Sweet 20, Ketika Seorang Nenek Terjebak Dalam Tubuh Gadis 20 Tahun

Sejak lihat trailer dan poster film Sweet 20 wara wiri di internet dan medsos, saya langsung nandain film ini, wajib nonton! Dari poster filmnya saya membayangkan suasana retro yang kembali hidup di tahun 2017 ini dengan rasa yang lebih  ngepop dan kekinian.

Fatma (Niniek L Karim) yang tinggal bersama anaknya, Aditya (Lukman Sardi), menantunya Salma (Cut Mini) dan dua cucunya, Juna (Kevin Julio), serta saudaranya Luna (diperankan oleh Alexa Key) adalah seorang nenek yang cerewet. Sangat memanjakan Juna tapi menyebalkan bagi Luna yang merasa inferior sebagai anak dan cucu perempuan.  Fatma juga tipikal mertua yang senang merecoki urusan rumah tangga bahkan sekadar urusan bumbu masakan. Cukup membuat Salma stres dibuatnya.

Ketika Salma jatuh sakit, Fatma tidak sengaja mendengar obrolan Aditya dengan anak-anaknya yang mendiskusikan keberadaan Fatma di rumah. Ide Luna untuk mengirim Fatma ke panti Jompo membuat nenek berusia 70an ini sedih. Merasa kehadirannya tidak diinginkan, Fatma  akhirnya  memutuskan untuk pergi.

Dalam kesedihannya di perjalanan, Fatma pergi ke studio foto bernama "Forever Young" untuk berfoto. Tidak lama setelah berfoto di studio itu Fatma yang dijanjikan terlihat lebih muda 50 tahun benar-benar menjelma menjadi seorang gadis cantik berusia 20 tahun (diperankan oleh Tatjana Saphira) yang memilih nama Mieke sebagai identitas barunya untuk menyamar.

Meski bertransformasi menjadi sosok gadis berusia 20 tahunan, Mieke tidak bisa menghilangkan sifat-sifatnya sebagai seorang nenek yang bawel, rempong sekaligus galak. Kelucuan demi kelucuan mengalir setiap Mieke berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya dengan 'casing' barunya, sebagai gadis cantik betubuh langsing dan cantik namun dengan penampilan ala 70an. Jangan-jangan trend fashion 70an akan berulang lagi. Mungkin lho,apalagi Tatjana selalu terlihat modis dan cantik di sana.

Selama 109 menit film ini berjalan saya tersihir akting Tatjana. Seolah-olah memang dalam tubuhnya terjebak jiwa Niniek L Karim di sana. Mulai dari reaksinya digangguin preman, pertengkaran sengitnya dengan Rahayu teman dulunya sesama nenek-nenek bernama Rahayu (diperankan oleh Widyawati) yang naksir Hamzah (Slamet Rahardjo), bertengkar dengan anaknya Hamzah (Tika Pangabean), selalu memaksa Juna makan banyak biar gendut (padahal di mata saya postur Juna udah berisi lho), sampai tiba-tiba memarahi ibu muda yang dijumpainya dan meributkan ASI vs Sufor. Duh saya ga bisa nahan buat ketawa juga di sini. Kasus klise pertengkaran kaum wanita yang suka heboh di lini massa atau kehidupan sehari-hari disindir dengan apik oleh sutradara film Ody C Harahap.

Mieke  menikmati hidup barunya sebagai vokalis band, menggantikan temannya Juna yang pundung. Berkat ide Mieke pula, dandanan bandnya Juna yang mengingatkan saya dengan make up ala-ala band rock lawas Marylin Manson atau The Cure, menjadi band dengan dandanan kelimis, rapi dan mengusung genre musik pop yang laris. Lagu Payung Fantasi yang jadi andalan bandnya Juna adalah lagu yang paling suka di film ini. Suaranya Tatjana  waktu menyanyi boleh juga, lho. Bikin saya pengen nyanyi lagu ini terus.
Lenggang hati mengorak menarik hati serentak
hey hey siapa dia...

wajah sembunyi dibalik payung fantasi
hey hey siapa dia...
Kalau yang pernah nyimak kuis Siapa Dia di TVRI dulu waktu masih dipandu oleh Aom Kusman pasti familiar, deh. Lagu ini emang ever green dan easy listening. Eh dinyanyikan sama Tatjana tambah eargasm alias enakeun. Muahaha.. saya emang udah ga semuda Juna atau Mieke tapi masih lebih muda dari Aditya Papanya Juna, kok *apa sih*

Kembali ke film, Fatma  yang terjebak dalam sosok Mieke dilanda konflik asmara. Ketika seisi rumah dibuat kelabakan melacak keberadaannya, dia terjebak dalam cinta segibanyak. Ditaksir Juna, dikejar Hamski alias Hamzah sekaligus dicemburuin oleh Rahayu tapi Mieke malah kepincut sama Alan (Morgan Oey) produsen acara tv  dan bikin kesal sekretaris (eh apa asisten pribadi?) Alan. Jatuh cinta emang ga kenal waktu, orang dan  umur, sih ya.

Walau sempat ngamuk-ngamuk digodain pemuda lain yang usianya tidak jauh beda dengan Alan, tapi Mieke tipikal picky juga. Dia tau aja mana yang bening dan charming dan mulai mengabaikan Hamzah yang masih setia menunggunya sejak dia menjanda puluhan tahun silam. Untunglah film ini tidak terjebak dalam pusaran kisah cinta yang rumit. Jalan cerita mengalir dalam balutan cerita komedi, berpindah dari satu konflik ke konflik lain namun tetap dalam alur yang masih nyambung.

Walau seindah apapun hidup baru yang dijalani sebagai Mieke, Fatma akhirnya dihadapkan pada kenyataan yang dilematis. Bukan saja karena curhatan Aditya  yang putus asa mencari keberadaan dirinya tapi juga sesuatu yang terjadi dengan  Juna membuat dirinya berani mengambil risiko. 

All Cast play well. Chemsitry dari semua karakter film ini dapet bannget. Mulai dari Vino G Bastian sampai Aliando yang hanya tampil sebentar saja jadi satu kesatuan cerita yang tidak kehilangan benang merahnya. Selain Tatjana, saya terpukau sekaligus takjub dengan peran Widyawati sebagai nenek centil yang berseteru berebut cintanya Hamzah. Sangat berbeda dengan peran-peran sebelumnya yang dimainkan sebagai sosok wanita yang kalem dan berwibawa. 

Kasih sayang nenek pun sebenarnya ga kalah juga dari sayangnya ibu kepada anak. Meski kadang-kadang porsinya melebihi teritori seorang ibu. Orang sunda bilang nyaah dulang. Hal-hal seperti ini juga yang kerap memancing pertikaian menantu dan mertua. Dan sebagai anak perempuan, saya ikut merasakan kegondokan Luna yang seakan-akan menjadi anak dan cucu yang inferior. Akan tetapi, idenya mengirim nenek ke panti jompo tentu saja  bukan alasan untuk melampiaskan rasa kesal.

Mengabaikan versi aslinya (FYI film ini diadaptasi dari versi Korea, Mrs Granny yang belum saya tonton), feel yang saya dapatkan di film ini kental dengan rasa Indonesianya, kok. Walau alur filmnya katanya sama dengan versi Korea (ya iyalah namanya juga remake), tapi kejelian sutradara film, tim kreatif dan para aktor/aktris mengemas film ini bikin saya terpesona dibuatnya. Walau bukan ide orisinal (film remake lho ya bukan jiplakan) Film Sweet 20 jadi salah satu film Indonesia yang masuk dalam deretan film yang saya suka dengan eksekusi yang ciamik. 

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

8 komentar:

  1. Wahh lucu jugaa. Btw pantas filmnya baguss ceritnaya, remake ternyata heheh.
    Tapi yah tetap aja lumayanlah yah film Indonesia sekranga, Teh

    BalasHapus
  2. jadi film adaptasi ya mbaaa...lucu juga kalau ngebayangin nenek-nenek jadi umur 20 tahun lagiii

    BalasHapus
  3. Oiya, aku kemaren sempat liat cuplikan film ini dan tertarik pengen nonton. Kayak kebalikannya 13 going 30 ya. Hihihihihi

    BalasHapus
  4. Teh effii... Jadi kabita pengen nonton abis baca review nya ..

    BalasHapus
  5. Hmmm sekilas ahak mirip film korea miss granny yak

    BalasHapus
  6. Sbnrnya pas liat trailernya aku udh pgn nonton.. Ngakak pas yg dia digodain di bus, trs kaget sendiri liat mukanya :p. Wkwkwkwk.. Okelah, sprtinya memang bgs ya mba.. Minggu depan mau nonton ini. Apalagi ada babang vino, walo cm cameo doang :p

    BalasHapus
  7. penasaran kalo versi Indonesianya gimana, pengen nonton abis baca review Mba

    BalasHapus
  8. penasaraaan...pengen nonton inih

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.