Film Ziarah, Masa Lalu Bukan Hanya Tentang Romansa

Kapan terakhir kali nyekar?   Biasanya jelang bulan puasa seperti sekarang komplek pemakaman sudah ramai dengan pengunjung yang nyekar ke makam sahabat atau keluarganya.  Tapi bagaimana kalau makam yang akan kita ziarahi itu entah di mana?

Seperti itulah pengalaman Mbah Sri (Ponco Sutiyem)  yang terpisah dari suaminya sejak terjadi agresi militer Belanda kedua. Sesaat sebelum berpisah,  suaminya Prawiro Sahid mengamanahi untuk tidak mencarinya jika dirinya tidak kembali lagi.

Bagi Mbah Sri,  persoalan yang muncul puluhan silam kemudian bukanlah soal keberadaan suaminya apakah masih hidup atau tidak.  Mbah Sri hanya ingin mengetahui di mana makam suaminya. Satu dari sekian pahlawan tanpa nama yang mencari pusaranya seperti mencari jarum diantara timbunan jerami.

Berbekal berbagai potongan informasi, Mbah Sri nekat menempuh perjalanan panjang tanpa bekal yang mendukung.  Kalau jeli memerhatikan film sepanjang 87 menit ini,  Mbah Sri  tidak membawa pakaian juga (mungkin)  uang yang cukup selama berpergian. 

Sesungguhnya kalau mau,  Mbah Sri bisa meminta tolong cucunya untuk menemani dirinya pergi mencari makam suami.  Mungkin karena sudah uzur juga, Mbah Sri tidak terpikirkan soal itu.  Sementara sang cucu selain bingung mengejar Si Mbah yang memghilang,  ia juga cukup dibuat pusing dengan rencana pernikahan bersama kekasihnya.  Alih-alih membantu melacak keberadaan nenek mertua, sang kekasih malah banyak meminta ini itu untuk mengisi rumah yang fondasinya saja belum ditanam.

Walau bergaya dokumenter dan indie,  film besutan BW Purba Negara ini menuai apresiasi dari dalam dan luar negeri. Selain terpilih sebagai film terbaik pilihan juri dalam ajang Asean International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, Ziarah juga menyabet Skenario terbaik di ajang yang sama juga film terbaik di festival film Salamindanaw 2016 di Filipina.

Mengambil latar kehidupan masyarakat desa di Jawa yang masih sangat tradisional, film Ziarah juga mengingatkan saya dengan program pemerintah yang pernah populer di tahun 80an. Ada yang masih inget jargon ABRI (sebelum sekarang dikenal TNI)  Masuk Desa? Salah satu upaya pemerintah dalam percepatan pembangunan dengan membaurkan unsur tentara dengan penduduk desa malah meninggalkan trauma bagi penduduk lainnya.

Di mata mereka ada dua versi tentara seperti kutub magnet yang bertolak belakang. Jika almarhum Prawiro Sahid dikenang karena jasa baiknya sebagai pejuang kemerdekaan di tahun 45, hal berbeda mereka rasakan ketika pembangunan melibatkan tentara malah menciptakan penderitaan.  Entah untuk alasan apa,  seorang penduduk desa di film ini curhat dipaksa meninggalkan rumah dan pasrah menyaksikan desanya berubah menjadi danau.  Gaya tutur yang jauh dari kesan akting para pemeran (kecuali Hanung Bramantyo sebagai cameo dengan logat jawa kentalnya)  membuat saya penasaran apakah kasus inj betul-betul terjadi atau cuma fiksi semata.

Selama menyaksikan film ini juga saya merasa sosok Mbah Sri mewakili gambaran orangtua di Jawa yang masih kental dengan budaya kejawen dan mistis.  Bukan hanya keris milik Prawiro Sahid yang jadi bekal Mbah Sri melacak pusara suaminya saja, ada obrolan penduduk desa yang menceritakan pejuang 45an yang sakti walau ditembak Belanda. Salah satu guyonan yang mempertanyakan kenapa Pak Sahid tidak menuntun saja jip rampasannya menuju tempat rapat sukses membuat saya tertawa, sekaligus mencairkan konsentrasi mengikuti adegan demi adegan film.

Film Ziarah memang termasuk film nasional yang keluar dari pakem. Selain alur film,  gaya akting para pemeran atau sinematografinya yang sederhana, Ziarah menawarkan harapan bagi penggiat film indie atau sineas muda, kalau film sederhana bukan saja bisa berjaya di ajang festival tapi juga bisa menembus jajaran jadwal tayang di bioskop.  Banyak hal menarik yang bisa kita dapatkan dari film ini.

Kalau saja  ada romantisme masa lalu Mbah Sri di masa muda,  mungkin bisa membuat saya berurai air mata dibuatnya.

Ngomong-ngomong, sudah berziarah belum?

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

6 komentar:

  1. Ceritanya kek novel Amba y teh Efi yang mencari kekasihnya yang ditahan di Pulau Buru, kemudian ketika sudah tua mirip si mbah Sri, amba mencari jejak kekasihnya sampe akhirnya ketemu makamnya.
    Jadi penasaran pengen nonton film ini sepertinya kisah nyata y teh, aku suka film2 kek begini seolah menceritakan satu sisi sejarah yang ga pernah aku dapet di pelajaran sekolah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah aku belum tau novel Amba itu, Va. Aku jadi penasaran pengen baca novelnya. Mudah-mudahan udah nonton filmnya, ya.

      Hapus
  2. Kalo saya justru suka dg film2 yg mampu memajang tokoh berumur sbg pemeran utamanya. Karena menurut sy film itu tdk jual tampang aktornya, tapi bener2 menjual cerita. Bbrp waktu lalu sy pernah menonton film korea yg judulnya Late Blossom. Itu film pesan morilnya dapeeet banget, and guest what.. pemerannya aki2n nini2 semua lho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi kita fokus sama alur ceritanya, ya. Bukan menikmati tampang aktor/aktrisnya.

      Hapus
  3. Lihat trilernya aja aku nangis lho

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah seriusan, Nay? *sodorin tissue*

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.