Top Social

Bring world into Words

Ruang Kosong, Menanti Sebuah Jawaban

Jumat, 25 Juli 2014
Sekitar 1-2  bulan lalu, saya sempat membaca share post di FBnya Teh Ifa Avianty. Duh, sayang, saya  lupa mencatat link pemilik blognya yang dishare itu. Nanti saya coba tanya teteh salah penulis  yang saya suka itu, ah.

Jadi gini ceritanya, di posting blognya itu, penulisnya cerita pengalamannya soal beres-beres rumah. Intinya,  kita harus merelakan ruang kita kosong untuk menerima input baru. Input baru berupa rejeki Bisa kecil, atau besar. Pokokya pasti ada kejutan, cepat atau lambat, begitu katanya.

 Jadilah waktu itu saya beresin isi dompet yang ga penting. Iya, beneran ga penting. Seperti struk belanjaan, struk atm, kartu atm  yang udah ga berlaku (hihihi bukan belagu, suer deh), tapi kelamaan ngendon, padahal tabungannya udah ga aktif lagi dan sampah-sampah remeh temeh lainnya. Lalu ngapain juga dipiara, ya? Eh, sampai saat ini saya cuma megang satu rekening, aja. Barangkali teman-temin ada yang mau buatin rekening baru berikut isinya? Hahaha ngarep.
credit

Lanjut!
Jadi  nurutin deh, pesan itu. Kali aja ada rejeki tak terduga. Ada uang nyempil kek atau apa gitu. Maka, selain struk ga penting, atm kadaluarsa,  beresin kolong ranjang, ceceran kertas coret-coret yang tidak terpakai, ditambah charger rusak, wadah kosmetik yang sudah basi, bungkus camilan, kaos kaki melar saya keluarin juga  tuh. Lanjut dengan ngudek-ngudek isi tas, isi saku celana. Cuma nemu beberapa receh aja hehehe. Sementara barang-barang 'rongsokan' lain yang berhasil terkumpul ada banyak ternyata! Ada 2 atau 3 keresek besar.

Eh tapi,  masih gatel.  Keingetan ada beberapa barang bekas yang sudah tidak terpakai dan tercecer di luar kamar. Berhasil menemukan charger BB jadul yang rusak, jelas dong tidak terpakai. Sambil merhatiin, saya nyomot juga charger bekas lain yang tampak rusak. Ya, sekalian ceritanya. Eh belakangan, baru nyadar ada charger HP punya adik yang kebawa dan masih layak colok (halah). Akhirnya saya harus rela buat nombokin.

Satu hari, seminggu, sebulan saya belum menemukan tanda-tanda keajaiban something atau many things yang mengisi kekosongan itu. Sampe-sampe lupa.

Kemudian...
 Rabu kemarin saya denger suara penjaja jasa timbang badan. FYI, bapak penjual jasa ini sudah terlihat sepuh. Kulitnya hitam legam, mungkin terbakar karena seharian berjalan menawarkan jasanya. Seingat saya, sejak saya bocah bapak ini berusaha dengan jasa yang sama. Mencoba untuk  berperasangka baik aja, mungkin dia tidak punya skill lain, atau tidak punya modal. 

Sambil menjualkan jasanya itu, dulu  dia juga membawa setumpuk buku TTS. Iya, waktu saya SD  yang namanya buku TTS itu salah satu hobi yang sempat happening, apalagi pas bulan puasa.  Cara ngabuburit yang jadi pillihan. Waktu itu, bapak ini jalannya terpincang-pincang, entah kecelakaan atau polio,entah...

Saat ini bapak tukang timbang badan masih menawarkan jasa yang sama. Ditambah dengan jasa mengukur tensi darah dan  pemantik api itu. Ada yang lain, ternyata beberapa tahun terakhir ini, setelah lama menghilang dia muncul lagi. Kali ini kedua kakinya nyaris lumpuh (CMIIW). Dia harus berjalan sambil ditopang 2 kruk dan menyandang tas ransel  usang berisi barang yang dijajakannya itu (tentu saja berikut timbangan badan, pemantik api dan pengukur tensinya itu). Kebanyang, kan gimana beratnya? Saya pernah memanggilnya, sekadar menolong memberinya tambahan penghasilan. Entah berapa rupiah yang berhasil dikumpulkannya. Belum tentu orang mau nimbang badan setiap hari. Makanya, tidak setiap hari juga dia lewat  ke komplek saya. Setidaknya dia cuma lewat sebulan sekali.

Saya sempat nanya di mana beliau tinggal. Sambil tersenyum, dengan giginya yang nyaris habis bapak sepuh ini bilang dia tinggal di daerah Rajawali, masih di Bandung juga.  "Bapak ke sini jalan kaki?" tanya saya.

Kali ini dia menggeleng. "Saya naik angkot baru turun di tempat tertentu buat ngider (keliling) neng." 

"Sabarahaeun ? (berapa) Pak?" tanya saya lagi.

"Seridonya aja," jawabnya pasrah.

Duh, saya sedih mendengarnya. Gegas saya kembali ke dalam rumah dan memberinya sedikit lebih. "Semoga laris, ya, pak!" 

Bapak itu mengangguk, lalu berpamitan. Berjalan dengan ditopang dua kruk sampai menghilang di ujung gang. Saya masih bengong, mikir keras, sampai kapan dia harus bekerja keras seperti itu? 

Lalu, Rabu kemarin bapak ini lewat lagi. Padahal saya punya timbangan badan, eh tapi bulan Ramadan ini saya pengin nyenengin dia, sedikitnya ngasih sesuatu yang bisa membuat senyumnya mengembang. Sekadar menambah buat berbuka puasa. Takut  keburu menghilang, saya membuka pintu balkon dan memanggilnya sebelum turun dari kamar. Sementara  bapak ini menunggu di luar. 

Hei, meski puasa, berat badan saya cuma turun sekilo aja ternyata. Emang sih, ga pernah turun drastis setiap Ramadan.  Habis itu. saya memberinya uang sedikit lebih. Berharap  beliau sudah punya banyak uang biar ga mesti berkeliling sampai sore.

"Bapak ga mudik?" saya basa-basi.

Bapak ini menggeleng, "Enggak neng. Di Bandung aja."

"Nih uangnya, pak. Ambil aja kembaliannya," saya mengangsurkan sejumlah uang.

Sesaat terdengar ucapan syukur sebelum pamit lalu berkeliling lagi dengan kruknya. Dengan tubuh ringkih nya, dengan ransel yang bergelayut di punggungnya. Beban yang jadi sandaran hidupnya mengumpulkan receh demi receh.

Duh, pak. Semoga selalu ada rejeki buatmu, lirih saya.

Saya kembali ke kamar dan asik lagi melanjutkan ngetik. Sampai kemudian baris pesan di sisi kanan laman FB mem-pop up satu pesan  masuk yang diawali protes. "Kok ga direply?"
Saya  membalas dengan emoticon nyengir, "Maaf, hehehe."

Setelah scroll ke atas, saya baru ngeh, kalau ternyata rekening saya nambah. Alhamdulillah. Dibayar tunai sama Allah. Saya percaya itu, meski sebelumnya saya ga kepikiran balasan seperti apa yang bakal disiapkan Allah.

Lalu sore ini, saya diinbox lagi. Seorang teman, pemilik beberapa toko online menginbox saya. Basa basi sedikit, intinya saya diminta lagi  buat menulis lagi artikel di blognya.  Malah sekarang saya dikasih password blog dan diminta mengisi langsung artikel di situ dengan honor yang naik dua kali dari sebelumnya. Wow! Masya Allah! Bukan suatu hal yang gampang memberikan password akun kita pada orang lain, kan? Sebelumnya saya cuma ngirim artikel yang dimintanya, lewat email. Berikutnya teman saya ini yang upload sendiri artikel yang saya kirim.

Jangan ditanya berapa nominal yang kami sepakati. Nyadar diri, saya belum segape dan secihuy penulis artikel yang mengisi media online besar. Pokoknya lumayan deh, hehehe.... Mudah-mudahan jadi jalan pembuka buat mendapat job lainn dengan nominal yang lebih besar.

Eh sebentar, jalan pembuka? Saya baru inget setelah beberapa waktu lalu saya mraktekin untuk menyisihkan barang-barang yang rusak dan tidak dipake lagi. Mungkin apa yang didapatkan  baru-baru ini adalah jawaban yang  ditunggu dan nyaris terlupa. Semoga ruang yang saya bereskan masih bisa menampung  isian baru dari Allah. 

Sambil menutup posting ini, saya teringat lagi bapak sepuh itu, dan para penjaja dangangan yang sudah menua, tapi masih harus berjuang keras mengais rejeki. Semoga  mereka selalu punya rejekinya.



4 komentar on " Ruang Kosong, Menanti Sebuah Jawaban"
  1. Bapak penjual jasa itu baru mendapat rejeki yang tidak diduga-duga, begitu jg mbak efi. Memang rejeki datangnya dr arah yg tak terduga ya mbak..slm dr Malang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam juga :) Makasih suda berkunjung

      Hapus
  2. Hehehe, ternyata sama suka menimbun struk/bon belanjaan, ATM. Apa hobby mayoritas perempuan ya suka nimbun :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain cuma aku aja yang doyan miara struk gitu hihihi

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.