Top Social

Bring world into Words

Kala Hening Menyergap Para Blogger

Selasa, 10 Maret 2015

Kesenyapan ruang Alamanda, hari  itu  masih  berlanjut. Setelah  4 teteh bercerita  berjibaku berobat  TB, masih ada sahabat  terjang lainnya yang berbagi  kisah. Sebut saja Nyai,  dengan cucunya, Ujang yang berusia  4 tahun,  seorang bocah perempuan, kita panggil saja Bunga ya  yang didampingi sang ibu. Lalu ada Bu Ayi, petugas  puskesmas dari Cimahi Selatan yang  mendapat  giliran bercerita.

source: open.edu
Bunga sendiri terlihat lebih  bugar dari Ujang. Wajar saja setelah mendengar kisah Ujang yang bikin nyesek. Bocah bertubuh ringkih dan kurus itu  sekilas  lebih mirip anak usia  4 atau lima tahun.  Ujang,  anak yang hidup sebatang kara   karena kedua  orangtua telah  meninggal  ini ternyata juga mengidap virus HIV. Kombinasi maut  dari penyakit TB dan HIV  membuat sang nenek  kerap  menahan isak saat becerita  perjuangannya mengobati sang cucu.


Kedua orang tua Ujang meninggal  karena mengidap penyakit AIDS, membuat kerabat dan tetangganya  mengucilkan keluarga Ujang. Sampai-sampai ketika  ayah Ujang meninggal, hanya ada 3 orang petuga hansip yang membantu mengurus  jenazahnya.  

Pagi hari, saat kunjungan ke RSHS di hari yang sama, saya pernah diperlihatkan obat-obat TB yang besar dan banyak yang harus ditenggak. Belum lagi rasa ngilu, kesemutan dan  kebas  yang harus dirasakan setiap mendapat suntikan. Duh, saya ga bisa membayangkan tegarnya  Ujang mengobati penyakitnya.
Dengan wajah yang polos, Ujang sesekali mengedarkan pandangan ke seluruh peserta work shop  yang memutar kursi tempat duduk kearah meja tempat Ujang duduk.  Pengobatan TB yang nilainya kurang lebih sekitar100 juta per orang sampai tuntas,  memang  ditanggung pemerintah. Tapi tentu saja, Nyai harus punya modal  yang banyak, minimal sekadar  ongkos  untuk pergi  berobat. Belum lagi kondisi suaminya  yang tidak berdaya dihajar stroke.  Praktis beban sebagai pencari nafkah berpindah ke pundaknya. Kisah yang  membuat kami tercenung dalam.

Dengan usianya 9 tahun  ini, normalnya Ujang sudah duduk di bangku kelas  3 atau 4 SD. Namun tubuh ringkihnya tidak memungkinkan Ujang untuk mengenyam bangku pendidikan. Tubuh  bocah  ini hanya mempunyai kekebalan 9 sel saja. Sangat jauh di atas angka normal yang dimiliki manusia  yang sehat yaitu  antara 500-600 sel dalam setiap  m3. 

Makanya, selain meminum obat TB, Ujang juga harus rajin minum obat antiretroviral atau ARV untuk membuat tubuhnya tetap  kuat dan sehat. Meski tidak bersekolah, Ujang masih mempunyai cita-cita  yang banyak. Kadang bermimpi menjadi seorang ustadz,  kadang juga ingin jadi tentara. Sadar dengan kasih sayang sang nenek  yang mendalam, bocah ini pernah berujar  “Nanti, kalau nenek  yang sakit, Ujang saja yang nganter berobat, ya.” Duh gimana  ga nonjok, coba? Hiks...

Ada lagi kisah  Bu Ayi  yang rela  berjalan keliling kampung untuk mencari para  ‘suspect’ TB. Rasa enggan dan malu jadi salah satu alasan yang membuat para warga untuk memeriksakan diri. “Ya udah, kalau gitu  dahaknya saja yang saya bawa buat dicek,’ ujar Bu Ayi. Setelah memberi wadah  yang sudah diberi tanda agar tidak tertukar, Bu Ayi mengambil  sample dahak untuk diuji. Usahanya tidak sia-sia karena  dari beberapa  sample yang terjaring ditemukan pasien yang positif  TB.  Padahal, kita sendiri sudah tahu  kalau  dibiarkan, seorang pengidap  TB bisa  menulari 15 orang pertahunnya. Mengerikan, ya?

Di luar sana masih banyak orang-orang seperti Nyai, Bunga dan Ujang  yang  masih harus kita bantu. TB bukan hanya soal penyakit medis saja. TB adalah  PR multidimensi  yang menyentuh aspek sosial.  Padahal tidak sedikit ‘suspect’ TB  yang masuk dalam golongan usia anak-anak.

Selesai acara sharing, meja  Ujang ramai didatangi oleh para peserta work shop #lawanTB untuk menyemangati.  Seperti yang dilontarkan oleh seorang peserta, harapan tingkat kekebalan Ujang bisa meningkat  dengan pengobatan yang rutin. Entah dengan cara apa, semoga Ujang yang tidak bisa bersekolah  bisa mewujudkan cita-citanya, meski telat masuk bangku SD. Dan yang tidak kalah pentingnya, tidak akan ada  lagi  yang mengucilkan orang-orang seperti mereka. Seperti  yang saya  bilang dalam posting sebelumnya,, semua orang berhak punya masa depan. Begitu  juga dengan Ujang.

17 komentar on "Kala Hening Menyergap Para Blogger"
  1. Sebuah ucapan yang mengunggah hati dari seorang boca yang tak di sangka-sangka. Namun ucapan tersebut merupakan sebuah ucapan jujur yang datang dari dalam hati. Inspiratif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga nyangka ya, Ujang bias ngomong gitu

      Hapus
  2. Kasihan sekali ya mbak. :(
    Speechless kalo gini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. andai mbak juga bisa lihat anak itu, rasanya ga bakalan tega juga.

      Hapus
  3. Ujang berhak memiliki masa depan yg cerah....dan pasti dia bisa melalui itu semua..buktinya...dia sekarang sudah bisa bangkit :)

    BalasHapus
  4. Selama kita mampu membantu mereka, tentu ada hal patut kita perjuangkan disini ya fie.. bagaimanapun juga ini tanggung jawab kita bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, teh. Sekecil apa pun bantuan yg kita beri akan sangat berarti buat mereka.

      Hapus
  5. Jadi keingetan temen yg dulu pernah kena TB..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah sembuh dong ya temenya, Dit. :)

      Hapus
  6. Jadi keingetan temen yg dulu pernah kena TB..

    BalasHapus
  7. ARV bisa sembuhkan HIV mbak? semangat ya Ujang, makasih mbak udah berbagi, searching ARV dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setau saya belum ada obat yang menyemuhkan HIV atau Aids. Tapi ARV adalah obat yang bisa membantu pasien HIV dan Aids bisa tetap bugar dan kekebalan yg baik. Coba cek blog teman saya yang volunteer HIV di http://www.sukamakancokelat.com/

      Hapus
  8. Penderita TB dan HIV memang sangat berat untuk menjalani kehidupannya apalagi di lingkungan masyarakat,,, dikucilkan karna penyakitnya dan rata - rata orang tidak mau dekat apalagi untuk menyemangati untuk tetap hidup. Setelah membaca ini mungkin sedikit menyadarkan orang banyak agar saling membantu sesama manusia,,,, meskipun tidak dengan uang, dengan memberika semangat hidup itu sudah cukup
    Nice post :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu cara kita menolong teman-teman seperti mereka adalah memberi edukasi, ya. Banyak yang tidak ngerti atau salah mendapat informasi.

      Hapus
  9. Bener-bener hening suasana ruangan saat para Terjang ini berbagi testimoni, ya, Fi... sungguh sebuah pembelajaran berharga bagi kita semua. :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.