Top Social

Bring world into Words

Boneka Flanel

Jumat, 04 April 2014

“Paketnya belum sampai,” satu baris pesan  baru  Whatsapp berdenyar di layar ponselku. Aku mendengus sebal, satu nama yang biasanya dulu aku rindukan. Dulu, tapi tidak lagi.

“Tunggu saja, mungkin  tertahan di kantor kurir,” balasku pendek. 

“Tapi  ini sudah sebulan, biasanya kalau ada kiriman paket, sampai lho ke rumahku,” sambungnya. Ngeyel betul.
Aku menghela nafas panjang. Gemas dan kesal sedang riuh memenuhi ruang hatiku.  Rasanya kalau gadis manis dihadapanku ini ada di handapan sudah kusemprot habis-habisan. Aku berusaha menekan emosi, hingga akhirnya ku ketik, “Aku sedang sibuk, Nes! Tolong jangan ganggu aku.”

Lalu hening, tidak ada lagi nada pesan baru.

Gambarnya dari sini

    Aku melanjutkan pekerjaanku, mengambil  boneka flanel pesanan pelangganku. Boneka flanel yang ku buat berbeda dengan kebanyakan toko lain. Aku membuat karikatur berdasarkan foto dan ternyata sukses meledak di pasaran.  Aku kewalahan memenuhi orderan sampai memaksaku kerap terjaga hingga dini hari.

Karakter yang aku unggah di akun facebook adalah karakter wajah mirip Shirley Temple milik Agnes, gadis yang sudah lama aku taksir sejak SMA. Setelah lulus kami terpisah dan bertemu lagi di FB. Ya Tuhan, dia semakin cantik dan lucu saja. Rambutnya yang panjang dan ikal semakin membuatku jatuh cinta.

Aku dan Agnes akhirnya bertukar nomor HP dua tahun yang lalu. Obrolan panjang sore hari setelah Agnes pulang kuliah selalu mengisi hari-hariku. Bahkan kebiasaan baru memegang HP dengan kabel mengular mengisi daya batre jadi kebiasaan baru yang sering diprotes Mama.

“Jangan dibiasakan menggunakan HP saat dicharge.”

Aku tersenyum menanggapi teguran Mama. Andai Mama tahu betapa bawelnya Agnes kalau semenit saja aku mengabaikan pesannya. Aku sendiri merasa sayang mengacuhkannya lama-lama. Agnes yang lucu, kenesnya yang tidak hilang seolah memberi sinyal membuka pintu hatinya untukku. Sampai akhirnya ketika aku iseng mencoret-coret di kertas membuat karikatur wajah Agnes dari DP profil Whatsappnya, terbersit untuk membuatnya lebih real dalam bentuk boneka flanel.  Saat mengunggahnya di facebook ternyata teman-teman  SMA dan kuliah ramai-ramai memesan. Boneka flanelku laris. 

Sebagai pemilik profil, Agnes  memintaku untuk mengirimkan boneka yang sama. Aku tidak keberatan, dan akhirnya aku membuat dua. Satu untukku sebagai teman tidur dan satu untuknya. 

Hingga sampai ketika aku  terpana melihat DP baru Agnes, foto selfie berdua dengan seorang cowok yang jadi DP Whatsappnya memantik rasa kesalku. Agnes begitu mesra berpose dengan Dio, cowok yang pernah mengejarnya saat SMA dulu.

“Kamu ngapain sama Dio?” tanyaku tanpa bisa menahan penasaran saat menelponnya
.
“Aku jadian,”  Agnes tertawa renyah.

Hah? Lalu selama beberapa bulan terakhir ini harapan macam apa yang dia lambungkan di dadaku? Aku kegeeran? Tapi perhatiaan Agnes untuk mengingatkan aku untuk hal sepele seperti sarapan dan sederet kata mesra sudah lebih dari cukup membuatku geer.

“Maafkan Aku,  tapi tidak mungkin aku melanjutkan hubungan kita lagi. Aku tidak mau menentang kodrat. Aku ingin hidup normal,” ujarnya. Pantas saja, sebulan sebelumnya intensitas komunikasi kami mengendur. Kupikir Agnes sibuk dengan kuliahnya. Ternyata...

Aku meremas kertas kado di tanganku. Boneka flanel Agnes yang belum pernah kukirimkan itu kuambil.  Dua boneka yang sama masih berjajar berdampingan di atas dipanku. Tapi tidak dengan hati kami.

Sudah tidak ada cinta lagi di antara kami. Agnes memilih  menjalin hubungan dengan seorang pria sejati, bukan aku.

Aku mengambil gunting dan merusak kedua boneka itu. Agnes mengkhianatiku.

10 komentar on "Boneka Flanel "
  1. aaah cerita lesbi yaaa? :D keren FF nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ujug-ujug aja nih dapet ide ceritanya, sayan kalau ga buru-buru ditulisin :)

      Hapus
  2. kereeeennn banget ceritanya....

    BalasHapus
  3. huaaaa cinta terlaraaanngg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo di jalan ada rambu-rambu S coret, di sini harusnya ada heart coret, ya :P

      Hapus
  4. Wuah ternyata lesbi
    Bagus FF nya

    BalasHapus
  5. Tepat!
    baca bagian atas sampai kuulang 2 Kali, sebenernya cowok apa cewek sih tp kok bisa bikin boneka. eh lha dalah ternyata lesbong toh hihi
    Keren mbak endingnya.. pke banget.. ;)

    BalasHapus
  6. Hihihi cerpen tho, cinta terlarang pula #ketipu hihihi, keren Mak

    BalasHapus
  7. Awal baca aku pikir ini bukan cerpen :p hihi..
    Bisaan euy si emak bikin cerita gini :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.