Manajamen Sampah Plastik dan Rumah Tangga

November sudah lewat, berganti Desember. November rainnya udahan? Enggak, masih lanjut. malah sampai pertengahan tahun depan. Nah, ngomongin hujan nih, pasti bakal disusulsama yang namanya banjir.Eh, pasti? Mestinya enggak sih. Emang hujan harus selalu diikuti banjir? Kan enggak. Kasian hujan, sukan disalahin, dituding biangnya banjir. #pukpukinhujan #ehgimana?
http://www.catatan-efi.com/2017/12/manajamen-sampah-plastik-dan-rumah-tangga.html

Padahal ya, kalau banjir mah itu salah manusia. Hujan mah udah iramanya alam. Bukan alam yang suka nyanyi itu hahaha... (jadul amat, ya). Ya sama-sama tau lah kalau yang namanya banjir itu karena ada yang salah sama pengelolaan lingkungan. Ya manajemen limbah, ya manajemen resapan air, endebra, endebre. Daaaan.... ngomongin kontribusi kita sama banjir, contoh paling related sama keseharian itu ya pengeloaan sampah dan rumah tangga. Nah dua jenis sampah ini yang jadi penyumbang sampah harian, lho. Padahal kalau bener dikelolannya, volumenya bisa ditekan sampai 10-15%. Wiiih, fantastis ga, tuh? 

Nah saya dapet insight ini pas dateng ke eventnya hari bakti PUPR yang berlangsung di pelataran parkir Eduplex, di jalan Dago, pas event Car Free Day beberapa hari yang lalu. 
http://www.catatan-efi.com/2017/12/manajamen-sampah-plastik-dan-rumah-tangga.html

By the way, sebelum lupa eventnya Balitbang PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) ini mengusung kampanye dengan tema “Ciptakan Lingkungan Sehat dengan Inovasi Balitbang”. Bukan cuma kampanye dan obrolan santai soal kepedulian lingkungan dan manajemen limbah, di sini juga digelar zumba bareng pengunjung plus gimmick berupa doorprize. 

Masalah Sampah di Bandung

Waktu tau volume sampah harian di bandung bisa sampai di angka 1.311 ton saya kaget. Iya sih ini jumlahnya sudah gabungan dari kawasan Bandung, Cimahi juga Kabupaten Bandung Barat (sumber data dari liputan6.com). Tapi tetep aja nyeremin.Inget ga kasus longsor sampah di Leuwigajah beberapa tahun silam. Horor pake banget, kan? Terus gimana kalau semisal sampahnya ga bisa dikelola dan numpuk sampai seminggu? It's terribly disaster. Terrifying too...

Terus kalau ngomongin sampah, mau ga mau kita harus ngakuin kalau konten sampah plastik itu masih dominan. Padahal ya, ini lebih ngehe buat mengolahnya. Mungkin bisa ngalahin waktunya buat melupakan mantan hahaha...Ya kira-kira aja, butuh 10-12 tahun biar beneran bisa dimamah bumi. Itu sampah plastik. Gimana dengan sampah botol plastik? Nyebelin, ga mau kalah resenya. Lebih lama malah, karena setelah 20 tahun baru deh hancur. 

Sampah Kresek Untuk Campuran Aspal

Eh tapi kaleeem. Sekarang ada inovasi keren yang digagas sama Balitbangnya PUPR. Sifat plastik yang lengket ketika meleleh ternyata bisa dimanfaatkan jadi campuran aspal. Yeay! Bukan hanya mengirit bahan aspal untuk melapis jalan,tapi ternyata sifat plastik ini sangat suportif dan membuat aspal jadi lebih stabil dan kokoh melapis jalan. Jadi sampah plastik ternyata lebih berguna daripada mantan? hahaha... abaikan kesimpulan ngawur ini. Di sisi lain, ini bisa jadi berita bagus buat para pengepul sampah. Sumber income baru. 




Mengolah Sampah Dapur

Terus gimana dengan sampah rumah tangga? Hooh, ini juga ga sama-samapr besar buat kita semua. Sisa nasi, sisa sayur, sisa cangkang dan cacahan bahan masakan yang ga terolah atau makanan basi juga nyumbang volume sampah rumah tangga. Mana bau pula. Nah, perbandingan sampah rumah tangga sama sampah secara keseluruhan ternyata mencapai porsi 44,5% (data tahun 2016). Merinding ih bayanginnya. Mulai sekarang jangan suka nyisain makanan ah. 

Oh ya, sebagai info aja, nih. Volume sampah rumah tangga di Bandung mencapai 1.500 ton tiap harinya. Dan lagi-lagi tim Balitbang PUPR ini menemukan inovasi keren untuk mengolahnya. Di hari yang sama, saya barengan temen-temen Kompasianer Bandung berkesempatan ngobrol banyak soal ini dengan Ibu Lya Meilany Setiawati. Beliau adalah peneliti dari Puslitbang Perumahan dan Permukiman.
http://www.catatan-efi.com/2017/12/manajamen-sampah-plastik-dan-rumah-tangga.html

Untuk memudahkan pengelolaan sampah rumah tangga ini, sejak awal bisa kita pilah menurut jenisnya. Mana yang organik, mana yang anorganik. Yang anorganik juga bisa kita pisahkan lagi. Misal mana sampah kertas, sampah plastik, sampah beling (jangan sampai serpihannya melukai pemulung) dan pengelompokan sampah lainnya.

Komposter Bekas Cacing alias Kascing

Nah sampah rumahan yang paling cepet rusak adalah sampah dapur. Sampah ini mudah banget berubah dan membusuk plus baunya yang ga nahan. Bisa bikin pusing, muntah dan mual kalau baunya udah kebangetan. Tapi sampah ini bisa kita oleh dengan bantuan cacing. Geli sih, ya, bayangin nya hahaha. 

Buat yang tabah dan tegar megang cacing, nih ada caranya dengan membuat komposter kascing atau komposter bekas cacing. Mau tau caranya?

Bahan yang kita butuhkan ada tiga jenis. Yaitu kompos, tanah, serta 'eek' sapi yang udah kering. Katanya sih ya (soalnya saya belum pernah megang atau nyium hihihi) eek sapi yang udah kering ini ga bau. Untuk mencampurkannya digunakan perbandingan 3:1:1. Semua bahan ini kita masukan ke dalam wadah komposter.

But wait. Jangan asal masukin begitu saja si sampah rumah tangga. Kalau terlalu basah malah bisa-bisa komposternyan gagal. Kadar kelembaban si sampah ini ga boleh lebih dari 50%. Untuk meyakinkannya, coba deh tuh sampah diremas alias dikepal sama tangan. Kalau sudah ga ada lagi tetesan air yang keluar dari sela-sela jari, mean it's ok. Uniknya sisa air dari sampah tadi masih bisa kita manfaatkan untuk menyiram tanaman. So ga ada sampah yang terbuang sia-sia. It's all totally useful. Ga ada yang kebuang. Eh gimana caranya? Gini nih
  • Masukan sampah organik ke dalam plastik yang sudah dibolongi, agar airnya tidak tertahan dalam plastik.
  • Plastik yang sudah dibolongin ini masukan lagi ke plastik kedua, Ini buat menampung air yang rembes dari plastik pertama tadi. Nah air ini yang kita pakai buat nyiram tanaman.

Terus gimana caranya bikin komposter? 

  • Ga usah beli wadah baru. Kita bisa memanfaatkan wadah yang ada di rumah. Misalnya saja ember yang sudah bocor. Namun pastikan tingginya ga lebih dari 60 cm, ya. Ini untuk menjaga sirkulasi udara pada komposter
  • Sebelum memasukan bahan-bahan utama, letakan dulu pasir atau kerikil pada dasar wadah
  • Timpa pasir atau kerikil dengan kompos, tapi kalau tidak ada bisa di-skipp dan lanjutkan dengan memasukan sampah dapur (maksimal ukurannya 5 cm) 
  • Tutup sampah dapur dengan tanah (jenisnya bebas, boleh pakai tanah apa saja).
  • Nah, bagian terakhir ini yang menggelikan dan menguji ketabahan Masukan cacing tanah ke wadah. Tenang aja, dia eh mereka ga suka juga lama-lama diliatin kita, kok. *apa sih* Soalnya cacing punya sifat tidak suka cahaya. Makanya ia bakal buru-buru menyusup ke tanah.
Butuh berapa banyak cacing untuk satu kontainer komposter ini? Standarnya untuk komposter yang berukuran 60 cm x 30 cm, diperlukan sebanyak 1 kg tanah. Mayan banyak sih ya hahaha, Udah ga usah iseng ngitungin ada berapa biji cacing. Geli juga kan liat mahluk hermafrodit ini menggeliat? Selama proses berjalan ini, nantinya mereka akan kembali ke permukaan. Bentar aja, sih cuma buat buang eeknya berwarna putih yang kita sebut kascing alias bekas cacing. Udah gitu dia bakal balik lagi ke dasar.
http://www.catatan-efi.com/2017/12/manajamen-sampah-plastik-dan-rumah-tangga.html

And you know what? Seekor cacing akan membuang kotoran yang beratnya setara dengan setengah dari berat badannya. Jadi dari satu komposter yang menampung 1 kg cacing ini akan menghasilkan setengah kilogram kascing. Kalau dipanen setiap hari, let say kita punya 10 kontainer, maka setiap harinya akan ada 5 kg kascing yang bernilai ekonomis. Jangan salah. Sekilo kascing harganya bisa mencapai Rp.7.500/kg, dan kalau bisa dijual ke luar negeri terutama Malaysia, harganya bisa dobel jadi Rp. 15.000. 
foto: Kang Ali

Bau ga sih, komposter ini? 

Ga kok, aman.Komposter ini murni dimamah cacing, ga ada itu intervensi dari belatung, lalat atau kecoa (hiiiy) yang memang mencetus aroma ga sedap

Gimana, udah punya nyali yang banyak buat mengolah komposter cacing ini?
foto; Kang Ali


Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

14 komentar:

  1. Mantap yah bisa memanfaatkan limbah plastik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoi, aplikasi 3Rnya (reduce, reuse dan recycle) dapat banget, kan.

      Hapus
  2. Wah acara yang asyik ya, jadi banyak nambah ilmu juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi judulnya wiken produktif ya, Teh :)

      Hapus
  3. Inovasi ini semoga berjalan lancar tanpa kendala dan menjadikan Bandung kembali hijau dan sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes, Tian. Semoga makin banyak warga Bandung yang care soal manajemen sampah ini, ya.

      Hapus
  4. Wah ini info yang saya lagi cari. Cuma kok ya rada males kalau buat sendiri. Mudah-mudahan ada pengepulnya yang dekat rumah.

    Oh iya, kalau sampah plastik yang jadi aspal itu, apa semua sampah plastik seperti kresek dan kemasan juga? Karena kalau di pengepul biasa itu nggak laku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setauku cuma sampah keresek aja, Teh.Walau sama-sama sampah plastik tapi karakternya beda jadi bakal pengaruh ke proses pengolahannya nanti.

      Hapus
  5. Alhamdulillah, di antara banyak berita positif, aku paling suka sm yg tentang lingkungan. InsyaaAllah inovasi ini bermanfaat bangettt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau lingkungan nyaman, bakal ngaruh ke mood dan suasana hati juga kan, Teh.

      Hapus
  6. Tadinya udah males gitu kalau bahas kompos, ternyata ga bau ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, tadinya kupikir juga gitu. Nah part cacingnya itu masih berasa geli buatku. :)

      Hapus
  7. Asyik ternyata balitbang pupr punya banyak ilmu untuk keseharian kita ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Bu. Kueren, jadi maslahat buat kita semua.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.