Top Social

Bring world into Words

JKN, Asuransi Kesehatan Murah Tanpa Plafon Dan Syarat Ribet

Jumat, 15 Agustus 2014
Tepat jam 9 pagi, travel yang saya tumpangi sampai di poolnya,  di kawasan Pancoran. Alamatnya? saya lupa, pokoknya sekitar situ lah. Ga mau pusing nyasar di Jakarta, saya memutuskan untuk naik ojeg menuju  hotel Harris yang terletak di jalan Dr Sahardjo untuk mengikuti Workshop Sosialisasi JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

Sempet ngajak ngobrol sama tukang ojegnya dan kicauannya mengalir, komplit dengan logat khas Betawinya. Jadi  kebayang FTV yang suka tayang di tv itu, lho ( Ya iya lah, masa tayang di bioskop?). Si Bapak yang saya lupa ga tanya namanya ini cerita pernah kerja di gedung.

"Kerjanya ngapain, Pak?"

"Itu lho, Bu yang bersihin kaca. Pake tali gitu, naik turun. Ngeri dah..."

"Berapa lama pak kerja kayak gitu?"

"Tiga taon. Mending  ngojeg aja sekarang."

credit

Saya membulatkan mulut. "Oooh...". Sayangnya, pagi itu saya yang masih blank sebenar-benarnya blank soal JKN (ga sempet googling barang seuprit pun). Jadinya ga bisa mensosialisasikan bagaimana coverage dari premi kesehatan Pemerintah yang sangat-sangat bersahabat buat semua lapisan masyarakat. Ya,  ga berarti si Bapak tukang ojeg ini mesti bertahan dengan kerjaannya bersihin gedung yang bisa bikin jantung jadi mencelos, sih.

"Tuh Bu, hotelnya,"  tunjuknya ke sebrang jalan.
Biasanya saya menyambangi acara blogger dengan suasana santai dan tema yang santai pula. Meski acara sebelumnya dibuka dengan suasana yang santai dan menjurus gokil, tetep aja  masih mikir, nih materi nanti bakalan gimana, ya? Bikin ngantuk ga, ya? Mana bahasannya beneran bukan 'makanan sehari-hari'  pula.  Eh tapi  the show must go on.  Gimana entar aja deh, gitu saya mikirnya hihihi...

Eh ternyata materi  yang disampaikan Pak Zaman dan Pak Dwi dari BPJS siang itu seru dan menarik banget.  Jadi marilah kita berkenalan dengan JKN.

Apa itu JKN?
Sederhananya nih JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional  adalah semacam premi kesehatan yang harus diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia  dari yang miskin sampai yang mampu, tanpa kecuali.

Wajib?
Yup, wajib. Paling lambat pada 1 Januari tahun 2019 semua Warga Negara Indonesia atau WNA dengan masa tinggal minimal 6 bulan wajib terdaftar sebagai peserta JKN. FYI Indonesia tertinggal dari tetangga sebelah (Malaysia dan Filipina) Kuba dan India yang sudah memberlakukan jaminan kesehatan sosial sejenis di negaranya. Soal jaminan kesehatan sosial secara nasional ini adalah komitmen global dan sudah diatur dalam piagam PBB.

Oke, lalu kenapa harus terdaftar sebagai peserta dan apa keuntungannya?
Kita tidak akan pernah tahu kan kapan kita akan sakit atau mengalami kecelakaan mau tidak mau harus mengeluarkan uang, kan?  Iya kalau yang uangnya banyak, bisa ikutan Asuransi Kesehatan dari berbagai label, nantinya pihak asuransi yang akan menanggung biaya pengobatan.  Nah pada tahap awal pendaftaran peserta JKN punya kelebihan. Seperti yang kita tahu kalau peserta asuransi kesehatan harus mengikuti serangkaian survey dari pihak asuransi. Sebelumnya punya riwayat medis, ga? Kalau punya pihak asuransi bakalan nolak. Itu baru syarat pertama, belum syarat lainnya yang ribet seperti  jenis kelamin, kebisaan dan plafon yang sanggup ditanggung asuransi.

Di JKN tidak ada syarat seribet itu. Bahkan nih, misalnya ada pasien yang akan dioperasi hari ini, daftar JKN hari ini langsung tuh bisa dapat pertanggungan dari JKN, tanpa batas.  Berapapun biaya rumah sakit (asal terdaftar sebagai fasilitas kesehatan JKN, ya).

Pertanyaan selanjutnya pasti adalah, kok bisa?
Berbeda dengan asuransi, JKN yang dikelola oleh  Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau BPJS Kesehatan (sebelum 1 Januari 2014 dulunya PT ASKES) bener-bener berorientasi sosial, ga cari untung. Kalau di Asuransi, kita hanya mendapatkan pertanggungan dari premi yang dibayarkan, dengan JKN kita akan mendapatkan subsidi silang dari dana peserta JKN lainnya yang terkumpul. Sederhananya, kan tidak semua orang yang ikutan JKN ini  sakit bersamaan. Ya, ga? Nah dari situlah dananya yang dipakai.

Hmmmm... boleh juga. Eh tapi mahal, ya? kan tadi bilangnya tidak ada batasan biaya?
Enggak, kok. Kita bisa membayar JKN ini dengan iuran setiap bulannya mulai dari Rp. 25.500 untuk layanan kelas 3, Rp. 42.500 untuk layanan kelas 2 dan Rp. 59.500 untuk kelas 1. Jangan khawatir soal perbedaan kelas, ini cuma soal akomodasi aja. Pelayanan kesehatan lainnya akan diberikan sama  dengan kelas lainnya, kok. Soal ini nanti dibahas di posting berikutnya, ya.

Oke,  kalau bayar sebulan segitu sih cincai. masih bisa terjangkau. Tapi  bagaimana kalau ada dari masyarakat yang ga mampu bayar iuran? Kan katanya wajib?
Kalau yang tidak mampu enggak usah mikirin gimana bayarnya. Asal namanya terdata dalam data base JKN, Pemerintah lah yang bakal menanggung semuanya.   Laporkan tetangga atau saudara yang tidak mampu untuk mendata mereka untuk dicatat dan dilaporkan agar mendapat layanan JKN. Mereka ini nantinya masuk kategori PBI alias Penerima Bantuan Iuran.

Wow, keren-keren. Terus di mana saja berlakunya?
JKN berlaku di faslitas kesehatan (faskes) yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara JKN mulai dari tingkat pertama, yakni Puskemas sampai klinik kesehatan bahkan kalau harus dirujuk ke rumah sakit, termasuk rumah sakit swasta. Asalkan saja  terdaftar sebagai faskes yang bekerja sama dan mengikuti alur secara bertahap mulai dari  Puskesmas.  Saat mendaftar nanti, kita akan diberitahu faskes terdekat dan faskes jenjang berikutnya yang bisa dikunjungi untuk mendapatkan layanan JKN ini (kita bisa memilih, lho).

Layanan Apa saja Yang Bisa dicover JKN?
Semua peserta JKN akan mendapatkan layanan kesehatan mulai dari pemeriksaan sakit ringan seperti batuk pilek, sakit gigi (termasuk pembuatan protesa atau gigi palsu), masalah paru-paru, diabetes, persalinan (termasuk operasi cesar), imunisasi, layanan keluarga berencana sampai yang sudah dibilang tadi perawatan rumah sakit untuk kasus berat seperti operasi kecelakaan, cuci darah dan penanganan medis lainnya. Eh tapi JKN ga berlaku untuk hal-hal seperti penanganan masalah kesuburan, pengobatan alternatif,  operasi kosmetik atau untuk proses rehabilitasi ketergantungan obat, ya.

Terus nih, gimana kalau misalnya saya lagi di luar kota terus sakit atau kecelakaan.  JKN yang saya pegang berlaku ga di luar kota?
Untuk situasi darurat seperti ini tentu bisa dong. Ini adalah salah satu bentuk dari layanan JKN yang bersifat portable, berlaku di mana saja, dan kapan saja. 

Terus apa kabar dong  peserta asuransi lainnya kayak ASKES, Jamsostek  dan Asuransi Komersil. Mereka gulung tikar dong?
Enggak. Peserta ASKES, Jamsostek  dan asuransi sejenis secara otomatis terdaftar sebagai peserta JKN, kok. Nah kalau asuransi komersil enggak akan gulung tikar. Malah sudah ada yang bekerja sama dengan JKN. Lagipula untuk asuransi komersil  menganut batasan maksimum pertanggungan alias coverage, kan? 

Misalnya nih plafon dari Asuransi X adalah Rp. 15.000.000, padahal biaya perawatan sampai sembuh di rumah sakit adalah RP. 20.000.000. Nah, selisih dari covarage yang  Rp. 5.000.000 itu bakal ditanggung oleh JKN, meskipun kita baru sebulan jadi peserta JKN. Don't worry bulan berikutnya kekurangan yang Rp. 5.000.000 itu ga bakalan ditagih, kok. Kita cuma membayar iuran bulanan aja.

Dari tadi ngobrol ngalor ngidul soal JKN sejauh ini. Terus apa kabar cara daftarnya?
Hehehe... semangat amat sih,  situ nanyanya. Saya jadi ikutan semangat 45 jelasinnya. Buat  terdaftar sebagai peserta JKN cukup siapkan fotokopi KTP, Kartu Keluarga dan Pas Foto ukuruan 3x4 sebanyak 2 lembar. Selain mendaftar di kantor  cabang BPJS terdekat, kita juga bisa mendaftar secara online.  Peserta yang mendaftar secara online bisa mencetak sendiri kartunya yang sudah diproses. Silahkan akses ke  sini atau bisa tanya-tanya dulu ke 500400 dan 500567. Udah cepet sana daftar. Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya, ya.
7 komentar on "JKN, Asuransi Kesehatan Murah Tanpa Plafon Dan Syarat Ribet"
  1. hai mak slm kenal,sy baru mau dftr via online tpi kok ada pilihan faskes 1 sama faskes gigi?mksdnya klo utk gigi faskesnya beda dgn pnyakit lain ya mak?klo "tanpa PPK" mksdnya gmn tuh mak?byk bgt yah pertanyaan'y... smg mak brsedia mnjawab'y,trimksih..:)

    BalasHapus
  2. Halo Mak Aira. Terimakasih sudah mampir ke sini. Jadi gini Mak, untuk gigi selain faskes puskesmas kita bisa memanfaatkan faskes lain yaitu ke dokter gigi untuk mendapatkan pelayanan di tingkat I. Kalau dari daftar dokter gigi yang terdaftar itu ga berminat, ya skip aja alias tanpa PPK. Nantinya bisa kita bisa edit/update lfaksesnya kalau ternyata ada dokter gigi baru yang terdaftar di faskes I. Begitu juga untuk faskes puskesmas kita bisa pindah ke puskesmas lain kalau merasa layanannya ga memuaskan. Asal masih dalam wilayah tempat tinggal kita, ya. Kecuali kalau lagi roaming (di luar kota maksudnya) bisa mendatangi PPK yang ada di kota yang kita kunjungi. Mudah-mudahan penjelasannya ga bikin pusing, ya :)

    BalasHapus
  3. ooohhhhh.....
    Terimakasih Bu Efi.. jadi ga perlu ikut sebagai Agen P********** dan peserta nasabah P*********** lagi donk, ya??? :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekalian mau tanya juga.. kalau untuk Ibu yang sudah hamil 8 bulan, terus baru daftar jadi peserta BPJS/JKN apakah kalau melahirkan akan dibiayai pemerintah juga??
      Terimakasih, Bu Efi .........

      Hapus
    2. Hehehe.... Kalau mau ganda pegang asuransi komersil dan JKN boleh aja kok Pak Djosie :). Begitu kartu JKN selesai diproses, langsung bisa dipakai, kok, termasuk untuk persalinan. Ga ada ketentuan harus dipakai dari hamil 1 bulan atau semacamnya.
      O, ya pastikan juga kelas yang dipake untuk semua anggota keluarga yang dipakai kelasnya sama. Misal ambil kategori kelas 2, semuanya harus kelas 2. SIlahkan buka di websitenya BPJS, di sana bisa ngecek rumah bersalin yang bekerja sama dengan BPJS. RS Santosa, salah satunya termasuk yang sudah menerima kartu JKN.

      Hapus
  4. Wajib ya, Ka.
    Saya coba tanya2 pada tetangga dolo, ya. Kali saja mereka sudah ada yang buat di sini. :D

    Informatif postnya. Like it!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Idah. Harus ikutan. Silahkan cari informasi sebanyak-banyaknya. Thanks sudah mampir ke sini, ya.

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.