The Fabulous Udin, Kecerdasan Sosial dan Kearifan Lokal

Kalau disebut film yang menyasar segmen remaja, sepertinya kebanyakan dari kita akan mengidentikannya dengan alur cerita yang pakemnya sama.  Tidak jauh dari cerita anak-anak remaja smp-sma yang labil, cinta monyet dan (nyerempet) gaya hidup modern yang hedonis. Atau apakah ini cuma saya saja yang punya pikiran seperti ini, ya?

Waktu tayang di bioskop, saya tidak sempat pemutaran film The Fabulous Udin. Resensi atau thrillernya pun saya tidak memerhatikan (maafkan :)). Baru  bulan Mei kemarin saya punya kesempatan menyaksikan pemutaran film ini di Fakultas Sastra Unpas, jalan Setiabudi Bandung yang digagas oleh Forum Film Bandung. Menyelinap di antara puluhan mahasiswa yang usianya hampir setengahnya usia saya bukan alasan buat malu ikutan nimbrung  hihi.  Dan ternyata seperti judulnya, film ini memang Fabulous, Menakjubkan!

Dibintangi oleh Azil Dito (Udin), Bella Graceva Amanda Putri (Suri), Alddy Rialdy Irawan (Ucup) Difa Ryansyah (Jeki) dan Zulva Maharni (Inong),  The Fabulous Udin menceritakan persahabatan 5 remaja kelas 3 SMP yang berasal dari berbagai latar belakang suku, agama dan kondisi ekonomi yang berbeda. Namun, perbedaan yang terjadi di antara mereka bukanlah halangan untuk merajut manisnya persahabatan dengan sedikit bumbu cinta yang proporsional selama 94 menit film ini berjalan.
Sudahkan Menertawakan Masalah Hari Ini?
Adegan Udin yang menertawakan Ucok, seorang pemuda yang ingin bunuh diri memyelipkan pesan cerita yang terus terbawa sampai akhir film.  Ucok  dilanda stres dan merasa harga dirinya sebagai pemuda Batak memalukan identitas dirinya. Ia tidak bisa meraih sukses selama merantau di Sukabumi. Walau sempat kesal merasa rencanannya diganggu, ia  mengurungkan niatnya. 

Udin mempersonifikasikan masalah sebagai sosok  manusia yang harus ditertawakan. Dengan ditertawakan ia akan berlalu dan masalah selesai. Persahabatan  dua laki-laki dari generasi yang sedikit berbeda terajut, bahkan Ucok pun diangkat anak oleh Emak (Lidya Kandau) ibunya Udin yang memosisikan Udin sebagai harta yang paling berharga dalam hidupnya.

Anak Sekolah Tidak Selalu Alay dan Lebay

Saat masuk sekolah, Udin mengenal Suri, murid baru dengan penampilan aneh karena mengenakan topi rajut untuk menutupi kepala botaknya. Dibalik gesturenya yang konyol dan mungkin terkesan 'ngenyek', sesungguhnya Udin sudah jatuh cinta pada Suri, walau ditegur oleh guru yang hari itu mengajar. Di sisi lain,  Suri tidak merasakan sikap Udin sebagai seorang teman yang annoying. Malahan di hari itu juga Suri memilih Udin untuk mendapat hadiah sebagai salam perkenalan.

Jika Udin sudah tidak memiliki Ayah dan selalu tertawa lepas mengabaikan masalah dengan kecerdasan sosial yang dimilikinya, lain ceritanya dengan teman-teman lainnya. Dibalik kegokilan tingkah anak-anak remaja, masing-masing dari kelima sahabat ini mempunyai masalah sendiri. Ada Suri yang memiliki penyakit tumor otak dan divonis berusia pendek, Ucup yang tidak jelas bagaimana asal usul keluarganya, Jeki yang berlimpah harta tapi selalu menyembunyikan masalahnya dan Inong yang harus memangkas mimpinya karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. 

Dari persahabatan kelimanya, kita juga belajar jika sahabat tidak diciptakan untuk mencegah kita dari jatuh, tapi untuk membangunkan saat terjatuh.  Ah, so sweet.

Mewujudkan Kebahagiaan dan Mimpi Orang Lain

Masalah demi masalah hadir di antara mereka dan dihadapi dengan solidaritas yang sederhana tapi ngena dan menguatkan. Berawal dari Ucup dan Jeki yang diskors oleh guru Matematika, Udin mengatur skenario agar tidak ada lagi teman-temannya yang stres karena belajar dibawah ancaman dan target yang dibebankan oeh guru. Masa depan mereka terancam terampas jika terus ditekan oleh karakter seorang guru yang otoriter dan menyeramkan. Alih-alih mengadukan masalahnya pada orangtua, lewat kekompakan teman-teman satu angkatan, mereka berhasil mengatasi masalah melawan tekanan guru matematikanya dengan cara yang gokil.

Yang paling bikin mencelos adalah cinta segitiga antara Udin, Inong dan Suri. Hampir saja untuk kedua kalinya Udin berniat melarungkan rasa sukanya pada gadis yang disukai jika tidak dipancing secara halus oleh Mamanya Suri. Sementara Inong yang tulus bersahabat dengan Suri lebih dewasa mengatur irama hatinya. Ia masih bisa bersikap santai merespon sinyal-sinyal rasa suka yang semakin lama semakin muncul dalam ritme yang halus di antara Udin dan Suri. Salah satunya adalah  adegan meniru fragmen ala Titanicnya Jack & Rose di atas menara di tepian pantai  dan meneriakan I'am Flying Jack.

Dengan kecerdasan sosialnya yang tidak pernah habis  pun, Udin berhasil menyelamatkan  masa depan Silo, kakaknya Jeki. Bagian ini juga cukup menyentuh karena melibatkan dua keluarga, seorang pastor (diperankan oleh Roby Sugara) yang sempat menolak meluluskan idenya Udin juga hadangan dari seseorang yang menyimpan dendam pada Udin.

Jangan Takut Salah

Ada yang pernah merasa tertekan dan takut melakukan kesalahan? Ngacung dong, jangan takut malu. Di film ini, untuk kali pertama Suri mengikuti upacara bendera di sekolah dan menjadi dirijen. Karena untuk satu alasan, Inong menggantikan posisi pemimpin upacara yang biasanya dipegang oleh Udin. Untuk menenangkan Inong, Suri berseloroh jika pengalaman petamanya itu bisa menimbulkan kesalahan, dirinya siap menemani Inong untuk alasan yang sama. "Kalau  pada salah, upacaranya ga bener, dong?" Inong tertawa menanggapi hiburan Suri.


Film dan Kearifan Lokal
Setelah film Shy-shy Cat, ini adalah kali kedua saya menyaksikan film yang mengambil lokasi syuting di di Sukabumi. Bentang alam yang banyak menyajikan keindahan pantainya.  Film tidak selalu identik dengan produk komersil atau menyelipkan ideologi yang diusung sutradara di dalamnya. Unsur sinematografi di dalamnya juga jadi ajang promosi gratis untuk wisata daerah di mana film ini di buat.  

Dari The Fabulous Udin, kita bukan hanya belajar kepekaan sosial dari sudut pandang anak - anak remaja yang kerap dicap alay atau ababil saja. Kearifan lokal masyarakat sunda, khususnya masyarakat di Sukabumi bisa jadi referensi destinasi wisata sebagai salah satu aset pendapatan daerah pemerintah setempat.  

Yang tidak kalah menariknya dari film ini, karakter Udin yang dimainkan oleh Azil Dito mempunyai latar etnis Batak. Namun lentong (aksen/logat, sunda) yang dituturkannya terasa halus, tidak terasa kagok alias nanggung. 

Sebagai informasi, Bahasa Sunda termasuk bahasa daerah yang memiliki populasi penutur yang banyak dan masuk dalam kurikulum muatan lokal disamping bahasa Bali dan bahasa Jawa.  Namun di sisi lain, bagi sebagian besar pelajar,  mempelajari bahasa daerah masih dirasa ngejelimet dan lebih sulit dari bahasa asing seperti bahasa Inggris. 

Penggunaan kosa-kata yang aplikasinya jarang digunakan. Misalnya hawu yang berarti perapian yang menggunakan suluh (kayu bakar) atau alat-alat masak tradisional yang sudah langka seperti  nyiru, aseupan, dan halu.  Atau strata bahasa yang sering tertukar bisa jadi salah satu kendala untuk menguasainya. 

Saya sendiri  nih, untuk menggunakan bahasa Sunda lebih nyaman menggunakan Sunda loma, yang kosa katanya digunakan untuk sebaya. Sementara bila bertemu orang tua atau sepuh yang mengajak ngobrol dengan sunda yang halus, sering dibuat bingung. Takut salah menjawab, khawatir dianggap tidak sopan. Akhirnya jurus paling mudah yang sering saya ambil adalah mencampurnya dengan bahasa Indonesia. Rasanya lebih aman hehehe.

Menariknya walau dianggap mata pelajaran yang sulit,  penutur bahasa daerah di kalangan pelajar masih tinggi. Hasil sebuah penelitian, tercatat 85% siswa masih menggunakan bahasa daerah untuk percakapan sehari-harinya. 

Dalam diskusi hari itu juga mengemuka wacana menarik di mana bahasa daerah bisa menjadi solusi untuk mengatasi daya serap siswa mencerna materi pelajaran. Seperti yang diungkapkan oleh seniman dan sastrawan Sunda, Ajip Rosidi,  kegagalan siswa memahami materi yang disampaikan guru bisa jadi tidak memahami bahasa yang digunakan, bukan materinya itu sendiri.  Hmmm, ada yang merasa sama seperti itu?





Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

6 komentar:

  1. Yang kyk Udin ini cuma ada d desa aja x y teh, d jkt mah sigana susah noted inf film,. Huaa mau gitu sering nonton kyk Tek efi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya di kota juga ada. Cuma emang terhitung mahluk langka :). Aku paling seminggu sekali nonton. Sisanya di aplikasi Iflix aja hihi.

      Hapus
  2. Kayaknya baguuus ya teh filmnya.. semoga bisa diputar di NYC

    BalasHapus
  3. Film kayak gini yang harusnya ditonton para pemuda pemudi, supaya banyak udin udin yang lain

    BalasHapus
  4. Judulnya Unik. Jadi penasaran kek gimana. Hehehehe...

    BalasHapus
  5. Bioskop di sini belum menayangkan 😒

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.