Resep Sukses Hidup dari Aa Gym

Beberapa waktu yang lalu saya dan teman SMA saya, Millah datang ke acara reuni SMA yang menghadirkan alumni mulai dari angkatan 1986an. Ketika saya merasa tuiran dibanding dedek-dedek emesh yang berseragam abu putih, di reunian kali itu rasanya jadi rada mudaan (((mudaan))) karena banyak senior di atas saya yang datang. Duh Akang, Teteh hampura (maafin, ya).

Kalau boleh saya bilang reunian kemarin sepertinya adalah reunian yang unofficial. Mungkin koordinasi antara angkatan yang kurang solid membuat acara reunian saat itu hingar bingarnya kurang rame. Waktu saya upload foto-foto di sana aja banyak yang belum mudeng. Atau mungkin kurang ekstra event di run downnya selain tausiyah dan bazaar alumni? Entahlah. Tapi saat itu angkatan 97 yang datang cuma berlima cukup enjoy mengikuti acara, bertemu dengan beberapa guru yang mangajar dulu masih ada di sana dan nyimakin tausiyahnya dari Aa Gym.

Karena postingan saya di acara reunian udah kepanjangan, saya putuskan untuk menulis materi tausiyah Aa Gym secara terpisah. Biar ga terdistraksi juga dengan foto-foto sekolah yang penampakanya manglingi.
nyimak tausiyah tentang rahasia sukses menyikapi hidup


Dalam tausiyahnya, Aa Gym yang ketika saya masih SMA kelas 3 juga sudah pernah menyampaikan tausiyah di  kampus SMA 9 Negeri Bandung itu membahas topik rahasia sukses hidup.  Sukses hidup bukan cuma diukur dari capaia materi yang berhasil dihimpun atau status sosial saja lho. Tapi juga bagaimana kita menyikapi situasi yang mau tidak mau harus dihadapi. Begini nih...


Siap dengan yang cocok dan siap dengan yang tidak cocok dengan keinginan. 
Pernah kan menghadapi situasi yang ternyata enggak gue banget? Ya kok begini? Duh kok jadi gitu, ya? Moment-moment yang menghadirkan kekecewaan  kerap kita temui. Ga usah jauh-jauh deh. Misalnya saja kita pernah sebel ketika baju yang dibeli secara online aslinya beda sama denga yang ada di foto, tim jagoan kita kalah (ini saya banget hahaha), kalah lomba, mau pergi tiba-tiba hujan deras, dan kekecewaan lainnya. Lalu apa  dengan  ngomel-ngomel atau nangis kejer akan menyulap semua kenyataan itu jadi sesuai harapan kita? Kan enggak. Ambil saja hikmahnya. Untuk soal ini, surah Al Baqarah ayat 216 bisa jadi rujukan.
"....Boleh jadi kamu membenci  sesuatu, padahal itu baik bagimu.  Bisa juga kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
Siapa tahu ketika kita akan pergi tidak jadi Allah mencegah dengan agar terlindung dari risiko kecelakaan, 

Kalau sudah terjadi harus rido

Akumulasi kekecewaan yang memuncak adalah tanda kita belum ikhlas dengan keputusan Allah.. Ingat pepatah ketika nasi sudah menjadi bubur? Daripada ngaduk-ngaduk bubur dengan muka asem an hati gondok, kenapa tidak kita tambahkan cakue, kerupuk, dan suiran daging ayam agar terasa nikmat?   Orang yang stres adalah orang yang tidak bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi.  Masih inget ga ada calon bupati yang stres karena kalah dalam pemilihan? Sebenarnya yang bikin dia stres bukan kekalahannya itu tapi ia tidak siap dengan kenyataan jika takdirnya  bukan jadi bupati. Kekecewaan terhadap kenyataan sebenarnya bukan salah kenyataannya itu tapi sikap kita yang menghadapinya membuat keadaan terasa menyesakan.

Jangan mempersulit diri

Ketika situasi terasa sulit dan membuat kita rasanya ada di titik nadir, jangan lupa untuk berdoa: 
Allahumma yassir wala tu'assir
Semoga dengan melafalkan doa ini akan membuat proses yang kita jalani terasa lebih mudah untuk dilalui. Jika kita sudah mengusahakan dan hasilnya tidak sesuai harapan tugas kita sudah selesai. Allah menilai usaha kita lho, bukan hasilnya.

Evaluasi Diri

Ketika melihat  orang lain berhasil mengusahakan hal yang sama, sementara kita  gagal mewujudkannya kadang rasa cemburu akan menyelinap. Envy sih wajar. Tapi jangan sampai kita jadi kotor hati. Mendingkan lakukan evaluasi diri. Kira-kira apa yang salah, ya?  tahan emosi, da banyak-banyak lah beristighfar.  Aa Gym meningatkan kami saat itu kalau kebaikan apapun datang dari Allah,  sedangkan keburukan datang dari dosa sendiri. Mungkin kesalahan yang tidak disadari abru terasa ketika pikiran kita lebih tenang. Hei, ini juga cara Allah untuk membantu kita lebih hati-hati.   

Saya sempat ngikik waktu Aa Gym bercerita 'musibah' seseorang yang terkena kotoran burung merpati.  Di area yang luas, saat banyak orang di sana, dengan perhituangan kecepatan angin, sudut elevasi dan perhitungan ala fisika yang menggelikan kenapa kita  yang jadi target terkena e'e burung itu? Kenapa bukan orang lain.  Ah ini sih kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Cukuplah Allah sebagai penolong

Mungkin kegagalan yang kita alami akibat kita measa jumawa, merasa kita jago dan lupa kalau apa yang kita usahakan itu tidak luput dari pertolongan Allah.  Saat gelisah dan  sedih melanda, segera ambil wudhu dan lakukan solat.  Kalau disimak, doa di antara dua sajud yang biasa kita baca setiap salat punya makna yang dahsyat lho.

Rabbighfirli : Tuhanku, ampuni aku
warhamni : sayangi aku
wajburni: tutuplah aib-aibku
warfa'nii: angkatlah derajatku
warzuqnii: berilah aku rejeki
wahdinii: berilah aku petunjuk
Wa'aafinii:sehatkan aku
wa'fuanii: maafkanlah aku

Kalau diresapi rasanya jleb banget, ya. Segala persoalan yang kita hadapi, kita adukan pada Allah suah disiapkan toolnya oleh Allah. Pernah ga sih mengalami saat sedang merasa hancur dan kacau, lalu mendirikan salat  ada sensasi rasa yang tidak bisa dijelaskan? Damai, psarah dan entah suasana apalagi yang kita rasakan. Makanya bener dong ya kalau  firman Allah di surah Al Baqarah, ayat 45 yang mengingatkan kita untuk menjadikan sabar dan solat sebagai senjata ketika kesulitan menghadang. Walau kenyataannya kita kadang merasa stok kesabaran itu sudah habis.

Ngomongin soal minta dicukupi, sesungguhnya yang paling nikmat itu adalah minta dicukupi rejeki, bukan harta yang berlimpah. Yang kaya belum tentu bisa menikmati rejekinya. Sebaliknya ketika pas butuh pas ada rejekinya akan membuat apa yang kita dapatkan jadi terasa nikmat dan membuat kita teringat untuk selalu bersyukur.

Benang merahnya adalah agar hidup yang kita jalani terasa ringan adalah bagaimana kita menyikapi kejadian yang tidak berkenan dengan harapan kita. Tidak selalu apa yang kita inginkan akan Allah kabulkan. Berdamai dengan kenyataan akan membuat segalanya terasa lebih mudah untuk dijalani. Hiks hiks... sesunguhnya untuk mewujudkan ini ga mudah, ya. Tapi kalau enggak mau menjalaninya, gimana dong? 
foto-foto dulu sebelum Aa Gym datang :)

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

6 komentar:

  1. Aa Gym kalau ceramah memang sesuatu ringan tapi tentang keseharian kita jadi selalu ngena banget. Hidup memang penuh ujian, ujian yang sering bikin nyesek kalau keinginan kita tidak sesuai dengan keinginan Allah SWT hehe... Jadinya harus kuat di sabar dan syukurnya :D Eh meni panjang komenna heuheu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe gpp kok komennya panjang, Teh. Intinya kita jangan ngoyo kalau kenyataan tak sesuai harapan ya.

      Hapus
  2. Kangen sama ceramah AA gym, duh ngerasa cemen banget nih saya udah lama enggak ikut majlis taklim, hiks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nganterin Marwah les juga kan ibadah, Tian. Ada waktunya juga nanti bisa pergi ngaji.

      Hapus
  3. Dulu saya di Ciwaruga kuliahnya mak, tiap hari temennya MQ FM yg rutin memperdengarkan cerahmah Aa..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciwaruga mah atuh Unisba fakultas Dirosah, ya?

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.