Thursday, 18 November 2010

Tante, Itu Gerobak Yaaa?

Minggu kemarin, aku janjian dengan kroslen di Oriflame-anku, Salis n Ghina buat ketemuan dan ngomongin rencana group Bandung akhir bulan nanti. Lumayan perlu melibatkan banyak personil, semoga lancar yaaa.  soal acara ini aku ceritain secara terpisah, di sini
So... aku, Salis dan Ghina janjian ketemu bada dzuhur di sana. Sekitar jam satuan, akhirnya kita ketemuan juga. berhubung di lobby ruangannya lagi dipake acara, jadi rada susah juga buat kami nyari space buat ngobrol denngan nyaman. Akhirnya kita milih ngobrol di halaman luar, deal! Sambil ngobrol dan ngudap gorengan hangat di sana (penting yaaa buat di critain? hehehe)  kita bikin konsep awal berapa banyak personil yang dibutuhkan untuk acara BOP nanti.
O, ya waktu itu Salis dateng bareng jagoan kecilnya, Ghani. Aduuuh tuh anak, lucu banget deh.  Sebelumnya aku udah pernah ketemu sama bocah lucu ini beberapa kali sebelumnya, jadi ga sulit untuk beradaptasi ditambah memang anaknya ga sulit untuk bergaul dengan orang baru. Ni liat, tampangnya lucunya..... 
Nah karna sering ketemu sebelumnya, otomatis la aku hafal beberapa hal tentang Ghani termasuk hobbyna dengan gambar mobil. Jadi sementara Salis balik kedalam buat ngambil orderan dan nitipin Ghaninya padaku, aku langsung ngajak Ghani ngegambar mobil.
Gambar pertama sukses, aku menggambar sebuah sedan.
Ghani : tante, itu apa?
Aku : ini sedan Ghani...
Gahni : o,... ya sedan

Lanjut, dengan gambar kedua. Karna ga ajgo ngegambar, aku ngegambar sebuah mobil pick up. trus Ghani nanya 
Ghani : Tante,... itu apa?
Aku : ini mobil truck Ghani....
Ghani : Itu gerobak tante....

GUBRAKKKK!!!!
 Haaaaa, gambarku jelek banget yaaaak ngegambar truck pick up dikira gerobak huhuhuhu kasian bener yaaa

Anyway lucu juga nih anak sebelum kita berpisah, selain cium tangan, Ghani juga udah belajar meluk dan nyium hehehe secara masih bocah, jadi ga papa yaaa. 
 
Share:

Tuesday, 21 September 2010

Al Lathief: Dia yang maha lembut rencananya, maha lembut pada hambanya

Ngudek-ngudek dari inbox di Fb, udah lama baca postingnya tapi ga basi buat di share. Semoga bermanfaat ya.
Buat temen-temen yang sedang menanti jawaban setiap doanya, apapun itu doanya.

(reposting dari pesan grup Kajian Tafsir Tematik)
Seorang ibu penjual tempe pernah merasa Allah tidak mendengar doanya, karena tempe buatannya masih belum jadi. Bukan sekali dua kali dia bikin tempe.Padahal dia harus menjual tempe untuk menafkahi hidupnya.

Di Karangayu, sebuahdesa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe.Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .."demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah shalat Shubuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, diaberjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atasmeja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagianberderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah,pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini.Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mukuserahkan nasibku..." Dalam hati, dia yakin, Allah akanmengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yangmenjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itumasih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu olehkapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Diayakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itupasti akan jadi.

Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambaNya yang setia beribadah seperti dia.Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa akulakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.Bantulah aku, kabulkan doaku..."

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe.Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi.Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelaitersebut. "Pertolongan Allah akan datang... pasti," yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, takdir Allah tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu."Pasti sekarang telah jadi tempe!" batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama sepertiketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Kecewa, airmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempeini tidak jadi? Kenapa Allah menakdirkan hal ini? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Apakah Allah telah meninggalkan aku?, batinnya.

Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun takakan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit,karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah,seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya."Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?"

Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawabpertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi,jangan jadikan tempe..." Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe..."

"Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi.

Share:

Wednesday, 4 August 2010

Belajar dari semut







Malem semua, sebelum aku posting ini aku nyempetin baca ensiklopedi sambil nunggu giliran ma adik pake internetan hehehe. SO, bukan suatu kebetulan ya aku pikir karena nemu tulisan yang bagus tentang semut.
Yup, dalam Al Quran ada banyak nama hewan kan yang dipakai sebagai nama Surat. Contohnya Lebah dengan An-Nahl, Gajah dengan Al-FIll dan Semut dengan An-Naml. 
Nah, soal semut ini yang mau aku share nih teman-teman. Jadi begini ceritanya.
Seorang ilmuwan membuat penelitian tentang semut (kesannya isenng tapi inspiring banget). Seekor semut membawa biji-bijian dan mendaki ke puncak batu Si Ilmuwan ini meneliti antara berat semut dengan berat biji yang dibawanya,  mengukur ketinggian tempat yang didaki oleh semut untuk membawa biji-bijian tadi. Hasilnya dia menemukan kalo seseorang ingin menjadi sekua semut (relatif), dia harus memikul di atas bahunya beban seberat 1.000 kg serta menaiki titikan tangga sebanyak 7 tingkat! ck ck ck....

Share:

Friday, 2 July 2010

Istriku Bukan Bidadari, Tapi Aku Pun Bukan Malaikat

Reposting dari http://kaeshafiz.wordpress.com/2010/04/20/istriku-bukan-bidadari-tapi-aku-pun-bukan-malaikat

Oleh Ustadz Arifin Badri, Lc., M.A.

Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.


Anda telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?


Mungkin saja Anda menjawab, “Tidak.”


Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan Anda: “Ya,” bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan sebelumnya.


Saudaraku, kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku, dan pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda bersedih. Tidak jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan kadang kala Anda cemberut dan bermasam muka.


Bukankah demikian, Saudaraku?


Berbagai tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan.


Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.


Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.


Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah.


Bukankah demikian, Saudaraku?

Share:

Friday, 11 June 2010

PIala Dunia

Piala Dunia 2010 tinggal itungan jam lagi yaa?
Yuk ah sekarang kita obrolin soal Piala Dunia aja yaa, ya lagi happening  sekarang. Nah aku mau muali aja dari tahun 1986. Waktu itu aku masih bocah, usia 7 tahunan gitu deh hehehe. Well, karena aku belum begitu ngeh, yang aku inget dari Piala Dunia 1986 itu adalah maskotnya! kaya begini ini deh.

 Tau kan, namanya Pique. yang digambarkan sebagai sebuah lada jalapeño yang merupakan karakteristik dari masakan Meksiko, dengan kumis dan sebuah sombrero Colimote. Ia digambarkan menggunakan pakaian yang warnanya merupakan warna tim sepak bola Meksiko. Nama "Pique" berasal dari kata picante yang berasal dari bahasa Spanyol, yang dalam bahasa Indonesia berarti paprika dan saus pedas. Selain itu di buku tulis yang aku punya waktu itu covernya juga ga jauh-jauh dari tema Piala Dunia. yang aku inget juga covernya adalah Gambar Maradona
yang lagi mengangkat trofi Piala Dunia  setelah membuat Jerman Barat  dan para pendukungnya nangis bombay   (deuh  maennya di India kali ya)
Nah, beralih ke tahun 1990. Seperti biasa, Piala Dunia selalu digelar setelah kompetisi liga-liga dunia berakhir, juga barengan dengan liburan sekolah. Aku mulai ngeh banyak soal Piala Dunia nih. Kali ini Piala Dunia digelar di Italia. Kali ini logonya seperti ini   Hmm, tampak seperti logonya Lega Calcio yaa?


dan Voila.... akhirnya Jerman Barat bisa berbalas pantun eh salah ding, Balas dendam dengan mengalahkan Argentina di Final dengan skor tipis, 1-0 saja. 
Anyway, meskipun ga juara, Italia dapet hiburan juga dengan keluarnya Salvatore"Toto" Schilachi sebagai Top Scorenya plus jadi Pemain terbaik. Satu hal yang aku suka dari Piala Dunia 1990 ini adalah Theme songnya
"To Be Number One" yang dinyanyiin sama Giorgio Moroder. "To be number one, run like a wind playing hard. but always playing fair"...Nah, 4 tahun kemudian, Piala Dunia 1994 digelar di tahun 1994 di Amrik sono. Waktu itu Finalnya digelar minggu malam, tepat menjelang aku ngikutin hari pertama penataran di SMA  (deuuuh, ga penting kali yeee ) 

Share:

Monday, 26 April 2010

Pola Konsumtif anak-anak

Ada jajak pendapat yang dirilis Koran Kompas, media terbitan Ibu Kota Minggu lalu, tanggal 18 April 2010. Cukup menarik, mengagetkan dan entah perasaan apalagi. Kasus yang diangkat kali ini soal pola konsumtif anak-anak SD. Dari hasil penelitian dengan sampling sebanyak 573 responden lebih dari 78,6% anak-anak menghabiskan uangn jajannya cuma buat Membeli makanan dan minuman. Sisanya bervariasi untuk membeli mainan, keperluan sekolah, transport, menabun, membeli pulsa (eh anak SD dah perlu ya alat komunikasi?), internet dan tidak menjawab.
Mengerikan. saya jadi teringat 4 hari yang lalu teman saya membawa putri semata wayangnya - pelajar kelas 1 SD - ke sekolah, tidak seperti biasanya. Mumpung Kepala Sekolah lagi keluar kota, jadi ga kagok, sahutnya. Well, mulai dari pagi-pagi sampai pulang dia sudah menghabiskan uang jajan hampir Rp. 20.000 mulai dari beli permen, sosis goreng, kue, bakso dan yang cukup mengagetkan itu belum termasuk jajannya sekolah nanti yang masuk jam 12 siang. Wah padahal dalam sehari saya juga belum tentu jajan dari setengahnya anak ini.
Emang siapa yang ngajarin dia jajan boros gitu sih?" tanyaku
"aku ga ngajarin dia teh," sahutnya. "Omanya nih yang terlalu manjain. Kapok saya bawa dia ke sekolah. cukup hari ini saja," katanya lagi.
Oh.... saya mengerti, itu juga mungkin yang jadi alasan kenapa dia tidak berminat memindahkan putrinya itu untuk sekolah satu atap dengan tempat ibunya bekerja.
Duh, jangan sampai deh kalo nanti saya punya anak borosnya minta ampun kayak gitu.
Share:

Tuesday, 22 December 2009

Kejaiban Sedekah (Reposting dari Milis Iqra)

Banyak yang mau berubah,
tapi memilih jalan mundur.

Andakah orangnya?


Satu hari saya jalan melintas di satu daerah.. Tetidur di dalam mobil. Saat
terbangun, ada tanda pom bensin sebentar lagi. Saya pesen ke supir saya:
"Nanti di depan ke kiri ya".
"Masih banyak, Pak Ustadz".
Saya paham. Supir saya mengira saya pengen beli bensin. Padahal bukan. Saya
pengen pipis.
Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti. "PakUstadz!".
Dari jauh ia melambai dan mendekati saya.
Saya menghentikan langkah. Menunggu beliau.
"Pak Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya
melihat di TV saja…". Saya senyum aja. Ga ke-geeran, insya Allah, he he he.
"Saya ke toilet dulu ya".
"Nanti saya pengen ngobrol boleh Ustadz?"
"Saya buru-buru loh. Tentang apaan sih?"
"Saya bosen jadi satpam Pak Ustadz".
Sejurus kemudian saya sadar, ini Allah pasti yang "berhentiin" saya. Lagi
enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun pengen pipis. Eh nemu pom
bensin. Akhirnya ketemu sekuriti ini. Berarti barangkali saya kudu bicara
dengan dia. Sekuriti ini barangkali "target operasi" dakwah hari ini. Bukan
jadwal setelah ini. Begitu pikir saya.
Saya katakan pada sekuriti yang mulia ini, "Ok, ntar habis dari toilet ya".

***

"Jadi, pegimana? Bosen jadi satpam? Emangnya ga gajian?", tanya saya membuka
percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan beliau ini.
Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada minimart nya yang dilengkapi
fasilitas ngopi-ngopi ringan.
"Gaji mah ada Ustadz. Tapi masa gini-gini aja?"
"Gini-gini aja itu, kalo ibadahnya gitu-gitu aja, ya emang udah begitu.
Distel kayak apa juga, agak susah buat ngerubahnya".
"Wah, ustadz langsung nembak aja nih".
Saya meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang salah.
Tapi umumnya begitu lah manusia. Rizki mah mau banyak, tapi sama Allah ga
mau mendekat. Rizki mah mau nambah, tapi ibadah dari dulu ya begitu-begitu
saja.
"Udah shalat ashar?"
"Barusan Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya ga?
Ya saya pikir sama saja".
"Oh, jadi ga apa-apa telat ya? Karena situ pikir kerja situ adalah juga
ibadah?"
Sekuriti itu senyum aja.
Disebut jujur mengatakan itu, bisa ya bisa tidak. Artinya, sekuriti itu bisa
benar-benar menganggap kerjaannya ibadah, tapi bisa juga ga. Cuma sebatas
omongan doangan. Lagian, kalo nganggap kerjaan-kerjaan kita ibadah, apa yang
kita lakukan di dunia ini juga ibadah, kalau kita niatkan sebagai ibadah.
Tapi, itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajibnya, tetap
nomor satu. Kalau ibadah wajibnya nomor tujuh belas, ya disebut bohong dah
tuh kerjaan adalah ibadah. Misalnya lagi, kita niatkan usaha kita sebagai
ibadah, boleh ga? Bagus malah. Bukan hanya boleh. Tapi kemudian kita
menerima tamu sementara Allah datang. Artinya kita menerima tamu pas waktu
shalat datang, dan kemudian kita abaikan shalat, kita abaikan Allah, maka
yang demikian masihkah pantas disebut usaha kita adalah ibadah? Apalagi
kalau kemudian hasil kerjaan dan hasil usaha, buat Allah nya lebih sedikit
ketimbang buat kebutuhan-kebutuhan kita. Kayaknya perlu dipikirin lagi tuh
sebutan-sebutan ibadah.
"Disebut barusan itu maksudnya jam setengah limaan ya? Saya kan baru jam 5
nih masuk ke pom bensin ini", saya mengejar.
"Ya, kurang lebih dah".
Saya mengingat diri saya dulu yang dikoreksi oleh seorang faqih, seorang
'alim, bahwa shalat itu kudu tepat waktu. Di awal waktu. Tiada disebut
perhatian sama Yang Memberi Rizki bila shalatnya tidak tepat waktu. Aqimish
shalaata lidzikrii, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Lalu, kita
bersantai-santai dalam mendirikan shalat. Entar-entaran. Itu kan jadi sama
saja dengan mengentar-entarkan mengingat Allah. Maka lalu saya ingatkan
sekuriti yang entahlah saya merasa he is the man yang Allah sedang berkenan
mengubahnya dengan mempertemukan dia dengan saya.
"Gini ya Kang. Kalo situ shalatnya jam setengah lima, memang untuk mengejar
ketertinggalan dunia saja, jauh tuh. Butuh perjalanan satu setengah jam
andai ashar ini kayak sekarang, jam tiga kurang dikit. Bila dalam sehari
semalam kita shalat telat terus, dan kemudian dikalikan sejak akil baligh,
sejak diwajibkan shalat, kita telat terus, maka berapa jarak ketertinggalan
kita tuh? 5x satu setengah jam, lalu dikali sekian hari dalam sebulan, dan
sekian bulan dalam setahun, dan dikali lagi sekian tahun kita telat. Itu
baru telat saja, belum kalo ketinggalan atau kelupaan, atau yang lebih
bahayanya lagi kalau bener-benar lewat tuh shalat? Wuah, makin jauh saja
mestinya kita dari senang".
Saudara-saudaraku Peserta KuliahOnline, percakapan ini kurang lebih begitu.
Mudah-mudahan sekuriti ini paham apa yang saya omongin. Dari raut mukanya,
nampaknya ia paham. Mudah-mudahan demikian juga saudara-saudara ya? He he
he. Belagu ya saya? Masa omongan cetek begini kudu nanya paham apa engga
sama lawan bicara?
Saya katakan pada dia. Jika dia alumni SMU, yang selama ini telat shalatnya,
maka kawan-kawan selitingnya mah udah di mana, dia masih seperti diam di
tempat. Bila seseorang membuka usaha, lalu ada lagi yang buka usaha,
sementara yang satu usahanya maju, dan yang lainnya sempit usahanya, bisa
jadi sebab ibadah yang satu itu bagus sedang yang lain tidak.
Dan saya mengingatkan kepada peserta KuliahOnline untuk tidak menggunakan
mata telanjang untuk mengukur kenapa si Fulan tidak shalat, dan cenderung
jahat lalu hidupnya seperti penuh berkah? Sedang si Fulan yang satu yang
rajin shalat dan banyak kebaikannya, lalu hidupnya susah. Jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan seperti ini cukup kompleks. Tapi bisa diurai satu satu
dengan bahasa-bahasa kita, bahasa-bahasa kehidupan yang cair dan dekat
dengan fakta. Insya Allah ada waktunya pembahasan yang demikian.
Kembali kepada si sekuriti, saya tanya, "Terus, mau berubah?"
"Mau Pak Ustadz. Ngapain juga coba saya kejar Pak Ustadz nih, kalo ga
serius?"
"Ya udah, deketin Allah dah. Ngebut ke Allah nya".
"Ngebut gimana?"
"Satu, benahin shalatnya. Jangan setengah lima-an lagi shalat asharnya.
Pantangan telat. Buru tuh rizki dengan kita yang datang menjemput Allah.
Jangan sampe keduluan Allah".
Si sekuriti mengaku mengerti, bahwa maksudnya, sebelum azan udah standby di
atas sajadah. Kita ini pengen rizkinya Allah, tapi ga kenal sama Yang
Bagi-bagiin rizki. Contohnya ya pekerja-pekerja di tanah air ini.. Kan aneh.
Dia pada kerja supaya dapat gaji. Dan gaji itu rizki. Tapi giliran Allah
memanggil, sedang Allah lah Tuhan yang sejatinya menjadikan seseorang
bekerja, malah kelakuannya seperti ga menghargai Allah. Nemuin klien, rapih,
wangi, dan persiapannya masya Allah. Eh, giliran ketemu Allah, amit-amit
pakaiannya, ga ada persiapan, dan tidak segan-segan menunjukkan wajah dan
fisik lelahnya. Ini namanya ga kenal sama Allah.
"Yang kedua," saya teruskan. "Yang kedua, keluarin sedekahnya".
Saya inget betul. Sekuriti itu tertawa. "Pak Ustadz, pegimana mau sedekah,
hari gini aja nih, udah pada habis belanjaan. Hutang di warung juga terpaksa
dibuka lagi,. Alias udah mulai ngambil dulu bayar belakangan".
"Ah, ente nya aja kali yang kebanyakan beban. Emang gajinya berapa?"
"Satu koma tujuh, Pak ustadz".
"Wuah, itu mah gede banget. Maaf ya, untuk ukuran sekuriti, yang orang
sering sebut orang kecil, itu udah gede".
"Yah, pan kudu bayar motor, bayar kontrakan, bayar susu anak, bayar ini
bayar itu. Emang ga cukup Pak ustadz".
"Itu kerja bisa gede, emang udah lama kerjanya?"
"Kerjanya sih udah tujuh taon. Tapi gede gaji bukan karena udah lama
kerjanya. Saya ini kerjanya pagi siang sore malem, ustadz".
"Koq bisa?"
"Ya, sebab saya tinggal di mess. Jadi dihitung sama bos pegimana gitu sampe
ketemu angka 1,7jt".
"Terus, kenapa masih kurang?"
"Ya itu, sebab saya punya tanggungan banyak".
"Secara dunianya, lepas aja itu tanggungan. Kayak motor. Ngapain juga ente
kredit motor? Kan ga perlu?"
"Pengen kayak orang-orang Pak Ustadz".
"Ya susah kalo begitu mah. Pengen kayak orang-orang, motornya. Bukan ilmu
dan ibadahnya. Bukan cara dan kebaikannya. Repot".
Sekuriti ini nyengir. Emang ini motor kalo dilepas, dia punya 900 ribu.
Rupanya angsuran motornya itu 900 ribu. Ga jelas tuh darimana dia nutupin
kebutuhan dia yang lain. Kontrakan saja sudah 450 ribu sama air dan listrik.
Kalo ngelihat keuangan model begini, ya nombok dah jadinya.
"Ya udah, udah keterlanjuran ya? Ok. Shalatnya gimana? Mau diubah?"
"Mau Ustadz. Saya benahin dah".
"Bareng sama istri ya. Ajak dia. Jangan sendirian. Ibarat sendal, lakukan
berdua. Makin cakep kalo anak-anak juga dikerahin.. Ikutan semuanya
ngebenahin shalat".
"Siap ustadz".
"Tapi sedekahnya tetap kudu loh".
"Yah Ustadz. Kan saya udah bilang, ga ada".
"Sedekahin aja motornya. Kalo engga apa keq".
"Jangan Ustadz. Saya sayang-sayang ini motor. Susah lagi belinya. Tabungan
juga ga ada. Emas juga ga punya".
Sekuriti ini berpikir, saya kehabisan akal untuk nembak dia. Tapi saya akan
cari terus. Sebab tanggung. Kalo dia hanya betulin shalatnya saja, tapi
sedekahnya tetap ga keluar, lama keajaiban itu akan muncul. Setidaknya
menurut ilmu yang saya dapat. Kecuali Allah berkehendak lain. Ya lain soal
itu mah.
Sebentar kemudian saya bilang sama ini sekuriti, "Kang, kalo saya unjukin
bahwa situ bisa sedekah, yang besar lagi sedekahnya, situ mau percaya?". Si
sekuriti mengangguk. "Ok, kalo sudah saya tunjukkan, mau ngejalanin?".
Sekuriti ini ngangguk lagi. "Selama saya bisa, saya akan jalanin," katanya,
manteb.
"Gajian bulan depan masih ada ga?"
"Masih. Kan belum bisa diambil?"
"Bisa. Dicoba dulu".
"Entar bulan depan saya hidup pegimana?"
"Yakin ga sama Allah?"
"Yakin".
"Ya kalo yakin, titik. Jangan koma. Jangan pake kalau".
Sekuriti ini saya bimbing untuk kasbon. Untuk sedekah. Sedapetnya. Tapi
usahakan semua. Supaya bisa signifikan besaran sedekahnya. Sehingga
perubahannya berasa. Dia janji akan ngebenahin mati-matian shalatnya.
Trmasuk dia akan polin shalat taubatnya, shalat hajatnya, shalat dhuha dan
tahajjudnya. Dia juga janji akan rajinin di waktu senggang untuk baca al
Qur'an. Perasaan udah lama banget dia emang ga lari kepada Allah. Shalat
Jum'at aja nunggu komat, sebab dia sekuriti. Wah, susah dah. Dan itu dia
aminin. Itulah barangkali yang sudah membuat Allah mengunci mati dirinya
hanya menjadi sekuriti sekian tahun, padahal dia Sarjana Akuntansi!
Ya, rupanya dia ini Sarjana Akuntansi. Pantesan juga dia ga betah dengan
posisinya sebagai sekuriti. Ga kena di hati. Ga sesuai sama rencana. Tapi ya
begitu dah hidup.. Apa boleh buta, eh, apa boleh buat. Yang penting kerja
dan ada gajinya.
Bagi saya sendiri, ga mengapa punya banyak keinginan. Asal keinginan itu
keinginan yang diperbolehkan, masih dalam batas-batas wajar. Dan ga apa-apa
juga memimpikan sesuatu yang belom kesampaian sama kita. Asal apa? Asal kita
barengin dengan peningkatan ibadah kita. Kayak sekarang ini, biarin aja
harga barang pada naik. Ga usah kuatir. Ancem aja diri, agar mau menambah
ibadah-ibadahnya. Jangan malah berleha-leha. Akhirnya hidup kemakan dengan
tingginya harga,. Ga kebagian.

***

Sekuriti ini kemudian maju ke atasannya, mau kasbon. Ketika ditanya buat
apa? Dia nyengir ga jawab. Tapi ketika ditanya berapa? Dia jawab, Pol. Satu
koma tujuh. Semuanya.
"Mana bisa?" kata komandannya.
"Ya Pak, saya kan ga pernah kasbon. Ga pernah berani. Baru ini saya berani".
Komandannya terus mengejar, buat apa? Akhirnya mau ga mau sekuriti ini jawab
dengan menceritakan pertemuannya dengan saya.
Singkat cerita, sekuriti ini direkomendasikan untuk ketemu langsung sama
ownernya ini pom bensin.. Katanya, kalau pake jalur formal, dapet kasbonan
30% aja belum tentu lolos cepet. Alhamdulillah, bos besarnya menyetujui.
Sebab komandannya ini ikutan merayu, "Buat sedekah katanya Pak", begitu kata
komandannya.
Subhaanallaah, satu pom bensin itu menyaksikan perubahan ini. Sebab cerita
si sekuriti ini sama komandannya, yang merupakan kisah pertemuannya dengan
saya, menjadi kisah yang dinanti the end story nya. Termasuk dinanti oleh
bos nya.
"Kita coba lihat, berubah ga tuh si sekuriti nasibnya", begitu lah pemikiran
kawan-kawannya yang tahu bahwa si sekuriti ini ingin berubah bersama Allah
melalui jalan shalat dan sedekah.
Hari demi hari, sekuriti ini dilihat sama kawan-kawannya rajin betul
shalatnya. Tepat waktu terus. Dan lumayan istiqamah ibadah-ibadah sunnahnya.
Bos nya yang mengetahui hal ini, senang. Sebab tempat kerjanya jadi barokah
dengan adanya orang yang mendadak jadi saleh begini. Apalagi kenyataannya si
sekuriti ga mengurangi kedisiplinan kerjaannya.. Malah tambah cerah muka
nya.
Sekuriti ini mengaku dia cerah, sebab dia menunggu janjinya Allah. Dan dia
tahu janji Allah pastilah datang. Begitu katanya, menantang ledekan
kawan-kawannya yang pada mau ikutan rajin shalat dan sedekah, asal dengan
catatan dia berhasil dulu.
Saya ketawa mendengar dan menuliskan kembali kisah ini. Bukan apa-apa, saya
demen ama yang begini. Sebab insya Allah, pasti Allah tidak akan tinggal
diam. Dan barangkali akan betul-betul mempercepat perubahan nasib si
sekuriti. Supaya benar-benar menjadi tambahan uswatun hasanah bagi yang
belum punya iman. Dan saya pun tersenyum dengan keadaan ini, sebab Allah
pasti tidak akan mempermalukannya juga, sebagaimana Allah tidak akan
mempermalukan si sekuriti.
Suatu hari bos nya pernah berkata, "Kita lihatin nih dia. Kalo dia ga kasbon
saja, berarti dia berhasil. Tapi kalo dia kasbon, maka kelihatannya dia
gagal. Sebab buat apa sedekah 1 bulan gaji di depan yang diambil di muka,
kalau kemudian kas bon. Percuma".
Tapi subhaanallah, sampe akhir bulan berikutnya, si sekuriti ini ga kasbon.
Berhasil kah?
Tunggu dulu. Kawan-kawannya ini ga melihat motor besarnya lagi. Jadi, tidak
kasbonnya dia ini, sebab kata mereka barangkali aman sebab jual motor. Bukan
dari keajaiban mendekati Allah.
Saatnya ngumpul dengan si bos, ditanyalah si sekuriti ini sesuatu urusan
yang sesungguhnya adalah rahasia dirinya.
"Bener nih, ga kasbon? Udah akhir bulan loh. Yang lain bakalan gajian.
Sedang situ kan udah diambil bulan kemaren".
Sekuriti ini bilang tadinya sih dia udah siap-siap emang mau kasbon kalo
ampe pertengahan bulan ini ga ada tanda-tanda. Tapi kemudian cerita si
sekuriti ini benar-benar bikin bengong orang pada.
Sebab apa? Sebab kata si sekuriti, pasca dia benahin shalatnya, dan dia
sedekah besar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya, yakni hidupnya
di bulan depan yang dia pertaruhkan, trjadi keajaiban. Di kampung, ada
transaksi tanah, yang melibatkan dirinya. Padahal dirinya ga trlibat secara
fisik. Sekedar memediasi saja lewat sms ke pembeli dan penjual. Katanya,
dari transaksi ini, Allah persis mengganti 10x lipat. Bahkan lebih. Dia
sedekah 1,7jt gajinya. Tapi Allah mengaruniainya komisi penjualan tanah di
kampungnya sebesar 17,5jt. Dan itu trjadi begitu cepat. Sampe-sampe bulan
kemaren juga belum selesai. Masih tanggalan bulan kemaren, belum berganti
bulan.
Kata si sekuriti, sadar kekuatannya ampe kayak gitu, akhirnya dia malu sama
Allah. Motornya yang selama ini dia sayang-sayang, dia jual! Uangnya
melek-melek buat sedekah. Tuh motor dia pake buat ngeberangkatin
satu-satunya ibunya yang masih hidup. Subhaanallaah kan? Itu jual motor,
kurang. Sebab itu motor dijual cepat harganya ga nyampe 13 juta. Tapi dia
tambahin 12 juta dari 17jt uang cash yang dia punya. Sehingga ibunya punya
25 juta. Tambahannya dari simpenan ibunya sendiri.
Si sekuriti masih bercerita, bahwa dia merasa aman dengan uang 5 juta
lebihan transaksi. Dan dia merasa ga perlu lagi motor. Dengan uang ini, ia
aman. Ga perlu kasbon.
Mendadak si bos itu yang kagum. Dia lalu kumpulin semua karyawannya, dan
menyuruh si sekuriti ini bercerita tentang keberkahan yang dilaluinya selama
1 bulan setengah ini.
Apakah cukup sampe di situ perubahan yang trjadi pada diri si sekuriti?
Engga. Si sekuriti ini kemudian diketahui oleh owner pom bensin tersebut
sebagai sarjana S1 Akuntansi. Lalu dia dimutasi di perusahaan si owner yang
lain, dan dijadikan staff keuangan di sana. Masya Allah, masya Allah, masya
Allah. Berubah, berubah, berubah.
Saudara-saudaraku sekalian.. Cerita ini bukan sekedar cerita tentang
Keajaiban Sedekah dan Shalat saja. Tapi soal tauhid. soal keyakinan dan iman
seseorang kepada Allah, Tuhannya. Tauhid, keyakinan, dan imannya ini bekerja
menggerakkan dia hingga mampu berbuat sesuatu. Tauhid yang menggerakkan!
Begitu saya mengistilahkan. Sekuriti ini mengenal Allah. Dan dia baru
sedikit mengenal Allah. Tapi lihatlah, ilmu yang sedikit ini dipake sama
dia, dan diyakini. Akhirnya? Jadi! Bekerja penuh buat perubahan dirinya,
buat perubahan hidupnya.
Subhaanallaah, masya Allah.
Dan lihat juga cerita ini, seribu kali si sekuriti ini berhasil keluar
sebagai pemenang, siapa kemudian yang mengikuti cerita ini? Kayaknya
kawan-kawan sepom bensinnya pun belum tentu ada yang mengikuti jejak
suksesnya si sekuriti ini. Barangkali cerita ini akan lebih dikenang sebagai
sebuah cerita manis saja. Setelah itu, kembali lagi pada rutinitas dunia.
Yah, barangkali tidak semua ditakdirkan menjadi manusia-manusia pembelajar.
Pertanyaan ini juga layak juga diajukan kepada Peserta KuliahOnline yang
saat ini mengikuti esai ini? Apa yang ada di benak Saudara? Biasa sajakah?
Atau mau bertanya, siapa sekuriti ini yang dimaksud? Di mana pom bensinnya?
Bisa kah kita bertemu dengan orang aslinya? Berdoa saja. Sebab kenyataannya
juga buat saya tidak gampang menghadirkan testimoni aslinya. Semua orang
punya prinsip hidup yang berbeda. Di antara semua peserta KuliahOnline saja
ada yang insya Allah saya yakin mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup
ini. Sebagiannya memilih diam saja, dan sebagiannya lagi memilih
menceritakan ini kepada satu dua orang saja, dan hanya orang-orang tertentu
saja yang memilih untuk benar-benar terbuka untuk dicontoh. Dan memang bukan
apa-apa, ketika sudah dipublish, memang tidak gampang buat seseorang
menempatkan dirinya untuk menjadi contoh.
Yang lebih penting buat kita sekarang ini, bagaimana kemudian kisah ini
mengisnpirasikan kita semua untuk kemudian sama-sama mencontoh saja kisah
ini. Kita ngebut sengebut2nya menuju Allah. Yang merasa dosanya banyak,
sudah, jangan terus-terusan meratapi dosanya. Kejar saja ampunan Allah
dengan memperbanyak taubat dan istighfar, lalu mengejarnya dengan amal
saleh. Persis seeperti yang kemaren-kemaren juga dijadikan statement esai
penutup.
Kepada Allah semua kebenaran dan niat dikembalikan. Salam saya buat keluarga
dan kawan-kawan di sekeliling saudara semua. Saya merapihkan tulisan ini di
halaman parkir rumah sakit Harapan Kita.. Masih di dalam mobil. Sambil
menunggu dunia terang. Insya Allah hari ini bayi saya, Muhammad Yusuf al
Haafidz akan pulang ke rumah untuk yang pertama kalinya. Terima kasih banyak
atas doa-doanya dan perhatiannya. Mudah-mudahan allah membalas amal baik
saudara semua.
Dari semalam saya tulis esai ini. Tapi rampungnya sedikit sedikit. Ini juga
tadinya bukan esai sekuriti ini yang mau saya jadikan tulisan. Tapi ya Allah
jugalah yang menggerakkan tangan ini menulis.
Semalam, file yang dibuka adalah tentang langkah konkrit untuk berubah. Lalu
saya lampirkan kalimat pendahuluan. Siapa sangka, kalimat pendahuluan ini
saja sudah 10 halaman, hampipr 11 halaman. Saya pikir, esai ini saja sudah
kepanjangan. Jadi, ya sampe ketemu dah di esai berikutnya. Saya berhutang
banyak kepada saudara semua.. Di antaranya, saya jadi ikut belajar.
Semalam saya ikutan tarawih di pesantren Daarul Qur'an internasional. Sebuah
pesantren yang dikemas secara modern dan internasional. Tapi tarawihnya
dijejek 1 juz sekali tarawih. Masya Allah, semua yang terlibat, terlihat
menikmati. Ga makmumnya, ga imam-imamnya, ga para tamu dan wali santri yang
ikut. Semua menikmati. Jika ada di antara peserta KuliahOnline yang pengen
ikutan tarawih 1 juz ini, silahkan datang saja langsung ya. Insya Allah saya
usahakan ada. Sebab saya juga kebagian menjadi salah satu imam jaganya. Ya,
kondisi-kondisi begini yang saya demen. Saya kurangin jadwal, tapi masih
tetep bisa ngajar lewat KuliahOnline ini. Dan saya masih sempet mengkader
ustadz-ustadz muda untuk diperjalankan ke seantero negeri. Sementara saya
akhirnya bisa mendampingi para santri dan guru-guru memimpin dan
mengembangkan pesantren Daarul Qur'an ini.
Ok, kelihatannya matahari sudah mulai kelihatan. Saya baru pulang juga
langsung dari TPI. Siaran langsung jam 5 ba'da shubuh tadi. Istri saya
meluncurnya dari rumah. Doakan keluarga kami ya. Saya juga tiada henti
mendoakan saudara dan jamaah semua
Share:

Tuesday, 4 August 2009

Dan Masjidpun Penuh Oleh Mereka yang Menshalatkan-nya

Seminggu yang lalu, di akhir bulan Juli 2009, sebelum maghrib saya mendapat telepon dari Bu Anna, guru kelas 6 di sekolah tempat saya bekerja. Sambil tercekat, Bu Anna, memberitahukan saya kalau Bu Eulis sudah pergi, meninggalkan kami semua. Semua terhenyak kaget. Baru saja sehari sebelumnya Kepala Sekolah juga memberitahukan kalau Almarhumah masuk Rumah Sakit. Rencananya saya baru akan menengok bareng dengan guru-guru yang lain. Menyesal rasanya hari selasa itu saya harus menghadiri acara di luar sekolah, sampai rencana untuk menengok itupun tidak pernah terlaksana.
Esok harinya saya dengan guru-guru di sekolah pergi melayat ke rumah Almarhumah. Subhanallah, saya terharu, iri dan entah perasaan apa lagi yang hinggap. Betapa tidak, mulai dari yang datang melayat, menshalatkan hingga prosesi pemakaman begitu banyak orang yang datang berduyun-duyun melayatnya.
Saya dan beberapa rekan lainnya sempt mengobrol, betapa menyesalnya kami waktu itu tidak sempat menengok beliau, sementara salah seorang guru senior juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, setelah beliau sempat melayat Bu Eulis 2 jam sebelum kepergiannya. Dalam benak saya pita rekaman beberapa waktu sebelumnya seperti beputar seperti slide film. Saya teringat kemballi ketika liburan akhir tahun bulan Juni lalu saya masih sempat bercanda dengan almarhumah dalam perjalanan, saya teringat humor-humor lucunya beliau dan ya Allah,… satu hal yang saya ingat beliau tidak pernah tergesa-gesa meminta saya segera mengetik perkejaan yang ia berikan. “Santai aja ya neng, ga usah buru-buru,” ujarnya suatu hari. Seorang siswa kelas 2 yang beliau ajar – beberapa hari sebelum kepergiannya – sempat bercerita pada eyangnya, dia melihat betapa cantiknya Bu Guru hari itu. Tidak ada yang tahu kalau ternyata bocah cilik itu tidak dapat lagi menatap wajah cantik Ibu gurunya lagi.
Setelah beberapa waktu disemayamkan di rumah duka, keluarga lalu membawa jenazah almarhumah ke masjid terdekat untuk dishalatkan. Ya Allah, lagi-lagi saya dibuat terpana, haru dan iri. Tidak hanya untuk melayatnya saja, bahkan saat shalat Jenazah pun Masjid dibuat penuh oleh jemaah. Saya hitung-hitung ada lebih dari 100 orang yang menshalatkannya. Allahu Akbar. Sungguh betapa saya ingin mendapat perlakuan yang sama andai suatu saat nanti saya meninggal. Setahu saya – tolong koreksi kalau salah - seorang yang meninggal dijamin akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah jika ia meninggal minimal 40 orang menshalatkannya.
Selesai shalat jenazah, ternyata para pelayat masih banyak yang rela beriring-iringan mengantarnya ke tempat peristirahatannya terakhir. Jujur, saat itu baru kali pertama saya menatap langsung dari dekat jenazah diturunkan ke laing lahat. Saya jadi terbayang bagaimana kalau lain waktu saya menyaksikan orang-orang yang saya sayangi juga ditanam ke tiang lahat. Orang tua, saudara, kerabat atau mungkin juga saya sendiri. Andai saat itu ruh Almarhumah menyaksikan peristiwa itu, saya yakin beliau akan tersenyum bahagia dan haru.
Dari beberapa obrolan yang saya dengar, semuanya menyampaikan kesan yang baik tentang Almarhumah. Mulai dari betapa rajinnya beliau mendirikan shalat malam, shaum, kesabarannya, betapa hebatnya ia membesarkan putra-putrinya. (Putrinya yang sulung sedang menjalani training dan akan beberapa bulan yang akan datang akan bekerja sebagai perawat di Jepang dan putranya yang lain diterima sebagai calon mahasiswa baru di IPB tahun ini), lucu dan cerianya beliau. Saya semakin mengerti betapa banyak orang yang merasa kehilangan beliau.
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yng ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan ham-hamba-Ku. Dan Masuklah ke dalam surga-Ku (Q.S Al Fajr: 27-30)”
Share: