Top Social

Bring world into Words

Tiga Hal Tentang Menikmati Waktu

Jumat, 07 Oktober 2016
 Tiga Hal Tentang Menikmati Waktu [Infomercial] - Satu waktu saya pernah baca sebuah hadits qudsi tentang waktu.
"Dan Aku adalah (pemilik) waktu; dalam kekuasaanku malam dan siang."(diriwayatkan oleh Abu Hurairah).
 Kalau inget yang satu ini saya suka malu kalau merutuki waktu.  Meski masih sering juga merasa bosan atau gelisah menunggu, waktu janjian sama teman, misalnya.  Yuk bahas soal waktu. Ada apa sih?
"Jalan-jalan mulu,Fi"
"Ajak-ajak, dong!"
"Ih, kayaknya seneng jadi kamu"
3 Hal Tentang Menikmati Waktu
3 Hal Tentang Menikmati Waktu
Kurang lebih begitu komentar teman-teman saya  kalau melihat newsfeed yang memajang foto-foto 'jalan-jalan'. Padahal mah jalan-jalan saya mah ga jauh-jauh sekitaran Bandung. Kalau perjalanan terjauh saya adalah pergi ke Bali, awal tahun 2015 kemarin. Sisanya? Paling sering juga Bandung - Jakarta. Ga tiap bulan juga.
3 Hal Tentang Menikmati Waktu
Jalan-jalan di Bali. Pengen ke sana lagi
Kalau ke luar Jawa Barat, saya baru sampai ke Solo dan  Jogja. Lah, jangankan Jawa Barat, Bandung aja yang jadi kota kelahiran saya belum semuanya dieksplor.  Suka nyengir malu-malu kucing pas ditanya spot-spot liburan di Bandung yang belum disambangi. Masih banyak, pake banget! Duh, kasian deh :)
3 Hal Tentang Menikmati Waktu
venue wisata yang saya sambangi di Solo. Ada yang tau?
Saya pernah ngobrol sama seorang owner tempat wisata. Beliau ini bukan tipe orang yang suka hang out di mall, seperti tipikal life style kebanyakaan orang-orang yang tinggal di kota-kota besar. Hobinya adalah jalan-jalan alias traveling. Saya jadi mupeng bercampur envy, kapan saya bisa kayak dia, ya? Kesimpulannya waktu kami ngobrol,  Indonesia itu indaaaah sekali, kalau mau ngitung waktu kayaknya ga akan cukup seumur hidup ngubekin tempat wisata dari Aceh sampai Papua.
3 Hal Tentang Menikmati Waktu
Tracking di Hutan Pinus Maribaya. Asik, seruu
Dibanding waktu masih kerja kantoran dulu, saat ini saya memang memiliki lebih banyak me time. Ditambah lagi  masih melajang alias single [disclosure], uhuk, biasa aja kali.  Iyes, saya jadi lebih leluasa menikmati waktu. Tanpa harus bete lembur sekian malam hari agar laporan lekas selesai. Jelas beda kalau someday saya ketemu 'Princes Charming' versi saya huehehe. Me timenya kayaknya ga akan sebanyak sekarang.

Ga atuh, saya juga ga mau ngejomblo seumur hidup. It's just matter of time saja, kok. Beda kan, kalau sudah nikah mah. Ga seleluasa kayak sekarang yang masih menyandang status single. Ya syukur kalau My Future Hubby itu punya hobi yang sama atau dia suka jalan-jalan. Asik dong. Eh kok ini jadi bahas ginian, sih?

Sambil mengumpulkan serpihan mimpi dan merapalkan doa agar lebih banyak keindahan alam yang bisa diraba dan rasakan dari dekat, mendingan  mensyukuri jejak-jejak perjalanan yang sudah didapatkan. Selama ini kalau  diperhatikan banyak hal yang bisa kita dapatkan ketika menempuh perjalanan. 

1. Hikmah

Iya, hikmah.  Ketika bosan dengan gadget di tangan dan kedua bola mata  terasa lelah terus menatapi layar kecil yang berdenyar, atau deretan huruf dari buku yang sengaja dibawa,  mengalihkan mata ke sudut jendela atau menikmati pemandangan adalah hal yang mengasikan. Saya jarang  pergi ke luar kota dengan naik kereta. Mostly  memang lebih sering menempuh berkilo-kilo meter perjalanan dengan naik travel. 

Kalau di mobil travel saya malah sering merem-merem ayam, saat naik kereta  bisa menikmati pemandangan alam yang memesona. Lereng-lereng yang masih hijau, sawah-sawah yang berundak,  sungai yang masih lumayan bersih (kalau dibanding di kota) dan iring-iringan sepeda ontel dengan tumpukan karung berisi hasil bumi. Ah sukaaa deh. Mau ngantuk pun ga jadi. Kalau sudah begini segala kepenatan, suntuk dan aneka rasa nano-nano yang umpel-umpelan di hati dan kepala serasa kabur. 
Being happy is that so simple
Saya jadi suka mikir saat meratapi nasib merasa jadi mahluk tuhan yang malang, masih ada orang-orang yang bisa menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Kalau ada cermin di depan muka, mari lambaikan tangan, dan bilang "Hello, don't forget to be happy. Cheer up!"

2. Mengenal karakater 

Saya lupa nih siapa sahabat Nabi Muhammad saw yang bilang kalau ingin mengenal watak asli seseorang, perhatikan ia ketika sedang bareng dalam sebuah perjalanan. Sebulan sekali sih belum tentu juga pelesiran. Tapi dalam beberapa kali perjalanan bahkan ketika nginep bareng, sedikit banyak saya jadi tau sifat seseorang. Mungkin begitu juga ya, yang mereka nilai waktu barengan  saya. Ya mudah-mudahan saya bukan tipe teman perjalanan yang malesin :)

Nobody perfect, Maksud saya gini lho, setiap orang kan unik. Punya plus minusnya. Jadinya dengan mengenal karakter teman perjalanan kita bisa tau gimana sih  enaknya kalau berinteraksi dengan si A, kalau sama si B baiknya kayak gitu and so on. Kadang saat jalan bareng gini, lebih mudah cair ngobrol dengan teman lho dibanding ketemuan biasa aja. Lebih ke saling memahami. Karena kita ga bisa memaksa orang lain berubah seperti yang kita harapkan, dan ga semua orang juga bisa kita senangkan. Prinsip saya sih gini:
Just be myself but i don't want be such an annoying person.  
Kalau udah  jalan bareng, biasanya sih ga cepet-cepet tidur. Menjelang pergantian waktu, saat Cinderella terburu-buru mengejar dealine dan meninggalkan sepatunya, kami (saya dan teman jalan) masih ngobrol yang kadang terselip curhat atau ngikik menertawakan kekonyolan sendiri,  entah itu di kamar, di balik tenda ketika camping atau menikmati pegalnya kaki yang terlipat karena masih melaju dalam kereta atau mobil. Berjam-jam duduk sementara kita tidak bisa beranjak itu rasanya.... ah sudahlah, just enjoy it

Ngomongin soal jalan-jalan, dibanding solo traveling saya lebih suka pergi bareng. Ya minimal berdua, lah. Kayak waktu barengan adik saya ke Bali itu atau pergi camping beberapa hari yang lalu.
3 Hal Tentang Menikmati Waktu
Kalau tenda campingnya kayak gini sih asik aja sering-sering camping juga :)
Soal camping ini nanti deh saya ceritakan di postingan terpisah, ya. Dulu waktu maih SMA atau kuliah saya termasuk mahluk yang 'terpaksa' camping. Ga pernah  sengaja gitu. Suka repot dengan kembung karena mendadak perut terasa penuh dijejali dengan udara dingin.
3 Hal Tentang Menikmati Waktu
Kapan terakhir kali api unggun?
Tapi dalam setahun terakhir ini saya menikmati lho camping yang  diikuti.  Itu setelah belasan tahun silam, waktu  bareng teman-teman HIMA mengadakan malam keakraban bareng dedek-dedek gemes para adik angkatan baru.

Tapi kalau terpaksa pergi sendiri pun ya ga masalah. Kapan mau tidur, membaca buku, tau nonton youtube dari HP masih bisa dilakukan sambil mengenyahkan rasa bosan yang merecoki.

3. Belajar sabar

Meski kadang masih suka merasa kesal menanti, limit batas itu kita sendiri yang menentukan, lho. Ilustrasinya seperti juga ketika akan menentukan limit warning penggunaan  kuota internetan di gadget, pun begitu soal kesabaran. Saya pernah menunggu hampir 3 jam travel menuju Bandung dari shutttle travel dari kawasan  jalan Blora-Jakarta menuju Bandung.

Gimana dong? Dibikin bete juga ga akan membuat mobil travello yang akan menjemput ujug-ujug tiba. Ya kali, saya punya sahabat ibu peri yang bisa menyulap labu jadi kendaraan.  Kalau gitu mah  mau minta Dora Emon aja biar bisa kasih pintu ke mana aja. Buat pulang ke rumah dalam hitungan kedipan mata atau jalan-jalan keliling Indonesia? Kok jadi bahas liburan lagi?

Selama rentang 3 jam itu saya dan penumpang lainnya masih bisa melakukan hal lain. Untungnya sempat menjejalkan buku ke dalam tas yang dibawa. Lumayan beberapa lembar bisa diselesaikan sampai akhirnya bus yang dicarter untuk mengantar kami pulang akhirnya tiba juga. 

Begitu juga ketika tertahan lalu lintas yang pamer alias padat merayap. Satu menit jalan, 5 menit tertahan. Sesekali melirik jam dan papan penanda km di jalan tol? Masih lama!

Tapi chat gokil di grup bisa mengalihkan fokus. Saya pun senyum-senyum membaca dan menanggapinya,  sampai indikator batre berkedip lemah. Kalau sudah begini mau gimana lagi? Kalau pas ada temen jalan dan dia ga ngantuk saya suka ngobrol juga. 

O, ya waktu jalan ke Bali itu kan pesawat yang akan membawa kami pulang ke Bandung ternyata delay. Kurang lebih dua jam. Sambil nunggu gitu saya mengajak adik jalan-jalan di sekitar bandara. Setelah menjamak salat maghrib dan isya, kami memilih foto-foto di sekitar saja. Mau beli oleh-oleh atau ngopi ga jadi, karena pas liat label harganya bikin terharu :) Ya iyalah, bandara.

Tapi masalah lain tiba-tiba muncul. Adik saya tiba-tiba manyun dan ga mau diajak beranjak melanjutkan eksploring bandara lagi.  Pengennya sih ditinggal aja nih anak. Gampangnya gitu. Dih, tapi kan ga mungkin saya menjelma jadi kakak yang tegaan lalu ninggalin dia gitu aja. Meski sebel bercampur gemes ya udah saya duduk di sampingnya sampai akhirnya ketika panggilan untuk nomor penerbangan yang tertera di tiket terdengar juga.

Finally! Akhirnya panggilaan itu juga yang bisa bikin adik saya bangkit dan ngikutin, meski mukanya masih terlihat menyebalkan, perlu seterikaan kayaknya hehehe.  Pas sampai di Bandung akhirnya dia cerita kalau bete gitu karena ga mau balik, masih pengen di sana. Ya elah, neng. Segitunya.

Menikmati waktu di perjalanan yang kadang terasa membosankan buat saya adalah refleksi just enjoying myself for the time being, and so enjoyijng myself as a free single woman, by now.  Eh kok bahas single time lagi? Udahaaaan ah. 

14 komentar on "Tiga Hal Tentang Menikmati Waktu"
  1. Kalo kata Rangga Aadc mah harus nikmatin perjalanannya baru itu traveling, kita harus siap dengan keadaan yang ga sesuai sama rencana kita tapi justru spontanitas yang bakal bikin pengalaman itu hidup dalam kenangan kita ;) semoga nanti bisa traveling bersama soulmate ya teh aamiin ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih Rangga kadang jahat kadang bikin jleb, ya, San *apaan sih* Aamiin, San. Semoga Sandra juga bisa jalan-jalan ke banyak tempat sama suaminya, ya.

      Hapus
  2. Mba Efi bener banget banyak hikmah yang bisa kita dpt dgn jalan jalan dapat suasana baru dan semakin bersyukur tentunya.

    BalasHapus
  3. waktu adalah segalanya..tanpa waktu tiada umur manusia...waktu adalah pedang, bagi mereka yang tak bisa memanfaatkan. tetapi sesekali kita harus melakukan pembunuhan terhadap waktu..seperti traveling dan jalanjalan diwaktu tertentu..tetapi jangan lupa Sholat lima waktu ya bu :)

    btw itu ke Solo bu, gak kabar2 nih bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Can't agree more soal waktu :) Nah pas ke Solo itu udah setahun yang lalu dan waktu maennya bentar banget sih.

      Hapus
  4. Kok sama sih Teh, saya belum banyak eksplor tempat wisata di kotaku. Makanya kalau ada waktu luang, jd local traveller aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengennya sih gitu, ini waktunya harus diatur lagi. Masa ya sama sudut-sudut di kota sendiri kita ga kenal.

      Hapus
  5. Waktu itu hikmah... syukur dll, tp waktu kdg menjd begitu tega sm mrk yg tidak menghargainya.

    Trus kpn ga singlenya teh, udh ga sabar pengen kondangan ke bdg nih xixixiii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sedih banget kan ditegain waktu gara-gara salah sendiri. Semoga awal tahun nanti aku udah couple ya, Ir :) Makmins mah pasti diundang atuh.

      Hapus
  6. Sehat selalu ya teh biar bisa jalan-jalan ekplorasi terus. Suka sama setiap ulasan teteh. Menikmati waktu sendiri atau bersama-sama dengan penuh syukur selalu membahagiakan ya teh Ef. :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Zia. Aih aku tersanjung nih jadinya. Semoga selalu penuh kesyukuran sepanjang usia, ya.

      Hapus
  7. Hutan pinusnya tinggi-tinggi ya. Disana dingin gak mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, usianya udah 12 tahunan lah pohon pinusnya. Saya kalah tinggi sama mereka hehehe. Dingiiin apaalgi buat orang luar Bandung. Siapin baju hangat kalau ke sini, ya.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.