Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, 16 July 2015

Repost Cerpen Dari Proyek Kumcer: Belahan Jiwa

Kangen,  udah lama ga bikin cerpen.  Tapi pikiran  lagi buntu  (alesan hahaha). Lalu tba-tiba inget sama salah satu cerpenku  yang ikutan proyek  kumcer  Project Tentang Kita:  Yang Bisa Terjadi  Ketika Jarak Memisahkan .(rilis tahun 2013)  Semua cerpen yang ditulis  di sini  terinspirasi dari lagu-lagunya KLa Project. Anak  90's mana sih yang  ga kenal lagu-lagu romantisnya KLa (kyaaaa lalu sembunyiin KTP).  
Kenapa tiba-tiba pengen  share  cerpen ini?  Telat sih, ya.  tapi latar cerpen ini kejadian  pas bulan Puasa,  momen  buka puasa. Hehehe, super telat! Harusnya  dishare pas awal-awal puasa. 
Nah, kalau ini cerpen kontribusinya saya.  

Belahan Jiwa
Aku masih asik memainkan hp. Hanya ada tanda ceklis yang muncul di layar, entah jaringan siapa yang ngaco.
PING.
Dua menit.
Tidak ada jawaban.
Share:

Thursday, 12 March 2015

Kasih Tak Sampai


Jika  aku  bukan  jalanmu 
Ku kan berhenti  mengharapkanmu...
Jika  aku memang  tercipta  untukmu
Ku kan memiliku....
 
credit: peoplesliceoflife.com
Video  klip  yang  sedang tayang  berubah  jadi  geger  tawa penonton di studio. Hilang sudah suasana  romantis. Aku melirik dengan tatapan protes  ke arah   Rika,  saudara  sepupuku  yang mengangkat  remote, dan memindahkan saluran tv.  Padahal aku  sedang asik menikmati   suara bujang  berlesung pipi dan  tatapan mata teduhnya  dibalik kacamata  berbingkai hitam  itu. Rasanya  membuatku..
“Mau-maunya aja diphp-in,  sih,  Mey?”
Share:

Monday, 2 February 2015

Pergi Saling Menjauh


“Bisa pesan pizzanya?”  sebuah suara  lembut  menyapa di sebrang  sana. Entah  harus  tertawa  atau  sebal,  ini bukan  kali pertama buat Samy menerima telepon semacam  ini.  Nomor telepon rumahnya  memang  hampir mirip dengan nomor  hotline  pesan antar  pizza.  Dan telepon  yang  sekarang  ini adalah pesanan  untuk ke 100  kalinya. Harus dirayakan, nih. Pecah telur!  Samy tertawa  geli sambil memainkan  kabel telepon.

“Halo?” sebuah sapaan lembut dis sebrang sana.  Samy  sudah  ngacangin  si pemesan  selama  dua menit  berlalu.

pergi saling menjauh
Credit: compassbusiness.co.nz

“Eh,, ya... maaf  mas, salah sambung?”
Share:

Tuesday, 11 February 2014

Suatu Hari Di Kubikel

 

“Rasanya aku lagi jenuh, mbak,” Amel, yang kubikelnya bersebelahan denganku berbisik pelan. Aku mendongakkan kepala, mengajaknya mendekat agar suaranya tidak mengganggu teman-teman yang lain.
“Kopi?” Aku mengacungkan kemasan kopi favorit Amel, vanilla late.
Amel mengangguk. Kebetulan, Ujang, office boy kantor kami sedang lewat. Aku mengangsurkan dua sachet kopi yang dibilang sebagai kopi banci oleh Dion, staf marketing kami yang paling flamboyan. Ah, biarlah, lagi pula apa enaknya sih menyesap kopi pahit?

Suatu Hari di Kubikel
sumber gambar dari sini
Share:

Tuesday, 21 January 2014

Rain, You and A Thousand Years


Tampias hujan perlahan luruh satu-satu ke bumi. Aku masih menikmati petikan akustik favoritku,  perlahan lirih menari di rumah siputku. Seribu tahun? Itu konyol, nabi Adam saja tidak hidup selama itu. Aku bukan manusia abadi seperti cerita klasik Connor MacLeod. Kamu tahu? Dalam satu kisah, 60 tahun jatah hidup Adam malah ia berikan untuk seorang hamba yang ruhnya paling bersinar. Bagaimana denganmu?



Rain, You and A Thousand Years
sumber gambar dari sini
Share:

Friday, 13 December 2013

With or Without You

Tadinya cerita super pendek ini mau saya sertakan dalam sebuah lomba nulis, tapi setelah saya pertimbangkan, ga jadi deh ikutan lombanya. Tapi sayang juga sudah cape-cape mikir, kalau cuma ngendap di folder pribadi. Ya sudah, saya share aja di sini ya. :)

“Suer Ci, belum pernah ada yang bikin gloomy di hari ulang tahun gue,” Bintang terisak menumpahkan kesedihan di bahu sahabatnya.

“Tang, lihat gue.” Cici menegakkan bahu Bintang, mencengkramnya kuat.

“Lu mestinya bersyukur dia meninggalkan lu sekarang, bukan nanti saat kalian sudah terikat, saat kalian sudah bersumpah atas nama tuhan, atas nama Allah.”
“Tapi Ci...”
“Ssstttt....., lu denger gue Tang!”  Cici menyimpan telunjuk di depan bibir Bintang.
“Dia ga pantes dapetin lu, Tang.”
Bahu Bintang masih turun naik. Sedu sedannya terdengar  pelan.
“Tang, sumpah lu jelek banget kalau lagi nangis. Ayo dong, it’s  not Bintang I used to know.  Lu jadiin dia bensin yang memantik mimpi lu.”
Bintang masih terdiam.
“Cuma karena ga jadi merit sama dia, lu ga usah pusing ngurusin remeh temehnya dia. Lu punya banyak waktu buat lu sendiri.  Rugi habisin air mata nangisin dia.  Inget proyek lu,  Gue pengin lu buktiin sama dia kalau dia salah nyampakin, lu.”
“Ci,...” Bintang tersenyum hambar.
“Nama gue Bintang, bukan Lulu.”
Cici tertawa, menoyor bahu Bintang. “Nah, gitu dong, berjanjilah sama hati lu, bukan gue. Janji lu bisa bangkit. Gue pengen kilat mata lu terus bersinar, sama seperti nama lu.”
Bintang mengangguk. “Thank’s Ci.”

Dua tahun kemudian....
 
Andre tercekat, sore itu niatnya untuk segera meninggalkan arena bursa buku yang digelar di pelataran parkir sebuah toko buku terhenti. Hujan sudah lama berhenti.  Bocah-bocah pengojek payung mulai membubarkan diri, seperti kerumunan  laron yang menjauh dari lampu yang  meredup.
Sosok itu.
Satu sosok yang pernah ada dalam hidupnya.
Bintang.  Wanita dengan tatapan yang masih sama itu  tengah duduk di kursi merah, di sebuah panggung yang digelar. Senyum yang sama, senyum  terakhir sebelum ia membuatnya  menangis, memudarkan pendar indah matanya. Gemintang yang membuat wajahnya selalu terlihat indah.

Bintang  bercerita dengan renyah proses novelnya dibuat sampai  launching hari ini. Andre terpancing untuk memaku diri bersama kerumuman pengunjung. Satu kalimat terakhir yang diucapkan Bintang seperti menohoknya.
“Thank’s for heartache,” lirihnya.
“Heartache?” Andre membatin.
Andre sempat mengintip buku yang dipajang di sekitar arena. Novel itu. Apakah isinya tentang jalinan mimpi-mimpi masa lalu yang terurai, tercerabut karena keangkuhan hatinya,  keegoan seorang Andre?
“Selamat, ya, Bintang,” Andre mengulurkan tangan saat bedah buku itu usai,
Bintang yang baru selesai melayani pengunjung untuk meminta tanda tangan dan berfoto bersama terkesiap.“Andre?  Sudah lama?” Bintang kikuk menyadari kehadiran Andre yang tiba-tiba muncul.
“Jadi semua itu, tentang kita? ” Andre menyodorkan satu novel yang sudah dibayarnya di kasir sesaat sebelum diskusi sore itu bubar.
Bintang membubuhkan tanda tangan di halaman muka novel perdananya. Tidak ada jawaban untuk pertanyaan Andre. Seorang pengunjung , sepantaran mahasiswa  menghampiri Bintang, memintanya berfoto  bersama.
“Maafkan saya... Maafkan saya sudah membuatmu...”
“Ndre, masa lalu itu memang menginspirasi saya, menginspirasi saya untuk bertahan. Tentang kita? Ah, kamu geer, saya ga menjadikan kamu penjahat kok, di novel itu,” Bintang menarik satu kursi yang kosong, mengajak Andre duduk berhadapan.
“Judul yang bombastis, ya?” Bintang tertawa kecil.
Hening.
Dua tahun berlalu, Bintang tetap cantik, lebih cantik dari dulu malah.
“Mana istrimu?” Bintang membuyarkan lamunan Andre.
“Aku sudah bercerai.  Setahun lalu.”
“Oh,...” mulut Bintang membulat.
“Bahkan sebelum kami merayakan ulang tahun pernikahan pertama, “ Andre menyambung ceritanya yang lebih mirip curhat.
Bintang mengibaskan tangan. Meminta Andre untuk menyudahi ceritanya.
“Apa itu karma, Bin?”

“Karma?” Bintang menaikan alisnya.
“Karma karena saya sudah menyakitimu.”
“Ndre,...” Bintang menarik nafasnya. “Saya ga punya hak untuk menghakimimu atas semuanya. Apa terjadi dengan kita dulu itu, hanya....”
“Ya?”
“Hanya masa lalu,” lirih Bintang sambil melirik jam tangannya. “Sudah hampir malam, saya harus segera pergi.”
Andre mengangguk. Kali ini Bintang pergi meninggalkannya yang terpaku.
Karma? Andre mengulang kata-katanya sendiri.  Kalimat terakhir dari Bintang juga jadi jawaban baginya. Hanya masa lalu.  Tidak mungkin lagi memutar waktu, melanjutkan lembaran mimpi-mimpinya yang sudah dicabutnya sendiri. Entah siapa yang menunggu Bintang di depan sana. Sosok tegap berkacamata itu menyambut Bintang, menyampirkan jaket ke bahunya.

Samar-samar terdengar suara Bono U2 yang diputar, menemani langkah Andre menuju area parkir.

And you give yourself away
and you give yourself away
and you give
and you give....
With our without you.....

Kali ini Andre yang menangis dalam hati."Without me, she can live," bisiknya dalam hati.
Share:

Saturday, 8 June 2013

Ketika Pangeran Cassava Jatuh Cinta

gambar ngambil dari http://sro.web.id/
Minggu menjelang petang, setelah wara wiri dari toko buku di sebuah pusat perbelanjaan aku dan teman berniat segera pulang.

Kami  urung pulang, terhadang hujan yang deras mengguyur kota Bandung. Sambil menunggu hujan reda, temanku mengajak berbelok ke sebuah resto franchise. Aku batal memesan minuman karena yang tersedia hanya minuman bersoda saja.

Tidak ada tempat yang tesisa kecuali sebuah pojokan dengan sofa memanjang yang menyisakan tiga seat kosong. Baru saja kami duduk,  sebuah suara membuat kami menoleh melirik sumber suara.

“Lu adalah cinta sejati gue,” oh lalala Bona gajah kecil temannya Bobo itukah? Bukan…. Lalu,  ada yang lagi latihan teater kah?

Oh, bukan sama sekali. Bukan juga dua kali atau tiga kali.

Seorang cowok berbadan tegap, berkemeja rapi sebrang kursiku,  dengan jarak sekitar setengah meter itu masih cukup terdengar jelas. Ia lalu menggamit jemari seorang cewek bertampang ayu, mirip artis Mona Ratuliu,yang duduk di depannya.

Reflek cewek itu menarik lengannya.

Aku memperhatikan cowok itu, beberapa tato dengan warna warni mejeng dengan ‘kerennya’ di leher dan lengan kirinya.

Aku jadi teringat kenangan masa kecil.  Dulu ada permen karet yang berhadiah tato temporer , atau… permen dengan rasa meriah yang bisa membuat lidah kita warnanya jadi enggak karuan.

Sontak, radarku begerak, menyesuaikan sinyal dengan frekuensi yang lebih pas. Ah, klik. Aku dan temanku ngikik sambil senyum-senyum nyimak Pangeran Cassava yang sedang beraksi.

Nah siapa yang jadi korban? Cewek dengan arah 2 dari posisi tempat dudukku itu? Hohoho… Sepertinya bukan wahai  saudara-saudara sebanga se tanah air sekalian.

Nah, kembali ke TKP….

“Lu tau ga? Waktu smp, sma gue terkenal banget lho.”

*Ciyus? Miapa?*
Rupanya cowok ini belum sembuh dari penyakit post populer syndrome-nya. Ah, kalau pinjem kamusnya Andrea Hirata,ada di urutan ke berapa ya kelainan ini? Seratus? Dua Ratus? Entah…

Masih tidak ada tanggapan. Si cewek masih asik dengan perannya sebagai pendengar setia ketimbang jadi juri yang jutek. Yeee, emang audisi-audisian?

Si cewek tadi belum bereaksi, masih menatap bingung. Mungkin separuh pikirannya sudah terbang ke rumah membayangkan kamar yang hangat, bergelung dibalik selimut sambil menyeruput susu coklat yang hangat.  Hahaha….ini sebenernya yang menghayal siapa sih?

“Lu tanya deh temen-temen smp sama  sma gue di …..” si playboy cap singkong ini nyebutin nama kota asalnya (demi melindungi privasi korban yang jadi objek candid script) Deuh… Iseng banget sih mas sampe harus melintas pulau   demi survey iseng begituan.

“Lu tanya mereka deh, ga  ada yg ga kenal gue,” pede bener deh cowok itu berusaha meyakinkan kalau si cewek itu justru bakal rugi ga jadian sama dia.

Akhirnya si cewek buka suara.

“Lu udah empat kali deh ngomong beginian.” Jderrr, skak mat.
Sekali. Lagi ngomong dapet gelas kali ya? Hehehehe
Hujan mulai reda. Beberapa pengunjung segera meninggalkan arena dan juara, eh arena perbelanjaan maksudnya. Aku pun begitu, bersama teman segera bergegas pulang. Tersenyum senang karena ternyata nemuin ide yang tergeletak begitu saja di sudut resto ini.

Maaf ya mas, sepertinya dirimu layak jadi bintang candid. Demi kepentingan para gadis-gadis  untuk jadi contoh menghadapi playboy hehehe…, Hasta la vista. Arivederchi…
repost dari blog tumblrku http://celotehannyaefi.tumblr.com/page/4
Share:

Friday, 14 December 2012

Janur Kuning



(Awal Oktober 2011 kemarin aku mengikuti pelatihan menulis yang diselenggarakan IIDN Bandung. Semua peserta wajib membawa naskah cerpennya buat dikoreksi narsum (Teh Triani Retno a.k.a Teh Eno dan Suyatno Pamungkas). Ternyata oh ternyata banyak sekali yang dikoreksinya. Cerpen ini sudah aku perbaiki dari naskah sebelumnya, mulai dari ejaan, tanda baca sampai konfliknya. Mudah-mudahan ke depannya bisa nulis cerpen yang lebih baik lagi). 

“Ayolah Cit, temeni aku yaa? Please…” bujuk Mira setengah memelas. “Kamu tahu kan, kalo seorang perempuan dan seorang laki-laki berduaan yang ketiganya itu,…”

“Setan!” potong Citra. “Nah, itulah Mir. Kalo aku ikut, aku jadi setannya dong?ogah ah. Emang enak jadi kambing conge?”

“Ih Cit, yang bilang kamu setan atau kambing itu siapa?” Mira tertawa geli. “Sebentar aja. Bapak sama ibu kan lagi pergi. Kalau mereka udah dateng, kamu boleh pulang kok.”

Citra melongok ke jendela, sebentar lagi hujan turun, tidak ada salahnya menemani Mira sahabatnya ini. Lagi pula Citra penasaran dengan sosok Agas, calon dokter yang bakal datang  berkunjung sore itu. “Baiklah, tapi nanti traktir aku ya.!”

 “Anything,” Mira memeluk Citra senang sambil menjawil pipi  Citra yang tembam  mirip bakpau.

Citra meringis, “Mir, kira-kira dong.  pipiku ini ga diasuransiin. Kalo melorot gimana?”
Assalamualaikum!  bel di depan pintu berbunyi.

“Nah, itu dia,” Mira terlonjak dari kursi. “Kamu bukain dulu pintu ya, aku ganti baju sama pake berego dulu.
“Waalaikumsalam,” Citra membukakan pintu. Sesosok tubuh menjulang berdiri di hadapannya, tersenyum kikuk sambil membetulkan kaca-matanya.  “Silahkan masuk, aku panggil Mira dulu, ya.” 

 Tidak sampai lima menit, mereka bertiga larut dalam obrolan. Agas ternyata enak diajak ngobrol, berbeda 180 derajat dengan penampilannya yang cuek plus kacamata tebalnya itu yang justru membuatnya terlihat cool. Mira mengenal Agas lewat Yudi teman kuliahnya dulu. Agas yang sedang menjalani co-ass di sebuah rumah sakit swasta itu juga ternyata penggemar berat bola, sama maniaknya dengan Mira dan Citra. Maka semakin mengalirlah obrolan sore itu.

“Kalo aku sakit, ga usah cari dokter lain ya Mir. Berobat aja sama Agas, gratis kan?” canda Citra.“Boleh, tapi kamu kudu jadi upik abu dulu.”      

Share:

Friday, 21 September 2012

Seperti Abah


*Cerpen ini pernah diikut sertakan dalam lomba Flash Fiction di FB, saya repost lagi di sini ya :)* 

“Eh San, kalo Budi poligami gimana?”  tanya Lia tiba-tiba.
“Langkahi dulu mayatku!”  tukas Susan sambil menyuapkan es campurnya.  Wina yang sibuk membaca koran sore mengangkat mukanya .

“Kalau aku,” timpal Wina sambil mencomot gorengan di depannya. “Aku yang bakal langkahin mayat perempuan yang mau jadi istri keduanya Bagus.”

“Gila, sadis bener sih Win?” Tanya Susan.

“Ya iya lah. Kalau langkahi mayatku, aku mati eh mereka merit dong?” Wina segera menutup wajahnya dengan koran sorenya itu, jadi tameng dari serangan pop corn. Asri termenung mendengar kicauan gokil teman-temannya. Tentu saja mereka tidak akan sesadis itu. Dua minggu lalu Arif mengajaknya berkomitmen. Jujur, Asri tidak mengkhawatirkan tampang Arif yang biasa saja. Dibanding suami-suami temannya yang sedang bercanda ini, Arif kalah gantengnya. Tapi dengan sikap Arif yang simpatik, pintar  dan ringan tangan, siapa sih yang gak kan dibuat ngelepek?


Share: