Top Social

Bring world into Words

Perjanjian Yang Kuat, A Single Note

Rabu, 08 Januari 2014
"Kapan sih aku diundang?"
Kok Kamu belum nikah?"
"Kapan nyusul?"
"Kamu tuh harus membuka diri..."
Kamu sih, pilih-pilih, standar kamu ketinggian..."


Pernah dapat pertanyaan atau pernyataan seperti itu? Dulu saya masih pura-pura budek, norek kata orang sunda kalau dikasih pertanyaan itu. Entah itu sekedar basa-basi, kepo atau bentuk kepedulian seorang teman/saudara.


 Siapa sih yang mau hidup sendiri? Saya juga mau dong ada yang merapalkan baris-baris doa terindah buat saya, Robbighfirlii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo.

Sikap santai saya mulai berubah jadi bete saat orang tua terutama ibu saya mulai rewel soal jodoh dan 'menawarkan' saya pada orang lain yang belum saya tahu juntrungannya. Apa saya sok jual mahal sampai segitu betenya? Dulu saya dikenalkan dengan beberapa orang saya masih bersikap santai untuk menjalaninya meski akhirnya saya masih di sini, masih sendiri. Sampai ketika saya ada di titik kebetean saya. Jauh sekali dari kriteria yang menurut saya tidak seberapa.  Sesulit itu kah mencari dia yang frekuensinya sama?

Usia saya yag dicap rawan  ga lantas bikin saya ngasal. Menikah itu bukan sehari dua hari atau ganti status di KTP. Juga bukan cuma mengikatkan dua anak manusia dan merekatkan dua keluarga besar dalam satu ikatan, tapi karena menikah itu adalah janji di depan Allah, Mitzaqan Ghalizaa. Bahkan godaan yang dikejar setan sebagai kredit tertingi adalah menghasut suami istri menjadi tercerai berai. Naudzubillah...  

Lewat Teman
Saya pernah tuh dikenalin oleh teman, dengan teman sekantornya. Awalnya sms-an dan ternyata kami punya minat yang sama soal bola. Jadi dari situlah hot button-nya mulai menyala. Belum sampai nelpon, dan ga lebay seperti anak-anak SMP-SMA yang pacaran (emang kayak gimana, ya?). 

Lalu, saat bulan puasa, teman saya mengajak saya kopdar, tentu saja bertiga. Kan, kalau berdua ditemani setan. Yang jadi setannya itu teman saya? hahaha... enggaklah. Oke, secara fisik, dia pantas dijuluki Mr Charming. Paling ganteng dari yang pernah saya kenal. Selama ngobrol bertiga di sebuah food court di Bandung itu, teman saya habis-habisan meledek saya. Dengan malu-malu harimau, saya respon sambil tersenyum.

Tapi sepertinya saya bukan tipe yang masuk kriterianya. Entah apa, saya ga mau ambil pusing. Sejak hari itu, si Mr Charming ini tida pernah menghubungi saya lagi, dan saya memutuskan acuh saja. Simple saja, saya punya feeling kuat kalau saya ga match dengan kriterianya. Ah biarlah. 

Sampai ketika suatu hari, beberapa tahun setelah kejadian itu, teman saya yang dulu mau nyomblangin meminta maaf pada saya.

"Sebenernya, dulu aku naksir dia, Fi. Cuma, aku bingung gimana alasan bisa deket sama dia. Maaf ya, aku 'manfaatin' kamu".

Saya cuma bisa menelan ludah.  Ah ngapain juga ngambek, toh sekarang yang jadi suaminya teman saya itu bukan si Mr Charming. Dan kalaupun akhirnya mereka menikah, emang siapa saya? Masa harus mencak-mencak dan jadi musuhan? Ga lah. emang buka jodoh aja.


Taaruf...
Ceritanya waktu itu saya ikut pengajian dan sedang ada program saling membangunkan tahajud lewat miscall. Karena sistemnya masih baru, jadinya sistem koordinasinya masih tercampur laki-laki dan perempuan, atau sebutlah ikhwan dan akhwat. 

Ketika ada acara kopdar/silaturahmi, ibu saya menyuruh saya datang, mewakili ceritanya. FYI, saat itu saya belum terdaftar secara resmi, baru ibu saya yang suka menerima miscall. 
"Kamu wakilin mama ya, sekalian ketemu sama koordinatornya, Mama".

Sebutlah namanya Azzam (kok kayak KCB, ya? :D )Jujur, enggak ada tendensi apa-apa waktu itu. Berangkatlah saya mewakili ibu saya. Selepas shalat dzuhur, saya mendapat sms untuk berkumpul di sebrang masjid, tepat di depan mini market. Kebetulan waktu itu saya ketemu teman baru yang sebenarnya masih satu komplek dengan tempat tinggal saya, jadinya saya punya temen ngobrol sambil nunggu ketemuan itu dan...... akhirnya saya bertemu dengan Azzam dan teman-teman lainnya, tentu saja. 

Besok lusanya saya mulai menerima miscall itu dan rutin bangun dini hari untuk salat tahajud. Sampai beberapa hari kemudian saya di-sms. 

A : Assalamualaikum teh,
E : Waalaikumsalam
... bla... bla...
A : Sudah menikah?
E : Belum
A : Oh begitu. Saya juga belum. Mau ga taaruf sama saya?

*jujur karena waktu itu saya melihat secara fisik dia lumayan manis dan sopan maka saya jawab dengan malu-malu*

E : Boleh :)
Lalu mengalirlah obrolan kami kesana kemari.... 

Kelihatan Belangnya
Sikap saya kadang suka dicap jutek atau galak. Tapi saya suka sebel sama laki-laki yang ngobrol dengan lawan jenis terutama saya yang terkesan mesra atau gombal gitu. Ih, entar dulu kali. Setelah beberapa hari itu, si Azzam ini mulai nyebelin, mulai nyapa saya dengan say, kadang menyebut Mama. (Eh, kang, emang saya nikah sama bapaknya situ, ya?). Dan puncak kesebelan saya adalah saat ngajak ngedate di sebuah rumah makan yang katanya romantis. Ih, apaan sih?  Kalo berani, sini ke rumah! Satu lagi yang bikin saya keluar tanduknya adalah saat dia mengirim sms, isiya minta saya yang nelpon dia.

"Lagi bokek nih, mah. Ga punya pulsa..."

*Hening*

Saya ga meluluskan permintaannya. Jangan-jangan kalau saya jabanin ajakannya nanti pas dinner (iya betul dia ngaja dinner) saya yang harus bayar. Hehehe... bukan itungan lho.  Saya-nya aja yang keburu bete kali ya, approach atau pedekate yang ga smooth dan yang jelas ga gentle.  Beberapa hari kemudian, saat pengajian saya bertemu lagi dengan dia. Agak canggung dan ngobrol seperlunya. Kejadian konyol yang saya ingat adalah saat si Azzam ini mengenalkan dirinya di depan forum dan (buat saya) seperti jual pesona.Saya sempet tuh mencibir (tentu saja ga ekspresif), merasa ada yang ga sinkron antara ucapannya dan sikapnya pada saya. Bukan jealous, suer deh. 


Datang Ke Rumah
Pernah juga sih ada yang datang ke rumah. 1-2 orang. Ujungnya sama saja, ga berlanjut. Kalau yang ini alasan kuat saya menolaknya adalah salatnya masih belang-belang dan perokok berat. Maaf sekali, kalau soal ini top 2 yag ga bisa ditawar lagi.

Almost Get Married
Nyaris saja saya menemukan pelabuhan terakhir. Sebutlah namanya  A. Bertemu dengan seseorang dari lingkungan yang agamis, tidak merokok pula. Meskipun secara ekonomi biasa saja. Saya pikir, kalau sudah rejeki ga kan ke mana. Entah utopis atau tidak, tapi saya merasa klik aja waktu itu. Ke-klik-an yang jarang saya dapatkan. Soal fisik, saya tidak ambil pusing, cincai lah. 

Saat itu, kesalahan terbesar saya adalah tidak memintanya datang ke rumah. Ya, meski bertemu 1-2 kali di luar, saya mengorbankan seorang teman untuk jadi kambing conge eh bukan ding, jadi semacam mediator. Entahlah, saya masih rancu soal mediator ini, satu sisi orang tua adalah pemegang wewenang tertinggi soal ya atau tidak, kan? Karena sesungguhnya mereka itu pencemburu berat, makanya wajar saja kalau kita dekat dengan seseorang itu skala 'kekepoan'nya meningkat tajam.  Tapi sebelah hati saya yang lain, smasih pengin ngulik sisi lain dia ini, apa yang bisa diyakinkan pada orang tua soal dia.

Dan..... mimpi  menggenapkan setengah agama itu buyar lagi. Saya tidak menyadari ada celah lain yang menyebabkan dia mundur. Mama yang akhirnya tahu soal ini marah besar dan membuat saya semakin terpojok. Dia mulai menghilang tanpa kabar, saya jadi diam-diaman atau tepatnya dimarahi Mama. Sebenarnya saya masih menyimpan nomer telepon, tapi sms  saja diacuhkan. Buat menelpon saya jadi jeri setelah membaca smsnya yang mengulur-ngulur waktu. Baiklah, setelah sebulan kemudian, saya tidak mau larut dalam kegalauan, saya memutuskan untuk menyudahi taaruf itu lewat email dengan redaksi yang lebih panjang, lalu menghapus nomer dari daftar nomor kontak di hp bahkan meremovenya dari FB. Itupun atas saran teman saya, yang ikutan gemes setalah saya curhat. 

Singkat cerita, saya bersyukur tidak jadi menikah dengannya. Beberapa waktu yang lalu kami bertemu secara tidak sengaja, dan curhatnya dia yang nyelonong tanpa saya minta, pernikahannya yang belum sampai setahun kandas. Tidak usah saya sebutkan curcolnya itu, tapi sudah cukup buat saya menilai apa yang jadi orientasinya. 

fanpix.net
My Prince Charming To Be
Bukan bermaksud buka pintu audisi lho, karena ini adalah point yang diminta yang punya hajat, jadi saya cerita sedikit saja, ya. Soal kriteria seperti sudah saya sebut sebelumnya, agama (soal salat yang ga bolong) dan tidak merokok ga bisa ditawar lagi. Dan tentu saja saya kepengin punya suami yang bacaan Qurannya merdu. kalaupu enggak merdu, dia ga lepas dari tilawah hariannya. Jujur saja, tajwid saya juga masih berantakan. Tapi ada kenikmatan tersendiri kalau mendengar tilawah yang merdu itu. Dan yang ga kalah penting, saya sebel dan ga suka sama yang becandaannya menjurus 'mesum' atau celetukan yang bikin risih kuping. Soal lain? Duh apa ya? Ini yang saya sebut chemistry atau klik. Dan yang bikin klik itu banyak, terlalu panjang kalau saya bahas. Bahasa sederhananya chemistry itu yang membuat saa\ya merasa nyaman dengan dia. 

Ada sih yang mendekati kriteria saya itu, siapa dia? Ada deh.... :)


14 komentar on "Perjanjian Yang Kuat, A Single Note"
  1. Semoga yg mendekati kriteria nya segera bisa berlanjut ke tahap yg lebih serius ya... :) sukses ngontesnya

    BalasHapus
  2. semoga semoga semoga mbk,,aminnn.....sukses GAnya :D

    BalasHapus
  3. Aamiin *mengaminkan doanya Mak Santi*

    BalasHapus
  4. Semoga jadi Drew Barrymore..eh salah...semoga hepili eper after samdey ya, Mak...aamiiin :)
    Moga sukses buat GA-nya ya ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe... my dream prince charming pengennya kayak Maher Zain mak hehehe *buka kartu*

      Hapus
  5. Semoga disegerakan ya mbak
    Alhamdulillah selama ini dijauhkan dari laki2 yang kurang baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak, ada hikmahnya. Alhamdulillah

      Hapus
  6. semoga kriteria yang mbak inginkan pas di hati :)

    BalasHapus
  7. Semoga cepat menenemukan cloningan nya aa maher zein ya teh biar saya bisa segera menjadi pagar ayu,:D aamiin

    BalasHapus
  8. Panjang dan penuh liku ya kisah Mba Efi. Yang bikin gemas itu kisah si Azzam :D Makasih dah ikut GA saya ya...

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.