Top Social

Bring world into Words

Cerita Dari Tahun 90an

Kamis, 26 September 2013
Ehm....
Saya mau bernostalgia nih. Secara saya menapaki masa remaja di tahun 90an, jadi saya mau cerita apa yang sempat saya suka di tahun 90an ya. Terutama pas saya menginjak masa ABG, pas SMP-SMA. Hehehe.... ketauan tuirnya nih.

sumbernya dari sini

1. Bacaannya
Nah, pas SMP nih, sempat heboh-hebohnya novel si Lupus. Saking ngefansnya, saya bolak balik ke perpustakaan sekolah buat pinjem buku-bukunya itu. Bukan pinjem buku pelajaran hehehe. Itu mah tiap awal taun aja, sepaket langsung. Eh, omong-omong buku pelajaran, masih inget dong buku pelajaran kita semuanya disuplai penerbit Balai Pustaka? Dan.... yang paling happening, tokoh Irma, Budi dan Iwan. Masih inget kan, sampul buku pelajaran Bahasa Indonesianya waktu SD dulu?

Nah balik ke novelnya Lupus nih, secara kuota maksimal pinjem buku itu maksimal dua, otomatis dong ada buku lain yang enggak bisa saya pinjem. Enggak mau pas buku yang saya pinjem balik dan buku lainnya lai beredar dipijem orang lain (licik apa egois?), saya muter otak. Akhirnya, saya umpetin novel-novelnya Lupus yang saya incer itu di rak buku lain yang klasifikasinya kira-kira enggak ada peminatnya hehehe. Kadang pas saya balikin buku dan melongok rak tempat saya nyimpen 'harta karun' novelnya masih available allias aman. Tapi kadang juga udah enggak ada di tempatnya. Ternyata oh ternyata kena sweeping pustakawannya yang beres-beresin rak. Satu kali waktu saya sempat lihat ada teman saya yang lain, ternyata pinjem buku yang saya umpetin itu. Entah emang kena sweeping pustakawan atau temen saya itu berhasil menemukan tempat persembunyian saya. hahaha.....


Selain serial Lupus, saya juga seneng baca Alfred Hitchock dengan Trio Detektif dengan tokoh Jupiter Jones, Peter Crenshaw dan Bob Andrews, lalu Lima Sekawan dan serial STOP, masih tentang detektif juga. By the way samar-samar saya inget lagunya Lima Sekawan. Seperti ini lho....

Ada anjing kecil... Timy namanya...
Ada penjahat pasti disikat
Ada perampok pasti kapok
Lima Sekawan sungguh jagoan....

Biasanya teman-teman saya nyanyi lagu ini bertrio, abis nyanyi lagu ini mereka ber-high five ria, lompat ke udara dan tos-tosan. Wuiiih, seru yaaa. O, ya ada komik serial juga. Namanya NINA, masih inget? Setiap serinya menampilkan cerita misteri khas 90's. Lalu ada Asterix, Lucky Luke  dan smurf. Wiih, kangen sama komik-komik itu. Sayangnya, koleksi saya yang seuprit pada raib. Hiksss


2. Acara TVnya
Masih inget robot ajaib  yang namanya Vicky dalam serial "Small Wonder"  Lalu tetangganya yang rempong Mrs Brindle yang boros bilang no sampe lima kali. No no no no no.... dengan lebaynya itu. *coba bayangin mimiknya yang ceriwis itu sambil goyang-goyang kepala* Jangan lupain juga si Centil Harriet yang gigih pedekate sama kakaknya Vicky, Jamie Lawson.  Sebenernya ini hebohnya di akhir 80an sih, tapi kalau tidak salah pernah di-rerun lagi. CMIIW!

Lalu ada serial American's Funniest Home Video yang dipandu Bob Saget. Sampai-sampai saya ngikik lihat kelucuan di sana.  Ah ya jangan lupa juga ada bocah ajaib yang bisa terbang di serial My Secret Identity, Mac Gyver yang jagoan ngadepin musuhnya si Murdock yang gila itu. Masih ada juga Murdock yang gila bin sinting di serial The A Team. Masih inget enggak tokoh BA yang meriah dengan perhiasan di leher sama tangannya. Tampangnya yang sangar itu ternyata enggak cukup nyali buat naik pesawat sampai harus di pukul sampai pingsan. Hmmm, jadi inget Dennis Bergkamp si londo pemain lawas Arsenal yang konon juga fobia sama pesawat. Kira-kira, Arsene Wenger sempat kepikiran enggak ya buat mukul Ljungberg sampai pingsan? Yang ada dia bakal dituntut ke pengadilan tuh.  

SUmber gambarnya dari sini


Ada yang masih inget Lorenzo Lamas dengen Renegade-nya? Atau Kirk Cameron dengan Growing Painsnya? Atauuu nih, Bibi Lung dengan Yoko di serialnya The Legend Condor Heroes, Pai Su Chen Si Ular Putih, film-filmnya Andy Law yang selalu bikin seorang sahabat saya histeris lihat posternya (coba diinget sekarang, apa pentingnya coba berhisteris ria begitu?).

Kalau ngomongin kartunnya nih, ada Dora Emon (masih happening sampai sekarang ck ck ck...), Candy-candy, (hayoo pasti ngefans)  Sailor Moon dan paling yang saya suka niih, Saint Seiya! Apalagi serial Saint Seiya ini booming pas saya jadi pengurus OSIS di SMP.  Jadilah saya dan teman saya, Nur, memakai nama tokoh-tokoh di serial ini buat menyamarkan obrolan kalau ngomongin pengurus senior, modus cari aman biar enggak dipelototin :D

 O, iya pas SMA kelas 1-2 juga sempet heboh dengan Ksatria Baja Hitam. Tokoh utamanya, Kotaro Minami yang punya senyum charming plus poni lemparnya yang juga jadi trend. By the way, saya enggak inget endingnya. Saudaranya itu (lupa namanya) berhasil lepas enggak ya dari sanderaan Gorgom? Poninya Kotaro Minami juga samaan denyang gan dipunyai Fuji Fumiya pelantun OST Tokyo Love Story. Saya enggak begitu ngikutin serialnya sih, cuma inget lagunya aja. Sampai sekarang, masih suka sama OSTnya. 

Furikaeru to itsumo kimi ga waratte kureta
Kaze no you ni sotto. 
Mabushi sugite me wo tojitemo ukande kuru yo
Namida ni kawatteku. 

Masih inget kelompok Padhyangan 6? Kelompok yang digawangi Iszur Muchtar, Daan Aria, Deni Chandra, Joehana dan Tika Panggabean (yang masih eksis sampai sekarang dengan Project Popnya) memarodikan serial Quantum Leap dan memandukannya dengan kisah-kisah rakyat seperti Lutung Kasarung atau Ande-ande Lumut  dan cerita rakyat lainnya dengan sukses. Ditambah lagi dengan parodi lagu-lagunya mulai dari Nasib Anak Kos (parodi dari lagu That's The Way Love Goesnya Janet Jackson), Good Bye Ayu (Good Bye-nya Air Supply)  sampai Lagunya Bola (La Copa de la Vida-nya Ricy Martin) dengan kocak, sebagai sindiran halus kondisi sepakbola tanah air yang hobi rusuh alias tawuran pada waktu itu.

Soal bola saya jadi inget theme songnya. Anda paling suka sama yang mana? Saya sih lebih suka theme song PilDun 1990 di Itali sono, To Be Number Onenya itu inspiring, sementara yang paling enggak banget itu Glory Landnya PilDun 1994an. Kesannya kok cemen gitu, bikin enggak semangat.  Sedangkan kalau soal venue-venue-an, Jepanng jagonya. Itu lho stadion Sapporo Dome yang keren banget. Kepikiran ya ada arena lapang bisa di pasang keluar masuk stadion kayak laci plus proses pasang-lipat kursinya itu. Imajinasiyang keren sekali. 

Eh inget Fulgoso? binatang kesayangannya Mari Mar alias Thalia Como bintang Opera Sabun yang enggak doyan maen sabun. Mr Armando, Beti Lafea sekretatris nan culun atau tokoh Jose Fernando. teman ibu saya saking ngefansnya sama serial opera sabun sampai ngasih nama kucing angoranya dengan nama Fernando!

3. Mainannya
Selain dolanan anak seperti sondah alias engkle masih ada mainan petak umpet dan petak umpet tekong. Bedanya dengan petak umpet biasa, petak umpet tekonng si penjaga atau yang ketahuan ngumpet balapan menuju pos dan harus meneriakan tekong! Permainan Boy-boyan dengan dengan bola tenis. Teknisnya ada dua grup yang bermain head to head dan mengincar lawan dengan melemparkan bola. Permainan yang seru, membutuhkan kerjasama yang kompak dan kelincahan buat menghindari lemparan bola. 

Ada juga Gala Jidar, Gala Asin, Riribonan. Sama juga dengan permainan lainnya, ketiga permainan ini dimainkan secara berkelompok. Biasanya saya dengan teman-teman sepermainan (tetangga sekitar) memainkan ini sampai maghrib menjelang. Pulang ke rumah cuma buat shalat, sekedar minum lalu ngacir lagi main ke lapang. Sampai-sampai sering ortu kita nyariin dan maksa pulang. Kalau bosan main-main seperti ini, kita bisa bermain sepeda, entah itu di sekitar komplek atau sedikit nekat ke jalanan. Jaman sekarang, mana berani tuh bersepeda ria. Seingat saya, merek yang banyak dipakai saat itu merk BMX dan sepeda gunung merk Federal. Waktu pertama kalli bisa main sepeda dengan seimbang saya nyaris nubruk seorang ibu muda yang lagi nyuapin anaknya, nyerempet tukang kerupuk dan nyenggol pohon cemara. Saya juga pernah jatuh menghindari motor dan hampir nyungsep ke aprit di pinggir jalan. Hasilnya, kaki saya baret-baret selama satu minggu. Setelah sembuh, enggak kapok, eh main lagi.  Sekarang, gimana? Halah, ngeri ah sama ulah pemakai jalannya. Duh, kapan ya bisa bersepeda ria dengan aman dan santai. 

Ada nintendo, tetris atau dolanan tradisional seperti congklak dan bola bekel. Sekarang mainan itu pada kemana? Even, mainan tradisional sepeti boy-boyan atau Riribonan seperti menghilang ditelan zaman. Sebagai gantinya, bocah sekarang lebih suka maen di Time Zone atau nguplekin tablet dengan candy crush-nya atau PS. *Sigh*

Ada yang gape alias jago mainin Roller Blade? Bahkan main sepatu roda aja saya payah tuh. Hehehe.... Enggak bisa mengendalikan laju rodanya yang licin (pledoi nih yeeee).

Menjelang lulus SMA, saya sempat keranjingan mainan Magic Ball. Ada yang masih inget, ga? Semacam puzzle angka 0-9 tapi dalam bentuk bola. Keseringan dengar iklannya di radio dengan gaya rapnya Iwa K  bikin saya bela-belain bongkar tabungan saya buat beli mainan seharga 25.000. Seinget saya, pada waktu itu harganya lumayan tuh. Kalau tidak salah, di bola itu ada 4 atau enam sisi yang berisi kombinasi angka 0-9. nah kita bisa memainkan aneka kombinasi angka dengan sisi--sisi yang ada di situ.  Sayang sekali, pas rumah saya direhab tahun 97an, satu dus pernak pernik saya berisi novel, kaset termasuk mainan itu hilang entah ke mana. Sigh.....

4. Musiknya
Ngomongin musiknya, saya suka banget sama Michael Learn To Rock dengan Sleeping Childnya, Rick Price dengan Heaven Knowsnya, Celline Dion sama Because You Love Menya,   atau duet Air Supply yang booming denga Good Byenya. Lagi boomingnya lagu-lagu yang slow deh, sampai sekarang buat saya agu-lagu 90s tetep easy listening tuh. Belum lagi Boy Bandnya seperti NKOTB, Back Street Boys dan Take That dengan Never Forgetnya. Atau inget enggak sama Boyzone dengan mendiang Steven Gately-nya yang sempat bikin fansnya pada patah hati lantaran doi itu seorang homo? Lagian nagapin juga patah hati, ya? Orang dia bukan siapa-siapanya kita. Hehehe
 Tahun 90an pasti tau juga sama Bryan Adams, yang khas dengan suara serak-serak basahnya (enggak pake becek apalagi banjir). 


Kalau lagu anak-anak, ini jaman keemasanna nih. Nama Papa T Bob itu udah paling akrab deh sebagai pencipta lagu tersohor. Bondan Prakoso dulu saya inget dengan lagu Si Lumba-lumbanya, atau Melisa dengan Abang Tukan Basonya dan ini nih, boneka kecil nan kenes, Suzan featuring Kak Ria. Bocah-bocah sekarang, kayaknya salah alamat tuh nyanyiin lagu yang bukan dunianya. O, ya ada Kak Seto dengan Si Komonya.. Kasian ya, si Komo selalu jadi kambing hitam kemacetan. Gimana , sih? Dia kan komodo, bukan kambing hitam!


5. Pernak Pernik/Gadget/Hobi
 Waktu saya SMP ampai SMA, saya saya lebih nyaman dengan tas kura-kura, lebih kecil dari ransel dan bisa memuat buku dan alat tulis. Pas SMA kelas 3 sempat booming juga tas bening (transparan) sampai ada yang nekat pake baju yang bening juga. Hadoooo, untung saya enggak berani pake yang satu ini. 

Soal Sepatu, waktu SMA rasanya udah gaya bener alias gaul kalau sepatunya merk Converse. Hayooo, siapa yang merengek-rengek sama ortu pengen dibeliin sepatu ini? Kalau alat tulis, saya sempat kena demam milli pen Zebra yang warna warni. Biar tulisan ancur, rasanya lucu-lucu aja kalau pake bolpen warna warni. Hihihi... harganya lumayan mahal, sampai harus merelakan uang jajan biar kesampaian. 

Pernah kena demam rambut ala Segi? saya pernah nyoba, hasilnya bukan terlihat cute alias lucu, secara rambut saya yang galing malah jadi kayak tante-tante. Ancur, rasanya pengen segera numbuh lebih panjang lagi. Gemes banget sampai dipanggil tante. Lebih aman pake jilbab, enggak ada yang usil sama potongan rambut, mau segi kek, segitu-gitunya alias pendek, panjang, lurus atau kriwil, merdeka deh! Kayaknya gaya botaknya Demmi More di G.I Jane harus dipikir ulang, meski ada sih beberapa seleb wanita Indonesia yanng pede berbotak ria. Errrr, siapa ya namanya? Lupa saya.

Kalau gaya rambut 90an buat cowok, selain poni lempar,  yang saya inget gayanya Beckham. Mulai stylish ala surfer sampai gaya mowhaknya sukses bikin cowok-cowok banyak latah ngikutin. Seperti biasa, selalu saja ada korban mode. Kasihan sekali yang penampakannya jadi aneh, kalau enggak mau dibilang ancur. :P


Ngalamin pakai disket tipis mirip roll film? Yup, komputer nan jadul dengan procesor Duron itu lho. Hehehe, buat ngetik laporan kita pakai WS atau Lotus. Kalau mau lucu-lucuan buat cover laporan, kita pakai program News. Leletnya itu minta ampun, sampai akhirnya tahun 1997an kita diperkenalkan dengan sistem operasi Windows 3.1, udah mendingan dengan media penyimpan data disket yang berbentuk persegi dan cover yang lebih padat.

Eh omong-omong soal gagdet lainnya, tahun segitu yang paling keren adalah walkman atau discman. Saya suka bawa walkman ke sekolah, kalau ada guru yang enggak masuk saya mojok di belakang sama temen dan asyik dengerin radio dari earphone dengan teman saya. hahaha.... Kalau geber walkmannya buat denger kaset, bisa boros batrenya.

Siapa yang punya jam tangan diggital merk G-Shock? atau jam tangan yang penampangnya gede bener nyaingin jengkol. Berhubung lengan saya yang kecil, enggak pantes pakenya. Seenggaknya enggak pusing mikirin harganya yang muahal.Wkwkwk.... ini alasan utama.

Suka telponan? Selain telpon koin, waktu itu juga diperkenalkan kartu telpon magnetic dan kartu telepon chip. Meski bisa lebih tenang nelpon lebih lama, nelpon koin lebih asyik meski harus ngetuk-ngetuk lantai dengan kaki sebagai warning buat orang di depan kita. Wooooi, kelamaan, wartel aja sana!


Tidiiit.... pagerku berbunyi
Tidiiit, begitulah bunyinya
kadang bikin resah 
kadang bikin marah

Gagdet yang satu ini ini, (dialih bahasakan jadi penyeranta, kok enggak asik, ya?), paling ribet. Mau kirim pesan aja kudu pake perantara. Repotnya kalau pesannya itu confidental alias rahasia, mau enggak mau operatornya jadi ikutan tau. Udah gitu, fungsinya cuma sebagai penerima pesan, tetep aja kudu bayaran iuran.

Pernah miara iguana? Mahluk ijo ini sempat jadi favorit piaraaan. Buat saya apanya yang lucu dari mahluk ini? Yang ada saya malah geli sekaligus takut. Sama gelinya ketika teman saya dengan cuek bawa ular kecil piaraannya ke sekolah. 


6. Jajanannya
Pernah keranjingan permen karet sampai mengumpulkan huruf-huruf sampai jadi kata YOSAN? atau permen sugus, permen Nano-Nano (yang waktu itu booming) yang ramai rasanya? Atau nih permen Pop Rock yang menimbulkan sensasi letusan kecil di lidah dan Jagoan Neon yang bikin lidah kita warna warni enggak karuan. Junk food banget, ya?

Tahu juga dong coklat cap Ayam Jago, wafer Superman, coklat Suzana (eh sampai sekarang masih eksis lho). Terus permen Trebor dengan taburan tepung manisnya,  sampai permen kopi dengan brand Chelsea. Sayang ya, waktu itu enggak ada kompetitornya dengan brand MU, Arsenal, atau Liverpool. (Apaan sih?)

Pas lagi heboh-hebohnya waralaba Mc Donald, jajanan favorit saya waktu itu es Con-nya. Seinget saya dengan 500 atau 1.000 peak udah bisa kita nikmati tuh. Pulang sekolah, kalau main-main ke mall, cukup tuh jajan es Con saja. Sekarang, mana cukup 1.000 perak, ya?


As time goes by, being grow is painful. Ada susah-senangnya menikmati proses bertumbuh. and here we are now. Kalau Anda, apa yang diingat dari tahun 90an?

19 komentar on "Cerita Dari Tahun 90an"
  1. Beruntunglah saya lahir di era 80an, jadi masih bisa dengerin lagunya Maissy :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya. Dia juga pernah jadi pemandu acara ya, Ci....Luk...Ba! :D

      Hapus
  2. wkwkwkw sayang gk lahir tahun segitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang sekali, padahal seru lhooo hehehe emang tahun lahir bisa request :D

      Hapus
  3. Hahaha suka banget postingan ini. :)))) Waktu Rick Price dateng ke Indonesia, ABG di timeline-ku pada heran. Siapa, sih, Rick Price? Tak jawab: Only Heaven Knows ....

    BalasHapus
  4. hahaha..thanks berat kakak sudah buat postingan ini..beberapa merk/game/program tv/dll era 90-an diatas pernah menghiasi masa-masa saat gue imut dulu di tahun 90-an :D

    BalasHapus
  5. Jangan lupakan Film Friday the 13th, film horor satu-satunya di layar tipi yang juga satu-satunya kebanggaan Indonesia TVRI. Temennya Ordinary People "Tokyo Love Story". Ha ha
    Btw, yang Ksatria Baja Hitam itu endingnya kakaknya jd jahat. Dan akhirnya KBH memanggil Mask Rider lainya yg bentuk serangga aneh2 untuk bantu ngelawan. KBH sendiri jadi KBH Rx (lebih kuat & lebih keren dr sebelumnya). ha ha

    Nice Post!

    BalasHapus
    Balasan
    1. O iya baru inget :) Jijik juga ya lihat perangkap yang kayak jaring-jaring lengketnya itu. Yaikssss. Mana monsternya jelek-jelek gitu. (Emang ada monster yang cute?)

      Hapus
    2. Soal Friday 13th itu, paling ngeri sama bonekanya.

      Hapus
  6. Hehe...kalo buku2nya aku baca juga mbak, kalo acara TV ga semua nonton, blm punya TV haha....Kalo musik, jaman itu sukanya yg lbh keras, tapi memang warna musik lbh variatif ya dibanding sekarang....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada band Indie-nya kayak Pure Saturday sama Pas Band, masa boomingnya musik Alternatif. Inget dong Creepnya Radio Head? :D

      Hapus
  7. manggut2 sambil ngetawain diri sendiri...konyol klo ingat....hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya, termasuk kebadungan waktu sma, jailin guru :)

      Hapus
  8. ya ampun, tahun 90-an itu memang tahunnya kita banget, mak. tokyo love story bikin meleleh-leleh air mata *halah*.
    dan, mili pen zebra! uhuk!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, cuma itu adegan-adengannya ada yang bikin risih, makanya suka sambil pindah-pindah channel. Tapi OSTnya dong, ever green.
      Milli Pen? Uhuuy deh :D

      Hapus
  9. boybandnya teh Efi... THE MOFFATTS .. oh yang mampu membius aku dimasa itu dan masa sekarang hihihihi ... artikelnya cukup membuat aku flashback deeeeh

    BalasHapus
  10. @Tian Lustiana

    Lah emang Tian angkatan berapa?hehehe

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.