Top Social

Bring world into Words

The Most Liveable City To Live In

Sabtu, 28 Desember 2013
Ehm...
Sebenernya saya agak rikuh juga buat membahas topik ini. Kalau pinjem kamus idiomnya urang sunda, saya ini tipe kurung batokeun.  Tau batok? itu lho, kulit kelapa yang keras. Jadi, kalau sudah terkurung di dalamnya, ga kemana-mana. Plek, nancep di situ. Hihihi 
visitcopenhagen.com
Ya ga se-ekstrim gitu sih, cuma kalau ditanya sudah pernah travel ke mana saja, maka dengan malu-malu kucing (sok imut banget), saya bakal jawab ga jauh-jauh dari pulau Jawa, bahkan seantero Jawa saja belum semua saya uplekin. Cuma seuprit juga itu. Hihihi Nah, (agak) cupu dan bikin saya malu hati ga enak body deh kalau ada dalam kerumunan massa para traveller.  Hahaha.... 


Meski gitu, saya ga cupu-cupu amet. Buktinya, akhir Nopember kemaren saya maen ke Jogja tuh, (baru ke Jogja aja segitu hepinya) meski dengan paket hemat alias pake keret api ekonomi yang tarifnya merakyat banget. Hehehe... Siapa tau deh, abis saya posting ini ada yang ngajak saya jalan-jalan keliling Indonesia, atau malah keliling dunia (mode ngarep on).

Kalau ngomongin novel atau film Edensor, pasti tau dong jelajahnya Ikal dan Arai yang nekat keliling Eropa itu? Daan tipikalnya kita kadang suka latah nekat dan (parahnya) ga punya estimasi yang jelas juntrungan buat niru, bahasanya abang (tsaaah) Gerrard itu euforia.  

Posting saya kali ini ga bakal membahas soal  how to atau yang sejenisnya gitu kok.. Saya mau kembali ke jalan yang benar, sesuai judul postingan saya di atas. Yup, the most liveable city to live, in. Where is it? Which one do you prefer?

Saya sih betah jadi urang Bandung, meski kalau lagi weekend gini, membuat a kadar homebody  saya semakin maksimal. Pindah ke lain hati, eh kota? Ah, saya lebih suka jalan-jalan saja lalu kembali ke rumah, ke sini, Bandung yang kembali berbenah diri menjadi Parijs van Java yang nyaman seperti para bule Londo sana menyematkan sanjungannya.

Gambar di atas adalah suasana jalan Kepatihan baru-baru ini lho. Biasanya kalau lihat suasana Kepatihan, imagenya suntuk, kumuh dan ah...., ga nyaman. Gimana, pangling, kan? PKL yang ada di 7 titik zona merah lagi diusahakan untuk direlokasikan, biar lebih tertib. Seneng deh lihat Bandung asri kayak gini. Waktu ke Jogja tempo hari aja, saya merasa segitu hebohnya mengomentari jalanan Jogja yang apik dan resik. Eh mudah-mudahan Bandung bisa terus asri seperti ini, bukan cuma di sekitar Kepatihan, tapi juga titik-titik lainnya. Cantik, kan? *kayak yang punya blog ini hihihi.... iyalah mana ada kota yang disanjung sebagai kota yang ganteng. Ya, kan?*

Paris...
Bandung - Paris yang jaraknya ribuan kilometer itu, tentu perlu duit yang banyak buat menempuhnya. Perlu modal yang ga seuprit buat sekedar jalan-jalan, mulai dari ngurusin pasport, visa sampai akomodasinya.  Belum kalau kepengin bawa souvenirnya. Saya jadi inget ketika seorang teman SMA yang doyan jalan-jalan dengan modal nekat keliling Indonesia akhirnya terdampar di Eropa sana, bertemu jodohnya dengan seorang Jerman dan dikarunia juniornya yang lucu-lucu. Saat berada di Paris, demi ngirit dan menunggu penerbangan berikutnya sampe rela menggelar sleeping bag di bandara.

Gara-gara baca novel The Alchemystnya Michaell Scott, saya jadi ngulik youtube dan nyari video pesta kembang api yang dikasih judul St Bastille Day, digelar setiap awal tahun baru di Paris sana. Keren dan cantik memang pesta kembang api dan permainan laser di sana.

Dan....
Beberapa hari yang lalu, saya menemukan majalah asing,  Monocle yang dibawa adik saya dari kantornya. Majalah yang tebelnya nyaingin novel (sekitar 300 halaman kurang dikit) itu dibanderol seharga 150, 0000. Mungkin kalau buat beli novel, saya bisa memboyong 3-4 judul, ya. Hahaha....
Ada artikel menarik yang disajikan redaksinya. Top Of The World- Global. Membahas rating 25 kota besar di dunia yang liveable to live in

Kota mana yang ada di posisi satu? Paris? ternyata bukan. Kota yang udah kaya panggung catwalk dunia itu ternyata ngendon di posisi 14. Singapura tetangga terdekat kita saja ada di posisi 15. Bahkan New York yang disandingkan Trio Rio dalam lagunya New York Rio  Tokyo ga ada di top 25.


Or any other place you see
You feel that dancing fantasy.
In New York - Rio - Tokyo

Or any other place around

That magical big city sound.

Now let's come together


Jadi, berdasarkan hasil riset yang dilakukan Monocle dengan mewawancarai para respondennya, sebuah kota dengan salah satu parameternya Sunday and street life.  Selain itu, soal tingkat kemanan, cuaca yang nyaman, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, transportasi yang mendukung (termasuk didalamnya akses ke bandara), ada tidaknya galeri atau museum  (sepertinya ini tipikal orang-orang Eropa sana yang gemar nyambangin spot seperti ini, penikmat seni dan asik menekuri situs sejarah), dan jangan lupakan peran swasta dalam denyut kehidupan kotanya. Ada banyak parameter yang kompleks,  Monocle ini sendiri juga mewawancarai respondennya di London - yang juga home basenya majalah ini- meskipun tempat tinggalnya bikin stress, mereka tetep betah karena punya kehidupan malam, kebudayaan, makanan, dan arsiteknya yang punya citarasa tinggi.

Lalu siapa yang ada di pole position? *emang balapan F1, ya, ceu?*
Bisa nebak? *enggak, cerita langsung napa?*

Iya... yaa nih jawabannya

Copenhagen!
Ibukotanya Denmark ini ternyata ada di urutan pertama versinya si majalah Monocle itu setelah dalam survey dua tahun terakhir ngadem di posisi 3. Ya masih bisa naik podium lah kalau balapan mah *apaan sih*. Kira--kira kenapa, ya?
Lalu kenapa Copenhagen ada di posisi satu?

 1. Populasi
Copenhagen ini dihuni oleh 2,2 jutaan dimana 1,7 jutanya terkonsentrasi di kawasan metropolitan.

2.  Temperatur
Paling panas suhunya ada di kisaran 22 c, ga terlalu panas ya. Dan untuk terrendah, sampai di titik -2 celcius.

3. Kebudayaan
Punya 14  bioskop, 70-80 galeri, 28 gedung pertunjukan dan 58 venue musik.

4. Toko Buku
Punya 83 toko buku! Wow, asik bener! Kalau pecinta literasi bisa betah atau malah puyeng karena bayak alternatif toko buku buat didatangi.

5. Kawasan Hijau
22,6 km persegi atau 42 m persegi untuk satu orang. Bisa puas tuh guling-guling sambl gelutukan. 

6.  Ramah pedestrian dan sepeda.
Huaaa. love it.  Jadi nih, Jan Gehl,  merancang Copenhagen sebagai kota di mana orang-orang gampang ketemu di ruang publik.  Sebagai kota yang nyaman, Copenhagen didesain  untuk mereduksi dominasi lalu lintas yang biki stres. Hampir setengah penduduknya lebih suka bersepeda ria ketimbang mengendarai mobil.    Bahkan untuk transportasi airnya, Copenhagen ga kalah cozy.   Bahkan denyut  kehidupan jalanan di Copenhagen ini ramai sekali. Di sini kita bisa menemukan  cafe lengkap dengan baristanya di setiap sudut jalanan Copenhagen.



7. Dinner di hari Minggu
Cendol light dinner eh candle light dinner di Copenhagen ini  bisa kita pesan 1 menit sebelumnya.

8. Industrinya
Industri di Copenhagen ini punya tenaga kerjanya yang punya skill mumpuni, bahkan berani diadu dengan kompetitor di luar negeri.  Jadi jangan nekat cari kerja di sini kalo skillnya pas-pasan. 

Seorang chef  kondang di Eropa berdarah Italia-Norwegia, Christian Puglisi bilang kalau Copenhagen ini jauh dari image kota yang sumpek dengan polusinya yang nyebelin. Malah lebih terkesan sepeti kota kecil yang nyaman. Ga mudah menemukan gelandangan di jalanan Copenhagen. Setiap habis traveling  selalu saja apresiasi saya semakin lebih dan lebih.

 Daan... ini salah satu alasan yang ekstrim dan bikin saya nyengir asem. Buat para kaum gay, Copenhagen ini tempat yang nyaman karena di sana status mereka lebih diakui (emang sekolahan), a.ka. legal. Gereja memfasilitasi untuk menikahkan pasangan gay. Ah, no more comment deh.

Nah, di bawah Copenhagen ini, menyusul 24 kota dunia lainnya yang menyusul sebagai livebale city.  Moga saya kesampaian buat nyambangin 1 atau lebih kota-kota di bawah ini.
  1. Copenhagen
  2. Melbourne 
  3. Helsinki
  4. Tokyo
  5. Vienna
  6. Zurich
  7. Stockholm
  8. Munich
  9. Sydney
  10. Auckland
  11. Hongkong
  12. Fukuoka
  13. Kyoto
  14. Paris
  15.  Singapura
  16. Hamburg
  17. Honolulu
  18. Madrid
  19. Vancouver
  20. Berlin
  21. Barcelona
  22. Amsterdam
  23. Portland
  24. San Fransisco
  25. Dusseldorf

Jangan tanya di mana posisi kota-kota besar di Indonesia, ya. Seorang guru bahasa Inggris saya oernah bilang kalau Jakarta sendiri jauh dari kriteria kota Metropolitan kalau dibandingkan dengan kota-kota Eropa. Jakarta yang denyut kehidupan 24 jamnya itu menyimpang segudang masalah komplek. Sama-sama tau lah aneka masalahnya. 

Terlepas dari aneka kontroversi (ga pake hati) yang rame menyerang Jokowi di jejaring Sosmed, ga mudah menata ulang ibu kota yang rumit seperti benang kusut. Kalau saya jadi Jokowi sih, saya mau bilang, "Take a seat on my chair!" atau, kalau masih ada reality show yang tuker-tuker posisi itu lho, ada ga yang berani nyoba? Hehehe... no offense ah.  Tapi seindah-indahnya negeri orang, tetep saja, kampung halaman itu selalu kita rindukan. Setuju?

Source :
visitcopenhagen.com
majalah Monocle edisi Juli-Agustus 2013 volume 7
twitpic @satpolppbdg
10 komentar on "The Most Liveable City To Live In"
  1. aduuuhhh,,klo liat tmen2 posting ttg luar negri mang bda bgt ma negara kita ya mba,,plginkota copenhagen dg sgla kelebihannya ini,,bagiku,,ke jogja ato bali aja udh luar biasa lho,,

    BalasHapus
  2. Ya Ampuunn.. jadi pengen kesana, tempatnya aman dan nyaman. :)

    BalasHapus
  3. Pernah liat di Youtube, yg macetnya itu di jalur sepeda, kalau jalan raya lenggang-lenggang aja, saking pada doyan naek sepeda. Semoga program #JumatSepeda juga bisa bikin Bandung kaya negara-negara Eropa sana lah.

    BalasHapus
  4. @Tita-Bunda Aisykha
    Iya, Jogja itu resik dan apik. Aku juga jatuh cinta sama suasananya.

    BalasHapus
  5. @Tinanic Azrialdi
    Semoga ada lomba nulis yg hadiahnya jalan-jalan ke sana, ya, mak hehehe

    BalasHapus
  6. @Arif Abdurahman
    Iya, pengen banget lihat Bandung apik, gak macet dan ruwet.

    BalasHapus
  7. semoga teh Efi cepet dapat 'jodoh' yang bisa 'gembol' jalan2 sampe ke luar negeri, aammiinn! btw, saya juga betah di Bandung, namun takdir membawaku pulang ke Cianjur, ayoo berdo'a kenceng2 mudah2an bisa jalan2 ke luar negeri! saya juga paling jauh ke Jogja waktu acara Blognus nopember lalu, lihat teh Efi di Tembi sebentar, mau nanya takut salah hehehe!

    BalasHapus
  8. @Siti Aisah
    aamiin... :) tambahin ah, yang mirip Maher Zain hihihi (f) *hush*

    Ya, teh, kenapa ga say hi? Saya mah baik da, bawel malah kalo udah kenal. Beda sama tampang yang tampak jutek hehe

    BalasHapus
  9. arief daniawan19 Januari 2014 11.53

    Kalo menurut aku sih boleh2 aja kota2 tersebut indah, nyaman, rapi, modern dan paling layak huni di dunia, tp menurutku the best city for living is Bandung, dgn segala plus minusnya hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Rif, tapi Bandung sekarang lagi giat-giatnya bebenah. Cinta mati sama Bandung, bahkan sebelum Bandung dipimpin kang Emil. Lemah ca nu matak kayungyun :0

      Hapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.