3 Destinasi Wisata Menarik Di Sukabumi: Pesona Ciletuh Geopark Sukabumi (Part 2)

Seperti yang sudah saya bilang di posting sebelumnya,  kali ini, saya mau memenuhi janji cerita perjalanan saya jalan-jalan di Sukabumi ke tiga tempat wisata enarik di sana. Yang pertama adalah Geyser Cisolok, yang kedua Gua Lalay dan terakhir kunjungan ke  Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa. Hanya 3 tempat wisata ini saja yang kami sambangi. Ini  dikarenakan jarak dari satu lokasi ke lokasi lainnya lumayan berjauhan plus di pagi harinya kami mengikuti dulu prosesi pembukaan Festival Adat di GOR Palabuhanratu.

Geyser Cisolok

Setelah puas menikmati magisnya pesona sunrise,  kami mampir dulu ke Geyser  yang terletak di kecamatan Cisolok. Di sini kita bisa berendam di  kolam rendam yang sudah tersedia atau berendam di kamar spa khusus yang bisa menampung sampai 4 orang. Saran saya kalau mau berendam di kamar khusus enaknya berdua saja biar ga terlalu desak-desakkan di dalam. Ditambah lagi biar nantinya ga susah mencari gantungan untuk menyimpan tas, pakaian ganti atau bawaan lainnya. Kalau ingin merasakan sensasi air panas lainnya, ada juga spot terapi air panas  yang bisa kita nikmati.   

Lokasi terapi Spa di Geyer Cisolok
Suhu air di sini berkisar di angka 40 derajat celcius. Ini adalah suhu normal setelah satu malam sebelumnya diendapkan dulu, yang mana suhu aslinya bisa mencapai 90 derajat celcius! Bisa bikin kulit melepuh jika langsung dialirkan begitu saja dari sumbernya ke kolam atau kamar rendam. 
Kolam renang di Geyser Cisolok. 
Selain di Cisolok, Geyser serupa di belahan dunia lainnya hanya ada di Brazil. Sebagai orang Indonesia terlebih lagi bagi teman-teman asli Sukabumi, aset Geyser di Cisolok ini merupakan aset kebanggaan yang perlu dijaga keberlangsungannya.  Kalau dulu waktu kuliah saya dibuat mengerutkan kening apa relevansi pembangunan lingkungan  berkelanjutan dengan ekonomi, contoh seperti  lokasi wisata Geyser ini adalah contoh mudah untuk memahaminya.


Untuk masuk ke sini, pengunjung hanya dikenai tiket Rp. 2.500 saja untuk dewasa, Rp. 1.500 untuk anak-anak dan terapi Spa Rp. 35.000 pe orang. Sedangkan untuk tarif masuk kolam rendam dikenai charge Rp. 35.000.Tapi pada praktiknya bisa dinego untuk yang ini :).  Jangan khawatir dengan kondisi air yang digunakan untuk fasilitas spa. Setiap selesai digunakan air di dalam bak rendam akan dikuras. Jadi tetap higienis, ya.
spot cantik, sayang kalau tidak sempat berfoto :)

Gua Lalay

Sebelum sampai ke lokasi ini, kami suddah diingatkan kalau aroma guano alias kotoran kelelawar akan meyergap begitu sampai di mulut gua.  Dan bener aja. Aromanya ampuuun, bau sekali. Lebih dari cukup untuk mengundang rasa mual. Tapi untunglah saya ga sampai dibikin muntah,.  Padahal hari itu saya lagi direcoki kembung entah karena masuk angin, atau sindrom pra siklus bulanan atau gabungan keduanya. Saran saya kalau mau ke sini siapkan saja  masker. Setidaknya bisa membantu menetralkan aroma, agar baunya tidak terlalu menyengat.
Gua Lalay dari depan

Di sepanjang jalan menuju gua lalay banyak pohon kelapa  yang tumbuh di sini.
Lama-lama cape juga saya menahan nafas sambil memoto beberapa titik di Gua Lalay ini.  Dengan menabahkan hati dan indera penciuman, ya sudah lah saya bernafas normal saja. Alhamdulillah, hidung saya masih normal :).
Gua Lalay dari dekat, aroma guano semakin kuat tercium di depan mulut gua

danau kecil di depan gua, airnya sedang surut
Ingin melihat rombongan kelelawar keluar dari sarangnya? Mamalia saudara jauhnya Batman ini biasanya akan ramai berhamburan pada sore hari sekitar pukul 18.30.an Pastikan saja sudah stand by sekitar pukul 17.00 di sini dan cari posisi yang aman. Sebagai informasi, satu ekor kelelawar jika membentangkan sayap, lebar tubuhnya bisa mencapai satu meter. Dari hitungan satu detik, kurang lebih ada 1.000 kelelawar yang keluar dari sini.  Selama satu setengah jam, kita akan dibuat takjub (mungkin juga bercampur ngeri) menyaksikan kurang lebih satu juta mamalia malam ini berterbangan.  Jangan sampai kena seruduk mereka, ya.  
Mulut gua lainnya di samping gua utama
Kalau tidak sempat menyaksikan rombongan mereka keluar dari sarangnya, kita bisa menyaksikan kepulangan mereka pada subuh hari sampai menjelang matahari terbit.  Selain gua utama, di Gua Lalay ini juga ada empat gua kecil lainnya.  Jika di gua utama bersarang Kelelewar, biawak dan landak, gua-gua lainnya digunakan pengunjung untuk bertirakat.  Menurut cerita dari penjaga di sana, seorang pengunjung bisa betah diam di dalam kegelapan gua sampai satu minggu.

Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa

Sesi uji nyali menahan aroma guano sudah kami lewati. Destinasi berikutnya adalah Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa atau Vihara Loji yang terletak di desa Kertajaya, kecamatan Simpenan. Vihara ini juga berhadapan dengan tepian pantai, lokasi yang cantik untuk menyaksikan matahari tenggelam di batas cakrawala.  
Vihara Loji dari Depan

Sambil menantikan detik-detik sunset, saya dan teman-teman mengeskplorasi vihara ini. Ada banyak tanjakan di mana di beberapa titik terdapat belokan menuju beberapa spot kuil/altar pemujaan (ibadah), tempat istirahat semacam guest house bagi pengunjung yang kemalaman. Saya tidak sempat menghitung ada berapa total ratus anak tangga di sini. Tapi tenang saja, tidak sebanyak anak tangga di tembok Cina sana, kok. Di beberapa titik ini juga kita bisa melepas lelah sambil berfoto-foto sebelum melanjutkan eksplorasi di sana.
Salah satu altar di Vihara Loji.

Banyak anak tngga yang kita susuri di sini

Ke kanan atau ke kiri? :)

Yuuuk nanjak terus
Di salah satu altar, saya menemukan patung bunda Maria berdiri dengan anggun. Sempat tidak yakin, saya bertanya  pada petugas di sana. Dan bener aja itu adalah patung bunda Maria. Kalau teman-teman mealnjutkan eksplorasi ke titik-titik lain juga beberapa pendopo yang ada di sini. Kalau semuanya dijelalahi, nantinya akan menemukan kejutan lainnya.  Bukan hanya lukisan Nyi Roro Kidul yang bersanding dengan lukisan Prabu Siliwangi saja, kita juga akan menemukan lukisan Raja Thailand bersisian dalam satu ruangan. 

Saya juga menemukan versi lain tentang asal usul Nyi Roro Kidul yang kataya Puteri dari Raja Thailand yang mengasingkan diri ke Nusantara. Ada juga yang bilang kalau dulunya Nyi Roro kidul itu aslinya seorang laki-laki yang cantik. Karena tidak mau ambil pusing banyak yang naksir, akhirnya pergi menjauh dan sampai ke sini juga. Ternyata banyak berbagai legendanya, ya.

Kalau lukisan-lukisan Nyi Roro Kidul, saya ga mengabadikannya. Sensasi mistisnya bikin saya melewatkan bagian ini. Tapi teman-teman sudah tau kan ya seperti apa gambarannya kecantikannya.

Menurut pengelola di sini, dulunya Vihara  Loji ini masih sangat sederhana, tidak semegah sekarang. Anothai Kamonwathin (Mama Airin) yang berasal dari Thailand (sekarang sudah menjadi TNI) adalah sosok yang menginisiasi pendirian vihara ini pada tanggal 8 Agustus 2000.  Dari mimpinya ia mendapat petunjuk untuk mendirikan vihara di dua tempat. Satu vihara di Malang saat ini sudah dikelola oleh Pemda setempat dan satu lagi ya vihara ini.'
Selain relief ini, beberapa arca yang ada di Vihara Loji mengingatkan saya pada Vihara Satya Budhi di Bandung
Setiap bulan pada tanggal 1 dan 15 kalender Cina, vihara ini ramai dikunjungi wisatawan untuk beribadah. Menariknya, dibanding tempat-tempat wisata bernuansa religi lainnnya, Vihara Loji ini tidak mengenal jam buka dan jam tutup. Kita bisa datang berkunjung kapan pun kita mau.



Sabar menunggu sunset di Pantai Loji
Menjelang Maghrib setelah matahari berpamitan di ufuk barat, kami segera bersiap menuju Kampung Adat Sirna Resmi untuk bermalam dan beramah tamah dengan Abah Asep, sesepuh adat di Padepokan Sinar Resmi, juga dengan penduduk lainnya. Ceritanya menyusul di postingan berikut, ya. Ga kalah seru, loh :)

Ombaknya  sore itu tidak terlalu besar, tetap eksotik untuk dinikmati

Sunset yang cantik




Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

6 komentar:

  1. cakeeeep...ini kampungku teh, mama asalnya Cikaret, Goalpara, SUkabumi :)...jadi kangeeen euy

    BalasHapus
  2. wahhh asik banget berendam air anget nya itu pasti.

    BalasHapus
  3. goanya bisa dimasukin gak tuh

    BalasHapus
  4. Asik ternyata banyak destinasi menarik di Sukabumi :)

    BalasHapus
  5. wahhh destinasinya ok. itu guanya Boleh dimasukin gak ya. apacuma numpang lewat diluarnya saja

    BalasHapus
  6. Wah keren destinasi wisatanya . huntung suset boleh tu

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.