Review Film Filosofi Kopi 2: Kopi dan Orang Ketiga

Sejak trailer Film Filosofi Kopi mulai wara-wiri di  youtube dan bioskop, saya langsung menandai. Harus nonton film ini. Eksplorasi yang dalam tentang filosofi dibalik sajian secangkir kopi bikin saya penasaran. Jarang loh ada film yang punya gagasan di luar pakem yang ga jauh-jauh dari cerita cinta melulu. Walaupun bukan seorang pecandu kopi, apa yang disajikan di sequel sebelumnya membuat saya kepincut. Ada filsafat menarik tentang kopi, mengangkat tema kuliner sabagai nyawanya film. Makanya saya  sempat berharap Filosofi Kopi 2 yang tayang sekarang bisa membuat saya makin ngefans. Ya filmnya, ya aktingnya Chico juga :). 

Saran saya nih, kalau belum nonton Filosofi Kopi  (selanjutnya kita sebut Filkop aja, ya) sebelumnya, coba deh cari di aplikasi film Hooq. Ada kok. Kenapa saya sarankan untuk nonton dulu? Karena dalam beberapa adegan, kita akan lebih mudah memahami konflik yang muncul kenapa begini kenapa begitu kalau sudah nonton Filkop 1.  

Ceritanya setelah keliling Indonesia, Ben (masih dimainkan oleh Chico Jericho) dan Jody (Rio Dewanto) memutuskan kalau Filosofi Kopi, brand kopinya mereka kembali dalam format semula. Menetap di sebuah kafe, bukan nomaden dengan jalan-jalan pake VW Combinya itu. Sempat 'ditodong' oleh 3 kru pendukung Filkop yang menyatakan untuk mundur yaitu Nana, Aldi dan Aga (belakangan Aga ternyata batal mundur), Ben dan Jody tetap geming dengan keputusannya. Filkop konsep baru tetap jalan. 

Masalah investor sebagai syarat agar Filkop tetap eksis tidak menemukan masalah serius seperti sebelumnya. Walau sering ribut dengan prinsip masing-masing, Ben dan Jody akhirnya sepakat untuk menerima kehadiran Tara (Luna Maya) sebagai investor utama. 

Kalau Jody akhirnya bisa luluh dengan  komposisi kepemilikian saham (ini juga ga lepas dari kepintaran Ben meyakinkan Jody), lain halnya dengan Ben. Pergantian barista yang bahkan ketika Filkop masih mengusung konsep nomaden jadi hal yang ribet. Ben si Mr Perfecto punya idealisme sendiri untuk mendapatkan asisten baru yang satu frekuensi dengan dirinya. Sampai kemudian hadirlah Sabriana alias Bri (Nadine Alexandra). Walau tidak pernah ngeklop, Bri adalah tipikal rebelious,  pembangkang alias ngeyel. Tidak peduli dengan kesinisan Ben,  Bri  cuek ga pundungan oeh bully-an Ben. Saran saya kalau parno dengan 'bullying' di tempat kerja,  bisa nih nyontek masa bodohnya  Bri.  

Filkop kembali eksis  dengan hadirnya Tara sebagai investor? Harusnya iya. Tapi di sini lah mulai muncul percikan  konflik. Saat Ben harus pulang ke Lampung, ia menemukan fakta kalau Tara  terkait dengan trauma Ben di masa lalu yang melibatkan  ayahnya. Tiba-tiba mengusik Ben dan kecintaannya pada kopi. Persahabatannya dengan Jody pun di ambang keretakan. Uang bisa jadi solusi tapi gara-gara uang juga bisa jadi pemicu friksi.

Filkop jadi terombang ambing. Hidup segan, mati tak mau. Mau jalan ogah tapi sayang juga kalau harus ditutup. Padahal Filkop baru saja melebarkan sayapnya dengan membuka cabang di Yogya dan menjajaki Makasar sebagai cabang berikutnya. Siapa yang bisa menjamin persahabatan bisa stabil kalau tidak bisa menyisihkan ego?  Apalagi kalau udah beruruan sama uang.  Filkop ini contohnya.

Ketika Ben memutuskan untuk melepaskan diri dari Filkop dengan mencari investor lain, jalannya tidak mulus seperti halnya saat  menemukan Tara.  Kalau sebelumnya Jody yang selalu meributkan 'cuan' alias keuntungan, kini gilira Ben yang harus memutar otak mencari uang yang banyak agar bisa lepas dari sakit hatinya pada Tara.

Di Filkop 2 ini, alur konflik lebih fokus menyentuh sisi personil setiap karakter. Tanpa mengabaikan kopi sebagai gagasan utama film,  drama cinta yang melibatkan Ben dan Jody jadi isu untuk mengalihkan krisis yang terjadi. Ben tiba-tiba lumer dan merasa nyaman dengan Tara, dan Jody jadi dekat dengan Tara.

Persamaan  kedekatan di antara mereka di mata saya? Tidak ada pernyataan secara verbal, "Oke, kita jadian."  Ah, mungkin karena saya perempuan. Jadi gemas melihatnya. Kok ga ada penanda yang jelas? Itu jadian beneran dari hati atau emosi sesaat sebagai pelarian masalah? Lebih cocok sebagai hubungan tanpa status buat saya. Ah untunglah ini film, bukan versi sinetron yang susah selesainya :).

Di mata saya, Filkop 2  harusnya jadi greget dan meninggalkan 'rasa baru' buat para penikmat filmnya. Saya tidak menemukan sesuatu yang  membuat saya terbayang terus setelah menontonnya, selain quote "Setiap hal yang punya rasa pasti punya nyawa". Padahal saya berharap Chico bisa menghadirkan sisi unik lainnya dari karakter Ben.

Walau suka dengan sikap pembangkangnya Bri, saya merasa chemistry Bri dengan Ben masih nanggung. Sama kagoknya juga dengan sinyal-sinyal yang hadir diantara Jody dan Tara. Ya namanya juga cinta dilatari insiden. Mungkin begitu. Lalu kehadiran Ernest sebagai cameo di sini pun tidak banyak berperan memberi ruh film selain penegasan kalau Jody adalah sosok 'Gober' yang emang udah pelit dari dulu. Penyelesaikan konflik dalam film pun membuat saya merasa seperti ada puzzle yang hilang. Dengan durasi 108 menit, film besutannya Angga Dwimas Sasongko seakan-akan harus disudahi segera.

Namun, di sisi lain  Filkop 2 memberi kompensasi lain buat penonton. Obrolan antara Ben dan Bri atau Jody dan Tara memberi sedikit informasi lain tentang kopi. Saya juga terpesona dengan keindahan Toraja, naksir dengan desain interior kafe Filosofi Kopi (baik yang di Jakarta atau Yogya), dan beberapa theme song yang hadir. Yaaa walaupun ada beberapa lagu tema berbahasa Inggris rada bertolak belakang juga dengan sifat Ben yang keukeuh kalau kopi lokal  dan konsep yang dimilikinya tidak kalah enaknya dengan kopi ala waralaba  impor. Akan lebih menarik kalau theme song yang dihadirkan  juga 100%  berbahasa Indonesia. Tapi saya ga bisa membantah kalau lagu-lagunya Filosofi Kopi 2 memang enak disimak.

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

46 komentar:

  1. Ahhh aku pengen cpt2 nonton nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama siapa, bareng aja yaaa... hihihi

      Hapus
    2. Pai Mung juga. Lah, sendiri juga ga apa-apa. Aku dah biasa nonton sendiri lho.

      Hapus
  2. nonton Filosofi Kopi 2 udah masuk list jadwal kencan besok sama si mas nih hehe..

    BalasHapus
  3. udah tayang ya mbak, ketinggalan infoh nihhhh hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udaaah. Dari tanggal 13 Juli kemarin.

      Hapus
  4. jadi sahabat sejatinya sheila on 7 tetap juara ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang Sahabat sejati aku lebih suka dinyanyiin sama Duta sih, Rul hehe

      Hapus
  5. Org kreatif mah kopi bs jadi ide film ya..hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelumnya udah ada bukunya dulu, Teh. Sekarang banyak film yang hasil adaptasi dari buku gitu

      Hapus
  6. belum nonton filkop 1 tau2 uda yang kedua aku dlu baru baca novelnya aja bener kan teh dr novelnya dee filkop?hahaha bisi salah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, idenya dari bukunya Dee. Haha ga salah,kok.

      Hapus
  7. Kayaknya seru ya, fi, jadi penasaran sama filmya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayo biar ga penasaran wajib nonton, Raan.

      Hapus
  8. Wuih, sayang bunda belum nonton filkop1, cari dulu ah

    BalasHapus
  9. aku malah belum nonton dua2nyaaa.. hiks.. berarti harus nonton dari pertama biar ga eror pas nonton yang kedua ya teh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya,Yu. Enaknya nonton yang pertama dulu. Biar ga erorejing hehehe

      Hapus
  10. Moga makin banyak yg milih cafe kopi lokal yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya,Teh. Aamiin. Pernah ngobrol sama owner kafe kopi. Kopi hasil Indonesia bisa bersaing di pasar internasional.

      Hapus
  11. Bahasan filmnya enakeun pisan, Fi. Jadi penasaran pengen nonton fan nyeduh kopi. Glek, glek...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh aku tersipu jadinya, Teh. By the way udah lama ya kita ga ngopi.

      Hapus
  12. Cucok untuk pecandu kopi ya, yg pertama juga belum full nontonnya udah ada yg kedua nih hehe jadi penasaran minum kopi racikan Chicko hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, San. Buat pecandu kopi mah Filkop ini kayaknya wajib ditonton. Sama aku juga pengen tau kayak gimana kopi buatannya Ben eh Chico.

      Hapus
  13. Aku dari awal nggak ngikutin filmnya sih teh ya karena emang ndak suka kopi hehe.. cuma sekarang jadi penasaran aja sama filmnya, hmm.. jadi harus nonton dari awal yaa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik ada yang jadi penasaran hehe. Ayo tonton dulu film Filkop 1nya, Nes.

      Hapus
  14. Awalnya aku nggak begitu minat sama Filkop 2 ini Mbak. Begitu masuk bioskop, film dimulai, highlightku justru sama lagu2nya. Semuanya bagus dan meaningful. Satu lagi, karakter Bri ini aku suka dan cocok banget lah sama karakter Ben.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah paling suka sama lagu yang pas ada live show itu loh, Win. Asik, eargasm banget. Bener,aku juga paling suka sama si Bri daripada Ben samaJodynya hihi.

      Hapus
  15. Kok aku seperti membaca novel ya kalau lihat ulasanmu tentang filkop 2. Kemudian malas nonton, wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah belum baca bukunya, Dy. Hihi. Duh moga ga spoiler, ya. Eh kenapa jadi males?

      Hapus
  16. Ih jadi makin penasaran sama filkop. Reviewnya meni mantep bahas alur yg kurang greget. Akunya jd ikut hadeuuhhh xixixi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayooo.. Biar ga gregetan tonton filmnya ya, Teh hehe

      Hapus
  17. sama teh, belum baca bukunya juga. padahal penasaran sedari lama.. maklum masih dlm masa puasa. puasa nonton d bioskop sm puasa baca novel haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi nunggu dulu krucil pada gede ya, baru bisa nonton lagi.

      Hapus
  18. Udah masuk daftar list film yang mesti ditonton :D

    BalasHapus
  19. Kepengin pisan nonton ini, Teh.
    Soalnya nonton yang pertama sukaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gara-gara liat yang pertama jadi nungguin film keduanya juga nih, Va.

      Hapus
  20. Baca bukunya belum khatam-khatam. Mending nonton filmnya aja kali ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe boleh tuh, Teh. Lebih cepet selesainya.

      Hapus
  21. Entah mengapa aku jadi melow justru di endingnya. Pas lagu banda neira "yang patah tumbuh yang hilang berganti" diputar. Rasanya baru ngerti gimana rasa cintanya si ben pada kopi

    BalasHapus
  22. nuhun Neng Efi tulisan yang bagus

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.