World Quran Hour Meneladani Makna Quran Dengan Kasih Sayang

Sudah beberapa waktu ini jilid Quran saya sudah mengelupas. Kalaupun diperbaiki, tetap saja rasanya kok ga enak, ya? Dibuang? Bukan Cuma sayang tapi rasanya gimana gitu. Buat saya, Quran punyai suatu rasa yang sakral. Bukan sakral dalam arti memberi kesan magis berupa mantra-mantra. Entah lah, walau tajwid masih berantakan, lagu ngaji pun terdengar ga enakeun tapi ada saat di mana saya merasa damai, merasa kesedihan yang menyesak seakan luruh saat membaca quran. 

Namun ada kalanya (lebih sering tepatnya) juga saya merasa hambar ketika mengaji. Duh, Astaghfirullah….

Sampai kemudian ketika saya mendapat Quran baru sebagai souvenir dalam acara World Quran Hour di Masjid Pusdai, Jalan Diponegoro, Bandung. Saya merasa dicubit. Cubitan yang cukup nyelekit.

Diantara lembarannya yang penuh warna, Quran Cordoba seri Al Hufaz yang saya baca bersama ribuan jemaah yang memenuhi Pusdai pada tanggal 31 Agustus 2017 lalu terdapat salah satu caption yeng tertulis begini:
Metode 5 
Syarat utama: Fokus, Rileks dan Tidak Pegang Handphone.
Jleb, kan? Ditambah lagi dalam rangkaian tausiyah Bunda Mimin Aminah hari itu juga mengingatkan kami agar tidak terlalu dikendalikan oleh gadget. "Jangan sampai Allah cemburu dengan gadget kita". Duh.

Jadi nih saya mau kasih pengakuan. Pernah atau sering malah disela-sela ngaji pas hp saya berbunyi, setelah menamatkan satu ayat, ngajinya saya jeda dulu. Ngintip notif di HP (kebanyakan di WA) lalu lanjut lagi ngajinya. Hmmm… pantesan aja ngaji saya terasa hambar *tutup muka*

Acara World Quran Hour tahun ini adalah tahun kedua di mana pada tahun sebelumnya diselenggarakan di masjid Agung Trans, jalan Gatot Subroto. Sama halnya dengan tahun sebelumnya, jamaah yang datang dikasih satu kertas kecil. Di kertas kecil itu tercantum bagian mana yang jadi jatah kami untuk ngaji. 

Hari itu saya mendapat jatah ngaji lembar ke delapan di juz 20. Nah, saya kebagian membaca surah Al Qasas ayat 85-88 kemudian lanjut ke surah Al Anabut ayat 1 sampai 14. Secara normal, kurang dari 10 menit sudah bisa selesai (kalau suka memerhatikan video/audio muratal, rata-rata juz selesai dalam 1 jam malah ada yang selesai 40 menitan). Selain mengaji, para undangan dan jamaah hari itu menyimak tausiyah yang disampaikan oleh para narasumber secara bergantian dari jam 08.30 samapi dengan jam 11.00 WIB.

Di antara kurang lebih 3.000 jamaah yang hadir 1.000 orang di antaranya mendapat Quran gratis serta voucher umrah. Selain itu juga dibuka stand yang melayani jamaah yang ingin mewakafkan sebagian hartanya untuk penyediaan Quran bagi saudara-saudara kita yang tidak beruntung. Jangan salah loh, meski banyak tumpukan Quran yang kita jumpai di toko buku, masih banyak yang belum memiliki membaca dan bisa menadaburi Quran. Bahkan untuk masyarakat yang tinggal di perkotaan pun tidak cukup memiliki Quran satu kali. Ada kalanya harus mengganti dengan fisik yang baru karena yang sebelumnya sudah rusak atau sobek. Ya, kan? 

Asiknya Quran yang beredar sekarang selain tetap terjaga keasliannya (bahkan sampai tanda baca seperti sukun atau tanwin) juga lebih mudah dibaca dengan penanda tajwid berupa warna-warna, bahkan ada loh terjemahan yang disertai keterangan singkat tentang asal usul turunnya ayat itu (asbabun nuzul).

Selain Wakil Gubernur Jawa Barat , Deddy Mizwar yang hari itu juga datang dan menyampaikan sambutannya, beberapa asatidz seperti Abu Rabbani, Evie Effendie, Hilman Rosyad, trio kembar Hamanis dan Muzammil Hasballah.  Sedangkan yang menjadi MC hari  itu adalah Kang Daan (personel Padhyangan dan Kang Nugi dari MQ FM).

Pada hari yang sama, yakni 9 Dzulhijah 1438,  tiga juta jemaah haji dari berbagai dunia melaksanakan wuquf di Arafah. Kalau di bulan Ramadan terdapat malam lailatul qadar yang istimewa, maka di hari Arafah juga punya kedudukan istimewa. Selain bonus penghapusan dosa satu tahun ke belakang dan satu ke depan bagi yang berpuasa, pada hari ini Allah turun langsung ke Arafah bersama para malaikatnya untuk menyambut doa-doa yang dilangitkan. Duuuh merinding ga, sih?

Acara World Quran Hour yang pada hari itu juga diperingati di Jakarta mengajak umat Islam kembali menadaburi Quran lebih dari sekadar bacaan. Bukan hanya terjaga keasliannya, Quran juga masih terjaga mukjizatnya sampai sekarang. Kalau mukjizat para nabi-nabi sebelum Muhammad saw hanya berlaku pada saat itu, Mukjizat Quran tetap konsisten dan masih berlaku sampai sekarang, jadi obat bagi umat islam yang membaca dan mengamalkannya, Syifa Ulinnas

Seperti tausiyah singkat yang disampaikan oleh Evie Effendie, Obat bagi manusia. Di Arab sana, rumah-rumah sakit pasiennya sedikit karena mereka lebih menukai membaca quran sebagai penawar sakitnya. Sebuah keyaikinan yang sangat dalam, level yang luar biasa. Beda banget ya sama kita? *nunjuk muka sendiri*

Pernah baca doa khatam Quran, kan? Pada hari itujuga dibacakan doa khatam quran setelah masing-masing dari kami selesai menunaikan tugasnya membaca bagian yang sudah dibagikan tadi. Nah ada satu baris dari doa khatam quran itu yang bunyinya seperti ini:
Ya Alloh sayangi kami dengan Qur'anBagi kami Quran iman dan cahaya pentunjuk dan rahmatYa Alloh tegurlah kami bila melalaikannya dan ajarkanMujizat Al Qur'an yang menjadi sumber rezekiSpanjang malam dan spanjang siang hariJadikan Al Qur'an perisai Ya Robb Tuhan kami
Kalau kita saja ingin disayangi Allah, terus kenapa kita tidak bisa menyayangi sesama, ya? Ini loh yang fenomena yang sedang kita alami dan kita saksikan saat ini. Ada aja berita di tv atau Koran yang mengabarkan sesama kit sibuk berantem, berkelahi bahkan di media sosial pun ada aja alasan untuk debat kusir dan ehm… berakhir dengan unfriend. 

Padahal kalau kita beneran cinta sama Quran, semestinya menumbuhkan jiwa solider yang tinggi, semangat kebersamaan dan kepedulian yang tinggi. Di sisi lain saya percaya kok umat muslim termasuk yang ada di Indonesia itu punya kepekaan sosial dan jiwa humanis yang tinggi. Buktinya kalau ada berita bencana atau musibah, dompet peduli kemanusiaan ramai-ramai dibuka, bahkan banyak relawan yang sukarela terjun ke lokasi bencana untuk membantu meringankan beban.

Semoga tahun berikutnya acara World Quran Hour masih ada dan bertmbah kota penyelenggaranya dan saya juga teman-teman yang membaca tulisan ini jadi salah satu bagian di dalamnya.

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

7 komentar:

  1. wahhh semoga ya mba bisa ada lagi dan bisa tergabung juga sama mba disana hhe :D

    BalasHapus
  2. aku nih suka malu sama diri sendiri. Rasanya baca quran itu bisa diitung pake jari cuma pas bulan ramadhan aja. selebihnyaaa aduhh kelar deh.. gimana caranya supaya baca quran juga sama konsistennya dengan ngeblog ya?

    BalasHapus
  3. Waah, acaranya seru banget, yaaaa, pengen makin dekat dengan al Quran, semoga bisa yaaa

    BalasHapus
  4. Pengen bisa lebih dekat dengan al quran, semoga bisa yaaa

    BalasHapus
  5. Aamiin ya rabbal alamin utk doanya, teh.. semoga hati kita ikut terketuk damai setiap ngaji ya, aku jg suka biasa aja soalnya, hiks..

    BalasHapus
  6. Moga tahun depan bisa ikut lagi. Beda banget suasananya saat berkumpul dan membaca Qur'an sama-sama ya Teh.

    BalasHapus
  7. Iya teh...kalo sendiri baca Al-Qur`annya jadi gak semangat yaa...
    Aku jadi punya cara aku sendiri teh...ikutan kelas setoran bacaan Qur`an seperti One Day One Juz...tapi ini gak tertarget 1 juz.

    Barakallah fiik, teh Efi.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.