Review The Doll 2: Film Horor Rasa Psikologis

Enggak tahu kenapa, waktu trailernya wara-wiri tiba-tiba aja saya pengen nonton film The Doll 2 ini. Padahal film hantu ala Indonesia itu bukan pilihan utama buat tontonan saya. Bukan karena alasan bagus atau jelek, tapi efeknya itu, lho. Kesan yang ditinggalkan cukup dalam. Lebih menakutkan dari film hantu ala Hollywood sana. Mungkin karena karakter hantu yang ditampilkan cukup related dengan gambaran cerita-cerita hantu lokal alias urban legend. Jadinya ya bisa dipahami kalau banyak yang nolak  nonton film seperti ini. Hayo, ngaku deh. Iya, kan?

Film Danur yang pernah saya tonton saja memerlukan sekitar dua minggu buat menetralkan bayangan seramnya Mbak Asih hihihi. Terus kok nekat banget saya mau nonton film ini?
sumber foto: bintang.com

Penasaran. Itu saja sih. Dan saya tidak menyesal dengan pilihan saya itu. Yeah, saya menikmati film sepanjang 116 menit ini tanpa  ngintip dari sela-sela jari segala. Walaupun boneka Sabrina milik Kayla (Shofia Shireen) putri dari pasangan Maira (Luna Maya) dan Aldo (Herjunot Ali) ga ada lucunya sedikit pun, sensasi ketegangan yang dihadirkan tetap terasa. Boneka Sabrina ini juga yang jadi medium teror demi teror yang mengusik  Maira. Oh ya,  gimmick kursi goyang berhantu itu yang masih muncul di The Doll 2 juga lumayan bisa bikin kita berkeringat dingin. Untungnya ga pake lama. 


Setelah mengalami kecelakaan dan ditinggal mati Kay putri semata wayangnya, Maira berubah jadi sosok pendiam. Mai masih belum rela  atas kematian putri satu-satunya itu. Makanya, ketika ada bagian dari film ketika seolah-olah Kay kembali hadir ke rumah, penonton seakan digiring jika apa yang dialami oleh Maira itu cuma halusinasi.

Salut deh, sama ide ceritanya The Doll 2  tidak terjebak dengan pakem-pakem film hantu pada umumnya. Biasanya banyak memamerkan tampang-tampang hantu yang jelek dan meneror korban da membuatnya mati pelan-pelan. Ditambah pula efek suara yang mengagetkan sekaligus menyebalkan. Saya lebih merasa The Doll 2 serupa dengan film thriller  teror psikopat begitu. Tapi sebenarnya saya rada deg-degan menunggu kejutan yang akan diberikan oleh film besutannya Rocky Soraya. Suara flush toilet tengah malam atau tv yang tiba-tiba menyala plus boneka yang suka berpindah dengan sendirinya pun sudah cukup bikin kita parno jika mengalaminya. Ya, kan?

Kehadiran Elsa (Maria Sabta) yang tadinya cuma ingin menghibur Maira agar segera move on malah menyeret Mai, Aldo dan pembantunya, Yani (Ira Ilva Sari) dalam sebuah permainan teka-teki ala anak-anak yang disodorkan oleh hantu Kay. Akting Ira yang ketakutan setengah mati ketika Mai akan menyanyikan tembang jawa yang diyakini bisa mengundang roh juga cukup meyakinkan, lho. Walau sebenarnya buat saya aktingnya Luna Maya yang lebih dominan menghidupkan film ini.

Dengan melibatkan psikolog  Dr Dini (Mega Carefansa) juga paranormal Laras (Sara Wijayanto) dan Bagas (Rhyde Afexi) gagasan film bergeser bukan soal hantu penasaran yang ingin balas dendam.  Memang betul seperti kebanyakan film-film model begini mereka datang untuk alasan menuntaskan kesumatnya.  Akan tetapi dendamnya Kay, ternyata itu dikarenakan kedekatannya dengan Maira semasa hidup dulu. Anak pun bisa merasakan suasana hati ibu tanpa harus bercerita.  Makanya ada umpatan hantu Kay yang bilang begini: "Ini buat Ibu!"

Bukan hanya teka-teki  penyebab kematian Kay tapi juga sekian tahun dibelakangnya ada masalah serius antara Aldo dan Maira yang dibiarkan sehingga meledak bagai bom waktu. Ada  semacam lingkaran benang kusut yang harus diurai  untuk menghentikan teror hantu Kay. 

Di sisi lain saya juga menyadari bila Laras dan Bagas kala menghadapi hantu-hantu pun melibatkan bacaan-bacaan pengusir yang banyak dirapalkan oleh umat Islam. Ini pun cukup menarik. Sebagai orang yang berjibaku dengan dunia mistis, penampilan mereka sangat modern dan gaul. Bukan seperti paranormal cenayang dengan kostum jadul atau atribut khas lainnya yang memberi kesan mistis. Hmmm... memang bener ya, jangan langsung mengambil kesimpulan pada kesan pertama.

Lewat pemainan ala-ala petak umpet dan harta karun, Kay memberikan isyarat kunci permasalahannya pada Maira.   Setelah bermain sok misterius, akhirnya Kay lebih intens muncul. Adegan kejar-kejaran Kay dengan objek buruannya, tusukan-tusukan benda tajam dan berdarah-darah serta tubuh-tubuh yang babak belur dibanting emosi Kay  termasuk adegan yang cukup membekas. Makanya, tanpa adanya adegan intim, film ini tetap dilabeli 17+ karena alasan itu tadi.  

Momen yang paling saya sukai adalah ketika Mai berdialog dengan Kay. Sayangnya ekspresi hantu Kay sangat datar. Seakan-akan Mai cuma ngomong sama boneka, bukan arwah anaknya yang suka bercanda dan manja. Kalau saja Kay bisa meleleh  dengan ekspresi childishnya mungkin saya bakal  mewek dibuatnya. Tapi mungkin Rocky tidak ingin membuat film ini jadi melow sih, ya.

So pesan film The Doll 2, adalah tentang menyelesaikan masalah tanpa masalah (kok kayak tagline instansi keuangaan yang itu, ya?) kesimpulanya begini. Menyelesaikan masalah tidak harus selalu dibayar tunai dengan nyawa. Apa bedanya kita dengan mereka yang sudah jahat sama kita kalau melakukan hal yang sama? Bila kita berbesar hati menepikan dendam, akan lebih mudah pula bagi kita mengakui kesalahan yang pernah kita lakukan bahkan untuk kesalahan yang tidak kita sadari.

Ini lho yang saya suka dari film The Doll. Bisa saja kita menumpahkan kesalahan pada orang lain untuk masalah yang terjadi. Tapi sangat mungkin sekali kita juga punya peran memicu hadirnya masalah itu.

Ah ya, walaupun diberi judul The Doll 2, film ini mempunyai cerita tersendiri dari film sebelumnya. Kalau sebelumnya belum sempat menonton The Doll, it's ok. Aman saja kok, kita tetap bisa menyimak alur film ini tanpa harus mengerutkan kening karena tidak mengerti. Palingan di awal cerita kita sempat dibuat bertanya-tanya, ada hubungan apa antara masa lalu Laras  di film pertama dengan kasus yang menimpa keluarga Aldo. 



  

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

24 komentar:

  1. ihh.. saya aseli penakut, ngga berani nonton pilem hohor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga serem sih kataku mah, tapi menegangkan.

      Hapus
  2. Penasaraaan.... Cari teman nonton ahhh biar ga jejeritan sendiri hihiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar berasa muda lagi ya ikut jejeritan hihihi. Aku mah malah jaim ga ikutan heboh abis di deretanku anak-anak sma semua. Malu hahaha

      Hapus
  3. Dulu waktu sekolah suka nonton film horor
    Sekarang malah nggak pernah lagi, takuuuut kebayang-bayang hahaha

    BalasHapus
  4. Hmmm sien teh,,. Bacanya Aja dh deg2an takuut saya mah blm berani nonton horor mending d traktir makan 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi aku juga ga nolak deh ditraktir makan, mah.

      Hapus
  5. Ah, jadi penasaran pengen nonton.

    BalasHapus
  6. Pengen nonton tapi jujur saya mah borangan wwkwkwkw, sieun

    BalasHapus
  7. pengen nonton tapi borangan yang Danur aja ga nonton *cemen pisan
    btw aku tau tagline itu teh yang P*gadaian hahaha bener kan teh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang Danur emang serem, Va. Hus,jangan dibilang atuh. Nanti jadi iklan :D

      Hapus
  8. aku ga punya nyali nonton horor teh, heu... baca goosebam aja kepikiran lama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku dah lama banget ga baca Goosebump. Ser-ser sih emang. Seru Seram maksudnya :D

      Hapus
  9. ya ampuuun mbaaa...aku liat fotonya aja udah sereeem hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti pemilihan boneka untuk imej seremny pas, ya? Aku sih ga mau juga kalau dihadiahin boneka kayak gini. Jadi inget serial Friday 13th. Seri pertama kan boneka hantu yang membunuh owner tokonya, ya.

      Hapus
  10. Suka banget cara teh Efi cerita.
    Jadi penasaran pingin nonton...tapi beneran kan...ga seseram The Doll movie sebelumnya?

    *apa aku nunggu donlotannya aja yaa?
    hahhah...

    BalasHapus
  11. nonton dong, klw gak brani dibrani2-in ajah, seruuu ky naek wahana di dufan... kerennn reviewnya efi

    BalasHapus
  12. ke bioskop donggg nontonnya... seru kek naek wahana di dufan, btw kerennn reviewnya mba efi

    BalasHapus
  13. Aku belum berani nonton film horor lagi teh, ceritanya menarik ya.
    Pengen nonton tapi takut parno >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teh Lendy, mumpung masih ada di bioskop. Tonton aja, ajak Pak Suami biar ada bahu yang bisa dipake ngumpet hehehe

      Hapus
    2. Wiih, ada Mas Fajar berkunjung ke sini. Makasih lho, Mas. Saya tunggu karya berikutnya, ya. Sukses buat Film Indonesia.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.