Top Social

Bring world into Words

CineUs, Menatap Masa Depan Sineas Berbakat

Selasa, 24 Desember 2013


Kalau ditanya ekskul apa yang happening banget saat saya SMA, maka saya ga ragu bakal menjawabnya dengan basket dan cheerleader. Padahal waktu SMA dulu ada banyak ekskul yang wara wiri mempromosikan diri, merekrut calon newbie bukan cuma pas perform di acara MOS atau apapun itu namanya. Pas jam istirahat atau saat jam kosong karena gurunya ga ada, suka ada tuh kakak kelas mulai dari yang beneran charming,  sok charming, atau biasa saja promosi (lagi), menginformasikan kegiatan ekskul dan seabrek prestasi yang sudah diperoleh. Dulu pernah ada ekskul Teater dan pernah mentas  di aula sekolah. Saya ikutan, ga? Enggak tuh, cuma nonton aja hahaha.... 

Ternyata, setelah belasan tahun, ekskul yang ada di sekolah banyak berkembang seperti salah satunya, ekskul klub film. Mungkin masih satu mainstream ya. Bedanya, ekskul klub film ini bukan cuma ngulik seni akting tapi juga aneka pernak pernik yang mendukung seni peran itu.Begitu juga klub film sekolah yang jadi latar dari novel CineUs (baca : sineas). Seperti apa ya, novel ini? Penasaran? Kalau begitu, mari baca review dari saya ini dulu, yuk.

Judul Buku : CineUs
Penulis : Evi Sri Rejeki
ISBN : 978-602-7816-56-5
Penerbit : teen@noura
Terbit : Agustus, 2013 (cetakan petama)
Sampul/Cover : Fahmi Ilmansyah
Ilustrasi : Anisa  Meilasyari
Harga : Rp. 48.500
Tebal : 280 + xvi halaman

“Len, di dunia ini, ada dua hal yang pantas diperjuangkan. Yaitu impian dan cinta,” ucapnya bersungguh-sungguh. Aku menatapnya tak percaya. Ah, dia memang sudah dewasa.

Lelatu Namira atau Lena, bersama kedua sahabatnya Dania dan Dion, siswa kelas XI sebuah SMA di bandung bersorak girang saat mereka menerima surat keputusan dari wakasek Bu Helena yang memberikan izin untuk mendirikan klub film sebagai salah satu ekskul di sekolahnya.

Sukses? Ternyata belum. Lena, Dania dan Dion harus mati-matian mempromosikan klub filmnya, mulai dari menyebar flyer di kantin, sampai mengadakan acara nonton bareng film indie buatannnya dan dibuly dalam artikel review  oleh redaksi majalah sekolah.

Klub film yang akhirnya mendapat anggota baru 7 orang dari anak-anak kelas X ternyata tidak juga mendapat simpati dari Pak Kandar, wakasek yang baru, ditambah kru Klub Film yang susah solidnya. Salah satunya, adalah Romi Berkat kesabaran Dania, Lena berhasil menangapi dengan santai sikap Romi yang doyan cari gara-gara. Di sisi lain, Lena dan Dania juga sudah maklum dengan penyakit ga nyambungnya  Dion yang sering muncul tiba-tiba.

Ditengah perjuangannya untuk membesarkan Klub Film Lena dihadapkan pada dua hal yang membuat adrenalinnya terpompa maksimal. Teror Adit berbau dendam, mantannya saat masih di SMP, dengan taruhan yang bisa bikin malu siapa saja yang kalah. Lalu ada duo anak hantu, Rizky dan Ryan dengan talenta film yang keren, sampai membuat Lena nekat dan  kena hukuman Pak Kandar yang tidak suka namanya disalahgunakan.


Novel ini bukan semata membahas perjuangan Lena untuk mengikuti festival film untuk menjawab tantangan Adit. Ada romansa masa SMA yang dikemas dengan diksi yang lincah, mengalir dan arti persahabatan dalam CineUs. Lena cs yang berusaha meraih kembali Dion setelah menyadari kesalahpahaman yang terjadi (nah, konflik apa lagi, coba?), usaha menjalin kembali simpul persahabatan yang sempat terurai karena sebuah kecerobohan, konflik keluarga dan mimpi-mimpi sederhana yang dimiliki remaja anak SMA hingga tentu saja percikan chemistry yang muncul di antara mereka berlima. Terlepas dari semua itu, Lena bukan saja berjuang membesarkan Klub Film, pesona Rizky dengan kejeniusan dan kemisteriusannya perlahan membuat Lena belajar menjadi seorang gadis yang lebih tenang dan terkendali.

Dengan cover biru dan design yang cute, novel ini bikin saya kepincut. Lucu deh,  soalnya cover yang bisa dibuka lipatannya itu biasanya kan  kesamping ya, bukan ke atas. Tiba-tiba saja saja jadi teringat tagline sebuah produk susu, tumbuh itu ke atas, bukan ke samping. Tentu saja produk susu tersebut ga jadi sponsor dari novel CineUs ini.

Selain mengetahui bagaimana proses pembuatan film indie dibuat (mulai dari membuat script, merancang budget, casting, sampai pengambilan gambar). O, ya saya juga suka sama ide bunker rahasia yang ada di lingkungan sekolah. Ah, suka deh. Imajinasi yang keren!

Dalam beberapa halaman novel ini, disertakan ilustrasi ala skets pensil. Ilustrasi yang mengingatkan saya sama novel jaman saya SMA dulu semacam Lupus atau 5 sekawan. Buat saya, ilustrasi ini bakal lebih terasa lebih hidup kalau dibuat lebih ilustrasi berwarna.


  Satu lagi, ide bikin thriller booknya CineUs ini mengingatkan saya sama penulis favorit saya Michael Scott yang juga membuat thriller book untuk novel The Alchemyst. Dibanding novel lokal lainnya, CineUs inis udah  lebih maju untuk promosi.



Kritik saya sih, openingnya rada flat, kurang greget, sampai akhirnya ketemu hot buttonnya di scene yang spooky, malam hari  saat Lena melemburkan dirinya menyelesaikan proyek di sekolah.  Oke, disini saya tahu kalau CineUs bakal berjalan menarik. Eh ada  yang bikin saya rada penasaran soal sikap dan masalah yang dihadapi Ambu, mamanya Dion. Akar permasalahan yang akhirnya diuraikan Dion saat curhat dengan Lena bikin saya kurang puas untuk menjawab sikap ketus Ambu saat Lena dan keempat temannya menyambangi rumah Dion.  Kesannya Ambu itu seorang pendendam dan berjiwa labil. Berubah 180 derajat sebelum badai menggemparkan kehidupan rumah tangganya. Lalu juga yang pengen saya kasih masukan adalah sikap Dion yang sebenarnya bisa membuka akses komunikasi tanpa harus membuat teman-temannya kelimpungan dan menghadapi kejutekan Ambu. Biasanya, anak SMA itu paling eksis di dunia sosmed, semacam Whatsapp, Line, BBM selain FB atau twitter. 

Kalau anda menebak ending dari novel ini adalah bagaimana hasil dari festival film yang diikuti Lena dan kawan-kawan, anda akan kecele. Twist Ending, begitu rasanya istilah yang pas. Jadi, jauhlah dari pakem drama queen seperti dongeng ala boneka Barbie atau serial Walt Disney semacam Cinderella gitu. Ah,  basi, ya,  kalau endingnya begitu klasik alias gampang ditebak.

Jadi  tergelitik buat mikir mengira-ngira  bakal seperti apa, ya, kalau ekskul film jadi trend di sekolah-sekolah? Terlepas dari kendala anggaran untuk mengadakanperangkat semacam kamera, mestinya itu jadi tanggung jawab sekolah. Harapan saya, kalau remaja-remaja SMA berhasil jadi pionir di berbagai ajang Olimpiade Fisika/Matematika atau festival choir, nambah dong dengan jago-jago sineas muda yang berhasil mendobrak mainstream yang (maaf) masih  saja ada yang doyan mengumbar sensasi fisik wanita atau horor yang mencekam ala film-film pocong, dukun dan sebagainya. 

Sudah bannyak sineas muda berbakat yang unjuk gigi dalam festival film indie yang dihelat. Nah, buat yang kepengin bisa bikin film Indie, novel ini bisa jadi inspirasi. Karena memang bukan cuma cinta saja yang harus diperjuangkan, tapi mimpi juga. Siapa tau ke depannya bakal ada sutradara film muda dari Indonesia yang bisa menyaingi kerennya Steven Spielberg, Peter Jackson, atau Rob Cohen. Hey, who knows?  Dare to be a CineUs? Ah, kenapa enggak?

So, apakah Lena berhasil menjawab tantangan Adit? Siapa yang menang? Kenapa Lena begitu ngebet menjadikan Rizky dan Ryan  menjadi bagian dari klub Film? Talenta apa yang dimiliki keduanya? Mengapa Romi suka mencari gara-gara dan apa hubungannya dengan Adit? Apa yang terjadi dalam keluarga Dion dan  ambunya itu? Ah, seperti biasa, no spoil. Ga seru, kalau saya bocorkan di sini. Silahkan sambangi toko buku terdekat saja, ya.










10 komentar on "CineUs, Menatap Masa Depan Sineas Berbakat"
  1. Temanya memang unik ya, jadi semangat bacanya ga kayak teenlit kebanyakan. Baca buku ini dapet sedikit bocoran ilmu seputar penggarapan film (pendek). Isinya juga bikin semangat mengejar mimpi. Semoga ada kelanjutannya ya :D Penasaran ma keluarga Dion dan Dania yang keturunan Jepang itu Good luck! :>)

    BalasHapus
  2. belum baca karna belum beli bukunya... uwaaa uwooo.. b-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. namun semua tinggal cerita.... *kok jadi nyanyi?*

      Hapus
  3. reviewnya maakk..ajegile....iya tuh sikap ketus AMbu kenapa gak dikuak sebelumnya yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. reviewnya ya, jangan saya yg gile hehehe

      Hapus
  4. Mba Efi, eta mah bukan Ricky, tapi Rizky ;)
    Iya nih, si Lena keren banget ya jadi anak muda yang semangatnya luar biasa, juga anggota Klub Film lainnya, terutama kedua anggota barunya. Ilustrasi markas Klub Film dan bunker rahasia itu saya suka banget, seperti ilustrasi di karya2 Enid Blyton.

    BalasHapus
    Balasan
    1. huaaaa, saya baru nyadar nih. Nanti saya edit. Makasih koreksiya ya mbak .

      Hapus
    2. Enid Blyton, kangen masa smp euy. Berarti kita sejaman ya hehe

      Hapus
  5. Terima kasih sudah mengapresiasi novel CineUs. Semoga nanti berkenan mengapresiasi sekuelnya :)

    BalasHapus

Silakan tinggalkan jejak di sini, saya bakal kunjung balik lewat klik profil teman-teman. Mohon jangan nyepam dengan ninggalin link hidup. Komentar ngiklan, SARA dan tidak sopan bakal saya delete.