Bandung Planning Gallery: Menuju Kota Teknopolis

"Cintai Bandung dengan aksi dan solusi, bukan caci maki" 
Buat orang Bandung, quote ini  sudah familiar. Iyes, ini quote yang sering dibilang oleh Kang Emil, walikotanya Bandung. Dengan segala keruwetan dan kemacetannya, saya ga bisa move on dari Bandung. Cinta mati, deh. Lebay? Eh tapi yang sudah lama meninggalkan Bandung atau baru mengunjungi lagi Bandung banyak loh yang bilang kalau Bandung banyak berubah. Berubah dalam arti positif tentunya. Jadi bukan saya aja sih yang kadung cinta sama Bandung ini.  

Walau makin panas dan macetnya susah diurai, Bandung bukan dicintai sama penduduknya aja, tapi juga selalu dikangeni turis-turis lokal dan interlokal ah asing maksudnya. Kulineran, wisata belanja dan wisata  alam termasuk taman-tamannya jadi alasan yang membuat Bandung kangenable alias ngangenin.


credit photo: Ali Mukahir

Setelah Taman Jomblo yang fenomenal dan taman-taman lainnya yang menyusul bermunculan di Bandung, akhir bulan Juli lalu bertambah lagi venue, Bandung Planning Gallery.  Apaan sih Bandung Planning Gallery itu? 

Masih dengan ciri khasnya Kang Emil yang mengajak urang Bandung keluar dari zona nyaman, bermain dan bersosialisasi untuk mengunjungi Bandung Planningg Gallery yang diresmikan pada 1 Agustus 2017 ini. Walau venue ini berkonsep indoor, tetap menarik dan seru untuk mengenal Bandung lebih dekat, bukan hanya Bandung sekarang, tapi juga menengok Bandung tempo dulu dan bermimpi bersama-sama mewujudkan masa depan Bandung dengan konsep yang bernuansa futuristik. Sejam main-main di sana? Rasanya enggak cukup.

Jadi begini loh. Bandung Planning Gallery (biar ga ribet, selanjutnya saya singkat jadi BPG aja, ya) ini menempati lahan bekas gedung DPRD Kota Bandung, di jalan Aceh. Kalau suka maen ke BIP, tinggal jalan dikit ke perempatan Yogya Express terus nembus deh via Taman Sejarah atau bisa juga dari Taman Badak melewati taman-taman yang desainnya macam labirin. Cuma ada dua belokan (kanan dan kiri hahaha...) nanti nemu, deh.  

Peresmian BPG yang konsepnya sejak tahun 2015 itu juga dihadiri oleh walikota Pare-pare dan Bupati Sorong yang terpilih serta Paul Smith, perwakilan dari British Council. Waktu nyimak speechnya Mr Paul, saya jadi ngebayangin ke depannya Bandung bakal punya konsep tata kota yang keren ala Eropa sana. Punya jalur kendaraan dan sistem tranportasi yang rapi, bisa bersepeda dengan nyaman, kanal-kanal atau sungai kecil yang jernih mengalir di tengah kota dan suasana klasik khas kampung halamannya Om Paul ini. Duh moga kesampaian ya, Bandung jadi kota yang liveable dan loveable *uhuk*.

Bukan enggak mungkin karena di hari yang sama itu juga dilakukan penandatanganan letter of intent antara BCCF(Bandung Creatiative City Forum) dengan Scotland Creative.  Kreatitas emang ga kenal ruang dan waktu, ya. Berjejaring dengan bule-bule sana kalau bisa dapat transferan sistem tata kota yang apik dan ciamik, kenapa enggak?

Balik lagi ke BPG, setiap warga yang berkunjung ke sini bukan saja bisa melihat sendiri konsep Bandung yang sudah, sedang dan akan dibangun, tapi juga bisa menyampaikan saran dan kritik terhadap proyek pembangunan yang maket atau miniaturnya ditampilkan. Karena memang BPG ini menganut prinsip transparansi.  Di BPG ada satu suut yaitu kubah inspirasi  yang disediakan lengkap dengan stick note dan bolpen untuk menyampaikan uneg-unegnya di sana. Sekali lagi saya ingetin, plis jangan curhatin yang geje kayak gebetan atau mantan :D

Untuk masuk ke BPG ini gratis, kok. Enggak dikenai charge, baik sendiri atau rombongan. jangan lupa untuk mengisi buku tamunya, ya. Setelah itu kita akan menapat kartu ini dan harus dikembalikan setelah selesai berkeliling.




Jam operasional BPG sendiri dimulai pada jam 09.00 dan tutup pada jam 16.00, hanya buka pada hari senin-sabtu. Dengan menyasar target pengunjung utama anak-anak usia SD - SMP, BPG bukansaja diharapkan bisa memberi informasi seperti wajah Bandung tapi juga memancing kreatifitas pelajar setelah berkunjung ke sini.

Biar semakin asik berkunjung dan bisa lebih fokus mengikuti penjelasan dari pemandu, pengunjung yang datang disarankan untuk mengunduh aplikasi Bandung Planning Gallery. Sembari melihat tampilan visual di dalam galeri, dari aplikasinya juga bisa medengarkan penjelasannya. Jangan khawatir kalau sinyal operatotr di hpya mendadak lemah, karena disediakan akes wifi yang kencang. Atau nih kalau ternyata batre hpnya lemah dan ga bawa powerbank, tersedia  juga android untuk dipinjamkan.




Enaknya sih bareng rombongan karena nantinya akan disediakan tour guide yang menjelaskan display atau panel-panel yang ada di sini.  Kalau keukueh mau jalan sendiri ya gapapa juga. Cuma kalau belah-beloh ngoprekin screen di sana  dan nga ngerti apa maksudnya, tanggung sendiri risikonya, ya.

Di dalam BPG ini terdapat 38 layar monitor, di mana 14 layar di antaranya  merupakan layar sentuh. Kalau etiap icon di layar kita tap satu persatu, bakal keluar tuh semua informasi di dalamnya. Semisal apa sih itu Bandung Great Street, Hutan Raya Kota,  Ruang Hijau dan Biru, Konsep Teknopolis,  8 Ide Besar dan konsep-konsep lainnya yang terpampang.






Nah kalau pengunjung ini sedang mencoba simulasi Light Rapid Transportation yang akan dibangun. Bukan sok-sokan bergaya kalau posenya seperti ini karena memang efeknya terasa banget, bahkan semisal terjadi guncangan, lewat kacamata yang dipakai secara reflek kita akan bereaksi seperti itu.  Eh ya jangan  kaget kalau nanti merasa pusing karena berdasarkan pengalaman, 3 dari 10 orang akan merasakan sensasi pusing sesudahnya. Selain ini, masih ada simulasi virtual lainnya yang bisa kita eksplor selama mengunjungi BPG. Makanya saya bilang tadi, sejam mana cukup deh maen-maen di sini.    

Dan ini adalah salah satu display yang saya sukai selama menjelajah BPG. Trully inspiring. Ya ga, sih?

Huaaa, belum puas saya maen ke BPG. Kapan-kapan pengen balik lagi ke sini. Yuuuk ke sini, yuuuk...



Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

26 komentar:

  1. Setuju dengan judulnya karena caci maki tidak menyelesaikan masalah yang Teh Efi :)

    BalasHapus
  2. Wah minggu tutup ya Teh heehe tfs ya saya belum sempat jalan-jalan lagi nih

    BalasHapus
  3. Wow! Keren banget. Next time, semoga bisa ke sana

    BalasHapus
  4. Jadi penasaran pengen ke sana, kapan - kapan main ah kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk ke sana rame-rame emak-emak Bandung bawa anak.

      Hapus
  5. Waaawww keingetan jadinya klo ulu mau ke sana! Jadwalin ah minggu depan ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sok Lu, maen ke sana. Sekalian nanti aku tunggu cerita Ulu abis dari sana. :)

      Hapus
  6. Sugan teh Paul Walker, wkwkwk.. *galpok

    Setuju bingits buat sistem transportasi idaman yg nyaman aman. Hayuk menuju Bandung makin geulis!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk... Paul yang ini udah tuir, Teh. Beda pula orangnya. Keren deh kayaknya ya kalau Bandung nanti punya stasiun bawah tanah gitu.

      Hapus
  7. Balasan
    1. Dan makin ga mau ninggalin Bandung :)

      Hapus
  8. Btw dianggap rombongan itu kalo berapa orang ya? Ada nggak sih kebijakan kalo misalnya ada 20 orang per orangan yang nggak saling kenal tapi kebetulan datengnya bareng, mereka dijadikan aja satu rombongan gitu? *balada orang yang lebih suka pergi sendirian*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepuluh orang kalau ga salah mah, Teh. Nah bisa kali ya kita ngakalin sama yang ga kenal itu di luar buat bikin grup. Aku ga sempet nanya soal bikin grup kolektif dadakan gini. Aku pun suka pergi-pergian sendiri nih, Teh. Pengen maen ke sana lagi, sih.

      Hapus
  9. Sebagai (mantan) planner, pgn banget main ke sini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo Li, kalau udah ga riweuh di rumah maen ke sini.

      Hapus
  10. Wah nambah lagi nih daya tarik bandung. Yuk ah ke sana lagih

    BalasHapus
  11. Kang emil emang keren yah.sosok pemimpin yg visioner. Mdh2an bandung terus berkembanh dan tambah maju lagi. Oya si kacamata virtual itu emang bikin pusing yah..kirain aku aja haha. Fav aku tayangan ttg si gemblong hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iy walikota kesayangan (halah). Aku belum coba kacamata virtual dan fasilitas reality lainnya di BPG. Makanya pengen ke sini lagi, nyobain semuanya, sepuasnya :)

      Hapus
  12. waahhhh keren, aku belum pernah kesana. Harus ngelihat tempat ini biar tahu perkembangan Kota berarti yaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Yu.Wajib ke sini buat urang Bandung mah :)

      Hapus
  13. Aku udah sering lewat BPG ini tapi belum mampir aja soalnya belum tau isinya apaan. Hehehe, makasih teh Efi infonya, jadi tau deh ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi sama-sama Niq. Ayo nanti luangkan maen ke BPG, ya.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.