Top Social

Bring world into Words

Pahlawan Di Sekitar Saya

Minggu, 30 Maret 2014

Maghrib itu entah kenapa perut saya terasa sakit. Awalnya saya cuma mengira gejala normal siklus bulanan. Tapi, kok ya, rasanya luar biasa banget. Tidak seperti biasanya kalau sedang menstruasi, saya woles aja, tidak ada keluhan.  Maka, materi bahasa Inggris yang saya ikuti di tempat les tidak  bisa saya cerna dengan baik seperti biasanya.  Rasa sakit itu semakin hebat sampai ketika salat pun saya terbungkuk-bungkuk melakukannya, meski begitu saya memaksakan untuk terus berdiri. Lupa, kalau dalam keadaan seperti itu saya punya dispensasi melakukannya sambil duduk.
Sumber gambar dari sini

Selesai les, saya terpaksa pulang sendirian, tidak seperti biasanya karena teman saya yang selalu saya panggil Teh Imas dijemput temannya.  

“Kamu yakin, ga apa-apa? Boncengan ama kita, gimana?”

Saya menggeleng. Dengan jalur jalan Kerkof Cimahi sampai ke rumah saya yang tidak semuanya mulus. Rasa sakit di perut sepertinya akan semakin menyentak. Lagi pula berdesak-desakan di motor bertiga, dengan keadaan sakit seperti itu tidak nyaman juga. 

“Ya sudah, hati-hati dijalan ya,” Teh Imas mewanti-wanti.



Entah cobaan apa lagi, angkot yang biasanya bersiweran di jalan jadi sulit saya temui. Dalam 3 angkot yang semuanya saya dapatkan dengan susah payah, ternyata  dalam keadaan kosong. Setidaknya saya lebih nyaman duduk berselonjor tanpa merasa risih dengan penumpang lain. Sambil menahan nyeri, saya berdoa semoga pak sopir memacu mobilnya lebih cepat namun tetap halus.  Angkot yang saya tumpangi akhirnya tiba juga, tapi saya sudah tidak kuat lagi berjalan.  Tanpa banyak tawar menawar lagi saya memanggil abang becak. Rasa sakit yang melilit perut saya semakin luar biasa. Hingga saya sampai di rumah dan terkapar di kamar, sambil menjerit memanggil orang-orang rumah. Siapa saja yang saya sebut, sekenanya karena tidak tahan lagi.  Saya tidak berani menanggil Mamah yang sedang menghadapi murid-muridnya yang sedang les.

Untunglah ada dua adik saya Dian dan Hasnah yang sedang santai. Gegas kedua adik saya memberikan saya norit dan madu. Tapi semuanya mental, saya malah muntah yang bercampur lendir kehijauan. Ih, apaan ini? Saya tidak berani berspekulasi jauh. Cuma keluhan panjang, tidak seperti biasanya saya yang dicap flat ini bisa menyerah dan cengeng.  Warm sack yang ditaruh di atas perut tidak juga berefek. Saya terus muntah-muntah mengotori baju, selimut dan sprei.

Besok paginya tidak juga ada pengaruh, kondisi saya yang semakin  buruk.  Tadinya saya pikir kena masuk angin.  Terapis bekam langganan coba saya hubungi. Biasanya kalau masuk angin sudah hebat begini saya menyelesaikannya dengan bekam, dan berhasil. Tapi sampai sore itu, ternyata terapisnya juga sibuk kewalahan dengan pasien-pasiennya yang membludak.

Dian yang pernah dirawat di rumah sakit, karena gangguan liver mulai curiga.  “Ini sih bukan masuk angin biasa, kamu harus dibawa ke UGD, deh. Aku siapin baju kamu, ya?”

“Hah, buat apa?” tanya saya dengan suara lemah.

“Feelingku kamu kudu dirawat nih.”

Deg! Dirawat?  Bahkan seingat saya terakhir kali disuntik itu sewaktu SD, itu pun buat vaksin saja. Lalu terbayang suasana rumah sakit yang saya benci. Aroma obat, kain putih, selang dan ah.....
Tapi rasa sakit itu semakin hebat. Akhirnya saya menyerah, dan menyanggupi. Dian juga yang meyakinkan kedua orang tua saya, kalau sakit saya bukan sakit biasa. “Bahaya Mah, Pa kalau di biarkan.”

Sore hari setelah ashar,  Mamah dan Apa pulang lebih awal. Sambil didampingi adik saya Dian, saya dibawa ke UGD. Dan baru kali itu saya harus duduk di kursi roda menuju UGD. Sepertinya sakit yang saya alami saat itu memang serius sekali.

Dokter jaga dan perawat gegas memeriksa saya.  Tidak lama berselang,  seorang dokter spesialis menghampiri saya. Usianya saya taksir menjelang kepala 6 tapi masih sehat dan tegap. Dr James, dengan tenang menyapa saya dan menyampaikan prediksinya. Saya sadar kalau prediksinya bukan asal-asalan, pastilah dengan jam terbangnya yang mumpuni beliau sudah punya gambaran. Meski begitu dia tetap dengan hati-hati menyampaikannya.

 “Mudah-mudahan bukan kista, ya.”

Hah? Kista?  Tapi saya tidak pernah sakit kalau lagi mens, protes saya dalam hati. Selang infus dan selang NGT yang masuk ke tubuh melalui hidung saya sudah cukup meyakinkan saya kalau saya harus nginep. Itu pengalaman saya pertama kali menginap di rumah sakit sebagai pasien. Saya cuma bisa pasrah aja.

Sementara Mamah pulang duluan, Dian, adik saya masih stand by menemani saya.  Dengan gaya kenesnya, masih bisa mengajak saya bercanda. Saya harus menahan tertawa karena sedikit saja tubuh saya berguncang, perut saya semakin terasa sakit, dan rasanya sangat tidak nyaman, sakit sekali.

Tidak perlu menunggu lama, akhirnya diagnosanya keluar. Betul saja, ada kista bersemayam di perut saya. Bukan hanya ukurannya yang be sar tapi juga sudah pecah dan rembes ke usus. Pantas saja kalau muntah sampai bercampur lendir. Tidak ada pilihan lain, saya harus mau dioperasi untuk mengeluarkan kista berdiameter 10 cm yang tidak pernah saya sadari kemunculannya itu plus membersihkan usus yang sudah tidak karuan karena terkontaminasi.

Saya membiarkan ibu saya menandatangani pernyataan keluarga untuk dioperasi. Dua hari menjelang operasi itu, dua adik saya bergantian menunggui saya. Mewaslapi sampai menemani ke toilet untuk buang air. Mamah tidak bisa sepenuhnya mendampingi saya karena tugas mengajarnya tidak bisa ditinggalkan. Jadi selama 2 x24 jam itu dua adik saya Dian dan Hasnah yang sedang sibuk dengan skripsi bergantian menemani. Bahkan Hasnah sampai membawa laptop saat menginap. Sementara sahabat saya Dadi, di Sekolah (waktu itu saya masih bekerja sebagai staf tata usaha di sebuah SD) sudah saya hubungi dan memintanya untuk menyampaikan berita saya tidak masuk kerja entah untuk berapa hari.

Jumat siang, lepas jumatan akhirnya saya naik meja operasi dan baru kembali ke kamar setelah Isya. Giliran Mamah yang menemani saya malam itu dan saya baru kembali sadar sepenuhnya saat  jam menunjukkan jam 11 malam.

Besok harinya, setelah Mamah pulang Hasnah kembali datang, menemani seharian penuh bahkan kembali menginap.  Biasanya kalau sudah terlelap, susah sekali membangunkan adik saya yang satu ini, tapi saat malam hari ingin ke toilet, begitu mudahnya Hasnah terbangun, membantu saya berjalan ke toilet sambil menyeret tiang  infus yang masih terpasang. Saat saya bosan, Hasnah menemani saya menikmati healing garden yang terletak di lantai 4 rumah sakit.
Sumber gambar dari sini

Cukup seminggu saya menginap di rumah sakit. Namun kondisinya  belum sepenuhnya pulih karena luka operasi yang memanjang membuat saya tidak leluasa bergerak, untuk tidur pun saya hanya bisa terbaring, tidak  bisa miring ke kanan atau ke kiri seperti biasanya. Bahkan untuk beringsut sedikit pun, harus pelan sekali bergerak.

Karena perut saya yang masih tidak nyaman  ditambah harus makan yang lunak-lunak, saya harus makan bubur dan lauknya yang lembut. Lagi-lagi Hasnah yang jadi koki buat saya. Terkadang saya protes karena rasanya hambar atau tidak enak. Makanan macam apa pula yang enak buat orang yang sedang sakit, ya? Enggak ada,  dijamin, deh.  Syukurlah Hasnah tidak meladeni protes saya yang mendadak rewel. 

Maka untuk waslap, mengganti perban, makan pagi sampai makan malam, saya tergantung dengan adik saya, Hasnah. Pernah sekali waktu Hasnah membuatkan tim kentang, lumayan enak meskipun perut saya tidak bisa banyak menampung makanan. Rasanya cepat penuh, mungkin pengaruh operasi juga.

Sekitar seminggu setelah kembali ke rumah saya harus rawat jalan, karena masih tidak kuat berjalan saya ditemani Hasnah.  Sampai akhirnya selama 3 minggu cuti dari pekerjaan dan bolak balik ke rumah sakit untuk kontrol ada banyak peran Hasnah mendampingi.  

Sudah lebih mendingan, akhirnya saya kembali ke Sekolah. Tadinya saya pikir akan ada banyak PR bertumpuk setelah saya tinggalkan, tapi ternyata masih ada satu pahlawan buat saya. Dadi yang terbiasa bekerja dengn komputer banyak membantu saya menyelesaikan pekerjaan.  Entah kalau tidak ada adik-adik saya dan sahabat saya, Dadi. Sepertinya, lepas cuti dari masa perawatan saya akan kewalahan.  

Alhamdulillah, Allah maha baik. Setelah harus bertarung hidup mati di meja operasi,  masih ada pahlawan di sekitar saya yang jadi penolong saya. Sampai detik ini, saya tidak pernah menyangka bisa melalui semuanya.  Terimakasih banyak buat kalian semua.

Tulisan ini disertakan untuk ajang  Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami

17 komentar on "Pahlawan Di Sekitar Saya"
  1. jadi yang namanya sosok patriot itu gak hanya seorang saja ya mak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bener bingit. Kadang dalam keadaan tertentu, selalu aja ada pertolongan yg ga disangka, ya.

      Hapus
  2. alhamdulillah yaaaa.... dikala kepepet ada saja ya patriot dari tuhan hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, pertolongan Allah itu deket banget, ya

      Hapus
  3. begitulah gunanya keluarga ya mak...alhamdulillah opersinya sukses :)

    BalasHapus
  4. Alhamdullillah ternyata banyak dapet pertolongan ya mak disaat seperti ini.. :)
    Semoga lekas membaik ya mak! ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini saya alami akhir tahun 2012 kok, mak. :) anyway makasih sudah berkunjung

      Hapus
  5. Hatur nuhun teteh Efi sudah turut menyemarakkan Tasyakuran Sang Patriot

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih udah dikunjungi, mas :D

      Hapus
  6. semoga sehat selalu ya teh Efi, biar perjuangan para patriot yg membantu teh efi itu nggak sia-sia :)

    BalasHapus
  7. Adik-adik yang baik memang harta dan patriot yang tak ternilai. Semoga selalu sehat, Mak Efi. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, punya adik banyak dan kompak itu sesuatu banget.

      Hapus
  8. senangnya punya adik-adik yang perhatian ya, mak..
    Aku sampe meringis baca cerita tentang kista berdiameter 10cm itu.Padahal tanpa ada keluhan sebelumnya. Jadi ngeriii..
    Semoga dirimu sehat selalu ya,mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak, aku ga nyadar, ga ada keluhan sakit atau benjolan di perut misalnya. Thanks doanya, ya, mak. Aamiin :)

      Hapus
  9. Saya juga takut dengan jarum suntik :)

    Wew, terharu. Pesan yang dibawa oleh tulisan ini, ada banyak orang baik di sekitar kita.

    Terima kasih telah turut menyemarakkan Syukuran di Bulan Maret. Salam hangat dari Jember.

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.