Top Social

Bring world into Words

Wisata Halal Indonesia dan Media Sosial

Senin, 15 Agustus 2016
Wisata Halal Indonesia dan Media Sosial - Setahun yang lalu waktu  berlibur ke Bali, hal yang terpikirkan adalah bagaimana mencari makanan halal di sana. Khawatir kesulitan mencari makanan halal, saya menghubungi teman blogger, Mbak Ferdias yang tinggal di sana. Jawaban melegakan yang saya dapatkan. Ternyata tidak usah pusing mencari makanan halal selama tiga hari liburan di Bali. Ditambah lagi  dikasih list tempat liburan yang bisa dikunjungi.

Buat kita yang tinggal di Indonesia, soal makanan halal saat jalan-jalan di Indonesia itu  gampang. Ga sekhawatir seperti ketika kita liburan ke luar negeri seperti ke Eropa misalnya. Padahal, sesuatu yang kita anggap biasa  ini sebenarnya  potensi yang kalau digarap dengan serius bisa jadi sesautu yang prospektif secara ekonomi. Itu salah satu poin yang saya dapatkan waktu mengikuti acara diskusi Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial di Green Forest Resort, Lembang tanggal 6 Agustus 2016 kemarin. Anyway, saya pengen maen lagi ke resort ini, kapan-kapan. Ada yang mau ke sini juga? Banyak spot kece soalnya ^_^
http://www.catatan-efi.com/2016/08/wisata-halal-indonesia-dan-media-sosial.html
Ada yang bisa nebak, siapa aja  3 model di foto ini?
Apa Sih,  Wisata Halal Itu?
Sudah tau, kalau wisata religi itu  cuma sebagian dari wsiata halal? Iya, karena wisata halal enggak mesti selalu yang berhubungan dengan sesuatu yang sifatnya ritual seperti pergi haji atau umrah. Toh, dalam sehari-hari  pun sebagai muslim kita harus salat 5 waktu, memastikan makanan yang kita makan adalah makanan yang halal. Ya, kan?

Begitu juga saat pergi ke luar kota atau luar pulau, entah itu cuma liburan atau urusan pekerjaan. Sebagai muslim,  kita bukan cuma aware soal label halal makanan saja saat traveling.  Ketika kita salat, masjid/musala atau arah penunjuk kiblat juga jadi perhatian, termasuk tempat wudhu dan peralatan salat yang akan digunakan, seperti mukena dan sajadah yang bersih dan nyaman, pengingat waktu salat ketika berada di daerah yang minim atau susah menemukan masjid dan sebagainya. Waktu  liburan di Bali itu saya memanfaatkan aplikasi penunjuk kiblat dari gadget, karena setelah melihat sekeliling kamar yang saya tinggali tidak menemukan penunjuk arah salat. Untungnya saya membawa mukena dari Bandung, jadinya ga kelabakan nyari mukena, karena di tempat saya menginap ga tersedia musala.

Acara yang digelar selama seharian dari pagi sampai sore minggu kemarin itu sukses membuat mata saya melek, padahal malam harinya kurang tidur.  Materi yang disampaikan apra narsum hari itu seru semua. Selain Bu Katy Kepala Bidang Target Pasar Kemenpar, masih ada Taufan Rahmadi, dari Creative Strategy Expertnya Kementerian Pariwisata yang juga bagian dari tim suksesnya Lombok di acara Word Halal Tourism Summit tahun 2015, Don Kardono, Staf Khusus Menteri Bidang Publikasi dan Bang Aswi dari Blogger Bandung.

Di awal acara, Taufan Rahmadi  menceritakan saat-saat pengumuman Lombok memenangkan award sebagai The Best Halal Destination Tourism dan Halal Honeymoon Destination. Eh, kalau saya merit trus mau hanimun,  nanti, ke sini aja gitu, ya? Muehehe... Udah, jangan diperpanjang :D
http://www.catatan-efi.com/2016/08/wisata-halal-indonesia-dan-media-sosial.html
asik nyimak sambil  ngambil foto dan live twit
Daaan... Indonesia yang diwakili oleh Lombok berhasil mengalahkan nominasi lain yang digadang-gadang lebih berpeluang, Malaysia dan Turki! Saya membayangkan mimik muka perwakilan dari Malaysia, sebagai nominator kuat urung tersenyum karena  kalah.

Indonesia, Malaysia dan Turki memang dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk bergama muslim. Tapi soal pengelolaan wisata halal ini, Jepang dan Aussie juga sudah serius menggarapnya. Padahal di sana populasi muslim bisa dibilang minoritas. Konsen banget ya, mereka?  NAh waktu ditanyakan, wisata halal di mata  mereka bukan sekadar soal ritual tapi sudah menyentuh soal bisnis juga. Ada banyak wisatawan muslim yang membelanjakan uangnya saat liburan.  Contohnya nih, turis dari Uni Emirat Arab aja ga segan menghabiskan US$ 1.500 per kepala waktu ketika berlibur. Sayang banget, kan.  kalau potensi devisa yang satu ini dicuekin?

Soal menu makanan di beberapa maskapai  penerbangan dari Inggris seperti British Airways, Virgin Atlantic,  Qantas dari Aussie atau Air France juga sudah menyediakan menu halal untuk penumpangnya yang beragama Islam. Bebas alkohol dan daging babi untuk memberi kenyamanan penumpangnya. See? mereka aja sangat peduli soal ini, lho. Masa kita enggak, sih?

Soal sertifikasi halal resto yang ada di Jepang saya pernah bahas juga di sini. Untuk kenyamanan beribadah salat pun Jepang sudah mengakomodasinya.  Bang Aswi yang pernah diundang ke Jepang untuk promo tur wisata halal di Jepang pun bercerita pengalamannya. Kalau di sini kita biasa menggunakan sajadah untuk alas salat, mereka menyediakan tatami, tikar khas negerinya Oshin ini sebagai pengganti alasnya. Menarik, ya? Selain itu juga di sana da rumah potong ayam yang syari alias islami. Asik pisan, lah.

Wisata Halal dan Media Sosial
Punya akun medsos FB, twitter dan instagram, kan? Coba cek ada berapa followersnya Wonderful Lombok Sumbawa? Di akun FB,  ada 103.000an likes, baru 4.559 followers untuk instagram dan  baru  259 aja untuk twitternya. Hiksss... follow dong, Kakak. Untuk akun resmi kemenpar,  Halaman FB Pesona Indonesia, kampanye yang digencarkan untuk Kementerian Pariwisata masih tertinggal, baru 4.888 likes, meski followers twitternya udah cukup banyak, 527K waktu saya ngedraft tulisan ini.  Masa kalah sih sama  Aussie  (7,2 juta likes di FBnya)? Padahal pengguna sosmed FB di Indonesia ini ada 79 juta dari 259 juta populasi. Hiks hiks hiks... yang ngelike ternyata ga sampai 1%nya.  Padahal di sini banyak info bagus yang bisa kita dapatkan. Misalnya saja ketika tim Indonesia, The Resonanz Children's Choir menjuarai lomba paduan suara di Venice, Italia.

Statistik user media sosial di Indonesia
statistik user medsos di Indonesia

Kalau ditarik ke belakang, media sosial bisa menjadi kekuatan untuk memeberi pengaruh. Masih ingat kemenangan Jokowi atau Barrack Obama dalam Pilpres di masing-masing negara?  Tim sukses di belakangnya sangat jeli menggunakan medsos untuk  kampanyenya. Begitu juga dengan Kang Emil yang eksis di medsosnya dan rajin menyapa followersnya di medsos.

Cara yang sama ini juga dilakukan oleh Kemenpar sejak tahun 2012. Jejaring media sosial seperti yang saya sebut di atas dimanfaatkan semaksimal mungkin. Bayangin deh, dengan intensitas followers atau likers yang masih kurang aja bisa juara di acara Word Halal Tourism Summit. Gimana jadinya kalau bisa saingan dengan fanpagenya Aussie yang udah 7 digit itu?

Well, dibalik kesuksesan Lombok di ajang ini pastinya ada man behind the scene, orang di belakang layar. Salah satunya adalah Mbak J, volunteer  yang ikut sharing di acara ini. Mbak J yang penuh semangat ini bercerita suka dukanya ketika tim relawan Wisata Lombok ini terbentuk. Dari semula terbentuk yang berisikan 25 orang, sempat surut  kurang dari setengahnya, cuma 10 orang tapi tetap berusaha solid. Sekarang ini tim medsosnya Wisata Lombok sudah 243 orang, lho. Dan karena namanya juga volunteer alias relawan, mereka berkontribusi secara sukarela. Salut!
http://www.catatan-efi.com/2016/08/wisata-halal-indonesia-dan-media-sosial.html
Mbak J yang penuh semangat bercerita, nular ke seluruh ruanga
 Selain di Lombok, teman-teman yang punya jiwa muda, suka traveling dan cinta Indonesia  bisa bergabung di setiap kordinator daerah seperti halnya Mbak J ini di komunitas GEN PI atau Generasi Pesona Indonesia. Silahkan cari tau informasinya di kota atau daerah masing-masing, ya. Kalau tinggal di Bandung atau Jawa Barat, cari deh Bang Aswi :).

Kecil Tapi Berpengaruh
Tanpa kita sadari, ke-eksisan kita di media sosial bisa mempromosikan wisata Indonesia, terutama wisata halalnya.  Daripada memviralkan sesuatu  yang berbau debat kusir atau riweuh ga puguh, mending share yang positif dan menginspirasi aja. Soal wisata ini kita bisa bercerita tentang bentang alamnya yang cantik dan memesona, kreatiitas apik tangan-tangan terampil yang unik dari setiap daerah (misal tenun songket, batik, keramik) atau menyaksikan festival budaya di berbagai daerah.

Suka makan, dong? Kalau suka upload foto makanan di instagram,  ketika mencicipi makanan khas Indonesia, selain caption yang unik, hashtag yang menarik juga bisa mendatangkan likers di akun IG kita. Selain jadi aset portofolio, mencantumkan beberapa hashtag bisa mendatangkan calon pelancong yang mencari tau lewat hashtag itu.
kuliner Indonesia paling enak sedunia credit: kemenpar.go.id
Untuk wisata di Bandung yang juga punya potensi besar sebagai salah satu destinasi wisata halal, beberapa tagar yang bisa diimbuhkan ada #bandungjuara, #bandunggram, #jalan2dibandung, yang umum di gunakan. Jangan lupa dong tambahkan #pesonaindonesia, #wisataindonesia, #wisatahalalbdg, #wisatahalalindonesia. Kurang lebih seperti itu.  O, ya september 2016 ini, akan ada penyelenggaraan PON di Jawa Barat.  Selain seseruan nonton para kontingen  bertanding, jangan lupa juga ceritakan kecantikan panorama atau kulinerannya, ya.

Kadang dalam satu waktu tertentu, kita suka gatel juga melihat kelakuan wisatawan yang suka nyampah seenaknya. Objek wisata yang harusnya memanjakan mata dengan pemandangan indahnya malah bikin kesel karena ada coretan atau sampah berserakan di mana saja. Sense of belonging yang masih memprihatinkan memang di Indonesia. Tidak merasa memiliki lalu abai soal kebersihannya. Kadang di sisi lain kita pernah mejumpai grafiti yang bukan pada tempatnya, atau seperti beberapa waktu lain, label nama-nama negara pesera KAA yang hilang dari monumennya di jalan Asia Afrika Bandung. Maksud kita sih baik, mencurahkan kegemasan kita soal ini. Tapi hati-hati lho,  kadang respon yang datang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Bisa jadi kerusakan di objek wisata itu malah membuat calon turis urung datang atau citra tempat wisata itu jadi luntur atau kemungkinan terburuknya bisa kena travel warning. Nah, lho.  
foto bareng para narsum
Padahal sebenarnya siapa tau sudah ada usaha membenahi atau memperbaiki kerusakan itu tadi. So, ada baiknya untuk menghindari efek buruk dari share media sosial - yang kadang suka jadi heboh - itu kita pertimbangkan dulu, mau di mana foto itu akan dibagikan. Contohnya, bisa test case dengan membagikannya dalam grup kecil atau tertutup dan perhatikan respon yang muncul. Secara offline, tidak ada salahnya untuk cek ricek apakah lokasi tadi sudah mengalami perubahan? 

Anyway, ajang World Summit Halal Tourism ini akan digelar lagi dalam waktu dekat, bulan November 2016 nanti di Abu Dhabi. Semoga Indonesia berjaya lagi, ya. Aamiin. Selain Lombok yang sudah memenangi penghargaan setahun kemarin, masih banyak objek wisata lainnya yang tidak kalah cantiknya. Saat ini saja, ada 10 top destinasi  wisata prioritas. Selain Danau Toba di Sumatera Utara, ada Tanjung Kelayang di Belitung, Kota Tua di Jakarta,  Tanjung Lesung di Banten, Candi Borobudur di Yogya, Bromo, Tengger dan Semeru di Jawa Tengah, Mandalika, tetangga dekatnya Lombok, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur serta yang terakhir pula Pulau Morotai di Maluku Utara. Hmm... saya harus bikin pengakuan kalau satu pun dari ke-10 tempat ini belum  ada yang saya kunjungi :P. Haduuh, harus ngebongkar lagi wish list liburan ini mah.  

Foto bareng peserta dan tim dari Kemenpar. credit foto: Fajar Zulfikar


















22 komentar on "Wisata Halal Indonesia dan Media Sosial"
  1. Semoga kesadaran pelaku usaha wisata untuk membuat wisata halal. Jadi kita tenang kalau mau liburan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, selain bikin turis tenang juga bisa menambah pundi karena semakin banyak tuis yang datang dan merasa secure ya, Mbak.

      Hapus
  2. senengnya baca info yang begini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Senang kalau bermanfaat :)

      Hapus
  3. Jadi kepengen makan rendang #salahfokus. Tapi, bener sih Teh Fi, kalau bukan kita yang juga memulai dalam mengenalkan wisata halal melalui medsos siapa lagi kan ya. Kebetulan memang sedang ada niatan kepengen mulai memperkenalkan wisata kuliner di Bekasi, gitu... semoga aja terwujud

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, masa kita kalah sama tetangga sebelah ya, Ipeh. Asik, aku tungu cerita kulinerannya di Bekasi, ya.

      Hapus
  4. Ide yang bagus ya Mba.. memajukan parisisata lokal dengan mengedepankan wisata halal.. Tak dipungkiri memang mayoritas masyarakat kita yg muslim memberi peluang kepada pelaku usaha wisata..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Semoga bukan pelau usaha aja yang aware, kita sebagai netizen juga mendukung, ya.

      Hapus
  5. Semoga Indonesia dapat penghargaan lagi untuk wisata halal-nya.
    Sewaktu Lombok dapat penghargaan itu, kayaknya tidak terlalu booming seperti yang seharusnya ya. Kalau aku tahu dari baca beritanya di sebuah situs.

    Ini penting banget ngurusin wisata halal. Korea & Jepang aja udah ya. *inget K webdrama Lunchbox, ceweknya orang Indonesia. Yg produksi kementrian makanan & agriculture sono, semacam promo makanan halal di Korea.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Euis, aku juga ga mudeng. Entah karena akunya kurang baca atau emang kurang pemberitaannya, ya. Nah siapa cewek Indonesianya yang maen di drama itu? :)

      Hapus
    2. wah menarik sekali mba dengan ide film itu. sepertinyabisa mengundang sineas asing untuk buat film di indo, atau joint production dari negara muslim

      Hapus
  6. Ulasannya bagus dan menarik banget. Sebagai mayoritas muslim tentu kita harus concern tentang yang namanya makanan halal ya, teh, termasuk di bidang kuliner pariwisata. Semoga Indonesia bisa dapat penghargaan lagi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Jawa Barat juga bisa terpilih di ajang ini ya, Zia. :)

      Hapus
  7. woow Lombok emang keren ya sampe dapet penghargaan ..
    Acaranya keren, sayang kemaren bentrok ada acara di Jkt,
    Ah pokonya sukses #WisataHalal nya yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan kita juga bisa jalan ke Lombok ya, Nchie. Iya euy, sayang banget waktu itu bentrokan waktunya, ya.

      Hapus
  8. seneng liat semua yg berbau halal mulai menggeliat. menandakan muslim indonesia sudah mulai aware dengan aspek halal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Ola. Senangnya nanti kalau jalan-jalan ke luar negeri sebagai Muslim lebih nyaman soal makan dan beribadah, ya.

      Hapus
  9. acaranya seru banget kelihatannya!
    cek page Wonderful Lombok Sumbawa dulu ah~ :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo Gung. Dari kampung halaman Agung mah ke Lombok deket banget, ya? :)

      Hapus
  10. Lebih peduli dan selalu memperhatikan sama kehalalan makanan ataupun produk yg kita gunakan termasuk kosmetik memang perlu apa lagi di zaman yg serba cepat dan instan ini,thanks sharingnya kaka :)

    BalasHapus
  11. Mudah-mudahan wisata halal itu juga mencakup lingkungan dan layanan yang menerapkan nilai-nilai Islam ya. Salah duanya: kebersihan dan layanan yang memuliakan pelanggan :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.