Top Social

Bring world into Words

Cantik Itu Relatif

Jumat, 22 November 2013
Kenal lirik ini?

You are beautiful, beautiful....
Kamu cantik, cantik, dari hatimu 

 Atau yang ini,versi machonya dari James Blunt
You’re beautiful, You’re beautiful, You’re beautiful… it’s true
There must be an angel with a smile on her  face
When she thought up that I should be with you
Siapa yang enggak amaze sama cantiknya Julia Roberts seperti ini?  

 




Atau Inneke Koesherawati? 
Mungkin... personilnya JKT 48 yang pada bening dan pada cute itu? Tapi banyak di sekitar kita juga kalau cantik itu tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. Buat saya sih, cantik dan bahagia itu ada di hati. Kita sendiri yang menciptakan. Daaaan, catet nih. Cantik itu tidak selalu soal fisik. Cantik itu banyak kriterianya (di luar fisik).


Naluri alami dong ya, perempuan itu seneeeeng banget dibilang cantik. Coba dibilang ganteng, apalagi gantengan kunci pasti misuh-misuh atawa manyun lah minimal, hihihi.....  Ganteng itu kan pujian buat laki-laki.

 Jadi inget, kalau jaman SD dulu saya sama temen suka bersandiwara, pura-puranya jadi princess kaya cerita-cerita khas anak-anak gitu. Kalau diinget-inget sekarang, saya malah jijik dan pengen ketawa. Terobsesi banget jadi orang lain. Makanya, saya setuju sama satu kutipan di novel Ranu-nya Ifa Avianty kalau yang namanya Barbie itu ga punya pendirian, bisanya cuma bersolek dengan aneka kostum, ga bisa jadi diri sendiri  cuma buat bikin kecengannya suka. Mostly, buat saya barbie itu ngajarin orang lain ngayal. Hehehe.... maaf, ya, yang ngefans sama Barbie.

Jadi apa itu cantik?
Suka perhatiin kan iklan yang muncul di sidebar FB kita, atau Fan Pages yang merayu para perempuan buat rame-rame pake produknya. Jadi kinclonglah, beninglah dan aneka bujuk rayu khas kapitalis lainnya. Apalagi kalau buka youtube, woaaaa, sebel saya! Ngabisin kuota orang aja  Iya si itungannya cuma detik, sekitar 10 detik gitu deh, ya. Tapi tetep aja sebel (curhat ceritanya). Kadang susah diskipnya dan dengan sukapaksa terpaksa dibiarkan kampanye dulu. 

Nah, satu  hari saya nemu iklan ini. Lumayan lama durasinya, tapi saya suka sama iklannya Dove. Bukannya jor-joran sampe berbusa cerita kelebihan produknya yang bikin cantik lah, bikin kulist muluslah, bikin rambut indah lurus kayak abis dari salon lah (meskipun ada iklan lainnya dari produk Dove ini)

Selain iklan rokok yang harus saya akuin kreatif,  beberapa iklan lainnya saya acungin jempol karena lebih ke apa gitu ya kontennya. Hmmm, ada unsur edukasinya, gitu. Dalam iklan ini, seseorang disuruh menggambarkan ciri-ciri fisik terutama wajahnya dan sang pelukis tidak melihat sama sekali wajah mereka yang diwawancara. Setelah versi asli yang cerita, orang lain yang disuruh menceritakan ciri-ciri fisik orang pertama tadi.



Dan..... hasilnya, sumpah keren! Gambaran dari orang lain hasilnya lebih cantik, lebih charming. So, moral storynya adalah kita suka sibuk memikirkan kekurangan diri dan membanding-bandingkannya dengan orang lain. Jadinya minder. Heey, rise up, gal. Cantik Itu Relatif


Padahal, orang lain ga tentu punya pikiran gitu.  Hasilnya, ya kayak di iklan ini. Sayangnya, kita sibuk mikirin kekurangan kita lebih ke soal fisik. Soal attitude alias sikap kita malah merasa lebih dari orang lain, atau minimal abai lah sama kekurangan sendiri.

Kenapa ada kulit putih, kulit kuning langsat, kulit hitam, biar saja itu rencana Allah yang nyiptain kita. Waktu SMP  dulu kita pernah belajar yang namanya adaptasi fisiologis, kan, ya? Faktor iklim dan cuaca itu adalah saah satunya kenapa warna kulit kita beda.  kita rempong pengen mutihin kulit, bule-bule sana malah mati-matian jemur dengan baju yang irit bahan (jangan ditiru) karena pengen kulitnya eksotis, ya kaya kita-kita (kita lho, bukan  elo aja) hahahha. Tambahan, kulit sawo matang ini punya kelebihan, lebih kuat dan ga ringkih. Makanya ya, dulu jaman imperialisme, banyak ditemui budak-budak berkulit hitam, bukan putih.

Perbudakan udah lewat,  terakhir reformasi d Afrika Selatan tuh yang sudah melepaskan politik rasis alias apartheidnya. Eh, dalam satu liputan sebuah stasiun di TV ternyata sekarang keadaannya malah jadi berbalik. Mereka yang berkulit hitam bisa menikmati aneka kemewahan status sosial, fasilitas dan remeh temeh lainnya yang dulu mereka ga punya. Fine, that's good. Tapi sisi lainnya, jadi banyak gembel dan pengemis berkulit putih. Salah satunya pernah diwawancara oleh reporternya dan curcol betapa kondisi buat dirinya dan orang-orang lain berbalik 180 derajat.

Ada, ya... Kalau jaman Belanda kita kenal ada poltik balas budi, entah apa namanya yang satu ini. Politik gantian status? heehe.... maksa banget

Biar item tetep manis dan charming kok

Balik ke topik, ya. Jadi  syukuri aja apa warna kulit yang dikasih Allah sama kita. Jangan coba-coba aneka obat aneh-aneh dan bikin penampakan kita jadi menyeramkan. Inget mendiang Jacko, kan? Padahal dulu waktu doi masih item, tetep manis, tuh. Atau Simon Webe-ya Blue, Halle Barry, Denzel Washington, Vanessa Williams dan The Walcottnya Arsenal. Mereka adalah contoh yang tetep charming dengan kulit hitamnya.

Black or white? Ah Kamu tetep cantik... cantik dari hatimuuuu........



4 komentar on "Cantik Itu Relatif"
  1. Huwaa... dua foto diatas itu, saya suka kecantikannya :D *lospokus*

    BalasHapus
  2. "Kecantikan dan Kebahagiaan" like the theme so much. :))

    BalasHapus
  3. @Adit Purana
    Wah, makasih. Alhamdulillah kalau suka :) (f)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.