Top Social

Bring world into Words

Repost Cerpen Dari Proyek Kumcer: Belahan Jiwa

Kamis, 16 Juli 2015
Kangen,  udah lama ga bikin cerpen.  Tapi pikiran  lagi buntu  (alesan hahaha). Lalu tba-tiba inget sama salah satu cerpenku  yang ikutan proyek  kumcer  Project Tentang Kita:  Yang Bisa Terjadi  Ketika Jarak  Memisahkan .(rilis tahun 2013)  Semua cerpen yang ditulis  di sini  terinspirasi dari lagu-lagunya KLa Project. Anak  90's mana sih yang  ga kenal lagu-lagu romantisnya KLa (kyaaaa lalu sembunyiin KTP).  
Kenapa tiba-tiba pengen  share  cerpen ini?  Telat sih, ya.  tapi latar cerpen ini kejadian  pas bulan Puasa,  momen  buka puasa. Hehehe, super telat! Harusnya  dishare pas awal-awal puasa. Tapi  masih bisa dinikmati, kok (haish).  Ga tau  juga  apa bukunya  masih  bisa dibeli ata enggak.  Tapi bisa diunduh  versi PDFnya, gratis!  Coba klik  aja  link ini. https://www.dropbox.com/s/oyf5ecz2qo2wyi1/Yang%20Bisa%20Terjadi%20Ketika%20Jarak%20Memisahkan.pdf
Nah, kalau ini cerpen kontribusinya saya.  

Belahan Jiwa
Aku masih asik memainkan hp. Hanya ada tanda ceklis yang muncul di layar, entah jaringan siapa yang ngaco.
PING.
Dua menit.
Tidak ada jawaban.

Bosan. Aku mengklik recent activities. Stalking. Iseng membaca status beberapa teman. Mayoritas asik berceloteh dengan aktifitas akhir Ramadhannya. Maya asik bercerita dengan eksperimen kue-kue keringnya.
Andi sibuk dengan cari-cari rental mobilnya untuk mudik ke Surabaya. Susahnya mencari mobil yang masih available saat H-4 seperti ini. Satu insiden membuat mobilnya harus menginap di bengkel sampai lebaran.
Pusing, please rental mobil dong. Emoticon menangis di ujung statusnya. Lebay.  Aku nyengir. Iseng mengirimnya gambar balon dan permen.
Siska bercerita H2Cnya yang akan menikah usai lebaran.
Menikah?
Deg.
Aku teringat satu obrolan pendekku dengan seseorang. Seorang teman yang terlanjur membuatku merasa nyaman dengannya. Seseorang yang membuatku berharap banyak, andai satu hari dia jadi malaikatku, Leo. Andai.....
Aku yakin akan menikah tahun ini,” katanya satu hari.
“Sudah ada calon?” Selama ini dia tidak pernah bercerita tentang seorang gadis yang mengusik hati dan pikirannya.
“Habis lebaran nanti, Aku mau melamar dia,” dia tersenyum tipis.
“Kok, ga bilang-bilang dari dulu? Ujug-ujug mau ngelamar aja.”
Dia tidak menjawab. Hanya tertawa lalu menyesap lagi kopinya. Aku penasaran. Gemas, cemburu bercampur satu.
“Aku kenal dia, ga?” Ups, kenapa tanya begitu? Aku merutuk dalam hati. Bodoh! Konyol. Ngapain? Enggak penting.
“Kenapa emang? “ Dia asik menarawang keluar keluar jendela. Hujan sore ini membuat kami tertahan di cafe, menantinya reda. “Cemburu, ya?” tembaknya.

“Ngapain cemburu?” aku berkelit
,, sibuk mengaduk-ngaduk capuccinoku yang sudah mulai dingin. Konyol, kamuflase yang gagal.
“Terus, kenapa tanya?” kejarnya.
“Yeeeh, itu pertanyaan standar, kali.”
“Masa? Tapi nada bicara kamu beda, seperti yang...”
“Apa?’
“Ah, enggak penting,” tukasnya. Tertawa lagi.
Hujan masih deras di luar sana. Anak-anak pengojek payung ramai menawarkan jasanya. Kami memilih hujan reda, sambil menunggu maghrib. Lima belas menit lagi, aku menoleh jam tanganku. Aku dan Leo, temanku yang ajaib ini memang cukup dekat. Tidak pernah ada kata suka atau komitmen untuk rencana masa depan. Aku menyukainya, entah dengan dia. Kantor kami yang berdekatan membuat kami sering bertemu, satu angkot, bertemu saat mencari makan siang hingga akhirnya bertukar PIN BB dan ngobrol ngalor ngidul ga penting, membunuh waktu sampai kantuk menyerang.
Belakangan, aku jarang melihat update status BBMnya, kalau ada hanya status biasa. Aku malas mengomentarinya. Tambahan lagi, setelah obrolan tempo hari, aku seperti menjaga jarak. Jaim yang sebenarnya berbalut rindu.  Ah, sudahlah.
Satu getaran lembut di tanganku menyentak lamunannku. Tessa. “Jadi, ga, ceu? Kalau enggak gue ganti baju, nih.”
“Deuh, ngambek. Sorry, Tadi chargerku rusak. Ini  juga numpang ngecharge.”
“Sekarang di mana?”
“Aku lagi di jalan. Tunggu lima belas menit lagi.” Tessa menutup pesannya dengan lambaian tangan.
Acara buka bersama dengan teman-teman SMA-ku. Sudah sepuluh tahun, lima kali reuni, dan aku selalu absen datang. Sibuk, tertinggal informasi, dan sederet aneka alasan lainnya membuatku batal hadir.
“Loe kudu datang reunian kali ini. Ga mau tau,” ujar Tessa seminggu yang lalu.
“Iya, iya. Gue dateng.”
“Loe jangan kayak caleg, ah,” sindir Tessa.
“Hah, caleg? Apa hubungannya sama buka bersama?” Aku bingung.
“Janji palsu, ceu.”
“Yeeeh, dodol. Emang kenapa gue wajib datang?”
“Idih, Siska kan mau merit, dia mau bawa calonnya, ngenalin sama kita-kita semua.”
“Oh, gitu.”
 “Eh iya, Siska mau nraktir kita semua, lho.”
“Cieee, yang mau merit  nraktir gerombolan si berat? Ga bangkrut, tuh?” ledekku. Tessa misuh-misuh. Posturnya biasa saja, tidak kurus atau gendut. Tapi porsinya yang besar, nyaris sama dengan ukuran makan cowok. Sama maruknya dengan ganknya Alex, Roy dan Bisma. Kalau mereka, kan, cowok. Wajar. Nah, cewek satu ini enggak ada jaim-jaimnya.
“Gue orang yang apa adanya,” Tessa ngeles.
Fiuuuh, akhirnya jadi juga ikut reunian SMA sekarang. Iseng aku lihat profil Leo. Status baru.  “Buka Bersama”. Aku malas buat menyapa.
Leo. Nama yang selama beberapa bulan ini mengusik hati. Satu nama yang bayangannya mendadak muncul di langit-langit kamarku, saat menjelang tidur. Saat kami riuh ngobrol ngalor ngidul, saling cela dan ledek-ledekkan jagoan bolanya. Saat aku sok jaim tidak mau mengalah  dalam baris-baris BBMan itu, justru bayangannya tanpa diundang muncul di langit-langit kamar. Seperti dalam film-film sains fiction yang menghadirkan bayangan hologram yang bisa ngomong.
Sambil menunggu Tessa datang, aku memanjangkan kaki di kursi berleyeh-leyeh ria. Bayangannya muncul lagi. Sejak awal puasa ini aku tidak pernah bertemu atau ngobrol lagi. Obrolan dengannya tempo hari membayang lagi, seperti slide yang diputar. Apa kabarnya dia, ya? Kangen sih, tapi……
Ah, aku ga boleh merindukannya lagi. Sebentar lagi dia menikah. Bisa-bisa aku dilabrak istrinya nanti. Huaaa tragis  apa  nahas?
Ting tong!
Bel depan rumahku berbunyi. Tessa datang membuyarkan lamnunanku. Aku segera bangkit, membuka pintu dan menyambar helm di atas meja.
“Yuuuk!”
Setelah pamit sebentar dengan Mama, aku meloncat, naik ke motor yang dibawa Tessa. Aku ogah naik motor, lebih suka menumpang atau naik angkutan kota. Bukan tidak punya uang untuk mencicil,  aku malas belajar. Juga malas dengan aroma khas jalanan bercampur knalpot. Merusak aroma parfumku saja.

****
“Ih, Na, loe tambah cantik, tambah berisi aja. Makmur ya, sekarang?” Siska sibuk berceloteh mengomentari penampilannku. Sepuluh tahun berpisah setelah lulus SMA, tentu saja banyak berubah. Aku yang dulunya kurus, seperti pengidap depresi komplikasi dengan bulimia sekarang terlihat lebih berisi. Padahal, aku bukan susah makan, memang bawaannya aja susah gendut. Padahalnya lagi, sejak SMA hingga sekarang  cuma bertambah tujuh kilo saja. Jadi, sebenarnya biasa saja. Bandingkan dengan teman-temanku yang berat badannya naik drastis. Apalagi yang sudah menikah, rata-rata kepala enam!
“Loe, belum married? Ah, loe pilih-pilih sih,” celetuk Adrian, teman sebangkuku dulu.
“Abis, gimana dia mau married, kerjaannya ngurusin kucing mulu, kalau enggak sama anjing.” Kali ini Alex yang bersuara.
Aku manyun. Ya,  kerjaannku di Pet Shop jadi membuatku lebih banyak bermain-main dengan mahluk piaraan yang sebenarnya manis dan menyenangkan.
“Makanya, jadi asisten dokter aja, Na. Bisa ngecengin pasien yang orang beneran,” Tessa mengimbuhkan.
“Sebenarnya dia bisa tuh ngecengin yang punya hewan piaraan,” Wanda yang baru datang dan bergabung langsung nyambung dengan topik.
“Hoi, ini yang mau merit kan Siska? Kok gue yang jadi objek?’ Aku protes, jengah tepatnya.
Siska yang jadi bos hari itu tertawa.
“Ya, yaaa baiklah, bos ga boleh diusik.” Aku menyerah. Bisa-bisa traktiran hari itu jadi batal.
“Sis, mana calon bokin loe?”  Bisma yang datang dengan istri dan dua putrinya yang lucu-lucu akhirnya menagih janji Siska untuk mengenalkan sang pangerannya.
“Heeh, mana nih? Jangan sampai nanti  digebet sama si Nana,” Roy bersuara.
“Dudul!” aku melempar serbet.
“Tuh, dia baru datang.” Siska menunjuk satu sosok yang datang di ujung pintu. Aku berusaha mengenal sosok yang dimaksud Siska. Dua orang cowok datang bersisian, masing-masing berkacamata hitam. Yang satu berkaos biru dongker dengan rambut kelimis. Satunya lagi berambut agak gondrong dengan kaos putih bertuliskan Harley Davidson. Aku mengerjapkan mata. Ada hawa panas seperti menusuk bola mataku.
Leo. Betapa sempitnya dunia. Dua sosok itu berjalan ke arah meja kami.  Aku mendesah, mencoba menyembunyikan rasa cemburu. Siska tidak boleh tahu.
“Na, gue ke barista dulu, ya. Pesanan minum kita kok belum datang aja.” Siska menepuk bahuku.
Aku mengangguk. Baru dua langkah Siska menuju barista, tubuhnya memutar lagi, berbisik sesuatu di telingaku. Mestinya bisikan itu kutanggapi dengan santai, kalau saja yang muncul di ujung sana bukan Leo.
“Calon gue bawa temen yang masih single, lho. Nanti gue kenalin, ya? Abis gue merit, tinggal loe aja yang jomblo.”
Aku mengangguk, tersenyum masam. Gimana nanti saja deh. Segampang itu main jodohin orang. Ortuku saja ga ribet . Aku berusaha bersikap santai. Siapa itu yang datang bersama Leo? Bukan tipeku sama sekali.Aku sibuk dengan pikiranku sendiri.
Leo nyengir saat berkenalan denganku. “Dunia emang sempit, ya, Na,” Cowok yang datang bersama Leo itu ternyata namanya Fredi. 
Aku mengangguk, menyuapkan sisa-sisa nasi yang membuat perutku tiba-tiba terasa penuh. Begah. Rasanya ingin cepat pulang saja. Siska masih lama sepertinya.  Aku pamit sebentar, menjeda waktu buka bersama untuk bergantian salat maghrib.
Selesai salat, aku berpapasan dengan Leo yang ternyata selasai salat juga. Dari sini terlihat meja kami masih heboh dengan celotehan.
 “Selamat, ya, Yo,” lirihku pelan. “Kamu kok ga bilang-bilang kamu mau nikah sama Siska, teman SMA-ku?” Aku berbasa-basi.
Leo nyengir, cengiran yang biasanya membuatku tertawa. Sore itu cengiran jailnya membuatku ingin menangis.
“Jealous nih, yeee”
Tuh, kan? Masih saja jail saat sebentar lagi melepas status lajangnya.
“Lho, aku kasih selamat, kok, dibilang jealous?” aku membela diri.
“Na, Siapa yang bilang aku mau merit sama Siska?”
Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi, enggak ngerti. Lelucon apa lagi?
“Yang mau nikah sama Siska itu Fredi, saudara sepupuku. Bukan aku,” jelasnya. Aku menelan ludah, otakku masih loading mencoba mencerna kegagalan faham.
 “Lagian tadi pas Siska datang lagi kamu udah keburu kabur ke musala.  Makanya neng, jangan suka cepat mengambil kesimpulan.”
“Tapi kamu sendiri bilang kamu mau nikah abis lebaran ini, kan?”
“Emang iya.”
“Kalau bukan sama Siska, sama siapa dong?” berondongku penasaran. Pelupuk mataku masih hangat. Kali ini aku tertangkap basah tidak bisa menyembunyikan perasaanku. Tissue, mana tissue?
“Kamu.”
Glek.
“Kamu kan pernah bilang, kalau merit ga mau pake lama, ga mau pake pacaran. Abis lebaran nanti aku mau melamar kamu.”
Aku geer, senang bercampur malu.
Memendam tanya segera terucap…
Belahan jiwa apa kabarmu….
Kan kujemput dikau sang Puteri
Pada saatnya nanti….”

 Aku meninju bahunya. Belahan jiwaku memang dia, Leo.



PS: Cuma cerpen, lho.Kalau ada  yang nama dan alur yang mirip-miripya cuma kebetulan  *kok kayak  sinetron FTV, sih?*
Post Comment
Poskan Komentar

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.