Top Social

Bring world into Words

Simbiosis Mutualisme Antara Penerbit, Penulis dan Pembaca

Sabtu, 30 Agustus 2014
Saat ajang pameran buku digelar, biasanya saya sudah punya list buku incaran yang akan diborong. Tidak semua ada memang, karena ternyata  penerbit buku yang saya incar itu enggak berpartisipasi dalam acara rutin pameran buku itu. Solusinya, saya bakal mengalihkan alokasi belanja dengan membeli buku lain yang menurut saya menarik.

Karena saya cenderung menyukai buku-buku fiksi, maka buku-buku novel lah yang bakal saya cari dulu. Beberapa nama penulis seperti  Tere Liye, Tasaro, Asma Nadia, Sinta Yudisia, Pidi Baiq, Dewi Dee sudah punya massa penggemar yang banyak. Makanya tidak heran, selain buku yang digelar jadi laris manis, acara bedah buku yang menghadirkan nama-nama beken seperti mereka juga sukses dijejali pengunjung, termasuk saya. 

Bukan  berarti buku-buku non fiksi enggak menarik.  Saya punya kok, koleksi buku non fiksi. Ya,  enggak banyak juga hehehe... Misalnya saja nih, ada  bukunya Erick Yusuf pengasuh training IHAQI yang sering memboyong Ridanya RSD dan Dani Java Jive dalam beberapa acara trainingnya, atau tafsir Al Misbahnya Quraish Shihab, Fikih Kontemporernya Ustadz Aam Amirudin, Buku Inspirasinya Yusuf Mansyur atau Bukunya UStadz Arifin Ilham yang menyentuh. 

saya dan teman-teman saat ngetik bareng di ajang tahunan National November Writing Month
Minat saya sama dunia literasi sebagai pembaca dan  terobsesi untuk menjadi penulis membuat saya menghimpun sebanyak-banyaknya teman yang terlibat dalam dunia kepenulisan. Ikut grup kepenulisan, saling dukung yang sedang membuat draft untuk diajukan ke penerbit  sampai ikut tatangan National November Writing Month (Nanowrimo). Ajang International yang berlangsung setiap bulan. Ide konsepnya kita ditantang untuk menyelesaikan satu naskah novel selama bulan November, tidak boleh mendahului atau  lewat batas bulan November. Ga ada hadiah memang tapi kita akan merasakan kepuasan kalau  bisa menyelesaikannya. Ada badge yang kita dapatkan di akun Nanowrimo kalau bisa menyelesaikannya. Seru, kan?

Kadang-kadang nih sering lihat update status dari beberapa penulis yang baru merilis buku baru  sering menggoda saya untuk menasukkannya ke dalam  daftar buruan, padahal masih ada buku lainnya yang belum selesai dibaca :)

Ngomongin soal dunia penerbit dan penulis, saya teringat beberapa kasus yang pernah wara-wiri di beranda media sosial Facebook. Mulai dari kasus penjiplakan/plagiat, penerbit indie yang sulit dihubungi penulis yang sudah menyetorkan naskah dan depositnya  sampai  penanggung jawab proyek antologi yang menghilang setelah menghimpun sejumlah uang dari klien yang dijanjikan akan diterbitkan bukunya.

Nah, ini dia. Semakin banyak yang berminat untuk menerbitkan bukunya. Siapa sih yang enggak  senang kalau bukunya bisa terbit dibawah bendera mayor. Tapi  persaingan yang ketat, kapasitas penerbit yang hanya bisa menerima sejumlah naskah untuk ditindaklanjuti setiap bulannya, belum lagi kriteria/selera penerbit yang berbeda. Akhirnya penerbit indie yang jadi pilihan para penulis wanna be yang ingin segera menerbitkan bukunya.

Enggak semua penerbit Indie jelek, sih. Hanya saja menurut saya,  pembaca juga berhak mendapat buku yang berkualitas. Baik dari isinya, bahan, tata letak dan sampul yang menarik. Saya paling males kalau sudah baca buku ternyata kualitasnya mengecewakan seperti aksara yang kabur, margin yang berantakan, halaman yang kosong atau kertas yang lepas. Sayang kalau isinya bagus tapi tampilan fisiknya  bikin mood untuk membacanya jadi menguap.

Saya percaya kok, hanya karena satu buku yang kualitasnya buruk ga bakal bikin seorang pembaca pundung dan trauma buat baca lagi, suer belum nemu :). Jadi, harus ada semacam simbiosis mutualisme antara buku yang terbit (termasuk didalamnya penulis dan penerbit) serta pembacanya. 

Terakhir, tolong hargai jerih payah penulis yang sudah bersusah payah membuat riset untuk memberikan tulisan terbaik, menghabiskan waktu sampai kurang tidur dan lupa makan, mengabaikan me-timenya,  menguras emosi dan tenaga bahan mungkin uang yang tidak sedikit untuk melakukannya. Please, jangan beli buku bajakan, ya. Buku bajakan bukan cuma mencuri hak kekayaan intelektual tapi juga mengambil hak orang lain. Harusnya seorang penulis mendapat royalti dari setiap satu eksemplar bukunya yang terjual. Tapi, gara-gara bajak-bajakkan ini, seperak pun tidak ada yang mengalir ke kantongnya. Ah, tega bener, deh.

6 komentar on "Simbiosis Mutualisme Antara Penerbit, Penulis dan Pembaca"
  1. keren opininya bu, sukses ya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nuhun, kang Asep. Postingannya juga keren, detil dan analisanya dalem :)

      Hapus
  2. Pengen bisa nembus penerbit mayor juga mbak. Kalau Indie tuh repot dipemasarannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku baru satu kali nembus Mayor dan nagih pengen nerbitin lagi :) tetep aja sih kita juga kudu rajin promo, mbak. Cuma mungkin proporsinya beda ya, secara yang Mayor jaringannya lebih luas. Eh tapi kita juga kudu promo sama tetangga kanan kiri, paling gampang temen2 FB :)

      Hapus
  3. Setuju! Jangan beli buku bajakan. Ha..haa...

    Soal penerbit indie, aku malah sempat melirik, pengen nerbitin indie juga. Cuma ya itu, belum nemu yang pas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ga barokah hehehe... Aku punya naskah yang masih tertunda. Moodnya lagi ga bagus buat lanjutin nulis hahaha

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.