Fintech Peer to Peer Lending, Solusi Pinjaman Non Perbankan

November 16, 2018

Beberapa waktu yang lalu, paparan data yang disampaikan dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh LPS,  membuat saya terkesima. Dari sekitar 265 juta jiwa  penduduk Indonesia yang tercatat, paling mentok baru sampai 260 juta rekening di Bank. Ini ga berarti setiap orang sudah punya rekening.  Untuk nasabah individu saja bisa punya lebih dari satu. Bisa rekening usaha, rekening bersama atau rekening tabungan lainnya seperti tabungan haji 

Artinya, masih ada banyak penduduk Indonesia yang tidak punya rekening di tabungan, dan malah mereka ini sebenarnya butuh akses perbankan untuk memutar perekonomian. Atau ada yabg punya tabungan tapi ga bisa dijadikan pendukung perekonomian mereka saja, alias usaha-usaha kecil semacam para pedagang gorengan, pemilik warung kecil dan usaha sejenis lainnya.

Jelas lah ya, mereka butuh modal. Bukannya susah menemukan kantor cabang, tapi dikarenakan kesulitan untuk memenuhi administtasi yang berlaku untuk mendapatkan pinjaman dari Bank. Alur pencairan dana yang lama ditambah tinjauan layak tidaknya mendapat pinjaman juga jadi kendala. Kebanyakan yang jadi masalah buat mereka itu adalah dari sisi jaminan alias agunan. 

Terus gimana, dong? Pinjam sama rentenir? Udah pasti kayak nyodorin leher buat dicekik, digolok atau apapun itu, ending yang mengerikan kalau tidak sanggup melunasi pinjaman dengan bunga berbunganya yang bisa bikin nangis. Kalau ini bukan sandiwara lebay dari cerita-cerita ala ftv atau sinetron bergenre  hidayah kayak di tv itu lho. Faktanya memang ada. Huhuhu.... 

Padahal ya, para pemilik usaha kecil ini adalah sosok-sosok hero, pahlawan yang membuat perekonomian tetap move on, ga kolaps meski direcoki hantu inflasi. Apalagi sekarang ini nilai tukar rupiah sedang melemah terhadap valuta asing, terutama dolar.

Saat dunia digital yang sekarang merambah sampai ke pelosok desa, kehadiran fintech jadi solusi untuk membantu para pelaku usaha kecil ini tetap bisa berjalan. Nah,  selasa kemarin, tepatnya 13 November 2018 bertempat di Atmosphere Cafe jalan Lengkong Besar nomor 97 Bandung, saya bersama media dan teman-teman blogger di Bandung menghadiri acara yang diselenggarakan oleh OJK mengenai Fintech ini.  Dengan tema “Sosialisasi Program Financial Technology Peer to Peer Landing: Kemudahan dan Risiko untuk Konsumen”  jadi topik menarik dan sayang banget untuk dilewatkan.

Dalam tulisan ini, saya mau ngeshare beberapa insight yang saya dapatkan dari acara ini, ya.

Sebagai narasumber, hadir  Audi Ramzi (selaku perwakilan dari Direktorat Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK), Iwa Gartiwa (Ketua Kamar Dagang dan Industri Kota Bandung) serta dua orang perwakilan dari industri Fintech, yaitu Sigit Aryo Tejo (Head of Micro Business Modalku) dan Yefta Surya  (Direktur Utama PT Esta Kapital Fintek).


Apa sih Fitench Peer to per Lending  itu?

Jadi begini, Fintech alias Financial Technology adalah gabungan dari jasa keuangan dan teknologi informasi. Ya iyalah, ya jelas. Sistem Fintech yang dibahas di sini adalah Fintech yang khusus bergerak dalam pinjam meminjam alias Peer to Peer Lending.

Dengan adanya Fintech Peer to peer lending ini menjadikan sistem pinjam meminjam yang konvensional jadi lebih ringan, mudah dan ga ribet. Kalau biasanya pinjam meminjam lewat jalur perbankan ada jalur yang panjang dan aturan yang ribet, Fintech mengemas sistem pinjam meminjam jadi lebih sederhana. Selain  proses pencairan lebih cepat, untuk penjaminan pun lebih ringan.  Ga ada agunan.

Wait, ga ada agunan? 
Terus apa dong yang ditinjau sama penyedia dana dalam hal ini pihak Fintech untuk memastikan si peminjam layak dan bertanggung jawab?

Cashflow dan Karakter jadi hal yang penting. Modal kepercayaan yang berarti. Dengan cashflow yang rapi, bisa ketauan gimana cara si peminjam ini rapi enggaknya mengelola keuangan. Kapan dan bagaimana dia bertanggung jawab dengan pinjaman yang dimilikinya.

Catet, ya, Ini adalah pinjaman, bukan hibah. Ya namanya juga pinjaman. Harus dibayar, utang. Ga bisa angus alias bye gitu aja.

Mitigasi Risiko 2 Sisi

Dana yang digunakan oleh para peminjam ini berasal dari pemilk dana yang meminjamkan uangnya untuk diputar, Sebagai modal bergulir yang akan digunakan oleh mereka yang butuh. Sistemnya kayak koperasi. Mutualisme yang saling menguntungkan, tolong menolong atau kalau istilah gampangnya adalah gotong royong.  

Kerennya sistem ini tidak hanya bersifat regional atau komunal, hanya menjangkau  mereka yang area cakupannya terbatas di situ-situ saja , atau terikat dalam satu organisasi. Dari sabang sampai Merauke bisa dijangkau oleh sistem ini. Selama ada akses via gadget  (bahkan di wilayah yang cakupan akses internetnya terbatas pun dibuatkan sistem khsusus untuk memudahkan), maka urusan pinjam meminjam bisa dilakukan.

Kalau untuk pihak peminjam diberikan kemudahan untuk mendapatkan kucuran dana, bagi pemilik dana pun mendapat perlindungan. Semisal saya punya dana yang akan dititpkan di salah satu usaha Fintech, maka sesuai aturan, dana ini ga boleh mengendap lebih dari 2 hari.  Kalau ga bergulir, ya bakal balik lagi ke saya. 

Sementara itu bagi para peminjam alias debitur, mereka bertanggung jawab untuk mengangsur pinjaman dalam jangka 40 minggu, di mana setiap minggunya mereka harus mencicil pinjaman setiap minggunya. Hmmmm, mendidik untuk bertanggung jawab, kan? 

Bukan cuma diajari untuk bertanggung jawab saja, sih. Para peminjam ini juga mendapa pendampingan gimana agar dana pinjaman itu jadi produktif dan berkembang. Jangan sampai malah jadi tekor.

Tanggung Jawab Bagi Peminjam

Batasan lain yang harus diketahui oleh para peminjam ini juga mereka tidak boleh meminjam di lebih dari satu Fintech yang berbeda. Misalnya nih, bulan ini saya minjem di Fintech A, terus bulan depannya saya mengajukan pinjaman di Fintech B. Eh di Fintech A cicilan saya belum lunas, ya ga bisa. ga bakalan diacc tuh pinjaman. 

Kok bisa? Bisa, dong. Karen adata debitur ini saling terhubung di antara sesama penyedia pinjaman via Fintech ini.  Jadi bisa ketauan siapa yang kreditnya macet. Walau dalam kenyataannya, ternyata arus pengembalian dari debitur yang  mengalami kemacetan- yang sebagian besar ibu-ibu - tidak lebih dari 1% lho.

Jangan jealous alias sirik juga kalau dana pinjaman yang dikucurkan akan berbeda satu sama lain. Balik lagi ke kriteria yang saya bilang tadi,  kemampuan setiap orang akan berbeda. Si A misalnya punya kapasitas sekian, maka pinjaman yang bisa cair sebesar 4 juta. Si B secara cashflow lebih baik, maka dia bisa mendapat pinjaman sebanyak 6 juta.   jadi bukan karena sentimen atau pilih kasih, ya.

Perlindungan Bagi Peminjam

Kasus umum dari soal pinjam meminja bagi pengusaha kecil adalah tingkat suku bunga yang bisa bikin mewek alias tingkat. Bunga berbunga yang kalau diakumulasikan tiap hari bisa mencengangkan.  

Walau mengacu pada tingkat suku bunga perbankan, mereka tidak mengambil keuntungan dari biaya bunga, yang menjadi sepenuhnya milik pemberi pinjaman. Untuk mendapatkan selisih keuntungan, yang dilakukan adalah dengan cara memotong biaya administrasi dari peminjam selain jangka waktu pelunasan alias tenor yang pendek
Acara jadi seru dan hangat pas sesi tanya jawab dengan audiens. Banyak kasus di lapangan di mana maih banayk yang tertipu Fintech ilegal

Makanya OJK membentuk satgas waspada investasi untuk mencegah aktivitas Fintech ilegal dan merugikan. FYI, saat ini sudah ada 73 Fintech legal yang terdaftar di OJK. Kalau mau tahu rinciannya siapa saja, agar merasa aman  bisa cek daftarnya di sini:


Tidak menutup kemungkinan jumlah daftar ini akan bertambah, mengingat masih ada yang dalam proses peninjauan dan pengajuan.   Tapi biar ga pusing mah udahlah acuannya ke link yang ada di atas saja, ya. Dalam kenyataannya, di luar 73 yang sudah resmi ini, ada 300an lebih Fintech ilegal yang wara wiri dan bias merugikan para pelaku usaha karena ya itu tadi, sistem yang diterapkan mereka melanggar kriteria yang ditetapkan oleh OJK

Agar tidak terjebak hutang dalam pengajuan pinjaman, jangan lupa untuk memperhatikan tips berikut:


Beberapa hal berikut ini adalah ciri-ciri Fintech yang mencurigakan alias ilegal.
  • Alamat kantor tidak jelas atau keberadaannya yang samar
  • Syarat  dan proses pinjaman yang sangat mudah. Jangan gampang terbuai kalau ada yang menawarkan pinjaman seperti ini, ya. Ga mau juga kan kalau tiba-tiba ditagih hutang plus bunganya yang tinggi itu?
  • Menyalin data nomor telepon dan semua foto-foto yang ada di HP peminjam. Nah ini kebangetan. Ini sih ga sopan, sudah mengusik privasi.
  • Tingkat suku bunga dan denda yang bersifat akumulatif setiap hari tanpa batas. Ini lebih nyeremin dari teror film Pengabdi Setan atau Bernafas Dalam Kubur, Suzzanna versinya Luna Maya yang sedang booming sekarang. Emang mau dikejar-kejar terus debitur?
  • Melakukan Penagihan Online secara intimidatif melalui nomor-nomor kontak yang sudah disalin tadi dengan cara yang bisa bikin malu.  
Nah, saya tuh pernah ditagih debt collector karena seorang teman meminjam  entah berapa rupiah dan saya jadi keseret-seret. Padahal udah lama ga ada kontak dan ketemuan. Kok bisa? Mendadak aja saya keluar tanduk dan  jadi lebih galak. Saya bilang ga ada urusan. Ngeri juga kalau membayangkan hal itu, jangan sampai saya ikutan diancam. Hiiiy.... serem

Peran Fintech Terhadap Ekonomi Mikro di Indonesia

Dalam diskusi yang seru dan menarik hari itu, beberapa masalah umum yang jadi kendala para pelaku usaha kecil di Indonesia antara lain adalah:  tingkat kesejahteraan belum seimbang, kebutuhan yang besar tapi distribusi pembiayaan belum merata (salah satunya soal jaminan yang tidak bankable dari pihak pengusaha kecil),  kecepatan perputaran uang masih rendah (karena masih banyak dana yang asih tidur, tidak digulirkan secara produktif) dan kemampuan ekspor dari usaha mikro masih rendah, bagaimana cara yang efektif untuk memasarkan produk, jangkauan distribusi dan  skill untuk meningkatkan kualitas barang agar bisa bersaing. 

Dengan sistem pasar global yang terbuka seperti sekarang, sedih dong ya  kalau produk-produk lokal Indonesia  boro-boro bisa bersaing di kancah Inernasional. Di level lokal malah dilibas arus produk impor yang makin deras.

Dengan adanya Finech ini ternyata bisa membantu mengatasi penganguran di Indonesia lho. Dari data yang tercatat, beberapa capaian berikut ini jadi catatan yang menggembirakan:
  • Sekitar 215 ribu orang yang terserap sebagai tenaga kerja
  • Menambah pendapatan sebesar 4,56 trilyun
  • Menstimulasi perbankan pembiayaan, meningkatkan penyaluran kredit ke sektor umkm
  • Jumlah pinjaman yang tersalurkan sebanyak 13 trilyun
  • Dalam dua  tahun membantu  menambah menambah GDP sebesar  25 trilyun
Walaupun jumlah ini tampak fantaastis, sebenarnya dibanding negara-negara lain  sumbangsih dari Fintech terhadap nominal GDP masih bisa dipush jadi lebih besar  lagi, lho.


Fintech vs Perbankan

Sama-sama mengucurkan pinjaman bagi para pelaku usaha, Fintech ini bukan saingannya Bank. Dri sisi operasionalnya saya sudah beda, kok. Kinerja Bank diawasi oleh LPS, sedangkan Fintech ini berada dalam pengawasan OJK. Fintech tidak mengambil pasar dari perbankan konvensional karena mengambil segmen yang diambil adalah para pelaku usaha yang belum memiliki aset namun masih masuk kategori layak mendapat pinjaman  dengan termin pengembalian dana yang  pendek.



Selain menyimak paparan dari perwakilan OJK dari sisi otoritas dan Kadin yang concern dengan percepatan pertumbuhan usaha/ekonomi, perwakilandari Modalku dan PT Esta Kapital Fintek juga turut menyampaikan paparannya. 

Modalku saat ini sudah mempunyai jaringan yang cukup luas dan terpercaya (terdaftar di OJK). Selain di Indonesia, ada juga di Malaysia dan Singapura. Sementara itu PT Esta Kapital Fintek sebagai salah industri fintech juga bisa menjembatani masyarakat yang non bankable untuk mendapat pinjaman dari perbankan. Bagi para debitur yang lolos dari review, mereka akan mendapt pinjaman bervariasi, mulai dari 2 juta upiah sampai 6 Juta rupiah. 


Di era arus informasi yang deras via gawai alias gadget seperti sekarang, mestinya masyarakat lebih ngeh lagi mengenai keberadaan  pendanaan modal atau pinjaan berbasis digital ini. Jangan sampai terjerat rentenir digital karena tidak teliti dalam menentukan pilihan ke mana akan mencari pinjaman dana yang ringan dan solutif, bukannya nambah masalah lagi. Betul tidak?


You Might Also Like

1 komentar

  1. Nah, kasus pinjaman kaya ke Renternir ini yang ngeri, apalagi beberapa waktu lalu kasus terlilit hutang itu hiks..
    Moga kita lebh smart ya, ga tergiur pinjama, mesti hati2 lagi setelah dape pencerahan #PahamiFintech

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.