Top Social

Bring world into Words

Hari Film Nasional: Apa Kabar Film Indie?

Senin, 04 April 2016

Seorang  gadis  tersenyum saat tetangga  kontrakan sebelahnya melihat tiga  garis  mendatar di tangannya. "Oh, ini. Mau nurunin kucing malah dicakar."
Gara-gara kucing?" tanya pemuda berambut kriwil dengan tato besar  yang mengintip dari balik kaos kutungnya.

"Jangan bilang siapa-siapa, ya," Delia, gadis  manja yang diperankan Tika Bravani itu tersenyum merajuk. "Ini rahasia kita berdua aja."
http://www.catatan-efi.com/2016/04/hari-film-nasional-apa-kabar-film-indie.html
sumber: kvltzine.com
"Kamu ga punya kucing, kan? Kamu ga pernah beli makanan kucing, kan?  Ga pernah ada suara kucing, ga pernah ada tanda-tanda kehidupan kucing di apartemen kamu," cecar Fred,  si kriwil yang diperankan Alfie Alfandy itu dalam scene lainnya. 

Delia kesal merasa dimata-matai, lalu pergi begitu saja meninggalkan Fred. Belakangan terdengar teriakan histeris dari apartemen Delia. Fred segera datang untuk menyelamatkan tetangganya itu,  meski tidak sengaja ia memukul pacar Delia sampai mati. 

Cerita film berlanjut dengan kisah Fred dan Delia yang pacaran.  Sampai satu waktu, Fred seperti merasakan dejavu saat memergoki Delia sedang mengobrol dengan pemuda lain saat membuang sampah.  Kejadian yang persis serupa ketika Fred memanyakan luka yang sama di tangan Delia. 

Ada yang tidak beres dengan Delia.

Mau tau seperti apa kelanjutan kisahnya?  Coba deh googling di youtube dengan kata kunci film Sebelah. 

Film yang disutradrai Reza Rahadian dan executive producer ini adalah film indie yang memenangi penghargaan Best Movie dalam sebuah ajang film tahun 2012. Selain film Sebelah,  kalau kita kepoin Om Google bisa kita temukan juga filn-film indie lainnya. Bahkan sutradara sekelas Garin Nugroho pun membuat film pendek dengan judul Mata Tertutup. Tahun 2011, film besutannya yang dibintangi Jajang C Noer ini mendapatkan apresiasi dalam ajang Intenational Film Festival Rotterdam. 

Buat para sineas yang sudah lama wara wiri dan punya nama di dunia perfilman,  menggarap ide dan mengeksekusinya mungkin tidak sesulit komunitas film pendek atau film indie yang masih berjibaku dengan soal dana. Kadang menggali ide untuk menjadi sebuah film pun masih jadi masalah. 
efi.com/2016/04/hari-film-nasional-apa-kabar-film-indie.htm
Suasana diskusi di auditorium
Kurang lebih seperti itu topik diskusi tentan film Indonesia yang digagas oleh Forum Film Bandung di auditorium Museum Sri Baduga, jalan BKR pada hari rabu tanggal 30 Maret 2016 kemarin. 

Dan kalau ngomongin film Indonesia,  yang gampang saya inget adalah film nasional yang cepat turun layar dibanding film barat yang bisa bernafas lebih lama. 

Film Surat dari Praha yang sempat jadi topik status FB beberapa teman pun belum sempat saya tonton.  Nyesel euy. Bukannya ga mau nonton,  soal waktu juga.  Iya sih,  saya bukan movie goers tapi kalau ada film bagus rasanya sayang banget kalau ga saya tonton.  Film barat pun ga jaminan kok bisa memuaskan penonton.  Coba deh baca tulisan saya yang masih fresh tentang film Batman v Superman yang sedang tayang sekarang ini. 
http://www.catatan-efi.com/2016/04/hari-film-nasional-apa-kabar-film-indie.html
sumber: sisidunia.com

Di sisi lain film Ach Aku Jatuh Cinta,  film nasional terakhir yang saya tonton juga terhitung kurang lama bertahan di layar XXI.  Sekadar reminder,  film Ada Apa Dengan Cinta sequel baru yang akan tayang April ini terlalu sayang buat dilewatkan. Pokoknya saya harus nonton. 

Ngomongin film Indonesia, geliatnya sudah lebih baik dari beberapa tahun ke belakang. Syukur deh film dengan bumbu hantu atau triple x yang bikin pening sudah jarang menampakkan batang hidungnya alias wara wiri di bioskop. 

Film bagus ga mesti harus dibumbui macam gitu,  kok.  Film Asma Nadia yang bertemakan poligami Surga yang Tak Dirindukan atau tentang kisah cinta yang mengharu biru rada nyerempet Drama Queen seperti Assalamualaikum Beijing  juga sukses meraih animo penonton. Latar negeri Cina alias Tiongkok pun cukup terangkat.  Karater Zong Wen yang diperankan Morgan  pun sempat jadi sosok idaman kebanyakan wanita. Hihihi...  Salah satunya saya :D

Kita pun tidak bisa menutup mata kalau ada film nasional yang gagal.  Terlepas dari masalah teknis karena musibah kebakaran membuat film Bait Surau yang dibintangi Ihsan Tarore cepat tergusur dari persaingan film layar lebar. 

Di satu sisi kita senang juga kalau banyak film nasional yang bermunculan. Film The Raid yang ga sempat saya tonton, juga bukti kalau film nasional di Indonesia sudah punya pemirsanya sendiri. 

Itu film yang berhasil tayang di bioskop atau bisa menembus ajang festival film seperti film Sebelah atau Mata Tertutup itu tadi.  Lalu gimana ya, dengan film indie karya anak muda yang belum punya nama sebagai daya tarik sponsor untuk mendanai filmnya? 

Kota-kota besar seperti Jakarta,  Yogya, Solo dan Bandung punya banyak komunitas film yang punya semangat tinggi untuk menggarap film pendek yang berkualitas. 

Masalahnya, (setidaknya) bagi penggiat film indie di Bandung ternyata tidak gampang untuk membuat orang-orang lain aware alias ngeh dengan keberadaan filmnya.  Dengan dana patungan untuk produksi fimnya saja udah 'uyuhan'.  

Beberapa peserta diskusi yang sebagian besar memang berasal dari komunitas film di Bandung ini ramai-ramai curhat urun pendapat dan menyampaikan idenya. 

Menurut Malik,  aspek funding alias dana dan eksekusi ide harus seimbang agar para sineas muda bisa terus produktif membuat film.  Film pendek dan film panjang yang tayang di bioskop memang punya jalurnya sendiri. Persoalan dana dan ide seperti pertanyaan ayam dan telur. Mana yang duluan ada.  

Selain eksekusi ide dan soal pendanaan,  masalah lain yang jadi perhatian para pembuat film jalur indie ini adala persoalan SDMnya.  Meski ternyata banyak komunitas penggiat film di Bandung,  mempertemukan talent dan kebutuhan produksi ternyata bukan soal cetek. Sayang tuh kalau misalnya ada yang mau buat filn di Bandung ternyata SDM yang ada tidak bisa tersalurkan. 

Lain lagi dengan Gilang yang juga berasal dari komunitas film di Bandung. Ternyata di mata Gilang, para komunitas di Bandung ini belum guyub sehingga belum bisa terwadahi.  Selain itu masalah pendanaan film juga bukan cuma soal produksi.

 Untuk pendistribusian juga masih terganjal masalah. Belum adanya akses ke ruang publik membuat film lokal ini masih minim apresiasi.  Dan ternyata Taman Film yang bersebelahan dengan Taman Jomblo - salah satu ruang publik yang sempat ngehits ini - masih belum optimal mengakomodasi. Persoalan birokrasi  yang dirasakan ribet dan tupoksi untuk membuat program,  seperti yang dikatakan oleh teh Irma juga jadi kendala lain. 

Eh tapi, bukan berarti para komunitad film di Bandung mengibarkan bendera putih, lho.  Big no.  Meski belum 100 persen ideal,  keberadaan komnuitas Forum Film Bandung sebagai ajang silaturahmi, sharing ide, ilmu bahkan sampai sharing job diharapkan bisa membantu memetakan masalah yang dihadapi komunitas film di Bandung.  

Makanya dalam diskusi rabu kemarin juga disampaikan ide untuk membuat asosiasi untuk sutradara,  penulis skenario, produksi dan printilan film lainya dengan standar yang sudah ditetapkan, juga coaching clinic sampai membuat database talent untuk membuat film yang diproduksi lebih greget dengan SDM yang mumpuni. Wow,  nice.  Good luck,  ya.  

Last but not least, yang jadi persoalan film indie adalah ide film yang belum bisa memenuhi keinginan penonton.  Para pelaku film masih terfokus pada ide keinginan sendiri. 

Semoga dengan eksistensi para sineas di jalur indie ini bisa mendatangkan industri untuk mensponsori para penggiat dan komunitas film. 

Masih ingat serial Malam Minggu Miko yang disutradarai Raditya Dika? Serial ini juga asalnya diproduksi mandiri minus sponsor sampai kemudian dilirik produser dan tayang secara reguler di stasiun tv.  Siapa tahu lho, film lokal atau SDM anak-anak Bandung juga bisa mengalami pencapaian seperti itu. 

Buang jauh-jauh deh imej film nasional yang identik dengan film horor atau dewasa seperti beberapa tahun ke belakang.  Sudah banyak kok film Indonesia yang bagus dan layak tonton.  Kalau bukan kita,  siapa lagi coba yang menghargai film buatan anak negeri sendiri?
efi.com/2016/04/hari-film-nasional-apa-kabar-film-indie.htm
Pose dulub di depan auditorium :)



15 komentar on "Hari Film Nasional: Apa Kabar Film Indie?"
  1. Mantap!!! Semoga dana tidak menjadi alasan untuk berhenti berkarya, percaya dengan passion akan menemukan jalannya sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes. Aamiin. Semoga komunitas film di Bandung bisa lebih banyak berkiprah di ajang nasional dan internasional.

      Hapus
  2. Moga film bagus bermunculan terus. Smua mnunggu2 aadc yah teeh. Me too
    Klo film indie, jadi inget film el meler hehee.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, aku juga nunggu. Saat ini ku paling familiar sama film indie ala Raditya Dika, sih heehehe

      Hapus
  3. majulah perfilman indonesia :)

    BalasHapus
  4. Jadi ini rahasia ya :mrgreen:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa coba? Emang udah liat filmnya sampai selesai, Dek? :)

      Hapus
  5. teh efiii aku jadi penasaran dengan film sebelaah..kuota mana kuotaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga terlalu ngabisin kuota kok, Dew. Cuma 14 menit aja durasinya.

      Hapus
  6. Itu film apaan mbak? Baru denger hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang judulnya Sebelah? Film indie, mbak. Ada full versionnya, kok di youtube.

      Hapus
  7. yaah teh Efi, lagi asyik nyimak eh di suruh liat sendiri di yutub hihihi. penasaran nih, tapi kuota tinggal sedikit :D iya nih film Indonesia sekarang aku rasa juga lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi kalau diembed gitu nanti jadi spoil sama endingnya, dong. :)

      Hapus
    2. Hihi kalau diembed gitu nanti jadi spoil sama endingnya, dong. :)

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.