Top Social

Bring world into Words

Melejitkan Minat Baca dan Menembus Pasar Global

Sabtu, 30 Agustus 2014
Iqra!
Itu adalah kata pertama yang turun dalam wahyu Allah kepada Rasulullah. Well, karena saya bukan ahli tafsir, saya ga bakal bahas soal ini lebih jauh, ya. Takutnya nanti punya penafsiran yang salah. :) Intinya nih, perintah membaca tentu bukan ditujukan pada Rasulullah saja, tapi juga semua manusia. Iya, gimana bisa tahu kalau enggak baca. Tentu saja informasi bisa didapatkan lewat informasi lisan. Tapi  ada keterbatasan waktu dan perangkat pendukung kalau semuanya harus disampaikan serba lisan, ya.

Jadi keingetan  waktu SD dulu, di stasiun TVRI sering diputar lagu yang mengampanyekan budaya membaca. Lupa lagi sih liriknya, yang masih teringat itu lirik yang berbunyi membaca adalah jendela dunia. ya kurang lebih begitulah.
Gambar: IKAPI
Kalau dibandingkan dengan sekarang, baik isi, penyajian seperti tata letak, ilustrasi sampai bahan kertas yang dipakai untuk buku jauh lebih baik dari buku-buku jaman saya dulu.  Sewaktu masih kerja sebagai staf tata usaha di sebuah SD  beberapa tahun lalu, saya diminta membantu  guru  yang diserahi tanggung jawab  untuk inventaris buku untuk membereskannya. Wow, banyak buku-buku lama terbitan tahun 70an sampai 90an. Sayang, kurang terawat, jadi terlihat lusuh dan hampir semua lembarannya jadi menguning. Rasanya seperti Deja Vu saja, kembali ke masa kecil.  Pertengahan tahun 80an, buku-buku yang pernah saya baca ya seperti itu. 

Ngomongin soal buku, pastinya ga bisa lepas dari yang namanya Ikatan Penerbit Indonesia alias IKAPI dong ya. Ternyata sejarah pendiriannya ini punyalatar belakang yang heroik, terdorong oleh semangat nasionalisme setelah Indonesia merdeka. Salah satu inisiatornya adalah Sutan Takdir Alisjahbana, salah satu penulis angkatan Pujangga Baru yang terkenal dengan novel  Layar Terkembang. Setelah resmi didirikan pada tanggal 17 Mei 1950, IKAPI berhasil menghimpun 13 penerbit pada masa itu dan berkembang terus sampai mencapai 1.126 anggota pada saat ini. 

IKAPI menyelenggarakan Pameran Buku Nasional  pertama kalinya pada bulan September 1954 di area lapang Monas dan Pameran IKAPI setahun kemudian tepat pada hari bersejarah bangsa Indonesia, 17 Agustus 1955 di Hotel Duta Indonesia. Selain di dalam negeri, IKAPI juga mengikuti pameran buku di luar negeri, yakni di Singapura pada tanggal 16 - 26 September 1956 dan disusul beberapa hari kemudian pada tanggal  30 September sampai 5 Oktober 1956 di Malaysia.

Ada yang menarik dengan Pameran buku Internasional, yang menjadi gengsi tersendiri sebagai penyelenggara dan tentu saja buku yang berhasil  menembus ajang itu. Tentunya bukan buku sembarangan dong yang bisa masuk ke event itu. Bisa membidik pembaca lebih luas, bukan saja di negeri sendiri, tapi di luar negeri. Makanya, saya pengin mengutip salah satu Panca Daya IKAPI sebagai cetak birunya IKAPI yang bercita-cita mencerdaskan bangsa dan memajukan perbukuan nasional.
Usaha menyebarkan hasil cipta sastrawan indonesia dengan jalan mengekspor hak cipta dan mengekspor buku
Sudah pernah dengar event World Book Capital? Ajang yang yang disponsori oleh UNESCO ini bakal jadi cara promosi yang baik untuk membidik pasar Internasional. Madrid, ibukota Spanyol menjadi yang pertama kali ditunjuk sebagai penyelenggara. Perhelatan ini kemudian menjadi agenda tahunan dan bergilir diselenggarakan di kota-kota Internasional lainnya. Untuk tahun ini, kot Port Harcourt di Nigeria yang menjadi tuan rumahnya, lalu disusul oleh  Incheon di Korea Utara untuk tahun  2015 dan Wroclaw, Polandia untuk tahun 2016.

Pertanyaan yang menggelitik adalah siapa tuan rumah 2017? Kapan giliran Indonesia?  Hei, sudah tahu belum? Pemerintah kita sudah  mengantisipasinya, lho. Rencananya Bandung akan diproyeksikan sebagai  penyelenggara  acara keren  itu. Tentu saja Pemerintah tidak asal mengajukan tanpa persiapan. Agar terpilih sebagai tuan rumah serangkaian program dan aksi sudah dibuat oleh Pemerintah. Khususnya di Bandung untuk meningkatkan minat baca, akan dibuka akses ke perpustakaan yang lebih luas.  Perpustakaan umum yang akan dibuka di berbagai taman tematik di Bandung, juga sudah berjalannya kegiatan Perpustakaan Keliling, Gerobak Buku untuk mengakses kawasan gang-gang sempit yang sulit dilalui mobil,  dan kumpul komunitas yang dilaksanakan setiap pekannya. Pada tanggal 8 Juni IKAPI Jabar  sudah melaksanakan acara wakaf buku di lapangan Tegalega, Bandung dan memecahkan rekor nasional dengan membagikan 48.614, gratis! Keren, ya. 
 
Suasana Wakaf Buku di lapangan Tegalega. Gambar: Pikiran rakyat
Salah satu persiapan  lain yang juga disiapkan Pemerintah Kota Bandung yang membidik agenda World Book Capital 2017 nanti akan ikut berpartisipasi pada acara Frankfurt Book Fair tahun depan sebagai Guest of Honour atau Tamu kehormatan. Sebagai peserta, akan diboyong buku-buku terbaik penulis Indonesia untuk dipamerkan di ajang ini. 

Mudah-mudahan saja agenda itu terwujud, ya. Dalam jangka pendek,  harapan saya terhadap IKAPI lebih banyak lagi kegiatan yang memfasilitasi penulis untuk meningkatkan kualitas dan forum yang bisa melejitkan kemampuannya, seperti perhelatan tahunan  Ubud Writer Festival. Ada yang masih 'ngecengin' untuk dipanggil ke sana? Saya juga kepengin ih. Yuk, banyak-banyak membaca dan menulis, meski baru 'ngeblog'. Mudah-mudahan Anda yang sedang baca tulisan saya ini  bakal segera nerbitin buku yang bisa menembus pasar Internasional. Aamiin. Yuk,  pacu terus minat baca dan gairah menulisnya.




12 komentar on "Melejitkan Minat Baca dan Menembus Pasar Global"
  1. baru tau ada bagi2 buku gratis di tegalega. huhu

    moga Bandung benar2 terpilih sbg tuan rumah world book capital

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Rizka, kirain tau. Aamiin, mudah-mudahan terpilih, ya.

      Hapus
  2. Waahh... Bukuuu...di rumah aku gak ada lemari pajangan adanya lemari buku saking cintanya ma buku loh mbak. Xixixixi. Ngomong 2 pengumamn buku apa aja yg lolos ke frankfurt book fair 2015 kapan ya? Tau nggak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi cinta keluarga juga, dong, Mbak? hehehe.... Soal kriteria buku yang bakal diboyong aku kurang tau, Mbak.

      Hapus
  3. Semoga Bandung bisa menjadi kota buku sedunia yaa, dengan begitu secara tdk langsung masyarakat diharapkan bisa mencintai membaca dan menulis,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Bandung kan lagi berbenah, ngageulis, ya Yan. Udah cantik, baik,smart pula. Bikin kelepek-kelepek deh. Eh ini teh komen apaan sih? hehehe

      Hapus
  4. Keberadaan IKAPI sudah selayaknya menjadi tempat bernaung para penerbit...tujuannya adalah agar lebih membuka peluang bagi penerbit untuk sukses dalam dunia literasi Indonesia... met ngontes semoga sukses ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jadi semua penerbit punya peluang yang sama untuk berkembang dan bersaing dengan sehat, ya. Makasih, Mbak Rita.

      Hapus
  5. Bener mak, perintah IQRA harus dikampanyekan

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.