Baracas: Ketika Para Cowok Sedang Pundung

"Yanti, Jangan bergerak!"
Itu adalah salah satu kalimat yang epik dari film Baracas yang saya tonton Senin kemarin, 20 Maret 2017. Seorang anggota polisi yang ditugasi untuk menyelidiki keberadaan Baracas ini tergelitik untuk curcol jika dirinya juga pernah patah hati. Saking menjiwai profesinya,  seruan yang biasanya diucapkan ketika memburu pelaku tindak kejahatan pun terlontar saat memergoki Yanti berselingkuh.

Apakah membuat patah hati orang lain bisa dikategorikan sebagai tindak kejahatan,ya?

Ceritanya hari itu saya mendapat undangan screening film komedi Baracas bersama kru film yang juga dihadiri oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil a.k.a Kang Emil. Sebelum penayangan film ini juga sempat digelar talk show dengan para kru film.

Performance sebelum pemayangan film Baracas

Talkshow dulu sebelum filmnya diputar

Film besutan Surayah Pidi Baiq ini menceritakan para cowok yang patah hati (diputuskan atau ditolak oleh para  gadis yang dicintainya). Mereka bersatu dalam sebuah kelompok bernama Baracas (Barisan Anti Cinta Asmara). Agus (Ringgo Agus Rahman)  sang founder Baracas sendiri patah hati ditolak Sarah (Tika Bravani), padahal Agus sudah berkorban begitu banyak untuk Sarah.

Keberadaan Baracas meski diklaim sebagai gerakan yang positif oleh Agus dan kawan-kawannya menyulut  aksi penolakan, terutama para kaum wanita (ibu-ibu dan para mantan yang bikin mereka patah hati ini).  Salah satu yang dibuat galau karena keberadaan Baracas ini adalah keluarganya Ajo (Ajun Perwira) yang keukeuh maksa bergabung dengan Baracas meski harus meninggalkan ibunya (Cut Mini) dan adik perempuannya yang sudah remaja gara-gara mergokin pacarnya (Stella) sedang bersama cowok lain.

Saat Ajo menghadapi sesi wawancara bersama tim panel Baracas, ia mendapat doktrin dari Agus, Budi (Budi Doremi) dan Deni (Edi Brokoli). Baracas hanya membenci pemudi. Kaum perempuan jika itu adalah ibu atau adik adalah pengecualian.

Saya nyengir asem ketika disebutkan sesuatu yang menyebalkan dan menyeramkan  versi Baracas adalah perempuan dengan menyebut contoh karakter hantu. Haaa, film-film hantu Indonesia yang nyeremin memang menghadirkan sosok hantu perempuan. Sebutlah itu Kuntilanak, Suster Ngesot, Suster Keramas sampai Tali Pocong Perawan. Aseeem deh :D  Coba kalau di barat kan ada sosok hantu berjenis kelamin laki-laki. Freddy Krueger atau Dracula misalnya. Eh tapi kalau tuyul gimana?  

Ajo, debutan Baracas ini merasa sudah bisa move on.  Ia juga didaulat jadi juru bicara Baracas saat diundang debat. Doktrin Baracas anti pemudi tidak menghalanginya untuk tetap bisa berkomunikasi dengan adik dan ibunya di rumah lewat handphone. Sialnya, celah komunikasi lewat handphone ini dimanfaatkan oleh Sarah dan para mantan untuk melakukan aksi adu domba.  Kalau boleh saya bilang sih ini mah adu domba genit.  Karena tidak mellibatkan pihak lain berbau kriminal untuk mengganggu ketenteraman para Baracas.

Walau ngaku-ngaku sok tegar, sok strong dan ga ada kata maaf untuk mahluk Tuhan yang berlabel perempuan, para pemuda yang tergabung di Baracas ini sesungguhnya tidak setangguh yang mereka klaim.  Apel pagi  yang ditujukan untuk menguatkan rasa ketidaksukaan pada kaum perempuan pun masih bisa terdistraksi ketika adu domba genit tadi satu persatu mengusik masing-masing dari mereka.

Dengan menampilkan latar jalan Asia Afrika dengan quote terkenalnya Pidi Baiq, mural di jalan Silwangi, lapangan Gasibu, Taman Balai Kota sampai Bukit Moko, sepanjang filmnya, Baracas  lebih fokus pada isu soal  patah hati dan konflik yang timbul.  Sentuhan nyundanya kurang dapet euy. Padahal ini juga bisa bikin film ini terasa makin kental dengan bodor sundanya.

Anyway,  selama mengikuti film ini,  laki-laki yang katanya lebih banyak menggunakan logikanya, bisa berubah jadi lebih sentimen dan perasa dari perempuan. Paling jelas kelihatan dari Budi dan anggota Baracas asal Medan yang menasbihkan Baracas sampai mati.

Di sisi lain  temannya Sarah sebagai seorang playgirl mengganggap masa bodoh dengan keberadaan Baracas karena masih ada laki-laki lain yang dimanfaatkan. Sepanjang pengamatan saya, karakter-karakter seperti itu memang ada. Heart breaker,  player,  baperan bisa kita temukan pada siapa saja, laki atau perempuan.  Kadarnya aja yang beda.   Ngomongin soal baperan atau masa bodoan ditinggal mantan, pernah   ngalamin salah satunya, ga?   Atau dua-duanya? Jawab dalam hati aja, deh.  Saya ga maksa cerita hahaha... 

Makanya,  kalau ada yang nyebelin, jahat atau label apalah yang bikin kita patah hati sesungguhnya ga ada urusan dengan yang namanya gender. itu juga yang dibilang oleh Ibunya Ajo. Ketika para pemuda di sini patah hati karena perempuan,  hal  berbeda ada pada sosok Pak RT  (Iyank Darmawan). Biar sudah beristri pun masih ganjen menggoda ibunya Ajo, meski ternyata Pak RT ini  lebih cocok jadi anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri). 

Sinyal jaim para perempuan yang memprotes keberadaan Baracas, sesungguhnya bila disampaikan secara lugas sama saja dengan kata begini:  "Jangan pergi",  "Saya butuh kamu."

Laki-laki dan perempuan memang ditakdirkan untuk bersama dan saling melengkapi, kan? Segimana bencinya Baracas pada perempuan, mereka ga bakal ada di dunia kalau ga ada perempuan.  Kalau sekarang ada yang sedang marahan, udahlah baikan aja. Ga usah sok gengsi buat minta maaf duluan.

Efi Fitriyyah

Blogger mungil asal Bandung. Penggemar musik 90an dan easy listening music yang juga senang nonton bola, apalagi kalau jagoannya Persib dan Liverpool bermain. Pembawaannya kalem tapi bisa mendadak jadi mahluk yang cerewet. Penyuka fiksi, dan referensi berbau sejarah. Kontak via email efi.f62@gmail.com

16 komentar:

  1. baru baca pembukaan artikelnya langsung ngakak, hihihi... kayaknya perlu nonton ini buat hiburan. Thanks infonya mba Efiii :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Polisinya sangat menjiwai profesi, ya. Sampe-sampe kebawa perasaan pas ngejar pacar yang selingkuh :D

      Hapus
  2. Ayah surayaaaahhh, idolaku dari kuliah sampe skrg ini teh.. hihihi.. Pasti bodor bgt deh ini filmnya yah.. Ringgo pula yg main.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bodor, yang sutradarain dan maen 11-12 :)

      Hapus
  3. Terakhir nonton iqro XD
    Kapan nonton lagi ya *emak2 rempong curcol :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Curcol diterima. Iya ya udah lama juga kita ga nonton bareng lagi.

      Hapus
  4. hihihiii..belom apa apa udah ngebayangin

    BalasHapus
  5. Filmnya settingnya di Bandung ya mbak?
    Btw patah hati emang gak enak hihihi :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya semua lokasinya diambil di Bandung. Patah hati bisa menimbulkan efek samping serius :D

      Hapus
  6. Aq kemarin malah nonton power ranger fi dengan ponakanku yang kecil eee pas udah 15 menit berjalan, dia takut ngajakin pulang haha asli dah aq pulang

    Klo baracas udah ada sih di pontianak cm belom nonton kirain itu film bule

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa sih tkut? Power Ranger kan bukan film horor. Nonton lah Baracasnya, please.

      Hapus
  7. harus nonton, nunggu banget

    BalasHapus
  8. pas baca Yanti jangan bergerak, saya baca disebelah ada bos namanya yanti juga wkwkwkwkw. Jadi we saya ngakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk... untung bukan video ya. Coba kalau ada audionya nanti bosnya bingung kenapa disuruh diem.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.