Happy Yummy Journey: Titik Balik Dari Kupu-kupu dan Durian

Profesor Eje Kim, wanita berkebangsaan Korea mungkin lebih beruntung daripada tokoh Elizabeth Liz Gilbert yang diperankan Julia Roberts dalam film Eat Pray Love.  Meski harus transit ke beberapa negara di Asia Tenggara, ketiga unsur makan, berdoa dan cinta bisa ditemukannya dalam satu tempat, Indonesia.
Foto: Yashinta
Tadinya saya sempat berpikir dua kali untuk datang ke acara peluncuran bukunya yang berjudul Happy Yummy Journey yang bertempat di The 18th Restaurant, Trans Luxury Hotel pada tanggal 2 November kemarin. Hanya karena latar belakangnya berasal dari Korea Selatan,  saya pikir bukunya akan menulis tenang budaya Korea yang saya identikan dengan drama atau filmnya. Huehehe... Ternyata enggak begitu :) Khawatir enggak dapat chemistrynya karena bukan penggemarnya.  Waktu diberi tahu cerita buku ini tentang perjalanan wisatanya ke Asia Tenggara di mana kupu-kupu dan Durian telah mengubah pandangan dan jalan hidupnya. Hmmm... menarik. Ok, I'm in. Saya bersedia datang.

Seperti juga yang dibilang dalam  endorsement yang ditulis Atalia Pratya di cover bukunya, Profesor Eje yang ramah dan cepat sekali akrab meyakinkan saya, tidak usah ikut-ikutan menyukai durian seperti dirinya. Saya bukan termasuk tipe yang mual atau tidak suka dengan aromanya. Makanya,  sesekali saya tidak menolak mencicipi durian termasuk olahannya semisal dalam bentuk es krim atau kue misalnya.

Profesor Eje lahir dan tumbuh dalam sistem masyarakat Korea yanng menganut budaya Patriarki di mana tuntutan perannya sebagai ibu dan istri membuatnya merasa tertekan. Karir yang cemerlang sebagai seorang geografian pun tidak membuatnya merasa enjoy hingga akhirnya kedatangannya ke Asia Tenggara untuk melakukan penelitian pun bisa dibilang kebetulan. Hanya karena label Asia Tenggara sebagai tempat liburan yang murah. Malah sempat disesalinya. Tapi kemudian penyesalannya berubah jadi sebuah keberuntungan.Kalau boleh saya bilang sih semacam Blessing in disguised. Hopefully she agree with me :)

Sesungguhnya saya tidak kesulitan ketika menyimak paparan singkat Profesor Eje saat menceritakan bukunya yang berjudul Happy Yumy Journey ini. Tapi ada satu hal yang membuat saya tertarik pengin banget membaca bukunya adalah tentang kupu-kupu yang disebutnya telah membuat dirinya bertransformasi jadi seorang wanita yang bahagia.

Wait. Kupu-kupu? How come?

Baru kemudian saya paham ceritanya. Dalam salah satu bagian di bukunya, dalam sebuah perjalanan pesawat dengan menumpang maskapai Air Asia, ia membaca majalah Sains yang disediakan untuk penumpang.  Maskapai yang mengusung tagline Now Everyone Can Fly yang juga menurutnya inspiring itu, kalau boleh saya bilang, ini jadi satu puzzle yang melengkapi mozaik perjalanannya. Dalam majalah Sains itu, ada artikel yang bercerita tentang kupu-kupu Monarch. Kupu-kupu ini beratnya tidak lebih dari 1 gram dengan otak yang lebih kecil dari kancing. Namun ukuran tubuh yang mungil itu tidak membatasi dirinya untuk menempuh perjalanan dengan terbang sejauh ribuan kilometer dari Kanada, melintasi Amerika Serikat sampai kemudian tiba di Meksiko.

Stres dan kelelahan yang selama ini menderanya tiba-tiba buyar setelah membaca cerita tentang Kupu-kupu Monarch ini.  Sejak itu Profesor Eje mulai menyukai pernak-pernik yang berbau kupu-kupu. Mulai dari aksesori yang dikenakan sampai saat presentasi pun menggunakan kupu-kupu sebagai simbolnya.

Jatuh Cinta Pada Durian

Sempat tinggal di London kemudian menjelajah negara-negara di Asia Tenggara, sebenarnya beliau tidak saja menemukan Durian sebagai sebuah kuliner yang membuatnya jatuh cinta. Dalam bukunya, beliau juga mengulas tentang kesuksessan Rotiboy yang sukses di Malaysia dan memperluas jejaringnya sampai ke Indonesia. Hayo, siapa yang tidak kenal dengan roti dengan aroma kopinya yang khas ini?  Lalu ada Tom Yam yang dijumpainya di Thailand, Laksa di Penang, Kopi Luwak asal Indonesia yang populer, sampai Rendang, kuliner nusantara yang mendunia yang dijumpainya saat berkunjung ke Sumatera Barat.  

Namun dalam semua perjalanan ke setiap negara-negara di Tenggara Asia ini, ia selalu menjumpai Durian buah yang aromanya tajam dan sukses membuatnya jatuh cinta. Ritual membelah duren yang buat sebagian orang adalah sesuatu yang menyebalkan dan menjijikan, bagi Profesor - yang putera sulungnya juga menyukai durian - adalah sebuah sensasi yang menyenangkan. Semacam candu gitu lah.  Alih-alih menmbeli durian yang sudah dikemas rapi di swalayan, Profesor Eje lebih suka berjalan kaki sampai ke sudut-sudut kota untuk menemukan durian yang dkupas langsung dari cangkangnya.  Setiap menemukan kerumuman orang-orang yang menikmati durian bersama-sama ia merasa bahagia. Tidak ada sekat-sekat yang membedakan semacam usia, jenis kelamin, status sosial, agama dan sebagainya untuk berkumpul bersama menikmati durian sambil bercengkrama. Dari durian, ia menemukan kebahagiannya. Dan di setiap acara mencicipi durian, selalu saja ada insight yang ditemukannya.  Everything happen for  reason. Right, Prof? 

Wanita Asia Tenggara Yang Bikin Iri

Selain sistem hukum dan tata kota yang mengagumkan dari Singapura, belakangan gara-gara membaca buku ini saya baru tau kalau  Lee Kuan Yew berperan penting menyulap Singapura jadi surga untuk para wanita. Di sana adalah surga bagi para wanita bekerja, tanpa harus merasa berdosa karena tidak bisa sepenuhnya menjalankan tugas sehari-hari sebagai ibu dan istri. Pemerintah Singapura memberikan semacam insentif senilai kurang lebih 5-6 juta rupiah untuk membayar sisten rumah tangga (ART). Wow. Luar biasa.

Hei, ARTnya pun bukan asal-asalan ART karena mereka adalah tenaga asing yang diurus dan berada dalam tanggung jawab pemerintah Singapura. Hmmm... jadi sepertinya kita tidak usah pusing-pusing membuat sebuah siklus berantai bagaimana dan siapa yang mengurus para ART ini di luar profesinya mereka dalam kehidupan sehari-harinya dong, ya.

Lain Singapura lain juga di Indonesia. Yup, di sini taraf kesejehteraan ART  masih kalah jauh dengan yang ada di sana.  Begitu juga dengan tingkat kemakmuran per kapita penduduk Indonesia dengan penduduk Singapura sana. Tapi selalu ada seribu satu alasan untuk membuat kita jatuh cinta pada seseorang, tempat atau sesuatu.

Kata Profesor nih, jangan terpesona dengan cerita-cerita indah yang kita tonton dalam drama atau Film Korea. Terimakasih kalian sudah menyukai dan mencintai film dan drama kami.  Tapi tolong jangan terlalu percaya kalian akan menemukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kami stres dan membutuhkan fantasi untuk berbahagia.
"Pernikahan di Indonesia pada umumnya didasari pada cinta, bukan harta. Hubungan antara suami istri pun bersifat sebagai partner, tidak seperti hubungan suami-istri Korea yang berlandaskan ajaran Konfusianisme  yang meletakan kedudukan perempuan di bawah kedudukan laki-laki."  - Happy Yummy Journey halaman 152
Beberapa tokoh seperti Sara Duterte, walikota dari Davao, Aktris senior Indonesia Christine Hakim sampai Nurhayati Subakat, yang merupakan founder dan CEO dari Wardah Cosmetics adalah sebagian wanita-wanita dari Asia Tenggara yang keren di mata Profesor Eje. Bahkan seorang polisi wanita bersuamikan pria yang 20 tahun lebih muda, yang dijumpainya adalah wanita yang bahagia. Tidak perlu menjadi seperti Madonna atau feminis seperti Gloria Steinem yang pernah menjadi bunny girl di sebuah klub Playboy untuk menjadi wanita yang hebat juga bahagia. Sebuah ironi buat saya karena dunia barat atau negara modern lainnya yang identik dengan kebebasan dan kemakmuran ternyata tidak selalu bisa membuat orang-orang seperti mereka tidak menemukan kenyamanan dan kebahagiannya.
"Ibu-ibu Asia Tenggara memiliki kebebasan yang lebih baik seperti hak berpendapat dan hak memiliki harta yang membuat mereka mampu mengatur ekonomi keluarga serta memiliki kesempatan memangku sebuah jabatan di kehidupan sosial"Happy Yummy Journey halaman 176
Makanya di sesi book signing, Profesor Eje yang sangat peduli dengan bagaimana cara menulis nama saya (sampai-sampai dieja loh) saya merasa beliau tidak sedang berbasa-basi. Geografian yang sedang menyusun buku tentang Bandung ini juga menulis di halaman pertama bukunya untuk saya seperti ini: 
I want to develop in feminist friendship.
Surely i want too, Prof. Really....

Dan saya merasa beruntung jadi salah satu dari orang-orang yang pertama kali memiliki bukunya ini.

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

1 komentar:

  1. Aku jadi pingin baca bukunya Teh, ya, meskipun aku juga bukan penggemar durian.. haha.. Tapi menarik ya pandangannya tentang perempuan di Asia Tenggara dan dibandingkan dengan negaranya. Sampai dia bilang jangan terbuai sama drakornya.. :D

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.