Top Social

Bring world into Words

Komedi TV : Dulu dan Sekarang

Senin, 06 Januari 2014
Beberapa hari belakangan ini beranda Facebook saya dipenuhi link dari Change.org berupa petisi untuk menghentikan acara YKS di trans tv.  Well, sewaktu pertama kali acara ini muncul, saya tidak tertarik sama sekali. Jujur sja, saya suka dibuat heran, kok acara beginian banyak penggemarnya, ya? Buktinya, selain Trans TV stasiun-stasiun TV lainnya ikutan latah me  mbuat program serupa. Latah, trend atau kurang kreatif?

Becanda yang menjurus sarkastis, slapstick dan doyan membully lawan main. Satu kali, saya pernah melihat tayangan di trans tv (saya lupa lagi nama acaranya), seorang kru program yang berulang tahun dikerjain habis-habisan sampai ditaburi tepung segala! Ckckck..... lucu di mananya, sih?


Komedi TV Dulu dan Sekarang




Saya jadi membandingkan acara komedi di tahun 90an yang sempat booming di stasiun tv.  Kalau pernah melalui masa remaja di tahun 90an pasti inget dengan acaranya Bagito di RCTI. Itu lho, acara komedi yang digawangi Didin, Miing dan Unang. Tokoh yang jadi pusat perhatian di sini adalah Unang yang berperan sebagai Kardiman yang doyan ngomel-ngomel dan nyebelin banget. Dengan dandanan ala Pak Raden plus beskap dan balnkonnya itu seolah sudah jadi image yang melekat Unang. Image lainnya yang melekat denggan Bagito Show adalah sindirian halusnya terhadap rejim ORBA yang berkuasa. Eh, kenapa sekarang Miing jadi terlibat dalam lingkaran parpol, ya? hehehe.... entahlah.
Komedi TV Dulu dan Sekarang

Jangan lupa acara parodi P Project yang pernah tayang di SCTV. Menghadirkan grup Padhyangan (akronim dari Universitas Padjajaran dan Universitas Parahayangan, asal kampus para punggawanya). Padhayangan yang sebelumnya sukses mengawal acara Ozerba di radioOz Bandung juga sukses dengann konsep serupa di layar kaca. Mengadopsi dari seria Quantum Leap, ada Daan Aria yang pura-puranya jadi Sam Beckett yang melompat dari waktu ke waktu ditemani temannya dari masa depan Al Calavicci yang diperankan Iszur Muchtar. 

Berbagai lakon dikemas dengan konsep khas mereka, parodian seperti cerita legenda Ande-ande Lumut yang masih saya inget. Humor yang dikemas lebih menitikberatkan pada dialog (buat saya) terasa khas bodor sundanya. Selain parodi cerita, parodi lagu yang dibawakannya juga sempat booming. Seperti Nasib Anak Kos (That’s the Way Love Goes-nya Jannet Jackson), Cantik tapi Bau (I Still Believe In You-nya Vince Gill), Waktu Istirahat (In The Still Of The Night-nya Boyz To Men), Pengen Beken (Breathe Again – Toni Braxton), Kalau Sempet (OSTnya A Whole New World) sampai Lagunya Bola yang diadaptasi dari lagunya Ricky Martin, La Copa De Lavida, theme songnya Piala Dunia 1998.

Masih inget, ga, acara Srimulat yang suka tayang di Indosiar? Ada Asmuni, Timbul,  Basuki, Mamik, Kadir, Doyok, Gogon dan tentu saja Nunung yang kenes ga bisa menahan tawa. Seinget saya, kalau sedang libur lebaran tayangan komedi semacam Bagito Show atau Srimulat suka ditayang ulang di tv. Saya sendiri kalau sedang libur suka bela-belain mandi pagi biar bisa nonton tayangangan Srimulat seharian dan suka 'bete' kalau terdistraksi harus ke pasar, masak dan aneka pekerjaan rumah lainnya, hahaha....

Eh, inget juga sama Bolot? Karakter yang ga pernah nyambung, budeg dan suka misuh-misuh ga jelas itu termasuk yang sukses bikin saya ketawa. Pas saya kuliah yang sempat booming adalah komedi Ngelaba yang dibintangi Trio Patrio, Parto, Akri dan Eko. Parto yang masih konsisten dengan mainstream komediannya di acara Opera Van Java, Akri yang terlihat lebih religius dengan karakter yang diperankannya di acara tv seperti serial Para Pencari Tuhan dan Eko, yang juga satu mainstream dengan Miing Bagito, bergumul dengan dunia politik di senayan sana. Belakangan, becandaannya Eko buat saya sudah ga lucu lagi. 

Ada sih tayangan yang rada-rada menjurus 'cela-celaan fisik' seperti film-filmnya Warkop. Objek yang suka dibully biasanya adalah Dono, belum ditambah bumbu lainnya dengan kehadiran aktris pendukung yang ga jauh-jauh dari kesan seksi. Ada satu scene yang paling lucu yang masih saya ingat. Ceritanya Indro berperan sebagai petugas sebuah hotel yang memberikan kunci pada tamunya seorang bule. Karena Indro yang ga bisa berbahasa Inggris, jawabannya jadi ngasal dan bikin bulenya bingung. Si Bule yang bilang Thank you dibalas oleh Indro dengan 'come back' yang tentu saja bikin si bule bolak balik saking bingungnya. O, ya ada lagu yang dinyaiin almarhum Kasino. Dengan kostum India-indian nyanyi lagu Andeca andeci... bola boli hahaha.... Apaan sih artinya?

Masih ada Lenong Betawinya Harry De Fretes, Boncu Show, Komedi Dongeng Langit yang dibintangi Cut Tarry yang menghibur dengan humornya yang segar. Untuk level lokal, buat saya paling jago adalah almarhum Kang Ibing. Ekspresinya yang innocent pas banget memerankan Kabayan yang juga pernah diangkat ke layar lebar.



Lalu, kenapa sekarang acara komedian di TV pakemnya jadi seperti ini, ya? Kontras banget dengan tahun 90an. Kalau dari obrolan saya dengan adik saya sih, in our humble opinion, salah satu faktor pencetusnya adalah kondisi masyarakat punya pengaruh. Meskipun tahun 90an Indonesia ada dalam kekuasaan ORBA yaang terjuingkal di akhir tahun 90an, kondisi ekonominya pada saat itu cenderung stabil dan tingkat inflasi yang tidak terasa. Harga kebutuhan pokok, BBM, abonemen listrik yang tidak memberatkan. Bandingkan dengan sekarang, saat aneka 'surprise' yang menyentil kebutuhan pokok seperti kenaikan harga BBM yang  dampaknya melebar kemana-mana. 

Dengan tingkat kebutuhan hidup yang terasa mahal, pengangguran, berita tv yang ga jauh-jauh dari laporan terorisme, kekerasan dan penangkapan korupsi dan ya tentu saja kelangkaan sejumlah kebutuhan pokok sudah lebih dari cukup bikin masyaakat jengah dan stress. Sepertinya kondisi masyarakat yang sakit ini terlampiaskan dengan lelucon yang sebenarnya sudah ga lucu sama sekali.
Komedi TV Dulu dan Sekarang

Bergeser ke tahun 2000an, serial Office Boy yang pernah tayang di RCTI tahun 2006an adalah yang terbaik yang pernah saya tonton dan jadi favorit. Karakter Sasha yang polos dan suka ga nyambung, Gusti yang suka tebar pesona, Pak Taka yang galak, Hendra yang pelit tapi norak, Odah yang bossy, Mail yang apes, Susi dan Sayuti pasangan romantis yang malu-malu naga (ga jaman lagi ah malu-malu kucing hahaha).


Selain Office Boy, saya ga nemu lagi acara komedi di tv yang lucu. Sinetronnya? Duh,, saya udah males jabanin dengan karakter antagonis yang bisa ditebak. Culas, suka melotot ga jelas dan 'bogalakon'nya yang cemen, suka dibuli dan sebagainya. Kalau sinetron sih, saya dari dulu emang ga suka, apalagi sinetron Tersandung eh tersanjung yang susah udahan itu. 

Akhirnya daripada nonton acara tv yang menurut istilah adik saya 'berpuca-puca' saya lebih suka nguplekin buku, ngenet atau dengar radio. 

sumber gambar:

12 komentar on "Komedi TV : Dulu dan Sekarang"
  1. Saya masih suka sama SKETSA Mak yg di TV itu, tapi ga tau sekarang masih atau nggak, sudah 2 tahun lebih ga punya TV, hehehehe...

    BalasHapus
  2. Kalau menurut saya, acara komedi sekarang ini kebanyakan bermental Tom and Jerry. Ya acara kartun ditahun 90an juga, waktu itu saya masih kecil dan tak pernah suka kartun yang satu ini. Kucing dan tikus saling pukul, melempar dan menyakiti. Sama seperti acara komedi sekarang, mentalnya mental Tom and Jerry. Contohnya sih itu yang suka pukul-pukulan pakai stero-foam, dalangnya mukul-mukul pakai kertas, atau saling dorong sampai jatuh ketumpukkan sterofoam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul kartunnya Tom and Jerry itu ancur banget

      Hapus
  3. Saya juga kangen sama acara komedi jaman dulu :-(
    Tv nasional udah ngga ada yang bisa ditonton acaranya

    BalasHapus
    Balasan
    1. IYa nih mak. Sebenernya siapa sih lebih kreatif, ya? *T_T*

      Hapus
  4. Saya jarang nonton tivi, tapi masih ingat, bila nonton, saya pilih Office Boy yang dulu di RCTI.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya suka merasa sayang kalau ketinggalan acara itu :)

      Hapus
  5. Skrg2 ini saya jarang banget nonton TV. Tapi anak2 saya jadi kepengaruh nonton YKS, padahal saya jarang banget nonton yg begituan, males acaranya gak mutu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih mak. Program Director Trans TVnya siapa ya, kok seleranya kayak beginian

      Hapus
  6. Sangat setuju dengan pernyataan teteh Efi di atas "Sepertinya kondisi masyarakat yang sakit ini terlampiaskan dengan lelucon yang sebenarnya sudah ga lucu sama sekali"
    Tap menurutku komedi populer terlucu di TV saat ini adalah ulah tokoh/partai politik yang keblinger juga nggemesin... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu mah jangan ditanya hahaha... kdang lucu tapi kadang bikin naluri pengen nonjok yang nonton bisa maksimal :D

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.