Top Social

Bring world into Words

Resensi Buku: The Vanilla Heart

Kamis, 10 April 2014



Judul              : The Vanilla Heart
Penulis            : Indah Hanaco
Penerbit         : Bentang, Juni 2013
Tebal              : 258 halaman
ISBN               : 978-602-7888-47-0




Kalau anda penggemar es krim, pasti familiar dengan varian Vanilla, salah satu varian yang saya suka, termasuk untuk minuman instant keluaran sebah brand yang terkenal itu. Karakter khas dari Vanilla ini juga yang melumerkan dua orang – Hugo dan Dominique – yang tidak sengaja bertemu dalam sebuah insiden dan jadi awal cerita di antara mereka berdua yang akhirnya bertemu lagi  5 tahun kemudian.
Resensi The Vanilla Heart
The Vanilla Heart


Indah Hanaco memulai cerita ini dengan cerita Hugo yang baru saja putus dari Farah, gadis yang dicintainya sejak di bangku SMP. Kesal dengan sikap Farah yang belum siap terikat dalam pertunangan bukan saja membuat Hugo pergi dari rumah Farah dan  mengabaikan  kedua orang tuanya, Hugo juga  memutuskan Farah dan memutar tujuan bangku kuliahnya. Hugo memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Bristol, Inggris, alih-alih ke Melbourne, kota yang jadi tujuan semula mereka berdua.

Dalam perjalanan menuju pulang itulah, Hugo yang ceroboh nyaris menabrak Kyoko, sahabat Dominique. Dominique yang geram memaksanya keluar dari mobil dan mendampratnya habis-habisan.

Gugup menghadapi gadis yang galak meski sebenarnya cantik denga sorot matanya yang memesona  seperti Dominique membuat Hugo berulah konyol dengan kata-katanya seperti ini: “Dominique,” apakah kamu mau menikah denganku?”

Bisa ditebak, reaksi Dominique  menjawab ucapan Hugo dengan sebuah tendangan dan melengos pergi begitu saja. Setelah kejadian itu, Hugo tidak bisa melupakan sepenuhnya sosok Dominique meski menghabiskan kuliahnya selama 5 tahun di Bristol, Inggris. Di Inggris inilah, Hugo berkenalan dengan salah seorang teman kosnya, Garvin, mahasiswa asal London yang mengambil jurusan Computer Science. Gara-gara Garvin, Hugo jadi kecanduan aroma Vanila, dan terus terbawa sampai kembali ke Indonesia.

Kembali ke Indonesia dan bekerja di Perusahaan milik orang tuanya, Hugo bertemu lagi dengan Dominique yang menjadi karyawannya.  Bukan cuma Hugo, Dominique juga masih ingat raut wajah Hugo dan tindakan spontanitas Domi yang menendangnya kembali, panggilan Hogo untuk Dominique yang menendang atasannya itu menjadi awal kelanjutan cerita mereka berdua.

Sementara Hugo terjebak dalam usahanya melepaskan diri dari kejaran Farah yang ingin balik lagi dan pesona Dominique yang semakin menguat. Lalu ada  curhat Twinkle di acara radio, Vanilla for Life juga membuatnya penasaran. Hugo yang simpati dengan patah hati mendera gadis itu merasa penasaran dan berharap bia menemukan gadis yang curhatnya sering mengudara setiap akhir pekan itu.

Awalnya saat membaca novel ini saya merasa jenuh karena alurnya berjalan terasa pelan, ditambah lagi dengan pilihan katanya terasa kaku, kurang lincah. Saya merasa seperti membaca novel lawas yang cenderung formal. Bahkan dialog yang tercipta di antara Dominique dengan Hugo pun masih terasa kagok, padahal karakter keduanya berada dalam rentang usia 25-an.

Perlahan seperti es krim yang lumer, saya mulai menemukan suasana yang lebih cair saat memasuki paruh kedua dari novel ini. Dominique dan Hugo lebih intens bersama dan memancing kecemburuan Farah. Apalagi ternyata keduanya mempunyai hobi yang sama terhadap es krim vanila.

 Dominique yang sebenarnya patah hati karena mantan kakak kelasnya menyukai Ingrid, sahabatnya belum sepenuh hati siap dengan kehadiran orang lain.Hugo bukan hanya harus berjuang menundukkan Dominique, gadis keras kepala yang juga punya nama belakang Vanila, tapi juga turut campur ibunda yang ingin meraih kembali Farah  dan rasa penasarannya dengan gadis misterius yang menyamar sebagai twinkle.

Di setiap awal bab novel ini dibuka dengan petikan ‘dialog’  yang jadi quote pembuka.  Salah satu quote yang saya suka ada di halaman 187:  “Kenapa manusia mesti membuang waktu untuk menangisi sesuatu yang tidak bisa berubah? Berduka pun ada ada kadaluarsanya.”

Menurut saya sih,  quote yang juga disisipkan di setiap akhir bab yang berhubungan dengan sifat khas vanila tidak perlu lagi diimbuhkan. Well, ini cuma pendapat pribadi, saja, sih. Filosofi dari vanila sebenarnya sudah cukup tergambarkan dalam jalinan cerita. Saya malah harus membaca berulang-ulang setiap quote  yang disisipkan di setiap  bab. 

Secara keseluruhan, saya kasih apresiasi  buat Indah Hanaco yang sukses membuat saya jatuh cinta dengan karakter Dominique yang cuek,  keras,  pembantah namun sebenarnya punya hati yang lembut.

Apa yang membuat Dominique akhirnya mau makan siang bersama dengan Hugo, ya? Terus nih,  bagaimana sikap Farah yang melihat kedekatan mantan kekasihnya dengan seorang karyawan yang cueknya minta ampun, ini? Kira-kira, Hugo akan memillih siapa, ya? Apakah tunduk dengan keinginan sang ibu yang juga jadi otak di belakang kesuksesan kerajaan bisnis keluarganya, atau  Dominique yang tidak pernah risih membentak Hugo di depan atasan atau menuntaskan rasa penasarannya dengan gadis bernama Twinkle?

As always, no spoil, ya. Mangga, dibaca saja novelnya. Pastinya bakalan ada sudut pandang yang berbeda setelah membaca novel ini. Jangan lupa, siapkan Vanilla Late atau Es krim Vanilla untuk menemani me-time anda dengan novel genre young adult ini. Seperti yang jadi tagline novel ini: “Karena kejujuran rasa adalah segalanya.”



2 komentar on "Resensi Buku: The Vanilla Heart"
  1. Walau saya tak suka sama sekali dengan Vanila, tentunya akan senang bila bisa membaca buku Mb Indah Hanaco ini. Resensinya bikin penasaran euyyy...

    BalasHapus
  2. always love vanilla flavour...

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.