Top Social

Bring world into Words

Untukmu Yang Disana

Selasa, 14 Januari 2014

Tiba-tiba saja di kepala saya berdenyar lirik lagu Base Jam, band yang digawangi anak-anak muda itu, yang sempat tenar saat saya SMA. Mungkin, kamu juga familiar dengan mereka. Masih ingatkah lagu Bukan Pujangganya itu? Suara bening Adon dan Sigit begitu awetnya dalam kenangan saya sampai menggelitik saya untuk bercerita denganmu. Sedikit gombal sih, terserah orang lain mau bilang apa.









....
Ku ingin kau tahu isi dihatiku
Ku tak akan lelah jaga hati ini
hingga dunia tak bermentari
.....

Sampai gelap, sampai tak ada kehidupan lagi. Sampai kiamat? Ah tentu saja tidak seekstrim itu. Nabi Adam saja, usianya tak sampai genap seribu tahun, lalu sampai kapan saya bersabar membujuk hati agar setia menantimu?

Entah, saya tidak tahu.
Saya bukan Sanchai dan kamu bukan Dao MingTze yang diam-diam menatap konstelasi cemerlang dilangit sana, seraya menitipkan rindu. Saya  bukan Cinderella,  Snow White, Aurora atau putri manapun, dan kamu juga bukan pangeran, apalagi pangeran kodok. 


Saya tidak tahu, dalam penantian yang terentang selama ini, sejauh ini, apa kita pernah bertemu? Apa kita pernah berselisih, atau diam-diam kamu yang saya rindukan juga menyimpan asa yang sama. Kalau benar itu kamu, saya senang, you're my dream come true. Yang saya ingat kamu itu begitu meyebalkan, ceracau dan ledekanmu itu di telinga atau dalam tatap saya dari layar HP atau laptop itu bikin saya kesal. 

Tapi, sekesal apapun saya, selalu ada yang terasa hilang kalau sekian waktu tidak ada 'perang kecil' itu darimu. Kamu itu memang tidak romantis, itu yang terpikirkan oleh saya. Eh, tadi saya bilang soal Sanchai dan Dao Ming Tse, kan? Saya ga seperti Sanchai, tidak seperih dan setegar gadis berhati baja itu. Dan... meski kamu menyebalkan, tidak sekaya dan setampan Dao Ming Tze, tapi lagi-lagi ini soal hati. 

Saya tidak percaya tentang bintang jatuh dan doa yang terkabul saat terapal bersamaan. Saya lebih percaya Allah, sang penggenggam hati. Makanya,, saya lebih suka menitipkan namamu dalam larik-larik doa saya yang entah sudah puluhan atau ratusan kali saya langitkan.Apa kita berjodoh? Sementara tidak pernah ada yang tahu rahasia yang tersimpan di lauh mahfuz sana.

Untukmu Yang Di Sana
www.danilmaulana.com
Jadi, apakah kita nanti akan bersisian setelah ijab dan kabul kamu ucapkan seraya menjabat tangan ayah saya, saat ribuan malaikat turun ke bumi, menjadi saksi janji yang maha indah juga berat,  itulah jawaban-Nya tentang kerinduan saya, dan mungkin juga kamu. Saya cuma berusaha memantaskan diri dengan harapan saya. Semua itu ada padamu, sejauh yang saya tahu. Tapi Allah lebih tahu yang terbaik, kan?

Wahai kamu yang entah di mana....
Adakah nama saya kamu selipkan dalam larik-larik doamu? Saya tidak mau jadi seorang utopis, larut dalam bayang-bayang dongeng indah seperti cerita di film atau komik-komik itu. Saya juga bukan bunda Khadijah,  bukan Aisyah yang cerdas atau Fatimmah yang sabar. Tidak ada yang bisa saya banggakan kecuali ketika saat indah itu tiba, saya  tahu kamu adalah jodoh saya.
Untukmu Yang Di Sana
8tracks.com

Semoga keindahan itu tidak hanya saat ijab dan kabul saja, semoga happy ever after. Sampai kita tua, layu dan mengkerut dan ajal menjeda waktu kebersamaan kita lalu Allah pertemukan lagi di surga nanti. Ya, itu doa saya. Samakah denganmu?



4 komentar on "Untukmu Yang Disana"

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.