Review Film Mars Met Venus (Part Cowok)

Hanya berselisih sekitar dua minggu saja buat saya menunggu film Mars Met Venus (part cowok) untuk tayang di bioskop setelah sebelumnya menonton dulu part cewek dengan judul yang sama. Sempat terpikir juga, kenapa mesti ada dua part, ya? Pertanyaan itu baru terjawab setelah nonton keduanya. Asiknya saya berkesempatan nonton bareng bersama tim dan castnya pada hari Selasa, 1 Agustus 2017. Terimakasih banyak buat MNC Pictures dan FFB untuk undangan nonton barengnya.

suasana meet and greet di dalam studio 1 Empire BIP  
yang ga sabar nonton filmnya *foto pribadi*
Film yang dibintangi oleh Ge Pamungkas (Kelvin) dan Pamela Bowie (Mila) ini tidak seperti film lainnya yang sekuel-sekuelan gitu. Aman saja kalau misalnya enggak sempat nonton yang versi part cewek tapi langsung loncat ke part cowoknya. Tapi saran saya, mendingan nonton kedua-duanya, agar kita bisa adil memahami sudut pandang dari dua sisi berbeda, cewek vs cowok. Untuk film part ceweknya, saya enggak sempat nulis reviewnya di blog, nih. Tapi ada ulasan singkatnya di akun instagram ini.

Mumpung hari ini ke luar ya udah sekalian mampir aja ke BIP buat nonton.  Film Mars Met Venus part cewek ini jadi pilihan saya.  Mayoritas penontonnya kisaran anak sma atau kuliahan. Klop sama tipikal karakter di film ini. Tentang hubungan cewek - cowok yang ribet.  Saya terhibur dan ga bisa menahan tawa setiap Kelvin (Ge Pamungkas) baper dan ga bisa membantah menghadapi tingkah calon istrinya,  Mila (Pamela Bowie)  yang dominan. Pokoknya dia selalu bener dan Kelvin selalu salah. Tapi kadang Mila suka iseng menggombali Kelvin saban dia sudah terpojok. Siapa bilang pacaran 5 tahun menjamin bisa mengenal calon suami atau istri? Ga, tuuuh.  Ide Kelvin membuat vlog malah memicu masalah.  Setiap sesi vlog dimulai dengan gombal-gombalan alay,  lalu beda pendapat dan berujung ngambeknya Mila. Selalu gitu. Udah sarjana tapi kelakuannya masih kayak abg. Ternyata umur ga jaminan  buat ukuran dewasa. Padahal mereka ini mau nikah. Karena cewek ga pernah salah, Kelvin dibikin blingsatan merayu Mila baikan lagi. Begitu terus sampai akhirnya Mila berasa ga berarti dan menjauh dari Kelvin.  Sahabatnya Mila, Icha (Ria Ricis)  dan Malia (Rani Ramadhany) yang bagaikan sisi malaikat dan setan saban Mila curhat jadi ikutan riweuh dibuatnya. Adegan paling kocak buat saya itu waktu Kelvin keki sama tukang sate yang ganggu momennya mau nembak Mila. Ekspresi ngenesnya Ge pas banget. Saya yang datang nonton sendiri bisa lepas ketawa hahaha.. *puk puk puk.  Sodorin Ge Sate sama Gudeg Herlino #eeh* Di sisi lain saya ikut merasakan ilfilnya Mila lihat tingkah teman-temannya Kelvin. Yang ganknya Mila pecicilan dan lebay. Ganknya Kelvin?  Ga ada jaim, urat malu yang kayak mau putus dan jitakable.  Mars Met Venus part cowoknya baru tayang Agustus nanti.  Sambil nunggu terusannya, liat aja versi ceweknya dulu. Biar adil menilai dari dua sisi.  Karena dunia cewek dan cowok emang beda,  kan?  #kamiskebioskop #yukkebioskop #banggafilmindonesia #30thFFB #marsmetvenus #ceritaefi
A post shared by Efi Fitriyyah (@efi_thea) on

Untuk part cowok, selama 94 menit film ini berjalan  ada beberapa adegan yang sama dengan part sebelumnya. Misalnya saja ketika adegan di restoran, direcokin tukang sate padang, atau gombal-gombalan keduanya ketika ternyata memberikan jawaban yang sama saat Lukman (Lukman Sardi) menyampaikan pertanyaan. Hanya saja  kali ini  alur cerita lebih menekankan pada sudut pandang cowok, sekaligus mengajak penonton untuk berempati pada Kelvin. Dan yes, film kedua ini berhasil meyakinkan saya untuk merapat sebagai tim Mars, alias pendukung Kelvin.  Maaf ya, Mila ^_^.
fotonya dari https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/review-film-mars-met-venus-part-cewe/
Bukan hanya akting Ge Pamungkas yang lebih total yang membuat part cowok ini terasa lebih menarik, tapi juga alur cerita dan rasa yang dibangun lebih kuat.  Sebelumnya saya membayangkan kalau persahabatan Kelvin dengan teman-temannya adalah persahabatan cowok yang 'sableng', gila dan menjijikan. Kalau sudah menonton part ceweknya, pasti masih ingat adegan gila-gilaan Kelvin dengan teman-temannya di kost-an yang membuat Mila ilfil.  

Tapi ternyata saya salah. Jika Icha (Ria Ricis) dan Malia (Ria Ramadhani)  membuat Mila pusing dan semakin galau, Kelvin malah beruntung. Ia mempunyai banyak masukan dari berbagai sudut pandang teman-temannya bagaimana menghadapi Mila.  Kelvin didorong memikirkan lagi hubungannya dengan Mila dengan berbagai rasa; pait, manis, pedas sampai asin pun. Keempat sahabatnya bisa dibilang spesies 'manusia hancur dan suka meracuni'. Walaupun ada Ibob yang rada ngondek, Steve yang sama-sama 'pusing' dengan pacarnya atau Martin yang urat malunya nyaris putus, Kelvin masih punya Reza (Reza Nangin) yang bijak menengahi opini dari teman-temannya.  Itu yang tidak dimiliki Mila. Seorang sahabat yang  masih punya logika yang jernih dan menyampingkan perasaan. Beruntunglah kalau punya 'sahabatnya pacar' seperti Reza ini. 

Makanya, ketika Mila memilih menjauh dan masih saja direcoki tingkah sahabat-sahabatnya yang pecicilan, Kelvin masih punya keluarga terdekat  yang mengembalikan lagi semangatnya untuk bertahan.  Ini salah satu sisi lain dari sisi tim Mars  yang jujur dan ga muluk-muluk.

sumber foto: https://i.ytimg.com/vi/0NAohDBqMtM/maxresdefault.jpg
Beda dengan tim Venus yang bisa dibilang idealis sekaligus drama queen. Perempuan emang ribet, maunya dipahami tapi susah untuk memahami. Egois memang hahaha *nunjuk bayangan di kaca*.  Faktor perasaan perempuan memang masih dominan daripada logikanya, Walau sebenarnya ga sedikit juga mahluk Tuhan yang indah berjenis perempuan masih punya alur logika yang runut seperti laki-laki. No hard feeling ya, gals. 

Saya jadi mikir, ternyata begitu ya kalau cowok lagi patah hati? Mungkin ga jauh beda dengan pengalaman Kelvin yang bengong ga jelas dan hampir kehilangan semangat hidupnya. Bahkan untuk mandi pun harus diseret keempat teman-temannya.

Salah besar juga kalau yang namanya cowok itu dan ga pedulian, lempeng alias ga punya perasaan, atau  kurang peka, Bagian paling favorit adalah ketika Kelvin bercerita  bagaimana ia tidak bisa menggambar wajah Mila ketika sedang menangis adalah salah satu adegan yang mematahkan opini itu. Penonton juga akan diajak terhanyut merasakan patah hatinya Kelvin yang kelimpungan  saat harus berjarak dengan Mila. Mungkin karena itu juga OST Dulu Kini Nanti yang dinyanyikan Adis Putra terasa lebih menyentuh. 

Surprisingly, kali ini Mars Met Venus juga cukup manis mengangkat isu budaya matriarki yang masih dianut masyarakat Padang secara proporsional. Unsur dramanya lebih terasa selain  dialog-dialog  lucu soal selera makanan antara Mie, nasi, sate dan gudeg.  

Lewat besutannya, sutradara Hadrah Daeng Ratu  dan penulis naskah Nataya Bagya melemparkan filosofi yang menarik dari tukang Mie ayam yang melayani Kelvin dan Mila. Hubungan antara laki-laki dan perempuan akan jadi sebuah harmoni jika diolah dengan cara yang pas. Bukan seperti selama ini yang mengumpamakannya dengan  air dan minyak,  yang selama ini identik dengan unsur kimia yang susah menyatu. Di tangan yang handal meracik,  ternyata bisa jadi kolaborasi rasa yang pas dan enak, bikin ketagihan. Intinya? Kalau ada masalah itu mbok ya, ngobrol dan mau mendengarkan. Jangan ngambek terus ngeloyor begitu saja seperti yang dilakukan Mila. 

Walaupun terasa nyentil, saya tidak ragu ikut  menertawai gambaran betapa ribetnya mahluk Tuhan bernama perempuan. Seperti analogi perempuan agresif vs ga enakan, plinplannya saat memilih makanan yang berputar-putar dan baperan dengan opini yang jujur tapi juga ngambek ketika tahu dibohongi. Gara-gara film ini saya jadi kepikiran buat baca buku Men Are from Mars, Women Are from Venus. Buku ini sudah rilis lama, tahun 1992an, jaman saya masih duduk di bangku SMP kelass 2. Waktu itu buku ini juga cukup lama nangkring di rak best seller. Walau begitu saya belum tertarik buat membacanya,baru sekarang kepikiran. Duh, ke mana aja? :D


Film Mars Met Venus (baik part cewek atau pun part cowok) lewat jalinan cerita drama komedinya secara tidak langsung juga menyentil penonton (khususnya perempuan) kalau yang namanya relationship itu ga selalu muluk seperti sinetron atau cerita-cerita novel. Ah ayolah, hidup itu dinamis. Kalau datar-datar saja malah membosankan. Ga mesti juga perempuan selalu bener dan laki-laki harus ngalah. 

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

7 komentar:

  1. Wah baru tahu ternyata 2 part teh, tahun 2011 pernah baca cuman kok lupa banget y aku isinya hahaha eh ternyata ada filmnya kek gini jadi manggut2 dan sama kesentil juga :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi long time sih ya. Enam tahun lalu. Mari nyengir bersama karena udah disentil.

      Hapus
  2. wah baru tahu kalau ada part cowok dan cewek sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jadi ada sudut pandang buat penonton.

      Hapus
  3. lucu dan ngerasa aku banget

    BalasHapus
  4. ooh baru ngeh ada 2 film ya, sering bgt liat iklannya di tipi, akting Ge memang luwes banget di situ ya

    BalasHapus
  5. gak nyesel nonton fil ini. Bkin ketawa2 sampai pipi ku pegel

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.