Top Social

Bring world into Words

Sebuah Pengakuan : Ibu Cinta Tanpa Akhir

Minggu, 22 Desember 2013

hderigo.com

Jujur saja, saya ini bukan tipe seorang yan romantis. Saya ga pinter menjalin diksi buat mengungkap perasaan, termasuk itu buat ibu saya. Saat  lulus smp, letup-letupan konflik mulai memercik. Saya yang bandel, merekedeweng (keras kepala, susah diatur - sunda) dan suka pasang muka manyun kalau keinginannya tidak terpenuhi. Betapa menyebalkan, ya. Takut kelepasan, saya memilih diam, mengurung diri di kamar atau ngelayap sampai sore dan kembali ke rumah selepas maghrib.

Ah, betapa bandelnya saya, betapa badung dan egoisnya saya. Kadang sekali-kali saya melihat mama diam dalam hening sembari menyeka sudut matanya. Nyessss, ga tega deh kalau udah gini. Maafin Efi, ya, Ma.

Tanpa bermaksud gimana, saya dan adik-adik bukan tipe anak-anak yang suka menggelayut manja, entah itu di rumah atau di tempat umum. Sekali waktu sambil bercanda saya pernah menggoda Mama sambil memeluknya. Eh Mama malah melepaskan pelukan saya. 

"Geli, ah. Udah gede masih manja gini. Sana sama suaminya kalau manja-manjaan,.."

Huhuhu... Mama, mau ngelendot sama suami siapa? *mulai deh curcol* 

No body is perfect.
Ya, terlepas dari pembawaannya  yang cuek, tapi Mama panutan saya untuk bertahan saat menghadapi situasi yang menyebalkan. Situasi yang bikin saya pengen berteriak kesal, marah atau sampai menangis saking habisnya kesabaran saya.

"Anggap saja obat, telan,"  kata Mama.

Begitu, ya? Ah tapi kadang anakmu ini yang keras kepala, anak yang emosinya paling jelek ini diam-diam luruh di dalam kamar, membenamkan muka diatas bantal, membiarkan semua kekesalan itu hilang bersama air mata sampai malam berganti pagi.

Sampai.... saat itu tiba.
Setahun lalu, saat saya mau tidak mau harus menjalani operasi, Mama lah yang menemani saya. Mama yang ada disamping  setelah saya siuman sambil mengaji membacakan ayat-ayat Quran dengan tenang.
Tanpa air mata, hanya sinar mata sabar dan tulus yang saya dapatkan.
Saya senang saat membuka mata, masih diberi kesempatan hidup. Meski seorang teman mencap
 dengan sebutan 'Miss Flat' saaat harus bertarung menghadapi hidup dan mati.

Setahun lalu...
Setelah sekian tahun berlalu, saya merasakan lagi sentuhan mama saat mama menawarkan untuk membasuh tubuh saya, menggantikan tuas perawat. Jujur, itu saat yang paling tidak bisa saya lupakan. Terimakasih mama, saat Efi bingung harus bagaimana mempertahankan hidup. Mama ada untuk menjadi malaikat pelindung Efi. Meski harus menrogoh dalam-dalam tabungan Mama yang tidak sedikit, meski harus bertahan menahan kantuk menjaga sepanjang malam, menemani saat ke toilet, saat Efi jadi pasien yang menyebalkan atau kapanpun itu.

Percayalah Mama, dibalik semua ini, Ga pernah pengen lihat Mama menangis. Terimakasih buat semuanya. 



6 komentar on "Sebuah Pengakuan : Ibu Cinta Tanpa Akhir "
  1. kasih mama yang luar biasa...selamat hari ibu buat mamanya ya

    BalasHapus
  2. sejatinya ibu adalah sosok mulia yang selalu hadir terpatri dalam jiwaraga kita selamanya
    selamat hari ibu ;-)

    BalasHapus
  3. happy mothers day, salam dari kal-sel

    BalasHapus
  4. Selamat hari ibu utk mamanya mbak efi
    kasih ibu memang sepanjang masa yah
    tak kenal meskipun anaknya masih suka bandel *ngaca diri sendiri

    BalasHapus
  5. selamat hari ibu buat mama mbak efi.
    begitulah ibu, kasih sayangnya begitu luar biasa, hingga pantas Tuhan meletakkan surga di telapak kakinya.

    salam kenal ya.
    Ini Bani, yang tempo lalu berjumpa di acara bloggerBDG :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.