The Autopsy of Jane Doe, Tentang Analisa Anatomi Tubuh dan Teror dari Jenazah

Ada yang masih ingat lagunya Frente yang judulnya Open Up Your Heart and Let The Sun Shine In? Saya mengenal lagu ini sekitar tahun 1996-1997an. Lagi jaman boomingnya lagu alternatif dengan balutan musik yang  lebih nge-pop. Lebih enak didengar walau sebagian besar diusung dengan aliran cadas. 

Band macam Collective Soul atau Frente adalah contoh band musik alternatif-an yang masih easy listening, ramah di telinga buat saya. Makanya waktu keluar album kompilasi Saturday Morning Cartoon Greatest Hits saya langung beli. Salah satu lagu yang di dalamnya saya sukai  ya  lagunya Frente itu tadi. Yang jadi OSTnya Flinstone itu lho. Lagunya catchy, ceria dan pas buat meninabobokan anak-anak.
foto: http://www.chicagofilmfestival.com/film/the-autopsy-of-jane-doe/

Tapi waktu nonton film The Autopsy of Jane Doe, lagu lawasnya Frente itu punya kesan lain. Horor. Saya jadi keingetan lagu Abdi teh Gaduh Boneka yang rasanya berubah  terasa menyeramkan setelah nonton film Danur  beberapa waktu yang lalu.

Jadi  begini ceritanya. Film The Autopsy of Jane Doe bercerita tentang dua ahli otopsi  ayah dan anak, yaitu Tommy (Brian Cox) dan anaknya Austin Tilde (Emile Hircsh) yang ditugasi oleh Sherif Sheldon (Michael McElhatton) untuk segera melakukan otopsi pada jenazah seorang wanita muda (Olwen Catherine Kelly). Tanpa ada informasi secuil pun tentang jenazah ini membuat Sheldon memberi nama sementara pada jenazah ini Jane Doe.

Austin, remaja pintar  dengan dandanan potongan jadul ala remaja 80an, terpaksa memundurkan rencana kencannya dengan sang kekasih karena kepolisian membutuhkan segera informasi penyebab kematian  Jane Doe dan misteri di baliknya. Maka dimulailah operasi pembedahan terhadap Jane Doe. Beberapa temuan seperti serpihan gambut yang ditemukan pada kuku tangan, kaki dan rambut, luka patahan pada pergelangan kaki, warna mata, lidah yang terpotong, pinggang yang terlalu kecil sampai membongkar organ tubuh tampak tidak biasa. Kejanggalan demi kejanggalan yang ditemukan membuat kedua ayah anak yang hmmm.. mungkin bisa saya sebut petugas forensik merasa ada yang aneh dengan jenazah Jane Doe ini.

Entah karena setingan film yang menggambarkan pembedahan mayat atau seting film yang  terasa seperti sedang membongkar torso (itu lho boneka peraga organ tubuh) membuat saya kuat bertahan terus menatapi layar  selama 86 menit film ini diputar.  Saya pikir yang jadi Jane Doe ini cuma boneka saja. Soalnya make upnya sempurna banget  seperti mayat kaku. Tidak ada satu pun ada adegan yang saya lihat menceritakan dia bergerak atau ngomong barang sepatah kata. 

Analisa Jane Doe  meninggal  kehabisan nafas karena kebakaran dipatahkan setelah ditemukan luka pada bagian tubuh lainnya. Artinya, Jane Doe sudah meninggal sebelum kebakaran terjadi. Saya sempat  mengira Jane Doe ini disusupi semacam alien ketika ada adegan lalat keluar dari hidungnya serta pengamatan dari mikroskop seolah-olah Jane Doe ini masih hidup.Tapi ternyata bukan.

Beberapa hasil temuan dicatat dengan baik oleh Austin di papan dengan menggunakan kapur tulis. Ini mengingatkan saya dengan pelajaran biologi jaman SMA dulu. Pelajaran tentang anatomi tubuh baik hewan atau manusia terasa ngejelimet. Salah satu alasan kenapa saya ga suka pelajara eksak, walau untuk Biologi lolos dari corengan warna merah di raport  hahaha.... Ih malah curhat.

Walau  sekitar 90%  film ini  bercerita adegan di dalam ruang otopsi, saya tidak merasakan kejenuhan mengikuti dialog antara bapak dan anak yang menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Yang tidak suka pelajaran biologi kalau nonton film ini mungkin sedikit banyak akan membuat  rasa penasaran ngulik jadi bertambah. Selama ini kan, kebanyakan teori tapi untuk aplikasinya masih jarang. Jadi mahasiswa kedokteran membutuhkan nyali gede ngoprek mayat, nah kalau cuma nonton aja mah massih bisa diakali. Kalau ga tega atau ngeri tinggal ngintip aja dari sela-sela jari.

Teror dari jenazah Jane Doe mulai terasa ketika gelombng radio berpindah dengan sendirinya, lalu berhenti ketika memutar lagu Open Up Your Heart and Let The Sun Shine. Aslinya, saya jadi sebel sama lagu itu karena jadi terasa mistis. Tanpa menggerakan tubuhnya, masih dengan mata terpejam, Jane Doe berhasil menebar teror  yang membuat Austin ingin cepat-cepat pulang. Selain gelombang radio yang berpindah dengan sendirinya, beberapa teror yang bikin mata terus melek mengikuti adegan film ini adalah listrik yang tiba-tiba mati dan hidup kembali, sinyal HP yang tiba-tiba hilang, darah yang merembes dari kulkas dan langkah-langkah kaki di luar ruangan.  

Mungkin aroma horor bakal lebih naik levelnya kalau Jane Done tiba-tiba bangun, atau tabir kain kafan berisi sandi yang dijejalkan di tubuh Jane Doe terungkap. Sayangnya, sang Sutradara Andr Vredal tidak mengeskplorasi lebih banyak untuk soal ini. Padahal masih ada lah sekitar 30 menit lagi durasi yang bisa ditambahkan untuk memperkuat sensasi horornya.

Ending filmnya rada ngeselin karena di luar harapan saya.  Bagi yang penasaran dengan film horor tapi merasa sedap-sedap ngeri, masih bisa lah nonton film ini tanpa menyisakan bayangan takut kalau dibanding nonton film horor lainnya. Setidaknya analisa tenteng anatomi tubuh, atau dugaan-dugaan soal insiden yang jejaknya biasa ditemukan dalam tubuh lumayan memberi pengetahuan buat penonton yang awam soal dunia medis atau sejenisnya.

Saya juga baru tahu kalau jenazah yang disimpan di kamar mayat kakinya dicanteli lonceng kecil. Ini salah satu cara untuk membedakan mana yang betul-betul sudah mati atau mati suri. Ya siapa tau kan hidup lagi.  Meski kalau nanti loncengnya bunyi bisa jadi bikin kaget dan takut. 

Walau dilabeli 21+ film ini tidak banyak mengumbar adegan vulgar. Mungkin karena banyak adegan membongkar  organ tubuh yang menjadikan film The Autopsy of Jane Doe ini dilabeli begitu. Kalau mau nonton film ini buruan deh, karena sepertinya nafasnya tidak akan terlalu lama bertahan wara wiri di layar bioskop.



Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

34 komentar:

  1. wuaduhh..ngebayanginnya aja udah berasa horor
    nonton drakor "the doctors" aja saya ngeri2 sedap liat adegan bedah. yg ini apalagi autopsi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku aslinya takut liat film horor tapi yang Jane Doe ini ga terlalu gimana gitu.

      Hapus
  2. Ih penasaran deh sama film horror yg ga gitu byk jedal jedul setannya. Lebih thriller ya, buku kuduk berdiri pelan. Eh sm conjuring oke mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku belum liat yang Conjuring sih, Tar. Tapi kayaknya ga semenyeramkan Conjuring

      Hapus
  3. Balasan
    1. Ya, Mbak. Sama-sama. Nonton ya :)

      Hapus
  4. Makasih reviewnha..bisa jadi saran kalau mau nonton film.ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes, sama-sama Mba. Selamat nonton :)

      Hapus
  5. Aduh kyaknya saya gak bakal berani nonton filmnya
    Baca reviewnya aja saya udah ngeri duluan T_T
    Tetapi thanks loh buat sharing reviewnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah.jadi berkesan seram, ya? Kayaknya dirimu takut liat darah dan organ tubuh yang dibedah, ya.

      Hapus
  6. aku udah nonton dan yups endingnya agak gimana gicuh tapi sakses sepanjang nonton ini deg2an sambil tutup mata terus weh gitu hahaha kaget campur penasaran cmapur takut..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan, endingnya nyakarable saking nyebelinnya haha.

      Hapus
  7. Oh ini film horor, kukira fiksi ilmiah. Paduan keduanya kali ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Lebih enak fokus nyimak unsur ilmiahnya. Biar ga berasa horor amat.

      Hapus
  8. Wah, aku suka film horor mbak, mirip2 klo film detektif gitu ya, banyak adegan diruang jenazah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Detektif sih bukan. Karena si tokohnya lebih fokua ke analisa, ga sempat tracking informasi keluar.

      Hapus
  9. aku mau nonton kata sepupu sih bagus tapi ga berani. baru sebatas counjuring sama insidious aja. itupun sambil layar hp dikecilin dan ngeliat dari jauh hahaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Conjuring sama insidious kayaknya lebih nyeremin deh. Ini mah Jane Doenya ga pake menyeringai nakut-nakutin. Ini lebih ke meronding karena efek linu sih.

      Hapus
  10. Pengen nonton tapi asa sieun wkwkkw

    BalasHapus
  11. sepertinya menarik mbak filmnya...pingin lihat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menarik, Mba. Aku belum pernah seenjoy ini nonton film bergenre horor.

      Hapus
  12. Huaah kayaknya aku mesti nonton film ini.. Kalo nonton NCIS, CSI2an, Body of Proof, dll aku suka jg adegan otopsi jenazah teh, bikin penasaran.. :) Eh tapi kalo ada bumbu horornya semoga aku kuat.. Hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuaaat Dit.Yakin, deh. Ga ada tampang hantunya kok.

      Hapus
  13. Omg lagu-lagu kesukaan aku ternyata horor ya di film ini hehehe... nice sharing mba Efi, aku salut deh kamu punya banyak blog dan rajin juga ternyata updatenya aku baru tau lho... keren banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih lagu lucu jadi horor. Ngehe ya hahaha... Duh blogku yang rajin update yang ini aja. Masih harus belajar lagi manajemen waktu biar blogku yang laainnya ikutan update juga. Makasih udah mampir y, Kania.

      Hapus
  14. pengen nonton tapi kok dah merinding duluaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga terlalu merinding kok. Malah menarik menurutku.

      Hapus
  15. aduh penasaran...jadi kumaha endingna, saya takut nonton film horor , takut kebayang bayang sampai rumah dan takut ke kamar mandi kalau malam heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dibilang jadi spoil dong. Hehehe. Aman kok, efek terbayang-bayangnnya kecil kalau buatku.

      Hapus
  16. pingin nonton juga jadinyaa, takut adegan berdarah2 atau semcamnya tapi tetep penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga berdarah banget, beneran. Itu bedah mayatnya kayak ngoprek boneka torso.

      Hapus
  17. Horor adalah sebuah genre film yang paling saya hindari.
    hahaha (Om-om cemen)

    Tapi dengan membaca ceritamu, jadi kebayang sendiri suasananya. apalagi 90% adegan ada di ruang otopsi ... wah ini tentu memerlukan kreatifitas sendiri untuk membuatnya menarik ... (dan menakutkan)

    salam saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa Om, kok cemen sih? hihihi. Nonton om... nonton *ngipasin*

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.