Top Social

Bring world into Words

Cabut Pentil : Setuju Tidak?

Sabtu, 28 September 2013
Kemarin sore saya melihat berita di TV, sedang membahas hangat-hangatnya kebijakan Cabut Pentil yang gencar dijalankan Dephub Jakarta. Sederhananya seperti ini, mobil atau motor yang parkir ngasal alias ga sesuai peruntukannya akan dicabut pentilnya. Kesel? Hmm, salah sendiri parkir di mana aja. 
Gambarnya dari sini


Bayar retribusi parkirnya mahal!
Mahal mana sama ongkos benerin ban yang sudah dicabut pentilnya?

Enggak ada lahan!
Nah, kalau gitu jangan bawa kendaraan pribadi, pakai angkutan umum saja. 

Enak saja, ongkos naik angkutan umum jatuhnya lebih mahal daripada bawa kendaraan sendiri...
Itulah, kebanyakan kita lebih mikir efisiensi pribadi. Coba totalkan keseluruhan konsumsi BBM, bandingkan antara kendaraan yang lebih banyak penghuninya dibanding dengan motor atau mobil yang cuma 1-2 orang saja, tentu rata-rata konsumsi BBMnya lebih irit.


Saya tercengang ketika membaca sebuah artikel yang membahas konspirasi menghalangi proyek penggalakan transport masal. Silahkan baca di sini. Mengerikan sekali, apakah sejahat itu para kapitalis otomotif ? Ck...ck...ck...... 

Memang selain kondisi sarana angkutan umum yang parah/enggak layak, ulah sopir yang sepertinya terkena sindrom "F-1 wanna be" juga jadi biangnya, ditambah lagi dengan kebiasaan 'ngetem'nya itu. Berkaca dari suksesnya Angkot Day tanggal 20 September  2013 kemarin, sebenarnya sopir-sopir angkot itu bisa diajak kerjasama. Kuncinya ada pengertian dan saling menghargai. Saya jadi kepikiran gimana kalau ada semacam award buat trayek/sopir. Frekuensinya bisa mingguan atau bulanan. Entah seperti apa rewardnya, mungkin bisa dalam bentuk yang benar-benar berharga buat mereka selain uang. Bukan cuma diancam dengan hukman saja,

Balik lagi ke berita sore yang kemarin saya lihat, lahan penyebrangan yang diperuntukan untuk pejalan kaki atau teman-teman kita yang punya keterbatasan pun masih saja dijadikan alternatif shortcut para pengendara motor. Mereka itu pada punya otak enggak, sih? 

Saya sendiri suka merasa sebel, harus 'mengalah' dengan pengendara motor. Ceritanya nih, ada semacam 'gang' yang panjangnya enggak sampai 10 m. Kalau yang sering melewati perempatan Holis-Soekarno Hatta sekitar Metro Paket, pasti tahu.  Saya menggunakan jalan ini untuk memotong jalan dari tempat saya turun dari angkot menuju sekolah tempat saya dulu bekerja. Dan..... tahu enggak? Masih ada dan banyaaaak sekali motor Banyak yang ikut-ikutan ngambil jalan pintas ini. Padahal kalau mengambil jalan normal, motor-motor itu cuma kehilangan waktu sekitar 30 detik. Enggak sampai semenit! Bandingkan dengan pedestrian seperti saya kalau mengambil jalan memutar dengan rute normal untuk motor, bisa sampai 3 menit lebih.Kadang saat akan mengambil jalan 'gang' itu saya harus berdiri menepi di mulut gang, kalau tidak mau dikagetkan dengan motor yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan. Parahnya lagi, kadang ada motor yang menggunakan gang ini untuk beralih ruas, padahal ruas yang dia gunakan setelah melewati gang ini adalah ruas satu arah. Otomatis, dia menyalahi aturan karena arahnya yang lain sendiri alias melawan arus. Kalau mau tertib, harusnya dari jalan Holis itu, si pengendara motor mengambil jalan lurus lalu memutar di U-Turn di depan Pom Bensin yang jaraknya sekitar 300-400an dari tempat gang tadi. Memang sih, yang ini jauh lebih memakan waktu, tapi soal efisiensi di sini jelas salah. Ampun deh!

Saya pernah bertanya sama teman saya, kenapa gang itu enggak dipasang penghalang semacam palang besi di tengah biar motor enggak leluasa lewat? Ternyata, gang itu dipakai oleh para mamang yang mendorong roda jualan airnya. "Kalau dihalangi begitu, mereka enggak akan bisa lewat," begitu kata teman saya.

Saya cuman bisa geleng-geleng kepala.

Social alert alias tepo seliro memang PR besar di negeri ini. Saya setuju sekali kalau para pelanggar aturan ini bukan cuma dikenai denda saja, tapi juga hukuman tambahan seperti kerja sosial.

Jadiiii..... bahu jalan yang seharusnya jadi lajur kendaraan setidaknya lebih lega karena tidak 'kepentok' kendaraan yang parkir seenak jedat (enggak mikir sih) .

Hehehe.... galak bener ya posting saya kali ini? Habis sebel banget saya sebagai seorang pedestrian yang diserobot haknya.
7 komentar on "Cabut Pentil : Setuju Tidak?"
  1. kalau saya nggak setuju, benahi dulu transportasi umummya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, itu sudah seharusnya. Lebih baik lagi kalau dua-duanya jalan barengan, kan? :D

      Hapus
  2. saya pikir emang perlu kok mbak sebuah hukuman untuk memberikan efek jera pada setiap pelanggar aturan. Sekaligus memberi semacam shock terapi pada lainnya agar tak melakukan hal yang sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Sebagai catatan, harus berani juga dilakukan sama pejabat, dan pejabatnya enggak boleh protes termasuk menjalani hukuman sosialnya itu

      Hapus
  3. kalo saya jadi walikota, buat nambahin income daerah, gak cm pentil yg dicabut tp bannya dipasang alat semacam kunci roda dengan kode kunci tertentu, dan hanya bisa dilepas setelah bayar denda dengan akun penerimaan negara bukan pajak sebesar @mobil Rp500.000 dan @motor Rp200.000 @truk atau @mobila muat Rp700.000....
    taat aturan atau anda bayar fasilitas sakpenake....

    BalasHapus
  4. untung saya gak punya kendaraan, kemana2 jalan kaki mbak, hihihi..

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.