sebagai kawasan Budaya untuk mempertahan kearifan lokal yang masih ada.

Selain melihat situs purbakala dari dekat seperti Situs Taman Sri Bagenda, imah gede, pesanggrahan, lumbung padi, dan treking sejarah lainnya, para pengunjung bisa menyaksikan atraksi jaipongan, kesenian calung, dan nenyimak penuturan pemandu wisata tentang sejarah kampung yang legend ini. Asik, ya?

3. Prasasti Batu Tulis

Selain kampung Sindang Barang, masih banyak pilihan wisata sejarah lainnya di Bogor. Salah satunya adalah dengan mengunjungi Prasasti Batu Tulis  yang terletak di selatan Bogor.   

7 Spot Wisata Pilihan Selama di Bogor
Credit: nasional.news.viva.co.id

Jejak sejarah dari kerajaan bercorak Hindu Pajajaran ini punya  banyak latar cerita mengapa sang raja yang menggagasnya, Raja Surawisesa membuatnya. 

Biar ga penasaran mending saya kunjungi aja lokasinya di jalan Batu Tulis dan ngobrol langsung dengan kuncennya yang sudah 9 generasi menjaganya. Ssst.... Katanya Umi Maemunah, yang merupakan generasi ke-8 dari juru kunci di sini pernah melihat penampakan Prabu Siliwangi.


4. Agro Gunung Mas

Bogor yang dikenal sebagai kota hujan, pastinya punya bentang alam yang masih hijau. Salah satunya ya, Agro Gunung Emas. Meski cukup dekat dengan ibukota yang panas, di sini saya pengin merasakan sensasi rihlah sambil menikmati petualangan tea walk di perkebunan tehnya. Aroma eksotik dari pucuk daun tehnya saat bercanda dengan bulir embun pagi bisa bikin betah, deh.

7 Spot Wisata Pilihan Selama di Bogor
Credit: ayo-kebogor.net

5. Taman Riung Gunung

Objek wisata yang satu ini adanya di jalan raya Puncak, tidak jauh dari Gunung Mas. Dengan membayar tiket masuk 5 ribu saja, selain berwisata tea walk, masih ada wahana play ground, kolam renang dan lahan untuk berkemah. Wah sip lah. Bisa ngajakin adik dan keponakan saya sekalian main di sini. Yuhuuu...

7 Spot Wisata Pilihan Selama di Bogor
Credit: bogor.net

6. Taman Wisata Mekarsari

Sebenarnya sudah cukup lama saya menggemari buah-buahan, lho. Enak dan sehat pastinya kalau dimakan raw. Sejak aware punya banyak alergi, saya jadi lebih banyak mengonsumsi raw food terutama buah-buahan. So, spot yang satu ini wajib dong masuk list. Selain melihat dari dekat buah-buahan yang unik, dan musiman para pengunjung bisa ngobrol dengan para ahlinya di sini dan bisa beli bibitnya.

7 Spot Wisata Pilihan Selama di Bogor
Huaaaa pengen deh bercocok tanam buahh-buahan. Sayangnya halaman rumah saya ga punya space lagi untuk mengakomodasi keinginan saya. Hiks hiks...

7. Air Terjun Bidadari

Kok, jadi inget legenda Jaka Tarub, ya? Huehehe... Dari ceritanya tentu saja kisah sang jejaka pencuri selendang bidadari itu bukan terjadi di Bogor, ya.
Credit: bogor.net
7 Spot Wisata Pilihan Selama di Bogor
Credit: tempatwisatadibogor.net

Terus kenapa pengen ke sini?
Salah satu wisata alam yang saya sukai adalah mengunjungi air terjun. Merasakan tampias butiran airnya yang mengenai wajah itu menyenangkan sekali.

Lebih cihuynya lagi buat yang ga bisa renang kayak saya bisa bermain-main dengan air karena tersedia kolan yang dongkal. Horeee... Ga usah latihan renang, dong :)

Hotel yang Murah di Bogor

Berwisata menelusuri Bogor begini tentu tidak cukup dilalui dalam satu hari saja. Paling tidak, perlu waktu luang selama 3-4 hari buat 'ngajarambah' di sini. Itu belum dihitung sama wisata kulinernya hihihi. Jadi genapin aja sampai seminggu aja, gitu? :D

Ya deh, yang jelas perlu tempat untuk beristirahat alias nginap.  Nah, pertanyaannya, di mana coba  hotel murah di Bogor yang nyaman? 
Airy Rooms Bogor
Credit: airyrooms.con

Pengalaman yang udah-udah, saya ga mau nyari tempat nginep dadakan. Biar lah tahu bulat aja yang dadakan mah :). Masa iya mau berspekulasi cari penginapan asal aja. Kalau ga terpaksa dapat yang mahal, ya ga maulah kalau harus gelar tikar di stasiun atau terminal. Makanya biar tenang, saya nemu rekomendasi hotel murah yang oke, Airy Rooms.

Soalnya hotel Airy Rooms itu murah, terjangkau. Bayangin aja, fasilitasnya oke dan menyediakan 7 jaminan fasilitas di setiap kamar. 

Airy Rooms Bogor
Credit: airyrooms.com
Untuk booking kamar di Airy Rooms caranya sangat gampamg. Bisa diakses via telepon, pesan di web dan chat dengan customer servicenya yang lagi on duty atau kalau punya aplikasi whatsapp, bisa juga lho pesan kamar dengan aplikasi chat yang rata-rata pada punya di smartphonenya. Ya, kan? 

http://www.catatan-efi.com/2016/07/7-spot-wisata-pilihan-di-bogor.html

http://www.catatan-efi.com/2016/07/7-spot-wisata-pilihan-di-bogor.html
http://www.catatan-efi.com/2016/07/7-spot-wisata-pilihan-di-bogor.html
 Ga usah galau, dan envy sama kamar yang punya rate mahal. Di Airy Rooms, setiap kamar punya fasilitas AC, TV flat alias layar datar, perlengkapan mandi yang, tempat tidur yang dijamin selalu bersih biar enak tidur,  shower air hangat, air minum gratis, dan WiFi gratis pula. Ga asik lah, saat leyeh-leyeh istirahat dan pengen update di medsos ga jadi, gara-gara ga ada koneksi internet.

Selain di Bogor, hotel Airy Rooms juga bisa dijumpai di Jakarta, Bali, Yogya dan Bandung. Dengan budget mulai seratus ribuan,  kita - iya, kita - udah bisa staycation cantik dan asik ga pake mahal. Asik, kan?




Share: