Review Film Pengabdi Setan 2017: Ibu Datang Lagi

Entah  kenapa, setiap bahas  film genre horor  produksi lokal (baca: Indonesia), saya suka merasa dirayapi perasaan sedap-sedap ngeri duluan Penasaran pengen nonton tapi sebel sama efek sesudahnya. Suka kebayang aja hantunya, berhari-hari setelah nonton. Mungkin karena plot cerita dan gambaran hantunya related dengan budaya di sini. Beda misalnya dengan cereita hantu Annabelle, atau Freddy Krueger gitu  yang lebih mudah mendetoks efeknya (yakiiin?).  Berurusan sama hantunya langsung ga pernah (dan ga mau juga). Tapi, taste dari film horor lokal  itu sangat kuat kenangannya hihihi... Lah,  emang romance doang yang keingetan terus?

Nah, pas teaser Pengabdi Setan (2017) wara-wiri di medsos dan chat grup WA, sesungguhnya saya sudah merasa terintimidasi duluan. Apalagi versi awalnya yang rilis tahun 80an itu  diapresiasi sebagai masterpiecenya film horor Indonesia pada masanya.


Baru liat teasernya  (tahun 80an dan 2017) aja udah nyebelin buat saya.  Nonton teaser di youtube malah saya mute suaranya hahaha...Cemen amat, ya?  Eh tapi entah kenapa saya akhirnya nonton juga film Pengabdi Setan (PS) ini? Berbekal pengalaman sudah pernah nonton beberapa film hantu Indonesia lainnya, ya, udah saya berani-beraniin diri aja buat nonton. Jeng jeng jeng..... (ga gitu juga kali, Fiii...). Eh tapi buat nulis review filmnya ini saya beraninya siang-siang aja :) 

Diremake (sebagian bilang kalau PS ini adalah rebooth) dari tahun 1980, alur cerita dan beberapa sensibilitas di dalamnya dimodifikasi. Jadi ga sama persis plek ketiplek gitu.  Misalnya, kalau di versi 80an hantu Ibu yang datang lagi putih banget kayak pantomin, di versi sekarang ga sepucat itu, tapi tetep terrifying alias nyeremin. Ga percaya? Liat aja teaser di youtube atau kalau mau lebih ekstrim lagi ke bioskop aja. #ehgimana? Malah jorokin! Di film lama, keluarga ini punya pembantu yang menjaga rumah, di versi terbaru, kondisi keuangan keluarga yang bangkrut lebih kentara, semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri bahkan makan pun ala kadarnya.  
sumber foto: beritagar.id

Ceritanya, Ibu (Ayu Laksmi) yang juga seorang penyanyi yang cukup tenar, sudah sakit cukup lama, 3 tahunan. Entahlah sakit apa, efeknya bikin fisik ibu rusak. Masih hidup pun sudah nyaingin seremnya Mak Lampir. Sakitnya ibu benar-benar parah, sampai-sampai duit abis buat ngobatin Ibu. Rumah digadaikan buat biaya berobat. Lalu Bapak (Bront Palarae) nyuruh Rini (Tara Basro) ngecekin royalti ibu di perusahaan rekaman. Ya kali aja masih ada.  Hasilnya?  Walau Rini bersikeras bilang kalau lagu-lagu ibunya masih ngehit dan banyak diputar di mana-mana, itu ga jaminan orang mau  menyisihkan uangnya untuk membeli kaset-kaset ibu. Moral story pertama yang saya catat, kalau lagi banyak duit, harus punya pos anggaran untuk biaya tak terduga, jaman sekarang bisa diterjemahkan dengan asuransi *sumpah bukan iklan* Moral Story kedua, popularitas itu ada masanya, alias fana. Entah kapan, orang-orang akan melupakan mereka yang pernah jadi selebritis.  So,  masih mengejar ketenaran? 

Dengan kondisi fisiknya, ibu terasa lebih menakutkan daripada mengiba.  Ini terlihat ketika ibunya membunyikan lonceng (cara ibu memanggil anak-anaknya kalau butuh bantuan karena udah ga bisa ngomong), Rini bukannya buru-buru menghampiri ibu tapi malah protes sama Bondi (Nasar Annuz) dan Ian (M Adhiyat) yang lagi asik main ular tangga. "Biar gitu juga itu ibu kalian," kata Rini yang akhirnya mau ga mau menghampiri Ibu. Mungkin Tony (diperankan oleh Endy Arfian) yang paling sayang sama Ibu. Walau tengil dan 'ngeracunin' Bondi soal cita-cita pekerjaan jadi Gi**l*, Tony anak yang selalu sigap  saat ibu membutuhkan. Bahkan ritual menyisiri rambut ibu sudah jadi jobdes hariannya.  Belum bentuk bakti lainnya dari Tony. No more to tell, ya. Khawatir spoil alert.

Teror mengerikan mulai hadir setelah ibu meninggal. Membuat durasi film sepajang 107 menit serasa lebih dari dua jam. Cerita tidak berjalan lambat tapi terasa menyiksa untuk menunggu ending.  Setelah bagian cerita ibu meninggal, saya udah siap-siap menangkupkan kedua tangan di pipi. Properti paling gampang ketika horor mulai meringkus suasana studio hahaha.  Naik ke atas buat nutupin mata, geser ke tengah buat bekepin mulut, just in case teriak kaget atau takut.  Jangan sampai saya lempar makanan, minuman, apalagi hp. 

Dengan mempertahankan seting 80an, film ini berhasil menularkan susana spooky dari layar ke dalam bioskop. Rumah tua gaya jaman Belanda, sumur timba, lukisan, ranjang besi, lonceng klasik dengan pegangan kepala wayang, radio transistor, kursi roda nenek dan piringan hitam  plus pemutarnya  adalah beberapa properti horor yang bakal kebayang terus. Ah ya, tambah satu lagi, mainan pemutar slide film (yang seangkatan sama saya alias mengalami masa kanak-kanak di tahun 80an, masih inget, ga?) yang suka disewain sama mamang aromanis itu juga cukup horor di sini. Terus abis liat film ini,  saya jadi kangen sama mainan itu, tapi ga pake bonus penampakan ibu di situ, loh :D

Lanjut. 
Horor pertama yang cukup bikin  kaget  itu  ketika Bondi dan Ian melempar kain putih untuk menutup lukisan wajah ibu di dinding. Sik, kenapa ga minta tolong Tony atau Rini  buat nurunin lukisan itu, sih? Waktu masih sehat pun lukisan ibu sudah cukup mengerikan,  cocok sebagai gambaran pemuja setan yang suka dandan aneh.  Well, uji nyali pertama masih bisa saya lalui. Adegan demi adegan selanjutnya emang bener seperti dibilang Joko Anwar alias Jokan, kayak merambat di kulit centi demi centi. Walau ada dialog-dialog lucu, tetep aja PS berhasil menyelipkan kengerian meski sudah ada tanda-tandanya. Siap-siap aja banyak-banyak nahan nafas. Mau teriak? Silakan! Asal jangan banyak komenin film sama temen sebelanya. Tahan aja nanti kalau udah abis nonton aja. Annoying, soalnya.

 Kalau Bondi dan Tony  cukup terganggu dengan kehadiran  Ibu, Ian awalnya cukup kalem, malah pernah meledekin Bondi dengan bahasa isyaratnya yang gokil. Sementara Rini, antara percaya dan ga percaya dengan situasi yang terjadi. Dia lebih galau dengan cash flow rumah yang nafasnya satu-dua. Menu masakan pun bisa dibilang sangat sederhana. Kepusingan Rini jadi ditambah sama Bapak, malah pergi ke kota dengan alasan cari pekerjaan. Lengkap sudah penderitan 4 bersaudara ini. Sudahlah sekolah berantakan, bokek, eh diganggu ibu pula. 

Dibantu oleh Hendra (Dimas Aditya), Rini  akhirnya mau menemui seorang paranormal, Budiman (Egy Fedly) yang ternyata 'mantan'nya Ibu. Rini dan Tony akirnya mengetahui masa lalu ibu yang pernah terjerat dengan kelompok pengabdi setan yang berujung meminta tumbal. Antara masih percaya dan tidak percaya, Rini menemukan fakta masa lalu ibunya yang juga melibatkan nenek, bapak dan adik-adiknya.  Dengan tampang misterius khas paranormal, Budiman sempat bikin  saya pengin ketawa ketika bilang gini, "Karena terlalu dekat kami tidak pacaran. "
Cieee, Pak Budiman, di-friend zone-in hahaha. *apa sih*  Eh sebelum lupa, moral story berikutnya,  bukan cuma harta, tahta dan wanita (atau juga pria), faktor keturunan juga bisa membuat kadar keimanan seseorang menyurut, lalu membuat seseorang menempuh jalan sesat demi keinginannya itu terwujud. Anak-anak adalah obsesi lainnya bagi seseorang untuk tetap dipandang oleh orang lain. 

Walau keliatan jadul (ya iyalah), Hendra itu cukup charming sebagai sosok pemuda pada masa itu. Statusnya sebagai anak ustadz tidak menghalangi usahanya ngemodusin Rini.   Moral Story keempat: Kesolehan ortu tidak otomatis diwarisi anak.  Apalagi kalau ortunya ga soleh alias ibadahnya bolong-bolong. *eh kayak lirik lagu siapa gitu, ya?*

 Adegan paling creepy buat saya di film ini ada dua. Pertama ketika Ibunya gangguin Rini abis solat. Dalam film-film lawas, biasanya sosok hantu bakal menjerit kepanasan atau takut sama mereka yang soleh atau apapun yang berhubungan dengan simbol religi. Udah basi juga kali ya kalau malah itu yang berlaku. Yang kedua,  menjelang akhir film. Dalam satu situasi, Rini dan Tony yang membuka pintu malam-malam terus Ibunya berdiri di luar situ. Ga ngomong apa-apa tapi cukup bikin saya terpekik kaget. Paling kenceng se-studio pula. Kurang ajar! Ngagetin plus nyebelin.  Ketika beberapa penonton di deret yang sama (cuma terpisah tangga) sibuk bisik-bisik sepanjang film, pas saya teriak kaget, mereka malah khusyuk nonton. Ah ngehe, nih Ayu dan Jokan. Bikin saya malu aja :D

Dalam pikiran saya, kalau semestinya semasa hidup Ibu begitu mengharapkan kehadiran anak-anaknya (sampai-sampai dia menempuh jalan sesat agar bisa hamil dan punya anak), kenapa pas sudah meninggal dia malah ingin ngegusur anak-anaknya ke alam akhirat?  Apa karena naluri keibuannya sudah habis dimakan loyalitasnya sama setan, ya? 

Di sisi lain ucapan Ustadz yang bilang kalau  ga ada itu yang namanya hantu tapi jin yang menyerupai bisa jadi afirmasi buat kita untuk menetralkan efek serem sesudahnya. Kalau orang baik, ya di alam kuburnya dia bakal tidur tenang. Kalau jahat? Boro-boro ganggu orang, dia  bakal dibuat sibuk menghadapi 'interogasi' di alam kubur. Itu sih, senjata yang saya pakai, kalau tiba-tiba aja penampakan horor di film kebayang lagi :)  Dan ini emang bener, kok. Silahkan cari referensi-referensi yang valid, ya. Setiap manusia itu punya kembaran yang namanya Jin Qorin. Nah jin ini yang tiba-tiba ga ada kerjaan karena 'copy-an hilang' jadi iseng ganggu manusia di sekitarnya. Walau paradoks juga, ucapan Ustadz dengan kondisi di film itu. Ya namanya juga film, kan?

Sebagai anak tertua (Rini diceritakan  berusia 22 tahun), somehow saya merasa dandanannya ketuaan. Kalau dia diceritakan jadi ibunya Ian pun pantes aja. Sementara kalau protes sosok Bapak kurang tua, ini bisa dimaklumi, karena Jokan pernah cerita dalam preskon susah banget nyari karakter yang mendekati Bapak.  Dengan memaksimalkan makeup yang lebih tua, saya tidak mendapati kekurangan sosok bapak di sini.  Aksen melayu  setiap bapak muncul di film ini juga tidak tertangkap oleh saya.  

Untuk wardrobe, properti dan setingan lainnya, sudah cukup mewakili nuansa 80an, perfecto! Ditambah lagunya ibu di sana. Feel horornya dapet banget apalagi bunyi liriknya juga udah mengisyaratkan menagih janji sehidup semati. "Di kesunyian malam ini... Ku datang mehampiri....." 
Lirik selanjutnya saya ga hafal betul tapi nyebut-nyebut janji sehidup semati.  Hiiiy, ibu, Yang tenang aja di alam baka. Jangan ganggu lah.  Kalau film-film lain bikin kita suka sama lagu theme songnya, saya jamin kalian bakal males dengerin lagunya Ibu.
  
So, pas nonton nanti, siap-siap saja melorot di kursi, atau malah terloncat, tiba-tiba speechless saking takutnya atau malah sebaliknya bermetamorfosa jadi penonton yang norak karena  jerit-jerit kaget, atau terkekeh masam (abis dialog lucu disusul horor soalnya).  Terlepas dari beberapa bagian film yang mengundang tanya.  mendingan nikmati aja nontonnya. Jangan sampai didatengi Ibu dan gank dead walking atau bayangan hitamnya karena kebanyakan protes. 

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

26 komentar:

  1. Karena terlalu dekat kami tidak pacaran nyahaha. Kok aku suka kalimatnya pak Budiman.

    Ibuknya emang serem deh teh kayak mayat hidup gitu. Fotonya juga. Aku penasaran ih pengin nonton juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah nonton kan, Gilang? hahaha.... Yang udah-udah gitu ya, terlalu deket jadi ga pacaran. Padahal minimal salah satu mah pasti ada yang ser-seran punya rasa *apa coba?*

      Hapus
  2. hahahahahah, jadikepikiran wajah bak ketakutan dibioskop, di liha kiri kanan mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha aman sentosa, kok. Kanan kiri saya temen, beneran orang.

      Hapus
  3. Bacanya aja udah serem Tehh heheu kuatan ih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... iya-iya enggak asalnya pas mau nonton ini teh, San.

      Hapus
  4. Mbaaakkk aku ga berani nonton. Baca ini aja aku takut sendiri.
    Takut kebayang2 dan kebawa ke alam bawah sadar.
    Kalo aku sih no sama pilm horor, ga tau mas anang XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ditemenin mas Anang masih mau ga nonton filmnya? Hehehe *dijitak Ashanty*

      Hapus
  5. Teh efi reviewnya sungguh menakutkaaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Reviewnya aja, kan? Akunya ah enggak kan, Sin? Eh Hasnah jug nonton film ini loh, Sin :)

      Hapus
  6. Penasaran. Baca ini malem2 cukup merinding akutuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau berani baca malam-malam, minimal nonton siang mah harusnya berani sih, Wien hehe

      Hapus
  7. Lengkap banget reviewnya, jadi makin pengen nonton. Apalagi kalau suami suruh baca ini, pasti besok ngajak nih 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ada partnernya pak suami. Asik itu :) Ayo nonton, Cha. Sebelum turun layar.

      Hapus
  8. Kerennn nih film, yang belum notnon wajib nonton sebelum tiketnya habis :D

    BalasHapus
  9. Baca ini aja udah dag dig dug serrr. Selalu suka sama film-filmnya Joko Anwar karena seolah riil, scene-scenenya suka ngasih surprise.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jump scarenya emang juara, Dew. Asiknya ga lebay walau tetep ngagetin hehe

      Hapus
  10. Saya gak bakalan berani nonton film horror apalagi liat penampakan ibunya gitu, halah seremin pisan ihhh

    BalasHapus
  11. Gara baca review ini kemudian liat teasernya trus belum apa-apa jadi terngiang kelenengannya si-Ibu. Trus tukang cincau lewat jadi inget Ibuuuuuu.

    Batal nonton aahhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, lonceng itu emang propertiny ibu yang paling nyeremin.

      Hapus
  12. Hahahahahah #eh hahahahahh #eh kok ketawa mulu hahahhaha... aku sumpah penakuuut, tapi selalu baca sinposis or review ttg PS ini :D nyahahaha. Cukup terobati lah baca tulisan teteh, ngga perlu nonton lagi huakakka.. #eh #tetepseuri #komenapainiiih #mintaditalapung XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huuus, Bumilm jangan ngakak gitu ketawanya. Anggun dikit atuh hahaha. Ditalapung sama pocer mah mau ya? Eh tapi lebar ketang hahahaha

      Hapus
  13. buset daaah, ga suka ama horor tapi kok.. kok... kamu aja berani, masak saya enggak....

    *cemen anaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayo, Ciiiii kudu nonton. Jangan mau kalah sama aku hihi

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.