Revolusi Mental dan CAKAP Berinternet

Baper di media sosial? Kelar idup loe!

Kurang lebih seperti itu yang saya inget dari omongannya Makpuh a.k.a Mak Indah Juli, salah satu co-foundernya komunitas Kumpulan Emak-emak Blogger alias KEB. Kalau dipikir-pikir sih bener juga. Selalu saja ada pro kontra dalam setiap isu yang lagi rame. Apalagi dengan mudahnya akses informasi dalam genggaman (baca: gadget) berbagai  opini dengan cepatnya bertebaran di lini masa termasuk grup chat. Kalau diambil pusing, bikin ga nyaman. 

Terus apa hubungannya dengan revolusi mental?
Walau bukan termasuk dalam generasi milenial , bukan halangan bagi saya, teman-teman sebaya atau lebih senior untuk melek gadget. Bukan hanya sekadar ikut kekinian saja, tapi memang aktivitas, komunikasi dan segala macam hal mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi jadi lebih dimudahkan dengan adanya teknologi digital ini.

Satu waktu, di salah satu grup chat seorang teman pernah mengirim broadcast tentang nikah  gratis secara masal yang digelar oleh Masjid Agung Trans Studio Bandung. Dengan segala sistem support yang disebutkan, buat saya  terbilang sangat mewah untuk gelaran acara nikah ramai-ramai itu. Saya mikirnya  gini, sih: 

"Diiih, royal amat itu sponsor? Beneran, nih?"  

Ga lama setelah itu, seorang teman yang lain mengirim link yang memberitahukan bantahan langsung dari DKM Masjid. Fix, hoax!

Eh alah,  beberapa bulan kemudian di grup chat WA yang lain, informasi itu beredar lagi. Kali ini giliran saya terpanggil untuk menginformasikan kalau kabar itu PHP alias Pemberi Harapan Palsu. Sembari memberikan juga link resmi klarifikasi dari  pihak terkait, saya bilang pelan-pelan kalau lain kali ada informasi yang sensasional semacam itu, sebaiknya dicerna dulu. Cek ricek. Ga enak juga kan kalau saklek saya bilang, "Tipu, nih!" "Kok mau-maunya dibohongin!" Kan ga sopan juga, ya. Hmmm... inget, etika juga kudu dijaga :)

Aplikasi chat seperti WAG (Whatsapp Grup) Line, atau Telegram yang sempat heboh itu juga merupakan salah satu produk budaya digital yang sangat dekat dengan keseharian kita. Saking sangat terbiasanya, masih banyak yang lupa untuk menjadi pengguna yang lebih cerdas dari gadget berukuran persegi panjang yang dilabeli smart phone itu. 

Bukan broadcast macam itu saja yang sering saya baca atau terima di whatsapp baik dalam bentuk japri atau share di grup. Ada isu-isu yang sensitif, berita lama sampai becandaan yang menjurus main celaan fisik, sampai becandaan yang 'ngeres dengan gammbar-gambar yang ga senonoh'. Bikin bosan dan gemas. Pengen deh ngomel (ditahan juga nih, mending clear chat, jadi silent reader atau kalau sudah keterlaluan keluar dari grup). Padahal masih banyak hal-hal lain yang berefek positif yang bisa kita manfaatkan lewat gadget dan media sosial. 

Kalau tidak mau tertipu  atau tidak yakin dengan kebeanran berita,  ada beberapa cara untuk mendeteksi informasi yang berpontensi hoax:
  • Coba cek alamat URL. Biasanya mempunyai domain url yang aneh seperti .com.co
  • Cek lagi contact dan about situsnya
  • Kenal atau familiar tidak dengan penulis atau narsumnya? Bisa tuh digoogling latar penulisnya
  • Biasanya konten berita hoax sering menyulut emosi pembacanya
  • Bagaiama berita ditulis? Berita umumnya tidak ditulis dengan menggunakan judul Capslock dan tanda seru,
  • Cross check dengan portal berita lainnya. Sinkron, ga?
  • Bisa juga ditelusuri dengan fast checking. Cobalah situs snopes,com atau fastcheck.org 

Dari survei Mastel 2017 ini  isu hoax paling banyak menyerempet soal sosial politik (91,8%), SARA (88,6%) dan kesehatan (41,2%). Selanjutnya, berita hoax juga terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan makanan dan minuman, penipuan keuangan (ini lumayan sering juga kasusnya terjadi), IPTEK, berita duka, candaan, bencana alam dan lalu lintas.

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 24 Juli 2017 bersama dengan teman-teman Relawan TIK (RIK) dan blogger dari Bandung dan Garut saya menghadiri acara talkshow  Sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang digelar oleh Kementerian  Koordinator  Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) yang bekerja sama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di hotel  Holiday Inn, Bandung.

Dari hasil survey yang dilakukan oleh APJI, sudah ada 132,7 juta atau sekitar  51,8% penduduk Indonesia yang sudah mengakses internet. Acara yang saya hadiri tempo hari merupakan road show ke-10 di mana program sosialiasi ini juga akan dilangsungkan di semua 34 provinsi di Indonesia.  Akses internet yang dilakukan biasanya digunakaan untuk bermedia sosial, pesan instan, baca berita, mencari data dan informasi serta streaming video. Waaah, ini semuanya masuk dalam aktivitas saya dalam berinternet.

Seperti yang saya bilang tadi,  masih banyak pengguna internet terutama media sosial yang memosisikan dirinya sebagai pengguna saja. Belum semuanya sampai ke tahap digital mastery, atau bahasa gampangnya  melek.  Melek di sini artinya, sebagai user membuat kita jadi pengguna internet yang CAKAP (cerdas, kreatif dan produktif ) plus beretika juga. Masih inget dong, beberapa ujaran kebencian di media sosial seperti Facebook, Instagram , Twitter atau Path bahkan postingan di blog jadi tersangkut kasus hukum?

Kalau dalam interaksi di dunia nyata kita dituntut untuk cerdas menahan lidah sebelum berucap, maka di dunia maya, perlu banget memiliki kepekaan  menahan jari, untuk tidak sembarangan main share. Bisa saja sih, kalau sudah terlanjur membuat status atau opini kita hapus lagi. Tapi bagaimana kalau ada yang terlanjur membuat tangkapan layar alias screen shotnya? Beberapa kasus yang berawal dari media sosial ada juga yang dilaporkan berasal dari contoh seperti ini.  Ngeri, deh.

Oh ya, kalau ngomongin soal revolusi mental yang gaungnya sudah tidak asing di telinga kita bukan saja melulu membahas etika atau etos kerja di media sosial saja. Merujuk Intruksi Presiden (Inpres) No. 12 tahun 2016 tanggal 6 Desember 2016,  Revolusi Mental adalah;
Gerakan untuk mengubah cara pikir, cara kerja, cara hidup dan sikap serta perilaku bangsa Indonesia yang mengacu nilai-nilai integritas, etos kerja dan gotong royong berdasarkan Pancasila yang berorientasi pada kemajuan, agar Indonesia menjadi negara yan maju, modern, makmur, sejahtera dan bermartabat.
Dalam kehidupan sehari-hari, contoh aplikasi revolusi mental misalnya saja:
  • Hidup sehat tanpa merokok (kalau belum bisa berhenti merokok bisa dilakukan dengan tidak merokok di sembarang tempat juga menghargai hak orang lain yang ingin menghirup udara bersih bebas asap rokok);
  • Tidak sembarangan membuat grafiti/mural di tembok atau tempat publik
  • Tidak mencontek, (bukan hanya   berlaku  untuk pelajar atau mahasiswa, juga tapi katakan tidak pada plagiasi karya cipta)
  • Stop bullying
  • Sopan dan santun pada orang tua
  • Menjaga kebersihan di lingkungan sekitar
  • Antri/tertib
Kembali lagi ke media sosial nih, Semoga huru-hara dan kegaduhan  yang belakangan ini terjadi bisa semakin berkurang, ya. Jika ada berita atau opini yang meresahkan,  jangan langsung bereaksi. Lakukan tabayyun alias konfirmasi atau cross check, tahan jari sebelum memostingnya di media sosial atau saluran internet lainnya. Masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan untuk menjadikan internet sebagai media yang sehat ddan bermanfaat.

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

1 komentar:

  1. huru hara di medsos penyebab terbanyaknya karena kita juga yang kurang bijak menggunakan medsos. Semoga kita semua semakin bijak, ya :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.