Menyiapkan Kecerdasan Multitalenta Anak Sejak Dini

Dulu nih, terminologi kata cerdas selalu identik dengan kecerdasan akademik, IQ yang tinggi. yang matematikanya jago, yang nilai eksatanya  di atas rata-rata, yang raportnya selalu masuk ranking dan definisi lainnya yang bisa bikin anak atau orangtua yang anaknya ga masuk itungan seperti itu jadi mencelos. Minder, berasa inferior atau mungkin kesal karena dipandang sebelah mata. 

Lalu saya inget lagi cerita seorang teman yang nilai IPK cumlaude, hampir 4! Tapi setelah memasuki dunia kerja, susahnya minta ampun, kalah beruntung dibanding teman-teman lain yang IPKnya pas-pasan tapi bisa mendapatkan pekerjaan dengan masa depan yang lumayan. Setidaknya tidak sesusah teman yang secara akademis itu mempunyai prestasi mengagumkan. 

Saat itu saya jadi mikir, hanya bermodal bekal nilai akademis yang mumpuni ga cukup untuk meretas masa depan. Harus punya skill lain,bukan soal keberuntungan. Ada potensi kecerdasan lain yang diabaikan.

Beruntung deh anak-anak jaman dulu yang punya orangtua visioner, membekali anak-anaknya dengan skill lain di luar nilai-nilai akademik. Pun begitu juga dengan anak-anak sekarang, di mana akses informasi parenting yang lebih fleksibel mengikuti perkembangan zaman semakin mudah didapatkan. Jadi inget deh sama salah satu hadist Nabi saw yang bunyinya begini:
"Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian"
Sabtu kemarin,tepatnya tanggal 5 Agustus 2017 bersama teman-teman blogger saya mengikuti acara Konferensi Ayah Bunda Platinum: Siapkan Kecerdasan  Multitalenta si Kecil Sejak Dini yang diselenggarakan oleh Morinaga di Haris Hotel, jalan Lingkar Selatan Bandung. 

Dipandu oleh Teuku Zacky, acara yang diikuti oleh sekitar 1.000an orang ayah dan bunda menghadirkan narsum dr Ahmad Suryawan SPAk seorang dokter anak yang fokus pada tumbuh kembang anak, Dr dr Eddy dan Dr Rose Mini, M.Psi, yang lebih familiar dengan panggilan Bunda Romi. Yang pernah nyimak acara kontes pencarian penyanyi berbakat pasti familiar dengan beliau.

Nah, berikut ini adalah rangkuman paparan yang saya dapatkan dari acara itu.

Tentang Tumbuh Kembang Anak

dr Ahmad Suryawan SPAk yang akrab disapa dr Wawan ini menekankan tentang pentingnya pemberian ASI. Sebelum mencapai usia 6 bulan,pemenuhan gizi bagi bayi sudah cukup hanya dengan saja. (fyi, anak-anak yang mendapat ASI minimal sampai usia 6 bulan memiliki daya tahan tubuh lebih baik dari serangan penyakit kanker).


Barulah berikan MPASI alias makanan pendamping ASI setelah maksimal setelah anak berusia 6 bulan. Untuk pemberian MPASI ini sendiri adalah masa penting bagi anak. Jangan sampai karena 'itungan' masa depan mereka jadi taruhannya. Mengapa? Karena ternyata stimulasi tumbuh dan kembang anak (kedua hal ini tidak bisa dipisahkan) perlu mendapat dukungaan yang prima dari asupan gizi yang cukup. Mahal sih, ya? Tapi kan ini investasi. Ya masa sih sama masa depan anak sendiri itungan?

Selain bertambah tinggi atau berat badannya saja. Perkembangan lain seperti respon panca indera dan otak juga menjadi hal lain yang perlu diperhatikan. Bahkan hanya untuk merespon senyuman, ternyata seorang bayi memerlukan waktu 3 bulan untuk merespon dan menduplikasikan kontak fisik yang diterimanya.

Jika semasa hamil seorang ibu harus menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan, menghindari hal-hal yang bisa memicu stress, dan menjalani vaksin, maka ketika anaknya sudah lahir, pemberian imunisasi jangan sampai dilewatkan. Saya jadi inget lagi hadist Nabi saw lainnya:
"Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah"
Hmmm... dengan semakin ganasnya virus penyakit saat ini, antisipasi dengan memberikan imunisasi bagi anak menurut saya adalah salah satu upaya orangtua untuk menyiapkan masa depan anak-anaknya. Sama halnya dengan tantangan zaman, begitu juga dengan virus penyakit yang semakin ganas dibanding dulu. Setuju, kan?

Soal imunisasi itu juga saya baru tau loh mengapa pemberian imunisasi tertentu diberikan sesuai umurnya. Misalnya saja imunisasi cacar diberikan ketika anak sudah mencapai usia 9 bulan? Hal ini dikarenakan cadangan daya tahan anak terhadap virus cacar pada usia itu sudah menurun.

Anak, Gadget dan Kreatifitas Orangtua

Dr dr Eddy Fadlyana, SpA yang sehari-harinya berpraktik di rumah sakit Hermina Pasteur pada kali itu juga menyampaikan paparannya bagaimana mengatur interaksi anak dengan gadget. Fenomena yang umum kita jumpai. Adalah sebuah kalau anak-anak sekarang punya kemampuan lebih cepat paham dan ngulik hal-hal yang baru ditemuinya. Makanya itu tadi, jangan sembarangan memberi contoh pada anak dalam bentuk ucapan, gesture atau sikap. Memori terdalam mereka bisa merekamnya dengan kuat. Kalau nanti salah duplikasi gimana coba?

Balik lagi soal gadget, Dr dr Eddy menyarankan agar anak-anak yang belum mencapai usia 2 tahun jangan diperkenalkan dulu dengan gadget.Jadi seperti ini simpulannya soal anak dan gadget yang saya dapatkan hari itu:
  • Jika anak-anak sudah berusia 2 tahun, boleh deh dikaih gadget. Itu pun batasi dengn durasi 1 jam saja, sudah termasuk interaksi mereka dengan tv, loh. Hmmm... Catet!
  • Mau regulasinya efektif? Berikan contoh juga pada anak di mana orangtua juga mengurangi penggunaan gagdet. Inget, kan, ya. Anak-anakitu pengamat dan peniru yang baik.  
  • Bukan orangtua saja yang harus membatasi gadget, anggota keluarga lainnya juga harus mengikuti aturan yang sama, terutama jika sedang menerapkan diet gadget
  • Interaksi dunia nyata lebih baik daripada membiarkan anak-anak terus 'ngoprek' gadget. Berikan contoh nyata wujud gajah di dunia nyata dengan mengajak mereka melihat ke kebun binatang, misalnya. Nantinya anak-anak bisa melihat sendiri ukuran gajah sebenarnya dibanding gambar atau video yang mereka lihat. Bandingkan dengan semut yang ukurannya sangat kecil. Dalam dimensi gadget, ukuran gajah dan semut jauh beda, kan?
Dalam salah satu sesi tanya jawab, saya juga dibuat penasaran gimana caranya menyiasati anak yang picky eater alias susah makan. Selain membentuk sajian makanan jadi lebih menarik (semisal bekal sekolah dengan sajian ala-ala Bento), memilihkan peralatan makanan juga bisa membantu anak lebih bersemangat untuk makan. Semisal si anak menyukai karakter Spiderman, bisa teh dibelikn khusus piring dan cangkir yang becorak tokoh Spiderman. Kalau punya minat atau ngefans karakter lain ya tinggal menyesuaikan.

Kecerdasan Interpersonal

Nah ini dia yang tadi saya sempat bahas di awal tulisan. Selain berbagai kecerdasan yang dimiliki anak yang non akademik (misal kecerdasan linguistik, kecerdasan spasial, kecerdasan visual, kecerdasan auditotial, kecerdasan musikal dan kecerdasan lainnya) jadi modal penting juga untuk memiliki kecerdasan interpersonal.

Kontak fisik dan keterikatan emosi yang baik dengan lingkungan sekitar ini sebenarnya bisa dipupuk sejak bayi, bahkansejak dalam kandungan. Jika semasa hamil mengajak janin untuk ngobrol, maka kontak mata antara ibu dan anak saat memberikan ASI pun jadi investasi yang penting.

Bersyukurlah para ibu yang bisa memberikan ASI untuk anak-anaknya karena momen penting ini juga jadi modal yang berharga untuk masa depan buah hati tersayang.

Dalam sesi terakhir yang tidak kalah menariknya, Bunda Romi tetap sukses membuat pengunjung tetap di tempat dan menyimak acara sampai selesai. Benang merahnya tetap saja masa depan anak dan kesukesannya beinteraksi dengan orang lain diawali dengan interaksi dengan lingkungan rumahnya. Ungkapan kekesalan orangtua berupa jeritan, pekikan kaget bahkan mimik wajah juga memengaruhi tumbuh kembang mereka secara emosional. Lima detik pertama ucapan orang tua akan terekam kuat dalam ingatan mereka.

Menjadi orangtua di zaman milenial seperti sekarang ini banyak sekali tantangannya. Kreatifitas dan kepekaan orangtua terhadap situasi yang berkembang jadi modal penting untuk menyiapkan anak-anaknya siap menghadapi dunianya saat dewasa nanti. Jadi bener ya, kalau sekolah kehidupan itu ga ada beresnya, selama masih ada tarikan nafas dalam setiap langkah kita.

Secara formal mungkin sudah cukup bagi kita menuntut ilmu mempelajari ini dan itu, tapi jangaan lupakan juga sebagai orangtua pun ada sekolahnya. Buat calon emak seperti saya, ilmu yang saya dapatkan pekan kemarin sungguh bermanfaat tapi rasanya masih haus untuk mendapatkannya lagi dan lagi. Karena itu tadi, dunia yang akan dihadapi anak-anak di masa depan nanti beda banget dengan dunia yang saya hadapi sekarang.




Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

4 komentar:

  1. PR orang tua zaman milenial kini semakin banyak, huhuh. Semangaaaat

    BalasHapus
  2. keren banget ya teh acaranya, bikin saya melek karena dibekelin ilmu baru, selama ini cuka browsing2 dan copy paste ilmu dari ortu soalnya hehehee :)

    BalasHapus
  3. Belajar menjadi orang tua bisa juga melalui seminar seperti ini ya Teh.

    BalasHapus
  4. saya setuju kalau di dunia kerja tidak bisa hanya bermodalkan dengan IPK yang tinggi, tapi juga harus memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.