Top Social

Bring world into Words

8 Hal Menarik Tentang Elang Jawa

Minggu, 27 November 2016
8 Hal Menaik Tentang Elang Jawa - Sekitar dua minggu yang lalu, saya bareng teman-teman Blogger dari beberapa kota berkesempatan mengunjungi pusat konservasi Elang yang berada di Kamojang Garut.
Foto: Dimas Suyatno
Celetukan soal Elang seperti Siti Nurbaya, Elang yang baper, Elang yang butuh kamus dan becandaan lainnya pun tercetus siang itu.

Siang yang terik di pusat konservasi Elang Kamojang tidak terasa karena ternyata banyak hal menarik yang kami simak. Tenang, saya juga bakal berbagi ceritanya di sini buat yang setia (((setia))) membaca tulisan saya hehehe *lalu ada yang bilang, siapa elu, Fi?* 

Jadi kan gini...
Pusat konservasi Elang ini juga salah satu bagian dari CSRnya Pertamina. Untuk pendanaannya sendiri, 100% dananya ditanggung oleh Pertamina. Keren, ya? Iya dong. Jadi ini pure ya kegiatan spent  money, ga ada orientasi komersilnya.
Baca juga ini, ya: Mengenal Pertamina Kamojang Lebih Dekat

Di area seluas 11 hektar yang juga ditanami pepohonan dan sekitar 50an kandang yang menampung Elang ini menampung Elang yang datang dengan berbagai masalah. Mulai dari Elang yang sakit, dipatahkan tulang sayapnya (seriusan ada lho yang tega kayak gini) sampai Elang yang punya perilaku aneh ada di sini.


O ya pusat konservasi Elang ini juga bekerja sama dengan RAIN alias Raptor Indonesia  (jaringan dan peneliti Elang yang peduli dengan keberadaan Elang di Indonesia) terutama Elang Jawa yang jadi salah satu jenis Elang yang keberadaannya jadi perhatian utama pusat konservasi Elang ini.  Sebenarnya yang saya tulis bukan cuma Elang Jawa saja sih,ada juga tentang Elang lainnya. Sama-sama menarik .Informasinya pun justru saya dapatkan waktu berkunjung ke Konservasi Elang Jawa di Kamojang yang juga merehabilitasi elang jenis lainnya.

Nah kita mulai saja, ya.

Paling kaya di Indonesia

Populasi elang  di Indonesia adalah yang paling kaya dibanding elang lainnya di belahan duinia lainnya. Kenapa? Karena dari 311 species  elang dunia, 90 jenis di anataranya merupakan jenis Elang Asia dan dari 90 jenis ini 75 di antaranya ada di Indonesia atau  setara dengan 83,3% dari total populasi Asia, dan 24,11 persen dari total keseluruhan populasi Elang di dunia.

Tempat paling nyaman

Adalah suatu kebetulan kalau kawasan Kamojang ini juga jadi tempat favorit para elang. Saat musim dingin tiba. Elang-elang dari Asia Utara: Mongolia, Siberia, Korea dan Jepang  akan ramai-ramai  bermigrasi ke Indonesia mencari tempat peristiratan. Nantinya ketika musim semi tiba, mereka akan kembali lagi ke habitat asalnya.

Beberapa jenis elang lainnya pun melakukan transit di kawasan yang kering ini untuk rentang waktu yang bervariasi. Ada yang cuma singgah semalam sebelum melanjutkan terbang ke tempatt lain (rosting), stock over  (3-7 hari) wintering (bulanan) Sambil bercanda, kami bilang Elang ini adalah tamu yang ga diundang dan ga minta diantar pulang.

O, ya ketika elang-elang lainnya bemigrasi ke Jawa, Elang Jawa yang punya nama latin Niseatus Bartelsi malah betah bertahan di pulau ini dan tidak ingin mencari tempat lainnya, lho. Elang yang betah di kampung halamannya :).

Ngomongin soal nama, Mbak atau Mas Niseatus Bartelsi  ini hanya ada di Jawa saja lho. Ga akan  bisa kita temukan di tempat lainnya. Diculik ke Sumatera  atau Kalimantan misalnya, dia bakal terbang lagi ke Jawa. Pokoknya dia udah seatle banget di sini.

Spesies yang terancam punah

Sat ini populasi Elang Jawa tidak lebih dari 1.000 pasang. Di bawah ambang normal populasi dari ancaman kepunahan (endangered). Makanya pemerintah membuat kebijakan melalui Keputusan Presiden untuk menjadikannya sebagai burung yang juga jadi inspirasi lambang nasional ini sebagai satwa nasional. Kalau dibiarkan tidak ada upaya konservasi, secara perlahan, dalam 20 tahun alam akan menyeleksi  hewan top predator ini hilang dari rantai makanan.

FYI,  siklus bertelur Elang Jawa hanya akan bertelur 2 tahun sekali saja. itu pun cuma  menghasilkan 1 telur  dan belum tentu juga menetas. Hiks hiks....

Tidak bisa ke lain hati

Nah tadi saya bilang kan ada celetukan Elang itu ternyata baperan.  Dibanding jenis elang lainnya, Elang Jawa ini merupakan pasangan yang setia. Ketika pasangannya mati dia tidak akan mencari elang lainnya dia ga akan cari elang lainnya sebagai pasangannya.

Gimana kalau yang masih lajang (duh apa istilahnya yang cocok buat nyebut elang yang masih jomblo ini ya) dikawinkan? Well seperti lagunya Dewa 19: Siti Nurbaya, mereka punya pillihan sendiri menentukan pasangan, alias ga mau dipaksa. Pernah satu waktu dalam musim kawin, elang tadinya akur dan selow saja sebelumnya jadi berkelahi. Tuh, elang aja ga suka dipaksa.

Ukuran elang 

Waktu kami menyambangi  konservasi ini, ukuran mereka memang biasa saja. Tidak sebesar ukuran elang lainnya seperti yang digambarkan dalam beberapa film.

Untuk wilayah Indonesia, rekor ukuran terbesar dimiliki oleh Rajawali Papua.  Saat ia membentangkan sayap, lebarnya bisa mencapai 2,8 meter. Besar sekali, kan? Kira-kira aja deh berapa bobotnya. FYI, Rajawali Papua ini juga dalam status terancam punah.
Foto: Antara

Elang dan Upacara adat

Di beberapa daerah lainnya, keberadaan elang masih dibutuhkan untuk ritual suku tertentu. Misalnya saja di Dayak untuk upacara adat dalam kegiatan bertani untuk mencari tempat yang layak untuk bercocok tanam. Begitu juga di Mentawai, konon keberadaan elang juga masih dimanfaatkan untuk ritual adat. 

Karantina dan eutanasia

Ada banyak latar belakang elang yang datang ke Pusat Konservasi Kamojang ini. Ada yang datang dalam keadaan sakit, terluka (bayangin aja, sebelah tulang sayapnya patah, dan bikin dia kesulitan untuk terbang), atau dalam keadaan normal dan diserahkan secara sukarela oleh pemiliknya.

Pak Zaini, pawang elang yang mendampingi para blogger dan bercerita seru tentang elang
Secara normal diperlukan waktu selama 21 hari untuk memulihkan elang-elang ini sebelum dilepasliarkan. Akan diperlukan waktu lebih lama kalau kondisinya lebih parah dan yang bikin sedih itu kalau ternyata  sakitnya parah sekali, terpaksa harus di-eutanasia alias suntik mati.

Lho, kenapa?
Begini, elang ini sesungguhnya punya stamina yang kuat, tapi kalau dia terkena sakit, virus dalam tubuhnya akan lebih mudah tersebar ke sekelilingnya. Contoh sederhananya seperti virus flu burung yang menjangkiti ayam-ayam di peternakan harus dimusnahkan. Ayam saja bisa menularkan flu burungnya itu ke manusia, apalagi Elang.

Kalau di Indonesia kita mengenal wabah tetelo, di dunia Internasional dikenal dengan nama Newscastle Diseases. Wabah ini pertama kali ditemukan di Inggris pada tahun 1926 juga  ditemukan di AS pada tahun 1944. Virus dari burung ini bisa menular dengan berbagai cara. Selain kontak langsung, udara atau kotoran juga bisa berpindah melalui media lainnya yang terkontaminasi. 

Animal instinc

Kami dibuat tercengang ketika Pak Zaini bercerita kalau  elang yang dipelihara ini, dulunya oleh sang pemilik dikasih makanan olahan seperti bakso dan sosis. Padahal sejatinya Elang ini harus makan makanan mereka seperti tikus, burung puyuh atau ular.  Dengan memberi mereka pakan makan yang masih hidup, insting alami mereka untuk bertahan hidup sebagai predator pun akan terjaga.

Kami sempat bertanya bagaimana kalau ada elang yang tekena bisa ular?  Saya baru tau selain jenis Elang Ular, seperti Elang Jawa atau Elang Brontok, mereka akan semaput juga kalau terkena patukan ular. Sementara jenis Elang Ular  dia punya semacam antibodi yang bisa menangkal racun mematikannya itu. Di Pusat Konservasi Elang Kamojang ini juga terdapat Elang Ular yang diberi pakan Kobra  dalam rentang waktu seminggu sekali. Errr.... saya ga berani liatin situasinya pas elang ini memangsa pakannya secara langsung. Hiiiy....

Setelah waktu mereka dilepasliarkan ke alam bebas, terkadang mereka terlihat masih ada yang terbang berputar mengitari area Pusat Konservasi ini. Entahlah mungkin mereka ingin berterimakasih atau punya kenangan khusus, ya?
salah satu sisi venue di Konservasi Elang Kamojang

Kok bisa tau?
Jadi di sayap mereka itu saat dilepaskan disematkan semacam pemindai gitu yang akan terdeteksi. Tenang saja, pemindai ini tidak bersifat permanen. Secara perlahan
ketika bulu-bulu pada tubuhnya rontok berganti dengan yang baru, pemindainya juga akan luruh jatuh ke bumi.

Mudah-mudahan dalam waktu 20 tahun mendatang, Elang Jawa, Rajawali Papua atau elang jenis lainnya yang terancam punah bisa bertahan dan masih ada, bukan menghilang ditelan sejarah dan cuma jadi cerita saja.

foto nyulik dari grup chat Peserta Wegi 6
Kalau mau datang ke Pusat Konservasi Elang Kamojang ini, mangga. Silahkan datang berkunjung saja ya. Asik dan seru deh mengamati perilaku elang-elang yang ada di sini, ditambah warna-warna hijau yang terbentang nan menyejukkan mata bisa bikin betah. Please, jangan kasih mereka makanan olahan. Tenang saja gizi mereka sudah terjamin di sini. 
14 komentar on "8 Hal Menarik Tentang Elang Jawa "
  1. ini acara sama pertamina kemarin itu ya mbak efi, itu ada temen saya dari solo mas Dimas Suyatno mesti hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, ada Mas Dimas. Sebelumnya kami juga pernah ketemu di event lannya di Solo setahun yang lalu. Sama Mas Dhanangnya malah belum ketemu, ya :)

      Hapus
  2. Itu burung elangnya di pelihara ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dirawat tepatnya. Kalau sudah sehat dilepasliarkan karena untuk bertahan dari ancaman kepunahan harus hidup di alam bebas.

      Hapus
  3. Semoga Elang terus lestari ya Teh biar nanti keturunan kita tetap bisa lihat si elang. Asaha Pertamina untuk melestarikan populasi elang ini patut diacungi jempol.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mita. Program Pertamina ini patut diapresiasi, Jangan sampai anak cucu kita cuma kebagian ceritanya aja tapi ga bisa lihat Elang-elangnya.

      Hapus
  4. Di atas ada tertera 'Elang berpelikau aneh"
    contohnya seperti apa? apakah sang Elang sering galau menangis sendirian, atau bagaimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk comment of the day :D

      Hapus
    2. Itu Elang betina yang keliwat galak, Yos. Karena galak gitu yang jantan pada takut sama dia wkwkwk... kayak sinetron, ya. Ada juga Elang yang bawel kayak beo tapi dia masuk konservasi bukan karena bawelnya.

      Hapus
  5. Ternyata indonesia menduduki populasi paling tinggi ya..

    Tapi lucu ya mba.. Elang aja ngga mau di paksa masa kita mau dipaksa? Tapi komunikasi dulu boleh lah.. kan kau dibicarakan lebih baik (*eh apaan sih ini ya? Hahaha)

    Terus elangnya setia.. salut deh sama elang ini hihihi

    Informatif banget mba efi.. makasih yaa ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiahahaha segalak-galaknya Elang dia masi punya naluri unik ya. Sama-sama Mbak. Makasih juga udah mampir ke blog saya, ya.

      Hapus
  6. Teh Ef, kayaknya kalo bisa seminggu di sana, pulangnya bisa bikin novel berjudul "Cinta Bersarang di Kandang Elang" :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisaaa banget, Mae hahaha... aku kepincut sama Elang Lusi. Lucu banget dia, paling bawel hehehe. Bukannya dapet ide malah betah liatin mereka kayaknya.

      Hapus
  7. Gak mau melewatkan satu pun tulisan tentang hewan. Hai, Elang, aku padamuuu. Hehehehe. Thanks for sharing mbak.

    Salam,
    Syanu.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.