Review Film Wage, Sejauh Apa Kita Mengenal Komposer Indonesia Raya?

Sejak kali pertama liat trailernya wara-wiri, saya sudah nandain harus nonton film Wage.  Lupa, sejak kapan saya merasa tertarik sama film yang mengusung tema bioopic. Yang jelas,  saya pengin menemukan hal baru soal cerita dari tokoh yang diangkat dalam film. Anyway, disclaimer dulu, ya. Referensi film  yang saya tonton baru meningkat banyak setahun belakangan. Jadi  belum semuanya film biopic yang pernah tayang di bioskop sudah saya tonton semua. Kalau nemu di aplikasi film atau tayang di tv dan belum sempat nonton,  with my pleasure, I'm willing to watch it.

Kali ini saya mau cerita film Wage yang baru saja tayang perdana hari ini di bioskop. Film ini bercerita tentang biografi komposer lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf  Supratman.  Saya cuma tau dikit tentang beliau. 
Sumber foto: 21cineplex.com
Saya baru ngeh, ternyata referensi yang beredar,  baik buku atau tulisan di internet mengenai pahlawan seperti WR Supratman masih minim.  Perlu kerja keras dan riset yang luar biasa  untuk mengeksekusinya.  Tabik buat John De Rantau sebagai sutradara, dan tentu saja observasi  yang dilakukan oleh pemeran utamanya, Rendra Bagus Pamungkas untuk pendalaman karakternya.

Film Wage dibuka ketika Wage kecil terlibat perkelahian dengan teman-teman sekolahnya di sekolah indo. Kalah adu fisik dengan teman-temannya malah bukan mendapat pembelaaan tapi dicampakkan gurunya.  Tapi Wage bukan tipe anak yang cemen, bahkan ketika bertumbuh dewasa dan menjadi pemain band pun dia tetap punya posisi tawar yang sulit diotak-atik. Pemerintah Hindia Belanda dibuat gondok, kecemasan keluarga akan keselamatannya pun seperti angin lewat.  Wage tidak punya bekal ilmu bela diri tapi dia punya kepercayaan diri yang sangat tinggi tanpa membuatnya jadi karakter yang memandang rendah orang lain. 

Eh sebentar,  anak band?  Baru tau kan, kalau  dulunya beliau  ini pernah ngeband? Sama. Saya juga baru tau, kok. Sepanjang film ini,  gesekan biolanya  saat ngeband bakal sering mendominasi,  ear-gasm. Ngepop dan progresif untuk skala musik lawas (tahun 1920an). Selain lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Ibu Kita Kartini serta Di Timur  Matahari, ternyata masih ada lagu lainnya. Judulnya Matahari Terbit (damn, saya jatuh cinta sama lagu ini tapi pas googling ga nemu format audio lagunya hiks hiks).  Lagu  ini jadi alasan buat pemerintah Belanda untuk menangkapnya  karena dituduh  telah menyulut propaganda.  Padahal, lagu Indonesia Raya lah sesungguhnya yang menguatkab sense of belonging para jong pemuda ketika mereka masih terjebak dalam ego kesukuannya dalam menentukan bahasa persatuan.   

Yang suka merinding saat mendengar atau malah menyanyikan lagu  Indonesia Raya akan semakin merinding dibuatnya karena  di sini lagu  Indonesia dinyanyikan dengan 3 stanza.  Sebuah tamparan keras buat kita yang ngaku-ngaku cinta tanah air tapi lagu kebangsaan saja cuma hafal 1 stanza saja.  Padahal  cerita dibalik susah payahnya Wage yang sama sekali tidak punya darah  bule londo ini begitu sulit dan menguras emosi.

Sebuah film biopic akan berhasil  kalau membuka cakrawala baru tentang latar belakang tokoh yang diceritakan. Ini yang saya dapatkan juga dari Wage.  Gara-gara film ini saya tau juga kalau WR Supratman juga  seorang yang religius,  adalah seorang jurnalis dan pernah nulis novel roman. Entah saya yang lupa atau gimana,  kok waktu masih sd sampai sma dulu saya ga merasa mendapat sub topik dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang mengapresiasi karyanya, ya? Sayang sekali kalau satu copy pun dari tulisannya tidak ada yang menyimpan.

Selain garapan musikalitasnya,  saya menyukai psy war yang melibatkan Wage dengan karakter Fritz (Teuku Rifku Wikana). Walau benci dan kesal setengah mati pada sosok Wage, Fritz sangat menghormati  Wage sebagai musuhnya. Bahkan memenjarakan Wage bukanlah sebuah kemenangan bagi dirinya.  Entah dengan cara apa yang bisa membuat Fritz merasa puas untuk mengalahkannya karena Wage selalu punya amunisi lengkap untuk beradu argumen dengan Fritz. Semacam hubungan cinta dan benci antara dua rival. 

Saya sangat menikmati perdebatan keduanya saban mereka muncul bersamaan. Ikut tersenyum puas setiap Wage dengan lugas berhasil menanggapi psy war yang dilontarkan Fritz terlepas dari realitanya apakah tokoh Fritz ini nyata atau improvisasi dari naskah ceritanya.  Jangan khawatir  harus berpikir keras untuk mengikuti alur ceritanya atau ngantuk dibuatnya selama 120 menit menonton.  

Suprisingly, saya baru tersadar lirik-lirik lagu karya WR Supratman tidak satupun menyisipkan kata merdeka. Koreksi saya kalau salah, ya. Punya sihir apa sih Wage sampai bisa memengaruhi orang-orang yang mendengar atau membaca karyanya? Kalau saja setelah Indoenesia merdeka beliau masih hidup, sepertinya  beliau akan jadi diplomat Indonesia yang ulung dalam rangkaian perjanjian gombal nan menyebalkan dengan Belanda.

Setelah nonton film Wage ini saya punya beberapa PR, menghafal  dua stanza lainnya dari lagu kebangsaan Indonesia Raya, mencari tau mengapa simbol batik berkali-kali muncul dalam  film ini dan tentu saja mencari tau nasib novel yang pernah ditulisnya. 

Film Wage ini juga membuka celah informasi sejarah konflik internal a dalam pemerintahan kerajaa Belanda pada saat itu). Buat yang penasaran dengan cerita-cerita berbau sejarah wajib banget nonton film ini. Harus.

Kekurangan nomor satu bagi film Wage buat saya adalah tidak mudah meyakinkan penonton, kalau film biopic  yang dibintangi aktor/aktris yang  belum punya fans base kuat tetap layak untuk ditonton. 

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

2 komentar:

  1. Aku ga mikir ke Wage Rudolf Supratman hehehe kirain bukan WR Supratman judulnya singkat ya teh Wage doank ternyata kisahnya beliau. Surprise ternyata anggota band zaman dulu berarti udah ada ya ngeband baru tahu :) penasaran pengen nonton

    BalasHapus
  2. Sama kaya mba Herva Wage ini kupikir Wage RUdolf Supratman hhh.
    Aku tertarik nonton ini tapi entah kenapa harus mikir dua kali kalau mau nonton di Bioskop.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.