Filosofi Padi dari Desa Sirna Resmi Sukabumi: Pesona Geopark Ciletuh Sukabumi (Tamat)

Kalau tidak salah waktu sudah menunjukkan jam 22.00 ketika mobil yang kami tumpangi tiba di halaman Kasepuhan Sinar Resmi. Saat saya memaksa mata untuk bangun dari tidur-tidur ayam karena pusing direcoki kembung, samar-samar terdengar alunan lagunya D'Masiv.

Eh beneran ini D'Masiv? Kan ini desa adat? Saya dan Yeni sempat saling bersitatap.  Ah ternyata gambaran desa adat yang kami bayangkan meleset. Bukan cuma soal alunan lagu yang malam itu kami dengar tapi kejutan demi kejutan lainnya. Identitasnya sebagai desa adat tidak menjadikan kawasan berpenduduk sekitar 300 jiwa ini menutup diri dari keriuhan modern. Desa Adat Sirna Resmi bener-bener bikin surprise.

Kami sowan sebentar di Kasepuhan Sinar Resmi dan bertemu dengan sesepuhnya, Abah Asep. Setelah itu. sebagian dari kami ditemani salah satu stafnya Abah (lima orang peserta perempuan dan 3 peserta laki-laki dari rombongan)  berjalan kaki menuju  pesanggrahan untuk menginap di sana. Sementara sisa dari rombongan  yang seluruhnya laki-laki tinggal di Kasepuhan.

Sepanjang kurang lebih 200-300 meter berjalan kaki, rumah-rumah yang kami lewati adalah rumah-rumah panggung tradisional berdinding bilik. Tipikal klasik dari desa yang masih sederhana. Sambil memaksakan mata  lebih melek, saya menyusuri jalan yang bisa di lalui 2-3 orang.

Kejutan kedua malam itu adalah ketika kami ditunjuki kamar yang akan ditempati. Ternyata bukan tempat tidur yang 'ngampar' di lantai.   Ada dua kamar dengan kasur yang sangat nyaman. Ini sih, bukan sederhana atau bersahaja. Rasanya seperti nginap di resort-resort.  Begitu juga dengan toiletnya. Satu dari kamar mandinya dilengkapi dengan toilet duduk. Sementara dapurnya masih sederhana, dapur ala pedesaan yang masih mengusung konsep perapian. Ah, hommy banget deh. Jadi kangen dengan masa kecil dulu, saat pulang ke lembur (kampung halaman) masih ada perapian dengan suluh (kayu) sebagai bahan bakarnya.

Saya dan Yeni tidur di satu kamar yang sama. Sementara 3 peserta lainnya (perwakilan dari disbudpar dan 2 rekan media online)  tidur di kamar sebelah dan 3 peserta laki-laki tentunya tidur terpisah, menempati kamar  di lantai 2. 

Setelah mencuci muka dan gosok gigi, saya segera menggelungkan tubuh di kasur saking capeknya. Walau dingin cukup terasa dari udara yang menyusup lewat dinding bilik malam itu, saya merasa nyaman tidur sampai subuh. Bahkan saat adzan subuh saya masih terlelap :). Kombinasi kecapean,  kamar yang nyaman dan udara yang dingin.

Pagi hari setelah salat, kami disambut oleh Ambu (ibunya Abah). Seorang wanita yang bersahaja, ramah, supel sekali membuat kami tidak merasa kagok. Gorengan, teh dan kopi (desa Sirna Resmi sudah memproduksi kopi sendiri loh) tersaji di ruang tamu, menemani kami  ngopi pagi sebelum makan pagi. Saking nyamannya ngobrol dengan Ambu, saya sampai lupa bertanya siapa namanya.
ruang makan di pesanggrahan 
Sebelum kembali bergabung dengan rombongan untuk makan pagi di gedung utama Kasepuhan Adat, kami sempat berfoto dulu dengan Ambu. Tuh, Ambu merangkul saya dan Yeni  tanpa kami minta, seakan-akan kami ini adalah anak-anak beliau. "Kalau main lagi ke Sukabumi, jangan segan mampir ke  sini, ya. Nginep aja di sini sama Ambu." Begitu pesannya. Aaaah... Mau banget, Bu....
berfoto dengan Ambu di halaman depan pesanggrahan
Dari kiri ke kanan, Yeni, Ambu, Opik dan saya.
Foto: Yeni
Pagi itu saya sarapan dengan nasi merah, sayur bayam dan sepotong daging ayam. Dapur Kasepuhan mendadak sibuk memasak untuk menjamu kami.  Selain rombongan disparbud Jabar,  saya juga melihat ada tim dari media tv yang berkunjung hari itu.

Nasi yang kami santap  pagi itu dihasilkan dari sawah milik warga Desa Sirna Resmi. Tidak membeli dari luar , juga tidak pernah menjual padi produksinya ke luar. Beberapa leuit (lumbung) beras yang tersebar di beberapa titik jadi gudang penyimpanan padi untuk penduduk kurang lebih 300an orang di desa ini.   
Pesanggrahan tampak depan
Sama halnya dengan rumah Ambu dan kasepuhan, rumah-rumah di sini juga masih bergaya klasik dengan gaya rumah panggung, sebagian rumah malah ada yang dilengkapi dengan parabola.
sebagian rumah penduduk

Walau sederhana, kolong rumah panggungnya bersih
Ngomong-ngomong soal padi, Desa Sirna Resmi ini punya filosofi yang panjang dan dalam sekali. Bukan hanya dari proses  awal menanam hingga panen tapi juga menyangkut hal-hal lain dalam keseharian warga desa ini.  Hanya menggunakan pupuk kompos untuk membantu menyuburkan padi. Tidak menggunakan pestisida untuk membasmi hama. Menariknya, sistem bertani di sini bukan hanya memikirkan bagaimana agar panennya sukses, tidak diganggu hama, tapi juga punya filosofi yang dalam.

Ketika Yeni bertanya, "gimana sih caranya agar panen padi tidak diganggu hama? Abah dengan santainya balik bertanya seperti ini: "Pernah lihat ayam bawa karung?" Tentu saja kita ga pernah melihat ayam membawa karung. Ya, kan?

Ya sudah, biarkan saja. Begitu  jawab Abah dengan santai.

Abah Asep, Sesepuh desa Sirna Resmi
3 Srikandi Desa Sirna Resmi

beras yang sudah ditumbuk, belum dipisahkan dari  kulit padi yang sudah hancur
Pantas saja, sebelumnya saya sempat memerhatikan para wanita di leuit  yang sedang menumbuk padi membiarkan ayam-ayam berkeliaran di sela-sela kaki mereka. Tiga wanita  yang usianya beragam ini asik mengobrol dengan dialek yang mengingatkan saya dengan teman-teman kuliah dulu asal Banten. Wajar saja, Desa Sirna Resmi, yang berlokasi di kecamatan Cisolok ini berbatasan dengan kabupaten Lebak.
Kalau beruntung bisa melihat isi leuit, padi-padi di sini disusun dengan rapi, tidak asal numpuk

Bingung memerhatikan leuit yang sangat tertutup dengan jalinan bilah kayu, ternyata dari sini ngambilnya :)
Balik lagi ke ayam-ayam tadi, Abah mengumpamakan soal ayam yang membawa karung itu tadi  berkaitan dengan cara-cara bertani di desa yang dipimpinnya mengatasi gangguan hewan atau hama yang bisa mengganggu panen padinya.   Serahkan saja urusannya sama yang punya ayam itu, alias Allah. Karena ayam-ayam juga punya haknya untuk mendapat makanan. 
Satu pocongan (ikatan padi) memiliki berat sekitar 3-5 kg.
 Yang terikat di panggulan bambu itu terdiri dari sekitar 20 pocongan
Di sela obrolan itu pun kami sempat ditanya seperti apa gambaran kunyit yang ada di benak saat disebutkan. Kompak  kami bilang kalau kunyit itu sejenis rimpang yang juga biasa dijadikan bumbu masak. Teman-teman juga pasti punya persepsi yang sama seperti kami, kan? Dan ternyata kunyit yang Abah maksud itu seperti ini. Tadaaaa....

ini kunyitnya
Kunyit inilah yang membantu panen padi di desa Sirna Resmi selalu sukses, aman dari gangguan burung-burung yang merecoki padi yang di tanam di sawah.  Keberadaan kunyit ini yang mengalihkan perhatian burung-burng tadi sehingga panen di desa adat Sirna Resmi sampai saat ini tidak mengalami kegagalan.  By the way,  kunyit ini juga ternyata bisa diolah jadi penganan semacam kue cucur loh. Sayang, saat itu kami tidak sempat mencicipinya.

Walau bisa dibilang sederhana, sistem pertanian desa adat Sirna Resmi pernah menarik perhatian peneliti dari Eropa dan menawarkan kerjasama. Namun karena tidak sesuai dengan norma yang berlaku, tawaran kerjasamanya mentah. Tidak bisa dilanjutkan.

O, ya tumpukan padi yang ada di keseluruhan leuit ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan akan padi sampai beberapa tahun ke depan. Andai terjadi paceklik pun, desa Sirna Resmi punya persediaan memadai untuk kebutuhan pangannya. Hitung saja, jika satu leuit bisa menampung 1 ton beras, maka ada berapa total beras yang dimiliki oleh penduduk desa Sirna Resmi.

Galeri Sinar Resmi 




Kemajuan teknologi sudah banyak berdampingan menyentuh desa ini. Lantak, keripik produksi asli Sirna Resmi dengan kemasan plastik yang bisa ditutup ulang dan dijual online lewat akun instagram sendiri dengan nama @lantak.sijimat.  Di galerinya sendiri sudah dijual  gula aren serbuk dengan kemasan modern juga beberapa souvenir seperti kaos dan tas anyam.

Bagaimana dengan kesenian lokalnya?   Masih ada kok. Bahkan waktu helaran pembukaan festival adat yang kami saksikan sehari sebelumnya di GOR Palabuhanratu,  ada penampilan juga dari desa adat ini.

Bermain dan berlatih kesenian 
Hal lainya yang saya ingat dari obrolan kami hari itu adalah filosofi Mageur heula memeh ngebon (memasang pagar dulu sebelum berkebun). Maksudnya adalah sebelum melakukan sesuatu, jangan lupa untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.  kearifan lokal masih dipegang teguh. Masih ada dan pantantangan dan ketentuan-ketentuan prosesi menanam padi yang masih dijalankan.

Dari obrolan kami pagi itu,  terlalu banyak kalau saya ceritakan di sini.  Kalau ingin melihat lebih dekat kehangatan dan keramahan desa adat Sirna Resmi dan Kearifan lokalnya, jangan lupa untuk mengagendakan liburan ke sini, ya.




























Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

2 komentar:

  1. Aku selalu dan selalu dibuat terpesona ama adat dan bentang alam tanah pasundan... desa adat ini dibuka untuk umumkah teh?

    BalasHapus
  2. Filosifi Mageur heula memeh ngebon tetap berlaku sejak dulu hingga kini ya mba. Jadi, dalam keadaan apapun sebelum melakukan sesuatu, jangan lupa untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Terima kasih sudah berbagi mba

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.