Petak Umpet Minako, Teror Hantu Berbalut Konflik Masa Lalu

Kapan terakhir kali main petak umpet? Usia SD? Atau SMP? Dulu waktu masih bocah saya suka memainkan permainan ini dengan teman-teman sekomplek.  Mencari tempat ngumpet paling aman, kadang ngumpetnya di dalam rumah, biar ga ketemu hahaha... Licik, ih ini mah. Jangan ditiru. 

Tapi sesungguhnya sensasi menyenangkan dari bermain putek umpet itu lari balapan ke titik jaga. Walau udah ketauan tapi kalau bisa sampai duluan ke titik jaga dan teriak dua limaaaa.... ya, ga usah jaga, meski kita yang duluan ketauan.  Kalau dalam dolanan ala sunda, kami biasa menyebutnya Ucing 25. Ada juga permainan yang namanya Ucing Tekong. Aturannya sedikit beda, tapi intinya yang kebagian jaga itu kami sebut yang jadi ucing (kucingnya).  Entah kenapa dikasih nama gitu. Ya mungkin karena harus kucing-kucingan antara  yang ngumpet dan yang nyari.Pindah lokasi ngumpet pun sebenarnya boleh, asal ga ketauan.Kalau ketauan, ya ga bisa ngumpet terus. Harus keluar.

Nah, gimana kalau sekarang main petak umpetnya sama hantu? Horor, kan? Pake banget!  Seperti ceritanya di film Petak Umpet Minako. Didaptasi dari novel yang berjudul sama, sutradara film Billy Christian mengangkat salah satu kisah urban legend asal Jepang  (Hitori Kakurenbo) tentang permainan petak umpet yang riskan, karena melibatkan hantu di dalamnya.

Ceritanya, tokoh Vindha (Dimainkan oleh Regina Rengganis) yang dandanannya cukup aneh hadir ke acara reunian temant-teman SMAnya. Vindha yang dulunya pernah jadi objek penderita bullying temannya, menantang mereka untuk bermain petak umpet di gedung sekolahnya. Untuk menguarkan sensasi horor, semua teman-temannya menambahkan darah sendiri ke dalam tubuh boneka Minako yang dibawanya. Boneka Minako yang dicemplungkan  ke dalam kolam itu lah yang kemudian menciptakan teror demi teror. Satu persatu teman-teman Vindha yang berhasil ditemukan berubah menjadi semacam zombie dan mencari teman-teman lainnya yang masih hidup untuk menjadi 'penjaga'.

Ditengah-tengah ketakutan dan histeria yang masih hidup, Baron (Miller Khan) datang menyusul demi untuk menyelamatkan Gaby(Wendy Wilson) . Dengan kondisi sekolah yang seperti luas, ditambah creppynya suasana, bukan urusan mudah bagi Baron menarik Gaby dari lingkaran permainan maut itu. Apalagi, mereka yang sudah 'membagikan darah' terikuat perjanjian, harus ikut permainan sampai selesai. Sialnya, permainan ini bukan sekadar permainan biasa, karena di penghujung permainan hanya boleh ada satu pemenang saja yang keluar.  

Teman-teman Vindha menjadi paranoid, yang dulunya lengket bersahabat jadi saling curiga, bahkan untuk berbagi ruang untuk bersembunyipun tidak mau. Lewat alur cerita yang maju mundur, film Petak Umpet Minako membuka tabir masa lalu dari masing-masing mereka. Ada cinta lama yang tidak berbalas kembali hadir meminta asa juga dendam masa lalu yang belum tertuntaskan.  

Walau ide utama petak umpet ini berasal dari Vindha, sesungguhnya yang menjadi tokoh utama dari alur film berdurasi sekitar 87 menit ini adalah tokoh Baron.Saya sempet kesel juga sama Vindha yang punya ide gila mengadakan petak umpet horor itu.

Tadinya saya pikir Vindha  bakal jadi tokoh antagonis yang menebar horor untuk membalas bully-an teman-temannya dulu. Belakangan Vindha malah menyesali ide gilanya itu, walau dia sudah tau temannya di Jepang  juga sudah pernah jadi korban gara-gara permainan yang sama.  Moral storynya? Kadang orang -orang yang sudah nekat atau kehilangan kewarasannya macam tokoh Vindha itu baru 'menyesal setelah repot dengan ulahnya sendiri yang sudah diciptakan. Sialnya, bukan hanya merepotkan diri sendiri tapi juga bikin susah orang lain.  Entah apa motif utamanya Vindha. Kalau mau 'balas dendam'  mestinya dia tidak melewatkan cara untuk menjaga dirinya sendiri tetap aman.Ah Vindha, kamu tuh 'pikarunyaeun' (bikin iba) sekaligus nyebelin. Saya lebih suka sosok Vindha yang manis dan tersenyum lepas bebas tanpa beban seperti saat chating dengan sahabat Jepangnya. 

Baron yang semula tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dalam sekejap saja jadi karakter utama yang berusaha memutus mata rantai teror di dalam gedung sekolah. Selain menyelamatkan Gaby yang dilanda stress berat, misi Baron bertambah dua, menyelamatkan teman-teman yang tersisa juga menghentikan teror Minako. Baron tidak peduli dengan aturan 'hanya ada satu pemenang'. Kalau bisa bukan hanya Gaby tapi juga teman-teman lainnya yang tersisa harus diselamatkannya. Makanya, dalam beberapa adegan Baron mau bersusah payah menuntun temannya (Destra) yang tidak bisa berjalan normal agar tetap selamat dari kejaran para penjaga dan Minako.

Misi Baron sendiri bukan perkara cetek. Saat sekumpulan orang-orang yang ketakutan jadi saling mencurigai satu sama lain - terutama Mami (Natasha Gott) yang tidak segan menumbalkan teman-temannya - Baron juga harus mencari senjata ampuh untuk menghabisi teror Minako. Boneka yang dilemparkan Vindha ke dalam kolam di sekolah itu sendiri sebenarnya tidak berkutik, hanya diam terapung di dalam kolam sana. Minako, setan cantik bermuka putih dengan pakaian kimono berwarna merah itu wara wiri di gedung sekolah mencari korban-korbannya itulah teror utamanya. Kalau di Indonesia, mungkin seperti permainan  jailangkung, ya.  

Diiringi suara derak kayu dari tubuhnya, hantu Minako sebenarnya hanya bisa menyeret tubuh atau melayang, tapi tidak bisa menembus ruang seperti umumnya gambaran hantu lainnya yang bisa menembus dimensi berbeda.  Di sisi lain, saya merasa hantu  Minako ini semacam jelmaan siluman siput. Percikan air garam yang digunakan Baron dan teman-temannya hanya bisa melumpuhkan sesaat, karena ternyata Minako masih terlalu perkasa untuk dihentikan begitu saja.

Maka demi menjaga kewarasannya, Baron harus mencari cara paling ampuh untuk menyudahi teror Minako sebelum jam 3 pagi menjelang, sebelum kekuatan Minako semakin dahsyat. Kebayang ga, kita berada di dalam gedung sekolah yang luas, gelap dan seperti sudah lama tidak terurus  terus dikejar-kejar hantu dan saling curiga dengan teman-teman? Tidak ada satu orang pun yang bisa kita percayai sepenuhnya. Bahkan rumah ibadah (dalam film ini divisualisasikan sebagai Gereja) pun tidak menjamin kita untuk merasa aman berada di dalamnya?  Tanpa menafikan makna sakral dari tempat-tempat ibadah, saya merasa diingatkan selama ini keberadaan gereja, atau masjid lebih banyak diposisikan sebagai simbol.  Ya pantas saja kalau ternyata berada di dalamnya tidak merasa 'secure' karena kita tidak punya ikatan batin yang kuat.

Walau mengadaptasi  horor dari  urban legend Jepang,  Petak Umpet Minako menghadirkan pengalaman baru menonton film horor dengan suasana yang masih Indonesia di dalamnya. Kalau biasanya kita menyaksikan  tokoh hantu berambut acak-acakan, muka jelek  dengan mata melotot plus lingkaran hitam di mata, selama menyaksikan Petak Umpet Minako besiap-siaplah dengan suasana derak langkah boneka  kayu  berpakaian kimono yang mendekat tanpa suara dari mulut, atau lolongan zombie yang  ga kalah creepynya juga. 

Anyway, mungkin pengalaman horor akan lebih terasa kalau membaca bukunya, imajinasi liar kita kadang-kadang tidak bisa dikendalikan saat membaca buku dibanding nonton filmnya.  Saya sudah lihat filmnya tapi belum sempat baca novelnya. Lihat filmnya saja sudah cukup bikin saya menjerit tertahan  beberapa kali karena kaget. Baca bukunya? Lain kali aja, deh :)



Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

18 komentar:

  1. Kalau baca dari reviewnya kok sekilas terkesan skenarionya agak lemah ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eksekusinya perlu disempurnain ya, Vi. :)

      Hapus
  2. serem, sieun abi mah nontonnya juga . Baca ini aja udah merinding

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe kalau ada di tkpnya aku juga bakal pingsan kayaknya

      Hapus
  3. Lagi musim film horor bonekanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa gitu, Teh. Pas waktunya deketan setelah Anabelle dan The Doll 2 ya.

      Hapus
  4. huhu cuma berempat di rumah. ga berani bacaa *peace teteeh hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung komen aja ya, Shona hehehehe. Kalau malam aku juga males baca yang horor. Beraninya siang-siang.

      Hapus
  5. Haduuh atuuut! Walau ceritanya seru aku ga brani nonton. Hiks. Apalagi ada tumbal2an segala ituh....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, terus yang mau numbalin juga parno sendiri. Gemesin

      Hapus
  6. Duh paling takut kalo baca atau nonton bergenre horor. Ga kuat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi belum pernah nonton sama sekali?

      Hapus
  7. penasaran endingnya Baron pake ide apa y hentikan terornya?si Vindha selamat ga teh hahaha si biang kerokna aku ge bacana kehel ajakin main ginian 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawabanya ada di film hehehe. Aku cuma mau bilang sama Vindha, kamu siiiih :V

      Hapus
  8. Sumpah teh efiiii meni jagoan ih nonton horor wae... aku mah bisa2 ngga tidur seminggu lebih kalau nonton horor gini hahahah. Kemaren liat cuplikan petak upet minako & pengabdi setan abis itu ku jiper.. tidaaak ngga mauuu hahahhahaha untung ntnnya di kantor, siang2 banyak orang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya sedap-sedap ngeri San hahaha. Enggak semua film horor juga sih aku mau nonton. :D

      Hapus
  9. Ini menarik. Vindha emang salah sih kalau balas dendam pake cara ini. Tapi temen-temennya juga kok mau aja darahnya ditambahkan ke boneka. Tapinya juga jadi ketahuan sih mana temen yang super tega kayak Mami gitu hehehe.

    Jadi Minako mah nggak bisa nembus tembok gitu ya teh. Unik juga. Jadi penasaran ih Baron bisa menghentikan petak umpet Minako pake cara apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, jadi semuanya sama-sama ga mikir ya, hahaha... #ehgimana

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.