Top Social

Bring world into Words

Resensi Buku : Sewindu - Cinta Itu Tentang Waktu

Jumat, 10 Mei 2013

Judul                      : Sewindu, Cinta Itu Tentang Waktu
Penulis                   : Tasaro GK
Halaman                : 382 + x 
Penerbit                 : Metagraf – Tiga Serangkai,  Cetakan I – Solo 2013
ISBN                      : 978-602-9212-78-5
Harga                    : Rp. 82.000,




Akhir bulan lalu saya dicolek seorang teman di jejaring sosial twitter, ada lomba resensi buku terbaru Tasaro yang digelar penerbit Tiga Serangkai. Sebenernya nih, jujur aja saya sudah rindu berat pengen mengkhatamakan seri ke-3 trilogi Muhammad, Para Pengeja Hujan. Rupanya, saya harus lebih bersabar menanti kehadiran buku ketiga itu.  Baiklah, untuk mengobati kerinduan, saya segera meluncur ke toko buku untuk memburu novel Tasaro yang sebagian bukunya menghiasi jajaran buku di rak lemari saya.

Sedikit intermezzo, saya termasuk pembaca yang telat mengenal tulisan-tulisan Tasaro. Saya baru ‘ngeh’ keberadaan Tasaro di awal tahun 2011 saat berbagai blog dan akun di facebook riuh membahas Muhammad Penggenggam Hujan. Beruntung, selang berapa waktu kemudian saya berkesempatan bertemu langsung Tasaro dalam diskusi 3 bukunya di Pameran buku Bandung dalam 3 waktu berbeda. Nah, pengalaman konyol yang enggak bisa saya lupakan saat menghadiri diskusi buku Nibiru dan Ksatria Atlantis. Saat itu moderator diskusi yang juga tim dari Tiga Serangkai yang datang bersama Tasaro menggelar kuis. Saya yang masih ‘lupa-lupa inget’ nama asli Tasaro mengacungkan tangan dan sukses menjawab pertanyaan moderator dengan sedikit ngaco. Waktu itu Saya cuma inget nama depan Tasaro, dan akronim GK. Jadi, waktu itu saya bilang kalo saya Cuma inget Taufik apa gitu, GKnya ya Gunung Kidul, kampung halamannya Tasaro. Sambil ngasal sedikit maksa, saya bilang kalo Ro untuk suku ketiga nama depan Tasaro itu, kalau enggak salah Rohman, gitu, ya?

Bwhahahahaha.... saya masih ingat reaksi moderator saat itu. “Kok jadi kayak ayat-ayat cinta, ya?” candanya. Aiiih, malu deh saya.  Tapi untunglah, waktu itu moderatornya berbaik hati, hadiah buat saya enggak diurungkan. Satu kaos hitam dengan desain Nibiru berhasil saya bawa pulang dan tentunya buku Nibiru milik saya  juga dibubuhi tandatangannya Tasaro. Sejak itu, saya jatuh cinta dengan ramuan kata Tasaro yang sederhana, kadang meliuk, menukik dan ‘nendang’.

Nah, sedikit berbeda dengan buku Tasaro lainnya Muhammad yang beraroma faksi, atau Kinanti tokoh  fiksi, atau petualangan  fiksi fantasi Daca Suli dalam Nibiru, buku teranyar Tasaro ini bertutur perjalanan hidupnya. Sewindu :  Cinta itu Tentang Waktu bertutur perjalanan kisah Tasaro bersama Istrinya mengarungi bahtera rumah tangga. Eh, Autobiografi? Mungkin terlalu singkat untuk menekuri kisah seorang pesohor dalam rentang waktu 8 tahun, ya? Jujur saja, awal pembuka kisah, ada sedikit kebosanan yang menyergap saya. Di mana gregetnya, ya? Perlahan, saya terus membaca cerita Tasaro saat awal-awal tinggal bersama dengan Alit Tuti atau ‘Eneng’ – panggilan Tasaro untuk istrinya. Diksi khas Tasaro yang sederhana tapi sarat makna itu akhirnya berhasil meyakinkan saya, Sewindu-nya Tasaro itu bukan sekedar sharing kisah seorang penulis semata.

Bagian kedua dari buku ini, mulai menggairahkan buat saya. Dengan alur maju mundur dari setiap potongan episodenya, Tasaro bercerita pergulatan Tasaro untuk memperbaiki diri, bermetamorfosa berusaha  menjadi seorang muslim yang lebih baik. Tanpa sungkan-sungkan, Tasaro bertutur usahanya untuk menaklukan lidahnya membaca setiap huruf demi huruf Al Quran yang terasa mbulet, kerap tertukar. Dalam waktu bersamaan kehilangan dua orang yang dicintai (Ummi dan Mih), hingga akhirnya kehadiran buah hati yang meramaikan suasana rumah. Nah, di sinilah, Tasaro mulai membuat dua sudut mata saya mulai basah, menganak sungai. Setelah harus mengalami dua kali keguguran, ‘Neng’ yang kemudian disapa dengan ‘Nda’ akhirnya mengandung putra pertama meski harus menjalani proses operasi Cesar yang bisa membuat wanita manapun meringis ngilu mendengarnya. Tidak mudah mengatasi trauma sakit itu, apalagi sebelumnya Nda juga harus sempat melalui operasi kuret dua kali sebelumnya.

Saat kelahiran putri keduanya, Tasaro memposting tulisannya di akun FB, lebih dari cukup untuk membuat pembacanya meleleh.
Di mana lagi aku temui perempuan semacammu?
Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar padaku.
Tapi, dimanakah lagi perempuan seikhlasmu?
Wajahmu tak cantik melulu, makananmu pun tidak lezat selalu.
Tapi, katakan kepadaku,  di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu?
...............
(Persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang samudra)

O, ya, dua nama dari putra-putri Tasaro, Senandika Himada dan Pairidaeza Pawestri, diambil dari bahasa Persia, mengingatkan saya pada sosok heroik, Atusa  dan Baginda Rasulullah SAW dalam dua logi novel Muhammad. Sepertinya Persia yang eksotik punya tempat yang istimewa buat Tasaro. Seperti yang kita tahu, Himada adalah sebutan lain untuk Muhammad dalam bahasa Persia. Sedangkan Pairidaeza adalah akar dari kata Paradise dan Firdaus yang bermakna surga.

Lembaran berikutnya, Tasaro berbagi masa lalunya yang perih dan tidak seindah anak-anak yang tumbuh dari keluarga yang  tidak lengkap. Tumbuh bersama Ibunda, sosok guru tiga jaman yang gigih menghidupi anak-anaknya, kecintaannya pada buku sudah tersemai sejak di bangku SD. Nah, kabar bagusnya buat saya dan teman-teman lainnya yang merasa  payah dalam soal eksak, Tasaro pun mengalami hal yang sama  (hiyaaa, giliran beginian kok malah girang, ya? hehehe). Mengambil pendidikan jurnalistik setara diploma, perlahan Tasaro menemukan ‘chemistry’ hidupnya yang menghantarkannya pada kelihai-annya mengolah kata, meramu makna dalam setiap bukunya yang kita baca. Mungkin nih ya, kita tidak akan pernah menikmati kisah manusia akhir jaman yang begitu menginspirasi, Muhammad saw atau fantasi yang sangat meng-Indonesia, Nibiru dan luar biasanya Kinanti kalau saja Tasaro memilih jalan lain.

Masa lalu Tasaro yang tidak lurus-lurus saja, seperti halnya gambaran lelaki shalih lainnya seolah mengingatkan kita. Setiap manusia, selama nafas masih terhembus, selama itu juga dia masih punya kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Filosofi ini juga yang kemudian mencairkan kebekuan hubungan antara Tasaro dengan sang Ayahandanya setelah sekian tahun terpisah.

Errrr, dengan banderol Rp. 82.000, sekilas buku ini terkesan mahal, ya? Eh, tapi dengan cover dan lay outnya yang berwarna, harganya sepadan lho dengan yang kita dapatkan. Nah, penasaran, bagaimana sih heroiknya Ummi? Sosok guru tiga jaman, seorang ibu yang luar biasa yang begitu menginspirasi lembaran perjalanan hidup Tasaro? Seistimewa apa sih Nda di mata Tasaro sampai catatannya di Facebook mengundang banyak komentar?  Apa sih, arti dari Senandika dan Pawestri, ya?

 Lalu, seperti apa sahabat-sahabat Tasaro yang berragam latar belakang meluruskan pandangan kalau kesalehan seseorang tidak melulu dari sisi rutinitas ritual to? Bagaimana Mimpi-mimpi Tasaro untuk membentuk wisata buku di tempat tinggalnya,  juga perdamaiannya dengan masa lalu bersama sang Ayah?  Silahkan temukan kisahnya dalam buku ini. Jangan lupakan juga, ciri khas Tasaro dalam meracik setiap pilihan katanya yang sarat makna. Seperti satu quote dari Tasaro sangat mengena, membuat saya merenung arti kebesaran hati, Memaafkan bukan hanya berarti tak mendendam, namun juga menyemai bibit cinta pada sisa-sisa ladang yang dulu porak poranda.
    
10 komentar on "Resensi Buku : Sewindu - Cinta Itu Tentang Waktu"
  1. Resensinya oke mbak, jadipengen baca bukunya
    Salam kenal ya :)

    BalasHapus
  2. resensinya oke banget mbak...

    jadi pengen beli bukunya..

    BalasHapus
  3. bicara masalah cinta..wah ane belum pernah jatuh cinta pada seorang wanita..jiah lebay hehe

    konsep tulisan reviewnya bagus fi..tapi sayangnya buku tersebut sepertinya bikin termehek mehek,,salam blogger efi..kenal gak denganku..?

    BalasHapus
  4. bagus banget review bukunya.. nunggu di gramed ada.

    salam kenal

    BalasHapus
  5. hati ima meleleh euy baca ini. Romantis banget :)

    BalasHapus
  6. Mba Esti, Mas Andi : Salam kenal juga. Bukunya asik lho hehehe
    Keep Blogging: Tau dong
    Kopi Tani : Sudah ada kok
    Ima : Jagonya dia bikin orang meleleh

    BalasHapus
  7. Terima kasih atas resensinya. Menambahkan untuk katalog informasi buku - buku Tiga Serangkai bisa juga dilihat di http://www.tigaserangkai.com

    BalasHapus
  8. buku bagus nih, masuk list deh.. :)

    BalasHapus
  9. kelihatannya menarik, pengalamanya juga menarik
    lucu.....

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.